Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Ungkapan Hati


"Qari... De ayo bangun ini udah siang," ucap Cyra membangunkan adik Iparnya yang ternyata ikut tertidur dan hari ternyata sudah siang.


"Hah, kok bisa udah siang, kita semalam habis makan perasaan ngobrol dan berencana mau bergantian untuk menjaga Abang, tapi kenapa malah kita tidur dan bangun sudah siang begini," ucap Qari berbisik sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa kita tidur sampai pagi. Terus Mas Naqi tidak ada yang menjaga yah?" ucap Cyra sembari menyengir kuda terlebih ketika melihat Naqi tidur dengan sangat miris miring ke kiri dan punggung di sangga oleh bantal yang cukup tinggi dan itu semua pasti Naqi yang membuatnya sendiri. Karena tidak ingin membangunkan Qari dan Cyra sehingga Naqi membuat ide agar bisa tidur seperti itu adanya. Cyra jadi merasa bersalah di mana ia dan Qari berniat menjaga Naqi tetapi sepertinya justru Naqi yang menjaga mereka.


"Haha... Sudah lah kakak Ipar kapan lagi juga kita tidur tapi di jagain sama bos besar, mana Abang itu sejak di tinggal sama kakak Ipar itu jadi super galak tau. Berbeda dengan dulu yang sabar dan baik, sekarang mah bawel dan menyebalkan," ucap Qari yang memang dia sering mendapatkan kemarahan oleh Naqi.


Padahal tanpa Qari sadari Naqi marah-marah itu juga karen Qari yang sulit di atur.


Setelah Qari bersiap mandi dan Cyra mencari sarapan untuk dirinya dan Qari. Mereka pun akhirnya sarapan bersama di mana setelah ini Qari akan pergi kerja dan Cyra kembali menjaga Naqi.


Saat ini Naqi pun masih tertidur dengan pulas, di mana ia baru bisa tertidur ketiga pagi menjelang. Yah semalaman Naqi mengobrol bersama Sam untuk menghilangkan rasa jenuhnya.


"Kakak Ipar, Qari nitip Abang yah, dia memang sangat menyebalkan tetapi percaya lah Abang itu Abang terbaik Qari, jadi selama Qari kerja nitip Abang yah, tapi kalo Abang memang menyebalkan kakak Ipar boleh kok menghukum Abang, di jewer pun boleh," bisik Qari sebelum dirinya benar-benar berangkat kerja dan Cyra kembali berdua saja di ruangan rawat VIP tempat Naqi di rawat.


Cyra pun setelah Qari berangkat kerja dan sementara Naqi belum bangun ia gunakan waktu menunggunya untuk berkomunikasi dengan mommynya di mana mommy hari ini berencana mengunjungi makam papihnya bersama Tuan Latif dan Mr Kim, dan Cyra akan menyusul setelahnya.


Tidak lupa juga Cyra menghubungi pengantin baru Meta dan Fifah, hanya untuk mengecek anak mereka Mesy.


Cyra bahkan sudah menganggap bahwa Mesy juga anak mereka, dan tentunya setelah diizinkan oleh Fifah dan Meta.


"Ada yang mau di bantu Mas?" tanya Cyra ketika melihat Naqi bangun.


Naqi tersenyum sama Cyra. "Tidak usah Ra, sebenarnya sudah mendingan sih ini tidak pegal dan perih seperti kemarin dan aku berharap nanti atau besok sudah boleh pulang, rasanya bosan banget Ra, di rumah sakit itu," ucap Naqi sembari berusaha duduk.


"Iya pasti Mas, Cyra yang menunggu ajah bosen apalagi Mas Naqi yang memang sakit dan harus makan-makanan rumah sakit dan minum obat pasti bosen banget," ucap Cyra.


Naqi mengangguk, membenarkan apa ucapan Cyra, dan memang benar kok kalo apa yang diucapkan Cyra bahwa sakit itu sangat membosankan sekali. Dan Naqi baru seumur hidup merasakan sakit seperti ini. Tetapi untuk ada Cyra yang sabar dan masih mau menjaganya, meskipun Naqi sudah membuat Cyra kecewa.


Naqi memperhatika Cyra, yang seolah semakin hari semakin cantik dan berhasil membuat Naqi makin cinta dengan Cyra.


"Ra..." panggil Naqi dengan sangat pelan, bahkan saking pelannya Cyra seolah tidak mendengar terlalu jelas dengan panggilan Naqi.


"Mas Naqi panggil Cyra?" tanya Cyra dengan suara tidak kalah kecil.


Naqi mengangguk, "Ra, katakan aku harus ngelakuin apa Ra, biar kamu maafin kesalahan aku Ra. Sungguh aku adalah laki-laki paling bodoh di dunia ini yang meninggalkan istri demi perempuan lain. Hukum aku Ra, hukum apapun itu hukumanya, tapi aku mohon kamu maafin aku Ra dan kasih kesempatan aku buat mengulang semuanya. Bilang aku harus apa Ra biar kamu bisa seperti Cyra yang dulu, Cyra yang sayang dan cinta sama aku dengan segala keisengan kamu. Aku kangen keisengan kamu Ra." Naqi tidak tahan dengan semua perasaanya, dia ingin jujur se jujur-jujurnya dengan perasaanya sehingga Cyra juga bisa tahu bahwa perasaanya sejak dulu sampai sekarang tidak berubah, dan justru perasaan itu bertumbuh terus menerus.


"Mas, dari awal Cyra udah pernah bilang sama Mas Naqi. Cyra sudah maafin Mas Naqi, bahkan sama Mba Rania, Cyra sudah memaafkan padahal Cyra belum pernah bertemu dengan Mba Rania, tetapi demi Tuhan Cyra sudah memaafkanya dan tidak sedikit pun dendam dengan Mba Rania maupun Mas Naqi. Cyra memilih memaafkan kalian bahkan sebelum Mas meminta maaf hal itu karena Cyra tidak ingin hati Cyra diisi dengan kebencian, Cyra ingin hidup tanpa adanya dendam apapun itu. Cyra sudah memaafkan Mas Naqi dari dulu tidak ada dendam dan kebencian di hati Cyra, sungguh. Dan soal Cyra merawat Mas Naqi sekarang, bukan semata karena Cyra masih cinta dan ingin kita bersama lagi. Ini semua karena Cyra ingin mengucapkan rasa terima kasih dengan Mas Naqi yang mau mengorbankan tubuh Mas Naqi sampai seperti ini untuk melindungi Cyra." Cyra tampak menarik nafasnya dan berbicara dengan sangat pelan dan jelas hal itu agar Naqi tidak salah duga dengan kebaikanya.


"Dan soal hukuman atau apa lah yang Mas Naqi bilang barusan. Cyra tidak pantas melakukan itu semua, karena yang lebih pantas memberikan hukuman atau apapun itu hanyalah Tuhan, hanya Tuhan yang berhak melakukan itu. Cyra hanya minta sama Mas Naqi, biarkan kita jalani takdir hidup ini dengan sebagai mana mestinya. Kalo memang kita masih memiliki garis jodoh, biarkan tumbuh dengan sendirinya. Ikuti bagai mana prosesnya Mas, biar lebih alami, dan tentunya biar lebih berharga. Sebab Cyra lihat di hubungan kita yang dulu hubungan kita tidak berharga sama sekali. Baik Cyra maupun Mas Naqi tidak mau memperjuangkan apa yang menjadi miliknya. Cyra ingin apabila kita ada jodoh lagi nanti ingin kita benar-benar mau memperjuangkan sampai akhir apa yang menjadi hak kita," ucap Cyra dengan suara bergetar. Cyra tidak menangis ataupun kecewa dengan jalan hidup yang sudah berlalu, dia hanya menyesal kesalahanya dulu, di mana Cyra juga tidak sedikit pun mau memperjuangkan cintanya karena tingginya rasa gengsi di dalam hidupnya. Cyra di usianya dulu yang baru sembilan belas tahun tentu sifat egois dan gengsinya masih sama-sama besar dengan Naqi dan Rania sehingga Cyra juga ikut adil dengan kegagalan rumah tangganya dulu. Saat ini Cyra berusaha bersikap dewasa di mana usianya pun bukan sembilan belas tahun lagi. Cyra juga berharap Naqi bisa lebih tegas lagi dengan keputusanya dan tidak lagi tergoda dengan cewek-cewek yang lebih cantik dari pasanganya. Setia itulah kuncinya agar hubungan tetap berjalan dengan baik sampai tua bersama.