Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kesepakatan Naqi dan Cyra


Hari ini Naqi pulang dengan perasaan gembira ia seolah tidak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini pada Cyra. Naqi ingin tahu gimana ekspresi Cyra nanti ketika Naqi memberikan kesempatan untuk Cyra menjadi model.


Sebelumnya tentu Naqi akan meminta izin kepada kakek dan mamihnya. Ia akan menjadika model Cyra tetapi merahasiakan pernikahan mereka, bukan karena malu atau gimana, tetapi Naqi hanya ingin orang-orang menilai Cyra karena bakat dan kemampuanya bukan karena ia istri dari pewaris tunggal perusahaan Tuan Latif, kakek Naqi.


Begitu sampai di rumah, Naqi langsung mencari kakeknya, orang pertama harus tahu rencananya adalah beliau karena beliaulah pemegang kendali dari semua izin, andai kaken berkata jangan atau tidak berati Naqi tetap tidak bisa mewujudkan semua impian Cyra. Maka dari itu Naqi harus mengambil hati Tuan Latif agar semau rencananya berjalan mulus.


Tok...tok..tok...


Naqi sudah paham betul bahwa kakeknya pasti berada di ruang kerjanya. Walaupun dia tidak berangkat kekantor dan hanya di rumah sajah, tetapi ia selalu mengecek kerja anak buahnya termasuk Naqi, jadi dia tau laporan apa sajah yang dikerjakan Naqi. Untuk saat ini kakek selalu bangga dengan cucunya itu karena Naqi bekerja dengan sangat baik dan disiplin.


"Masuk," Suara kakek terdengar dari dalam. Naqi pun masuk dan langsung mengambil posisi duduk di depan kakeknya.


"Ada yang penting, tumben pulang kerja langsung menemui kakek? Ada masalah diperusahaan?" tanya kakek begitu Naqi duduk.


"Bukan masalah penting sih Ke, ini seperti meminta solusi sajah," balas Naqi, sebenarnya ia takut apabila kakek menolak rencananya, terlebih Cyra nanti akan berdiri dikakinya sendiri tanpa membawa nama Naqi atau pun kakek.


"Katakan apa yang pengin kamu katakan?" ucap kakek tidak mau membuang-buang waktu.


"Jadi gini Ke, tiga hari lagi kita peluncura produk baru kita, barusan di rapat model untuk bintang iklan Maskara mengundurkan diri, untuk cari gantinya saya rasa Cyra pantas menjadi model tersebut, terlebih Cyra memiliki bulu mata yang lentik alami." Naqi menjelaskan sesingkat mungkin agar kake bisa langsung menangkap tujuan dari semuanya.


"Tujuan kamu menjadikan Cyra apa? Apa kamu sudah tidak bisa menafkahi dia sehingga kamu memintanya bekerja?" tanya kakek dengan nada sinis.


"Bukan Kek, sama sekali bukan itu. Bahkan Naqi sangat sanggup menghidupi dia untuk tahun-tahun kedepanya, hanya sajah Naqi ingin mewujudkan impian Cyra. Dia pernah bercerita bahwa dia ingin jadi model. Maka dari itu begitu ada kesempatan itu Naqi ambil untuk Cyra supaya dia bisa belajar mengenal dunia model dan dia bisa menggapai mimpi-mimpinya," jelas Naqi dengan sangat lembut agar kakek tidak tersinggung. Bahanya kalo kakenya sudah bilang tidak maka tidak ada kesempatan Naqi untuk menjelaskanya.


"Hemz... yakin alasanmu hanya itu?" tanya kakek dengan tatapan membunuh. "Kamu tidak menyimpan maksud lain atau kamu sedang merencana kan sesuatu yang kakek nggak tau mungkin," cecar kakek seolah tau rencana Naqi sesungguhnya.


"Tidak Kek, lagian memang merencanakan apa sih, mana berani Naqi merencanakan sesuatu diluar sepengetahuan kakek. Bahkan Naqi sembunyi di lubang semut sajah bisa ketahuan apa lagi rencana lain, sudah pasti orang-orang kakek sudah lebih dulu menemukan rencana Naqi sebelum rencana sebenarnya terlaksana," oceh Naqi. " Maafkan Naqi Ke, Naqi hanya ingin apabila aku dan Cyra bercerai, ia sudah mandiri dan bisa mencari kebahagiaanya dari dunia barunya," batin Naqi didalam hatinya.


"Kamu sudah tanya Cyra dan jawaban dia gimana?" tanya kakek dengan wajah datar.


"Belum Kek, rencananya aku akan merahasiakan pernikahan aku dan Cyra Ke...."


Brak...


"Apah..." Belum juga selesai Naqi berbicara, kakek sudah menggebrak mejanya, terlihat sorot mata tajam dari wajah kakek..


"Kamu sekarang temui istrimu bicarakan semuanya dengan dia. Setelah istrimu tau baru ajak dia menemuai kakek. Aku pengin tau dari mulutnya sendiri keinginannya bukan dari kamu," ucap kakek sembari menuju kearah Naqi.


Naqi pun dengan lemas berpamitan dari ruangan kakek dan akan menemui Cyra akan membicarakan itu semua bersama.


"Ah, setidaknya masih ada harapan dari kakek buat memberikan izin, sekarang kuncinya ada di Cyra, dia bisa tidak mengambil hati kakek.


Naqi masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Cyra yang tengah asik memainkan ponselnya.


"Gimana keadaan kamu Ra?" tanya Naqi dengan wajah murung.


"Alhamdulillah Mas udah jauh lebih baik, bahkan kalo dibolehin juga udah bisa masak, tapi mamih selalu melarang Cyra ngapa-ngapain. Untung tadi seharian ditemanin mamih belajar gunain ponsel jadi nggak bosen lagi," ucap Cyra dengan wajah ceria berbading terbalik dengan wajar Naqi yang murung. "Mas, kayaknya cape banget. Pasti kerjaan di kantor lagi banyak yah sehingga kecapean gitu, mau Cyra pijitin atau sediain air hangat buat berendem?" tanya Cyra dengan heboh.


"Nggak usah Ra, kamu duduk ajah aku ada kabar yang sepertinya sangat kamu tunggu-tunggu dan akan membuatmu lebih bergembira timbang bisa menggunakan posen itu," ujar Naqi sembari menunjuk ponsel baru Cyra. Yang dari tadi dimainkanya.


"Wah, kabar apa lagi Mas, Cyra jadi nggak sabar buat mendengarkanya," balas Cyra dengan wajah berbinar bahagia.


"Kamu masih ingin jadi model?" tanya Naqi memastikan.


Cyra dengan semangat menganggukan kepalanya. "Masih Mas, itu cita-cita Cyra dari kecil dan sampai sekarang jadi tentu tidak mudah mengubur cita-cita itu. Meskipun beberapa kali Cyra sudah berusaha pasrah dan tidak lagi mengharapkan mimpi itu terjadi. Namun, lagi-lagi keinginan itu datang," jawab Cyra dengan raut wajah yang berubah murung, ketika membayangkan gimana orang tuanya menentang dengan keras cita-cita Cyra.


"Aku akan memberikan kamu kesempatan untuk memulai meraih cita-citamu, tapi kamu harus meyakinkan kakek bahwa kamu memang sangat meninginkan jadi model." Naqi pun pada akhirnya menceritakan dengan detail ketika kesempatan itu datang, dari model yang mengundurkan diri sampai Naqi yang mengajukan nama Cyra sebagai gantinya, serta meminta izin pada kakek untuk merahasiakan setatus pernikahan mereka dengan tujuan agar sutradara yang menilai Cyra karena kemampuanya yang layak menjadi model, tanpa embel-embel lain sebagainya.


Tentu Cyra setuju dengan usul Naqi, dia inggin terkenal karena kemampuan dan karyanya bukan karena Pansos (Panjat sosial) yang tidak memiliki kemampuan apa-apa tapi terkenal.


"Boleh Mas, kapan kita menemui Kakek?" tanya Cyra dengan semangat. Dia akan menunjukan dengan bersungguh-sungguh agar kakek mengizinkanya tidak menggunakan setatusnya yaitu istri Naqi.


"Nanti sehabis makan malam kita bersama-sama menemui kakek. Bagai mana kamu sudah siap?" tanya Naqi memastikan.


"Siap Mas, Cyra sangat siap," balas Cyra dengan semangat, dan wajah yang kembali bahagia.


...****************...


# Jangan lupa mampir ke novel author yang lain judulnya "Beauty Cloads" Ceritanya nggak kalah keren loh...