Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Iri


Pagi hari Alzam bersiap akan mengunjungi rumah bosnya, dengan membawa motor meticnya, di mana sang bos yang sedang puber ingin kencan dengan motor matic. Pagi ini motor sebelumnya sudah di steam dan bensin juga sudah aman. Alzam heran apakan kalo jatuh cinta itu sampai seperti itu. Sifatnya berubah-ubah, dulu ketika kehilangan Cyra ia menjadi orang yang paling menyebalkan, tidak bisa ada kesalahan satu  pun, maka akan berakibat fatal, tetapi ketika Cyra sudah datang dan ia kembali bahagia, maka bosnya menjadi orang paling penyabar, bahkan tidak perhitungan,.bonus mengalir terus. Ketika bosnya suasana hatinya sedang happy makan anak buahnya pun kebagian bonus tidak tanggung-tanggung pula bonus yang diberikan Naqi bisa buat beli motot baru.


Di kamar Naqi, laki-laki itu yang biasanya akan sulit untuk di bangunkan, hal berbeda terlihat pagi ini di mana ia baru mendengar suara Alarm di jam lima pagi sudah langsung bangun dan bergegas masuk kamar mandi, membersihkan badan dengan bersih dan dan wangi adalah ritual awal uantuk menyambut kencan hari ini. Bahkan sangking tidak sabarnya akan menyambut kencan hari ini Naqi sempat bermimpi lebih dulu kencan dengan pujaan hati Cyra.


Pukul enam kurang Naqi sudah turun ke bawah guna sarapan lebih dulu, jangan sampai tidak sarapan, nanti malah pingsan dan mengacaukan suasana kencan mereka. "Wah, tumben nih anak mamih yang duda jam segini udah rapih. Tunggu! Kamu pakai minyak wangi berapa banyak sih Bang, kenapa wangi sekali, apa tidak pingsan nanti yang duduk di sebelah kamu?" tanya mamih, tentu hanya iseng ajah. Toh wangi minyak wangi yang Naqi pakao adalah minyak wangi dengan harga yang mahal ssehingga tidak akan merusak indra penciuman. Sifat iseng mamih muncul ketika melihat kelakuan anaknya berubah, mamih sudah tahu bahwa ini pasti ada hubunganya dengan mantan menantunya.


"Hahaha... mamih lebay deh, kayak enggak tahu anak muda ajah Mih, kami hari ini mau kencan Mih. Biasa ngajak eneng jalan-jalan naik motor," ucap Naqi dengan bangga sama mamihnya.


Mamih heran dengan apa yang anaknya katakan, "Kencan pake motor? Kamu lagi enggak kesambet kan Bang, kenapa kamu tiba-tiba jadi sering aneh gini sih. Apa karena kamu pengin kawin jadi kamu kayak, kamu enggak setres karena belum di restui nikah sama kita-kita kan?" Mamih terlalu parno kalo Naqi kesal dengan mamih dan kakeknya yang belum merestuii pernikahan Naqi yang ke dua kalinya.


"Enggak atuh Mih, masa gara-gara itu langsung setres. Santai ajah toh masih bisa dekat-dekat dengan eneng, cuma bedanya kalo kita udah nikah kan kencanya tidak jalan-jalan lagi tetapi di dalam kamar, cetak mochi buat mainan mamih dan kakek," ucap Naqi, padahal kalo mau dari dulu kesempatan terbuka lebar mau adon mochi sehari tiga kali juga othor kasih, tetapi justru setelah saling pisah baru keinginan untuk bercinta selalu datang. 'Ujian oh ujian'


"Den Naqi, Mas Alzam sudah ada di luar. Katanya mau antar motor," ucap bibi memberitahukan apa yang tadi Al katakan.


"Kalo gitu panggil Al dulu Bi, buat masuk kedalam. Kasihan siapa tahu dia belum makan," ucap Naqi sembari menyiuk nasi dan menu pendamping. Biasanya ketika memiliki istri makan akan dilayani dan dia tinggal makan, berbanding tebalik sekarang menyandang duda, apa-apa sendiri.


"Mih, kakek enggak kelihatn kemana?" tanya Naqi padahal dia sudah yakin ingin meminta restu secara langsung dengan kakeknya dan mungkin sajah untuk kali ini kakek luluh dan akan mengizinkan Naqi untuk menikahi Cyra.


"Hah, kok kayaknya cepat banget. Giliran aku ajah minta restu sama kakek sulit sekali kenapa Rania seolah sangat mudah. Aku iri dong mih, Naqi dan dia sama-sama melakukan kesalahn, tetapi kenapa kayaknya dia tidak di hukum sama kakek, sedangkan aku sama kakek dihukum entah dengan kerjaan, kakek yang seolah membatasi interaksi dengan aku, dan sekarang aku ingin serius membina rumah tangga lagi sama Cyra kenapa kakek tidak juga memberikan izin. Apa aku harus kawin lari sama Cyra?" ujar Naqi pagi ini dia menjadi sedikit kesal dengan kakeknya yang pilih kasih. Lagi-lagi orang-orang itu menomor satukan Rania.


"Hust, jangan ngomong kaya gitu Bang, takutnya ada yang dengar nanti enggak enak, jadinya malah saling iri-irian. Abang kan udah besar ngalah lah, nanti juga kalo Abang tulus buktiin sayangnya sama Cyra, kakek akan luluh kok. Kakek juga pasti ngamatain kedekatan kalian. Jadi berbuatlah yang baik-baik," ujar mamih menasihati Naqi Cukup kejadian seperti Qari, dan jangan terulang kembali. Mamih tidak ingin lagi ada  pertengkaran di rumah ini, karena bisa saja Rania mendengar ucapan Naqi dan berakibat menyakiti hati Rania. Mamih juga tahu bahwa kemungkinan Rania menerima tawaran Adam karena ingin buru-buru pindah dari rumah ini. Wnita paruh baya itu memang bukan ibu yang melahirkan Rania tetapi mamih tahu bahwa Rania itu tertekan di rumah ini. Kasihan,  itu yang mamih rasakan karena hal itu kalo terjadi pada dirinya  sendiri ataupun anak-anaknya pasti jadi beban pikiran banget.


Obrolan tentang Rania dan pernikahanya pun berhenti, ketika Alzam dan Rania masuk ke ruang makan, mereka pun sarapan dengan damai, Setelah sumuanya terlewati Naqi pun berangkat lebih dulu, sementara yang lain masih menikmati sarapanya, termasuk Alzam yang memang belum sarapan. Sementara Naqi berangkat lebih dulu karena sudah tidak sabar ingin berkencan dengan neng Cyra sesuai dengan yang Cyra mau. Sebelum berangkat, Naqi tentu sudah chetingan dengan Cyra, ucapan selamat pagi dan selamat tidur menjadi hal yang rutin Naqi lakukan.


Sangat berbeda dengan dulu selama menikah, Naqi malah tidak tahu nomor istrinya. Begitupun Cyra tidak tahu nomor suaminya. Hidup satu atap dan juga satu kamar tetapi tidak saling terikat perasaan. "Apa ini yang di namakan Cinta setelah perceraian?


Sementara di ruang makan Alzam masih menikmati sarapanya, dalam hatinya ada rasa deg-degan karena takut ketemu Qari. Terlebih Alzam sebenarnya sangat merasa bersalah dengan Qari, bukan maksud dia membuat Qari cemburu. Karena kejadian Qari cemburu pada Alzam dan Mirna, sampai saat ini Qari tidak masuk kerja, dan di rumahnya pun Qari tidak ada. Tanpa orang-orang sadari, sejak tadi Alzam mencari-cari keberadaan Qari, Namun sayang semuanya sia-sia Alzam tidak melihat Qari. "Kemana Qari yah? Kenapa di rumahnya pun tidak ada?" batin Alzam, semakin di buat penasaran. Ingin sekali Alzam sejak tadi bertanya pada mamih Nita, tetapi lagi-lagi mental dia tidak sehebat orang-orang. Alzam tidak berani memulai obrolan lebih dulu terutama soal Qari. Itu sebabnya sarapan kali ini banyak diamnya. Mamih juga bingung mau memulai obrolan dengan laki-laki yang dicintai oleh anaknya dari mana. Rania pun yang tidak begitu tahu dengab laki-laki yang ada di hadapanya hanya menyimak.


"Kamu apa kabarnya Al? Sekarang sudah sembuh kan sakitnya?" tanya mamih. Terlebih Alazam sekarang berjalan sudah tidak menggunakan bantuan tongkat. Alzam menggunakan kaki palsu untuk menyambung kaki kirinya yang diamputasi. Sehingga kalau sekilas orang melihat maka Alzam layaknya seperti orang normal, tetapi kalau diambati detail akan berbeda, dari cara berjalan juga sedikit ada perbedaan. Terlebih kalau bekerja Alzam menggunakan celana panjang dan dibungkus sepatu semua yang melihat akan mengira bahwa Alzam adalah manusia normal.


Alzam yang di dalam fikiranya masih banyak pertanyaan kaget dengan pertanyaan mamih. Bahkan ia meminta mamih mengulang peetanyaanya karena dia tidak menyimak apa yang mamih pertanyakan.