
Hampir satu minggu telah berlalu, dan besok adalah hari pernikahan Rania dan Adam. Namun, Naqi yang ingin bertemu dengan kakeknya untuk meminta izin menikahi Cyra, juga tidak kunjung bertemu dengan kakek, justru makin kesini makin sibuk saja kakek, dan itu tandanya Naqi tidak bisa bertemu juga dengan buronanya, dan entah sampai kapan Naqi akan bertemu dengan kakeknya.
"Ini wajah dua anak mamih kenapa sih, pagi-pagi udah di tekuk ajah Bang, Dek?" tanya mamih di mana muka Qari dan Abangnya di tekuk terus, bahkan tidak saling menyapa, padahal dari kemarin Qari di cariin terus oleh Naqi dan kini sudah di rumah tidak ada niatan untuk menceramahinya. Semuanya gara-gara kakeknya yang entah di mana dan hal itu membuat Naqi kesal. Sementara Qari dalam fikiranya masih berusaha mencari Deon. Dia tidak akan menyerah sampai Deon ketemu dan akan dia bu-nuh saat itu juga.
Qari dan Naqi secara bersamaan menatap kearah mamih seolah mereka tidak ingin di ganggu.
"Astagah Bang, Qari, coba cerita ada apa sih, kok Mamih jadi takut sama anak sendiri," ujar Mamih agar Qari maupun Naqi mau berbagi cerita.
"Tanya ajah Mih sama Abang, kalo Qari mah enggak ada masalah apa-apa cuma sekarang mau jadi anak kalem ajah biar hemat bicara," ucap Qari sembari terkekeh dengan jawaban yang dilontarkanya, tetapi memang benar kalau Qari akan mulai jadi orang kalem.
"Kalo Abang mah biasa Mih nunggin Tuan Latif pulang, tapi kayaknya tidak mungkin deh kan Tuan Latif sedang mengurusi persiapan pernikahan cucu kesayanganya," ujar Naqi sembari melirik ke kamar Rania, tetapi kakak tirinya itu sudah dua hari juga tidak kelihatan oleh Naqi. Entah sedang sibuk atau sudah pindah dari rumah mereka.
"Kakek masih sibuk sayang, dan nanti juga pulang kok kalo sudah selesai semua urusanya. Kamu harus ngertiin itu," ucap Mamih.
"Yah... Yah... Naqi yang harus terus sajah mengerti kondisi kakek, tanpa mereka mau tahu kondisi Naqi. Lama-lama nanti Naqi juga kabur, gantian dengan Qari, biarkan dia yang mengurus perusahaan Tuan Latif. Kelamaan Naqi juga merasa seperti sapi perah yang hanya di ambil air susunya. Mereka merauk keuntungan yang tidak kira-kira, sedangkan keinginan cucunya saja mereka tidak mau mengabukanya." Naqi yang lagi-lagi pagi ini gondok dengan kakek, ia pun beranjak dari duduknya hendak pergi ke kantor, tanpa sarapan dulu.
Mamih pun tidak bisa melarangnya karena ketika Naqi sudah marah seperti ini maka tidak akan mendengar lagi nasihatnya juga.
"Ah... ini lagi kenapa Cyra tidak mau diajak ketemu, sudah tiga hari dia tugas luar kota, dan pas ditanya dia di kota mana tidak di jawab. Apa jangan-jangan Cyra juga udah tidak mau lagi dengan aku. Apa aku melakukan kesalaha? Apa aku mengucapkan kata-kata yang membuat Cyra tersinggung dan memilih menghindar dengan aku?" gerundel Naqi di dalam batinya, sembari mengingat-ingat lagi ucapanya yang mungkin saja menyinggung Cyra.
Naqi buru-buru membuka ponsel ketika ada balasan dari Cyra.
Laki-laki yang sudah berpenampilan rapih dan hendak berangkat kekantor itu melempar ponselnya ke bangku penumpang yang berada di sebelahnya. "Kenapa lagi-lagi Cyra tahu kalau aku sudah tidak berniat datang ke pernikahan itu. Bahkan mengingat harinya saja tidak, tapi nanti kalau tidak datang Cyra makin marah dengan aku, dan dia tidak mau mengenal aku lagi mana seumur hidupnya," Naqi mengacak-acak rambutnya yang mana tadi sudah terlihat rapi.
Sementara di rumah di mana tadi Naqi langsung pergi meninggalkan sarapanya yang bahkan dia belum makan sarapannya.
"Qari besok kamu harus datang yah ke acara pernikakan Rania," ucap mamih mengingatkan Qari, pasalnya mamih tahu bahwa Qari juga memiliki niatan untuk tidak datang diacara pernikahan Rania.
"Uhuuukk... Uhhuukk..." Qari yang tengah mengunyah sarapanya sembari pikiranya sebagian terbang entah kemaana pun tersendak, karena kaget dengan apa yang mamihnya katakan.
"Apaan sih Mih, Qari kan dari awal sudah tidak respek sama Mak Lampir itu, kenapa juga Qari harus datang. Qari enggak mau datang titikkkk..." jawab Qari dengan menekankan ketidak maunya hadir diacara pernikahan wanita yang paling dia benci.
"Kali ini saja sayang. Demi Mamih dan demi semuanya. Apa kata orang-orang kalau kamu tidak datang, sedangkan rekan bisnis kakek sudah tahu bahwa yang menikah itu kakak kamu." Qanita tampak terus beusaha membujuk agar Qari mau datang ke pernikahan Rania.
"Kenapa Mamih harus perdulikan mereka-mereka sih, mamih tutup telinga saja, sudah beres dan jangan lagi memikirkan yang tidak-tidak, Qari malas datang ke acara Mak Lampir itu, malas dan nanti dia besar kepala kalau Qari datang," tutur Qari tetap pada pendirianya, karena memang Qari sangat membenci Rania.
"Katakan mamih harus apa, supaya kamu mau datang? Mamih akan melakukan apapun asal kamu mau datang ke pernikahan kakak kamu besok," ujar Mamih sama tidak mau kalah terus membujuk putrinya agar mau menghadiri pernikahan Rania besok.
"Mamih tidak perlu melakukan apapun, karena Qari tidak akan pernah mau datang ke pernikahan itu." Qari yang sama dengan Naqi suasana hatinya memanas, lagi-lagi karena membahas Rania, ia menggeser korsinya dan bergegas akan pergi kerja menyusul Abangnya untuk mengais rezeki, mungkin dengan bekerja pikiranya akan sedikit tidak terlalu membulet memikirkan mencari Deon dan juga di tambah pernikahan Rania. Meskipun sarapan baru masuk ke dalam mulutnya baru beberapa suap tetapi Qari sudah tidak bernafsu untuk memakanya.
"Kalau besok yang menikah Abang kamu, apa kamu juga masih tidak mau datang?" lirih Mamih, tetapi tentu suaranya masih bisa didengar oleh putri kesayanganya.