Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kabar Gembira


"Ra, Kaka boleh ngomong empat mata dengan kamu?" tanya Fifah, begitu dia masuk keruangan Qila dan Cyra. Yah, walaupun setatus Cyra adalah pemilik perusahaan tapi dia malah tidak mau dijadika direktur, dia malah lebih suka bekerja jadi staf biasa yang setiap hari membantu Qila dengan lapora-laporan ptoduksi dan penjualan. Sedangkan tugas-tugas Cyra yang sesungguhnya di kalungkan pada Mas Wawan. Untung Wawan bukan tipe emak-emak komplek yang suka protes kalo diberi pekerjaan tambahan. Wawan adalah tipe pasrah, mau di minta mindahin candi borobudur ke Jakarta juga kayaknya Mas Wawan akan mengerjakanya juga. Sabar yah Mas, ngadapin bocil satu ini....


Cyra yang kaget dengan pertanyaan Fifah pun langsung menatap Qila, sebagai pertanyaan bahwa ia harus gimana. Qila yang sudah paham dengan kode-kode Cyra pun mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Cyra.


"Baik lah, di kantin yah!" Cyra meminta agar Afifah berjalan lebih dulu. Sementara dia mengekor dibelakangnya dan dalam pikiranya ia bertanya tanya, untuk apa kakanya menemuinya. Apa akan membahas permintaan Cyra atau yang lainya.


Sesampainya di kantin Cyra memesan minunan untuk dirinya. "Kakak mau minum apa?" tanya Cyra, ini adalah obrolan pertama diantara Fifah dan Cyra setelah sekian pekan ia mendiamkan Fifah karena dirinya yang tidak mendapatkan kepastian dari permintaan donor mata untuk Mommy'nya padahal waktu berfikir yang Cyra berikan untuk Fifah dan Mamah Daima hanya semunggu, tetapi justru sampai sekarang tidak ada niat baik dari Fifah maupun mamah Daima memberikan kabar bahagia itu.


"Samain saja sama punya kamu Ra," ucap Fifah sembaari duduk di depan Cyra.


"Maaf, aku ganggu kamu yang sedang sibuk." Fifah memulai obrolan yang sejak tadi sepi, karena fikiran masing-masing.


"Enggak ko, santai saja, gimana Kabarnya? Si utun nggak rewel kan?" tanya Cyra, sebenarnya ia kangen juga sama kakanya tetapi karena kekecewaaan dengan orang tuanya hubungan mereka merenggang, dan terlihat kaku.


"Alhamdulillah baik, Utun juga nggak rewel, enggak nakal jadi kakak bisa bantu Mamah Mia masak, Kakak juga sekarang sudah bisa mengolah masakan sendiri, rasanya juga enak. Kamu coba yah, Kakak habis antar makanan buat Wawan dan sekalian buat kamu juga." Fifah menyodorkan kotak bekal makan pada Cyra.


Cyra pun dengan pasrah menerimanya, "Terima kasih, seharusnya nggak usah repot-repot, Cyra bisa cari makanan sendiri ko. Bukanya Kakak sedang sembunyi dari mantan suami Kakak yang kasar itu, nanti kalo ketahuan kakak kesini bisa-bisa kakak diancam lagi sama mantan kakak dan dia juga nanti tahu kalo kakak juga tengah hamil anaknya." Cyra bukanya tidak suka dengan Fifah mengantarkan makanan kesini hanya saja Niko bisa berbuat kasar lagi kalo tahu di mana Fifah. Secara mereka kini telah resmi bercerai dan Fifah selama persidangan tidak hadir hanya di wakilkan oleh pengacaranya dan menggunakan alasan sakit. Niko yang mengajukan keinginan untuk bertemu Fifah pun di tolak. Karena Fifah tidak mau Niko sampe tahu dirinya hamil. Hal itu membut Niko marah, dan mengancam Fifah.


"Iya Ra, kakak juga tidak pergi kemana mana lagi ko, kalo sudah dari kantor kamu kakak langsung pulang. Bisa marah nanti Wawan kalo tahu kakak keluyuran," jawab Fifah sembari tersenyum malu, sehingga Cyra jadi curiga ada apa dengan Fifah.


"Kakak, apa ada yang Cyra nggak tahu antara kakak dan Meta, kenapa kakak kayaknya bahagia banget dengar nama Meta?" Tanya Cyra dengan penuh selidik.


"Itu Ra, kata Wawab nanti kayo Kakak sudah lahiran Meta akan menikahi kakak," ucap Fifah dengan malu-malu.


"Bukan enggak ngomong kali Ra, tapi tepatnya belum. Soalnya kakak saja tahunya tadi malam, kakak juga kaget kenapa bisa Wawan mau nikahi kakak sedang setatus kakak saja janda dan dia perjaka, tapi kata Wawan setatus nggak bikin orang menghalangi untuk jatuh cinta. Wawan bilang dia suka sama kakak, jadi kakak pikir dari pada mencintai mending di cintai. Kakak akan menerima Wawan, kalo kata kamu gimana?" tanya Fifah meminta pendapat dari adiknya.


"Kalo Cyra mah Ok saja, terlebih Cyra sangat tahu gimana Meta, dia orang yang sangat baik, orang yang nggak pernah main tangan, bahasanya juga nggak pernah kasar. Biarpun Wawan kata orang Ben-cong atau apa, tapi bagi Cyra dia laki-laki tanggung jawab dan lemah lembut. Kakak pantas dapatkan laki-laki yang seperti Meta," ujar Cyra dengan senyum merekah, karena senang juga akhirnya di umur Meta yang sudah diatas kepala tiga bahkan akan memasuki kepala empat dia menemukan pelabuhan hatinya, yang bisa menerima apa adanya.


Meta dulu sering curhat bahwa ia sudah beberapa kali melamar cewek yang disukainya, tetapi keluarga ceweknya pada tidak suka dan menganggap Meta berbelok, hanya karena pekerjaan Meta yang selalu benampilan perempuan, Meta beberapa kali di tolak sama cewek. Bukan hanya Meta yang bercerita demikian mamah Mia juga selalu berbicara begitu. Beliau sebenarnya sedih ketika Meta dinilai buruk oleh masyarakat, tetapi Meta selelu bilang bahwa ini hanya profesi dan selalu menguatkan mamahnya sehinga mamah Mia lambat laun biasa saja ketika ada warga, bahkan tetangga yang mencemooh pekerjaan Wawan, yang terpenting Meta tidak sesuai dengan yang mereka nilai hanya dari penampilan dan pekerjaanya saja. Itu sebabnya juga mamah Mia jarang berkumpul dengan tetangga, begitu pun Meta. Apabila berkumpul dengan warga hati malah suka terbawa panas. Silahkan mereka membicarakan anaknya sebagaimana suka mereka, asal mamah Mia dan Meta sendiri tidak dengar itu lebih aman buat hati dan telinga.


"Oh iya, kakak selain mau memberi kabar baik mengenai pernikahan kakak dan Wawan, kakak juga mau mengabarkan bahwa papah mau menjadi donor mata buat Mommy kamu, tapi biarkan Papah tetap hidup," ucap Fifah kali ini ia tidak lagi gembira, wajahnya murung dan bersedih, tetapi dia juga tidak mau hubunganya dengan Cyra renggang. Sekarang dia tidak punya siapa-siapa lagi dia hanya punya Cyra sebagai adiknya dan Mamah Daima. Sedang Papahnya sudah tidak bisa diandalkan semakin hari semakin tidak ada perubahan, mungkin itu keputusan Fifah dan mamahnya untuk mendonorkan matanya untuk Mommynya Cyra.


Selain untuk memperbaiki hubungan keluarganya dengan Cyra, mereka ingin Papah juga merasakan apa yang mommynya Cyra rasakan.


"Kakak serius? Kakak tidak bohong sama Cyra kan? Ini benaran kabar gemira buat Cyra," pekik Cyra dengan sangat bahagia. Cyra akan segera memberika kabar pada kakek pasti kakek juga bahagia karena ternyata Tuan Kifayat akan merasakan apa yaang mommynya rasakan juga.


"Iya Ra, kami sudah mempertimbaangkanya dan semoga ini adalah keputusan terbaik buat kita semua," ucap Fifah dengan bersungguh-sungguh. Ini adalah keputusan yang berat buat Fifah dan juga mamahnya, tetapi ia juga mencoba berfikir berada di posisi Cyra yang sudah jelas tidak mudah.


Cyra pun langsung memeluk Fifah dia sangat bahagia, dan ternyata semakin cepat juga dia untuk pergi menemui Mommynya. Dia akan kembali menemui Tuan Latif untuk meminta berangkat lebih awal dari jadwal yang telah di tentukan. Tugasnya di negri ini sudah selesai Cyra tidak mau lagi berlama-lama di sini, ia ingin cepat memngunjungi Mommynya agar bisa berkumpul bersama.


Fifah pun membalas pelukan Cyra, ini pelukan sebagai kakak beradik yang dulu tidak pernah akur, "Maafin kakak dan keluarga kakak yah selama ini sudah sangat jahat sama kamu, dan keluarga kamu. Sekarang Kakak dan keluargaa kakak sudah mendapatkan buah dari yang kita tanam. Kakak minta kedepanya hubungan kita baik-baik saja kita akan tetap menjadi kakak dan adik." ujar Fifah masih dalam posisi memeluk Cyra.


Cyra hanya mengangguk dirinya terlalu bahagia, akhirnya semua mimpinya akan menjadi nyata, ia bisa mewujudkan mimpi dari semua yang pernah ia rangkai. Cyra berjannji walaupun dia akan pergi ke belahan bumi yang berbeda, tetapi ia akan tetap berkomunikasi dengan para sahabat daan juga keluarganya, Qari, mamih dan kakek juga tidak akan pernah Cyra lupakan, tanpa mereka Cyra tidak akan pernah ketemu dengan Mommynya. Cyra tidak menyesali perjalanan hidupnya yang penuh liku dan drama, bahkan kesakitan yang menimpanya, Cyra jadikan sebagai pembelajaraan hidup karena Cyra tahu kehidupaan tidak selamanya berjalan mulus. Batu-batu rintangan yang besar pasti akan menghadang. Justru Cyra bersyukur, semua musibah, kecewa, sakit hati maupun fisik membuat bahu Cyra semakin kokoh. Dia semakin bisa bersikap tenang dalam setiap masalah dan tetap fokus dengan tujuanya, tanpa mencampur adukaan emosi dan ambisi. Hidup itu bukan perlombaan, tapi hidup itu pembelajaran. Belajar dari setiap kejadian yang kita lalui. Itu perinsip Cyra.


Selamat Cyra....