
Naqi memanyunkan bibirnya manakala Mamih selalu membela Cyra dibandingkan anak kandungnya sendiri. "Hemz... kayaknya aku ini memang anak pungut deh, perasaan mamih tiap hari makin galak sama aku dan makin terlihat pilih kasih dibandingkan dengan yang lainnya," batin Naqi, tetapi ia memilih memendam ke curigaanya di dalam hatinya, dari pada mamih makin marah dengan dia. Dan menjewer di depan wanita incaranya, malu sampai dasar jurang yang ada nantinya.
"Mas, kayaknya Mas Naqi lebih baik istirahat di kamar deh, biar tidak terlalu cape takutnya malah nanti sakitnya makin parah," ujar Cyra, ketika memperhatikan Naqi seperti gelisah dalam duduknya.
"Iya Ra kayaknya memang aku harus segera istirahat lukanya pakin berasa pegal," balas Naqi, jadi dari tadi dia gerak-gerak tidak bisa diam itu karena memang lukanya yang semakin pegal. Namun ia tidak berani bercerita takutnya nanti mamihnya ataupun Cyra malah ngomel karena dia yang bandel memaksa ingin pulang.
"Hemz... kan... kan... ngeyel sih kalo di bilangin. Kalo kaya gini siapa coba yang merasakan sakitnya? Kamu-kamu juga kan Naqi, makanya jadi anak jangan keras kepala, kepala batu sih." Mamih kembali lagi aksinya memberikan pidato buat Naqi, dengan suara cempreng, mirip emak-emak komplek yang marahin anaknya karena main nggak pulang-pulang.
Naqi mau tidak mau harus menerima apa pun yang mamih bilang, meskipun telinganya yang panas karena setiap menit harus mendengarkan ocehan mamih.
"Enggak usah sayang, biar mamih saja yang merawat anak nakal ini," ujar Mamih ketika Cyra hendak membantu Naqi ke kamarnya. Mamih sengaja melarang Cyra membantu Naqi, bukan karena mamih yang tidak suka dengan Cyra, melainkan ingin memberi pelajaran pada putranya itu. Mamih tentu sangat paham bahwa sanya Naqi memang suka ketika di rawat dengan Cyra. Sehingga mamih menduga bahwa ini salah satu trik dari Naqi agar sakitnya tidak sembuh-sembuh dan Cyra terus merawatnya, sehingga Naqi selalu bisa berdekatan dengan mantan istrinya dengan cukup lama.
Mamih kembali menuntun Naqi ke kamarnya, sedangkan di ruangan keluarga kini hanya tinggal Rania dan Cyra. "Ra kamu sudah Makan?" tanya Rania sebagai pemecah kesunyian dan pembuka obrolan. Ia bingung mau memulai obrolan dari mana, sebenarnya Rania juga ada perasaan iri ketika melihat keakraban mamih dengan Cyra, dan juga Qari dengan Cyra. Terlebih Qari yang dengan terang-terangan selalu memuji Cyra, dan dengan terang-terangan pula menujukan sifat sebaliknya terhadap dirinya. Di mana Qari sangat terliahat membenci Rania, dan tidak akan segal mengungkapkan ketidak sukaanya.
Qari memang tipe anak yang tidak bisa bersandiwara, apa yang ada di hidupnya benar-benar real, di mana kalo tidak suka maka Qari akan berkata tidak suka dan kalo suka ya itulah perasaan sesunggiuhnya tanpa sandiwara dan lain sebagainya.
"Belum sih Mba, tadi pagi sibuk mengurus persiapan Mas Naqi pulang, malah jadi lupa kalo belum makan, tapi nanti ajah deh makanya nunggu mamih biar makin rame, dan nafsunya bertambah," ucap Cyra dengan ramah.
"Mba Rania, gimana kondisinya sekarang? Sudah banyak perubahanya kan? Terakhir Cyra dengar Mba Rania sedang dekat yah dengan dokter Adam?" tanya Cyra, sebenarnya Cyra tidak banyak mengetahui apa yang terjadi dengan Rania, Cyra hanya mendengar sekilas obrolan mamih dan Qari yang tanpa sengaja menyebut hubungan Rania dengan dokter Adam. Dokter yang bertanggung jawab dengan Rania saat itu.
Wajah Rania berubah menjadi memerah ketika Cyra berkata demikian. "Kamu kenapa bisa menebak seperti itu, siapa yang bercerita demikian?" tanya Rania, terlihat sekali ekpresi wajahnya yang malu-malu untuk mengakui kedekatan diantar dirinya dan Adam.
"Tidak ada, hanya menebak ajah sih, jadi benar Mba Rania ada hubungan khusus dengan dokter Adam? Oh iya, tolong sampaikan salam dari Cyra buat dokter Adam yah! Pengin ngobrol lagi dengan beliau di mana nasihatnya sangat damai dan enak untuk diajak curhat," ucap Cyra, karena memang Cyra dan Adam ada beberapa kali ketemu dan mengobrol bersama, meskipun hanya obrolan singkat tetapi Cyra bisa merasakan bahwa Adam memang memiliki sikat yang ngemong, cocok dengan Rania yang memang suka perhatikan. Hal itu karena Rania selama ini kurang perhatian dari keluarga atau pun dari yang lainya, sehingga bertemu dengan sifat Adam yang ngemong itu sangat cocok.
"Menurut kamu gimana Ra kalo aku dan Adam dekat. Jujur aku ingin sekali curhat, dan ini adalah curhatan aku pertama kalinya dengan kamu setelah selama ini aku memendamnya seorang diri. Aku butuh masukan dari yang lain, agar aku tidak salah mengambil keputusan," lirih Rania, sembari menunduk. Memang benar yang disampaikan Rania bahwa dirinya tengah galau dengan Adam yang kembali mengutarakan niatanya untuk menjadikan Rania istrinya.
"Jadi benar dugaan Cyra, Mba Rania dan dokter Adam sudah sejauh ini?" tanya Cyra, sembari menggeser duduknya dan menatap Rania dengan penuh harap bahwa Rania akan melanjutkan ceritanya yang menurut Cyra sangat menarik.
"Bingung Ra mau mulainya dari mana," ujar Rania sembari terkekeh samar ketika melihat perubahan wajah Cyra seolah kecewa tapi justru lucu. "Pantas saja Naqi sangat mudah jatuh cinta dengan Cyra, anaknya seru, dan lucu," batin Rania, dia saja yang baru hari ini ketemu dan ngobrol lebih dekat dengan Cyra sangat nyaman dan terhibur. Bagai mana Naqi yang memang sering bersama dengan Cyra. Wajar ko Naqi merasa kehilangan sekali dengan sosok Cyra yang mudah berbaur itu.
"Mba Rania bisa mulai dari pertama dokter Adam meberi perhatian pada Mba Rania. Ayo Mba, Cyra penasaran banget nih," rengek Cyra sembari menarik-narik ujung baju Rania. Persis seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan tetapi tidak dibelikan oleh orang tuanya sehingga dibutuhkan rayuan seperti Cyra lakukan.
"Baiklah Mba akan cerita, tapi jangan di ketawain yah, soalnya ini lebih ke garing dan kaku. Enggak kaya kisah orang diluaran sana yang romantis dan menarik untuk di simak. Kalo kisah Mba sama Adam itu enggak menarik kayaknya." Rania terkekeh samar dengan kisahnya sama Adam.
"Kata siapa Cyra tertarik dengan cerita Mba Rania sama dokter Adam. Kayaknya seru ajah. Dokter Adam kan tegas, dan dingin tapi perhatian, nah sama Mba Rania apa sifatnya sama kaya gitu atau justru bucin tingkat dewa?" tanya Cyra kepo maksimal sembari membayangkan Adam bucin sama Rania yang sedikit manja itu. Eh... bukan sedikit manja tapi manjanya banyak.
Sebelum menjawab Rania nampak memanyunkan bibirnya. "Apaan bucin, mana ada Adam bisa bucin. Yang ada dia itu galak dan sok cuek tapi datang terus ke ruangan Mba waktu di rawat abis gitu ngeselin. Pokoknya galak abis lah. Tapi diam-diam ngajak nikah. Enggak ngertilah," ucap Rania dengan menunjukan wajah bingungnya.
Hahahaha... Cyra tertawa dengan renyah. "Kan kisahnya bagus, ayo Mba cerita lagi, penasaran banget wajah dokter Adam pas marahin Mba Rania, terus tampang sangarnya ngajak nikah. Kira-kira romantis apa nyebelin ekpresi wajahnya?" tanya Cyra sembari terkekeh membayangkan wajah dingin Adam mengajak nikah dengan Rania.
"Yang jelas kalo romantis tidak mungkin yah Ra. Lebih ke kaya maksa, ayo nikah sama aku kalo tidak bakal nyesel! Hampir kaya gitu kali yah," ucap Rania sembari menunjukan wajah BTnya mengikuti gaya Adam yang sok dingin itu.
Lagi, Cyra terkekeh sembari menempuk-nempuk pahanya dengan telapak tanganya sendiri. Bahkan Cyra mungkin lupa bahwa wanita yang tengah bercerita denganya saat ini dulunya orang yang memusuhunya. Sangat menganggap Cyra musuhnya yang harus dimusnahkan. Namun kali ini Rania mencoba menarik diri lebih dekat dengan Cyra. Yang ia nilai anaknya seru abis. Dan yang terpenting Cyra sangat berbeda dengan adik tirinya Qari. Yang setiap berpapasan dengan Rania saja nampaknya sangat enggan, jangankan bisa mengobrol dengan dekat. Sekedar bertanya saja jarang Qari jawab. Malah mungkin Qari menganggap Rania tidah ada disekitarnya.
...****************...