Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Horror....


Setelah makan malam, mamih dan kakek, naik ke kamar masing-masing. Cyra dan Naqi pun langsung kembali ke kamar mereka.


"Ra kayaknya kita perlu beli kulkas buat di kamar yah?" Naqi memulai obrolan ketika mereka baru masuk ke dalam kamar.


"Buat apa Mas?" tanya Cyra heran sembari mengrenyitkan dahinya.


"Buat setok makanan kamu, soalnya perut kamu isinya anak konda jadi bentar-bentar lapar." Naqi terkekeh sembari masuk ke dalam kamar mandi ia mandi duluan sebab kalo Cyra yang mandi bisa-bisa ia sudah tidur kealam mimpi, Cyra baru selesai mandi.


"Awas kamu yah Mas! Saya memang pendiam dan cenderung pemalu, tapi kalo udah ngerjain orang suka total," kekeh Cyra membayangkan mengerjain Naqi. Cyra segera menyiapkan pakaian Naqi. Awalnya Cyra sangat canggung untuk melayani suaminya menyiapkan pakaian, terutama pakaian dalam. Cyra sampai malu sendiri ketika memegang Underwear milik suaminya tetapi semakin lama, ia semakin terbiasa sampai sekarang justru Naki sudah terbiasa semuanya. Sehingga ia selalu meminta untuk dilayani istrinya.


Begitu Naqi keluar Cyra pun masuk ke kamar mandi. Tubuhnya yang lengeket dan lelah telah berpetualang sore ini, sudah ingin segera di dinginkan.


Cyra keluar sudah memakai pakaian lengkap ia mengira Naqi sudah tidur. Namun, salah suaminya malah masih fokus dengan Laptopnya.


Hay... Naqi langsung menyimpan Laptopnya dan merebahkan tubuhnya miring kearah tempat tidur bagian Cyra dan tangan kiri sebagai tumpuanya.


"Sini bobo!" Naqi menepuk-nepuk tempat Cyra tidur, agar Cyra buruan naik ketempatnya dan merebahkan badanya.


"Mas kamu kenapa sih? Kamu nggak salah minum obat kan? Kesambet setan apa? Jangan kaya gitu ah, Cyra jadi horor liatnya!" Cyra merasa ada yang beda dengan Naqi sehingga Cyra merasa takut.


"Yeh... orang lagi belajar romantis malah dikatain kesambet." Naqi kembali duduk bersandar pada headboard dan kembali mengambil laptopnya. Ia kembali fokus pada laporan yang dikirim Alzam.


"Nah gitu ajah Mas, Cyra lebih tenang tidak horor," ucap Cyra mendekat atas kasur dan duduk sembari mengecek ponselnya.


"Mas...."


Hemz... Naqi hanya menjawab dengan deheman.


"Perasaan Qari nggak kelihatan. Memang ke mana ini udah lewat dari jam sembilan tapi masih sepi ajah, biasanya dia udah paling rame?" tanya Cyra, tetapi tangan dan matanya masih fokus dengan ponselnya. Yah, memang Qari paling heboh diantara semuanya.


"Dia lagi menjalani hukuman," jawab Naqi dengan santai.


"Hah... hukuman? Hukuman apa, bukankah dia baru pertama kerja kenapa dia udah dapat hukuman. Memang kesalahan dia apa? Seharusnya itu hari pertama kerja jangan terlalu keras Mas. Kasian Qari dia nanti malah kabur lagi, karena kalian terlalu keras." Cyra langsung mengalihkan pandanganya dari ponsel pada Naqi, heran dengan suaminya kenapa tega sekali dengan adiknya sendiri.


"Kamu nggak tau Ra, ngadapin dia itu susah banget. Nggak mungkin juga kita hukum kalo dianya taat atau setidaknya tidak menyebalkan. Kalo Qari itu beda Ra wataknya mirip Papah susah diatur. Bahkan Kakek sajah sudah acuh, masa bodo dengan hidup Papah yang susah diatur. Sekarang ini Papah kerja keluar kota. Kalo tidak ada orang-orang kepercayaan Kakek. Tuh perusahaan yang Papah kelola sudah bangkrut kali. Karena ada orang Kakek ajah prusahaan aman terkendali. Ya, gitu sifat Qari sama kaya Papah susah untuk diaturnya." Naqi menceritakan kelakuan adiknya yang super nyebelin.


"Ya memang kesalahan Qari hari ini apa?" Cyra kembali mengupang pertanyaanya.


"Dia main game, tugasnya bikin laporan nggak ada yang dikerjain malah asik dengan gadgetnya. Gimana nggak naik darah coba kita-kita, dari pagi dikejar kejar laporan dan lain sebagainya dia malah asik main game. Jadi dia aku hukum nggak boleh pulang sebelum laporan dari tadi pagi dia kerjainya." Naqi menjelaskan kesalahan Cyra.


Hu... hu... huahahahah... Cyra membekap mulutnya dan mencoba menahanya tawanya. "Adik kamu itu keren Mas." Cyra malah memuji kelakuan Qari, sembari mengacungkan jari jempolnya.


"Keren dari mananya, ngeselin iya, tapi kalo jauhan kaya kemarin pas dia kuliah keluar negri rasanya kangen banget. Kangen usilnya sama berisiknya." Naqi dan Cyra pun tertawa dengan kelakuan unik Qari.


Di kantor Ralf grup....


jam dinding menunjukan pukul delapan, tetapi kerjaan Qari belum selesai juga, dan perutnya sudah perih karena siang tadi hanya makan roti.


"Ya ampun ini perut kenapa bunyi terus sih, ini kalo bukan karena si cupu yang lapor sama Abang Naqi, pasti sekarang aku udah makan dengan masakan yang enak-enak dan aku bisa makan sepuasnya." Qari lagi-lagi melamun membayangkan makanan enak di otaknya dan mengusap-usap perutnya.


"Nona Qari, ayo dong dikerjakan ini sudah jam delapan malam, sampai kapan Anda mau menyelesaikan kerjaan itu semua. Saya juga ingin pulang, kasian adik saya di rumah sendirian." Alzam lagi-lagi memperingatkan Qari agar kerjaanya diselesaikan. Bukan malah melamun terus menerus.


"Ish... lagian loe ngapain cuma bengong disitu, main laptop mending bantuin gue sini biar kerjaan Que cepat selesai, bukan malah nyiyir doang," sungut Qari ia menganggap Alzam tengah mainan di laptop, kenyataanya dia juga tengah bekerja dan melaporkan kerjaanya pada Naqi dan Kakek.


Alzam yang melihat Qari memegangi perunya terus tahu bahwa ia tengah lapar sehingga ia pun pergi ke kantin dan membelikan sebungkus Nasi dan juga ia lanjutkan ke pantry untuk membuatkan teh hangat untuk Qari.


"Ini kalo Anda lapar, bisa makan malam dulu tetapi setelah makan, tolong buru-buru kerjakan laporanya karena saya pun lapar ingin segera pulang dan makan." Alzam menyeruput Air hangat yang bahkan tidak manis, ia menggunakan air itu untuk menghangatkan perutnya yang sudah mulai lapar.


"Kalo lapar kenapa kamu nggak makan ajah, kenapa kamu beli nasinya cuma satu. Apa kamu tidak punya uang untuk membeli makanan itu semua?" tanya Qari heran baginya Alzam itu terlalu hemat. "Si cupu itu tiap hari membawa bekal makanan dan tidak pernah pergi kekantin ia selalu makan di dalam ruanganya dan membuat air teh dari pantry. Seolah uangnya takut akan habis bila digunakakan," Qari menggerutu manakala melihat gaya hidup Alzam yang pelit, tetapi mulutnya tetap mengunyah.


Alzam pun hanya diam, mengacuhkan Qari. Dia tidak ingin ada orang yang tahu kehidulanya. Pukul Sembilan lewat kerjaan Qari baru selesai dan ia diikuti Alzam bergegas akan pulang. Qari menunggu di depan lobby kantor, menunggu jemputan dari sopir keluarga.


Sementara Alzam hendak pulang menaiki motor metic yang sudah buluk.


Titittt....


"Nona Qari apa Anda mau pulang bersama saya?" Alzam bertanya demikian pasalnya ia tahu Qari tidak bisa menghubungi sopir keluarga karena ponselnya disita oleh Naqi.


"Apaan pulang naik botor butut ini? Najis banget gue naik motor beginian. Masuk angin yang ada, belum nanti di tengah jalan suruh dorong motor karena mogok. Ogah-ogah lebih baik gue tunggu sopir gue ajah." Qari menolak dan mengumpat dengan kesombongan yang paripurna.


"Tenang Nona Qari, motor saya biar butut begini tidak pernah mogok dan aman anti masuk angin juga. Eh, itu kalo yang naiknya pake jaket dan celana panjang seperti saya. Kalo penampilan Anda begini sih saya jamin Anda naik moge juga ujungnya masuk angin," kekeh Alzam sembari tertawa mengejek Qari.


"Diam loe cupu, udah sanah loh pulang. Ganggu pandangan ajah." Qari mengusir Alzam.


"Baiklah Nona, berhubung Anda tidak mau pulang sama saya, jadi saya harus segera pulang. Selamat menunggu jemputan Nona Qari. Ah... paling Anda tunggu sampai besok pagi," ucap Alzam menakut-nakuti, sebelum meninggalkan Qari.


Qari yang merasa memang sebenarnya ragu Pak Kusno tidak menjemput dirinya, terlebih mau pulang pake taxi dia juga takut. Mau menghubungi Pak Kusno ponsel pun nggak ada.


"Alzam tunggu...." pekik Qari ketika Alzam sudah mulai meninggalkan halaman kantor Ralf grup.


Alzam....


Alzam....