Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Laki-Laki Gemulai


"Ra kamu sementara diantar supir Mamih yah. Nanti Pak Kusno bakal antar kamu sekalian tungguin kamu sampai acara selesai, untuk tujuanya kamu bakal kemana aku sudah bilang sama Pak Kusno, kamu tinggal duduk manis sampai tujuan dan kembali pulang setelah kerjaan selesai." Naqi dengan sabar menjelaskan pada Cyra, bahwa semua sudah Naqi urus dengan sebaik mungkin


"Iya makasih Mas, tapi berati nanti aku di sana sendirian yah?" tanya Cyra dengan wajah sedikit cemas, mungkin ini kali pertama dia akan bekerja dan mengenal apa itu syutung, tetapi justru dia seorang diri. Bayangan dulu waktu sekolah, sering mendapatkan perundungan kembali terlintas, meskipun tidak sampai ketakutan, tetapi rasa cemas akan mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan tentu ada.


"Iya, kenapa? Takut? Kamu harus membiasakanya Cyra, karena nanti pun kamu akan kembali sendiri. Ingat kebersamaan kita hanya satu tahun, dan ketika saat itu tiba kita akan hidup masing-masing dan kamu harus sudah bisa mandiri. Jadi ini kesempatan kamu untuk memulainya." Sebenarnya Naqi pun tidak tega membiarkan Cyra sendirian. Pasti nanti dia seperti orang yang hilang, bingung mau ngapain ajah, tetapi Naqi juga tidak bisa berbuat banyak karena dia juga harus bekerja dan juga setatus pernikahan dia dan Cyra yang dirahasiakan, memaksa mereka harus jaga jarak. Namun, pasti Naqi sudah menitipkan Ipek dengan team creator iklan, yang memimpin jalanya syuting iklan nanti. Naqi meminta agar Cyra benar-benar dibimbing sampai benar-benar paham dan mengerti dengan pekerjaanya.


"Iya nggak apa-apa Mas, Cyra akan berusaha mandiri, dan nanti juga Cyra disana kan bisa dapat teman baru," jawab Cyra ia menghibur dirinya sendiri. Meskipun ada perasaan cemas tetapi ia mencoba berpikir positif bahwa semuanya baik-baik sajah. Sama seperti dulu ketiaka ia pertama kali akan keluar dari rumah keluarganya dia juga merasa cemas dan takut akan nasibnya, tetapi ketakutan itu hanyalah bayang-banyang suram yang ia ciptakan sendiri. Buktinya ia kini malah nasibnya semakin beruntung. Kebahagiaan yang dulu hanyalah khayalanya sajah, tetapi setelah keluar dari rumah orang tuanya justru khayalan itu berubah menjadi kenyataan.


"Tenang sajah, orang-orang akan baik dan menghargai kita, asalkan kita sopan dan juga mengargai mereka. Jangan sekali pun berbuat atau berucap yang dapat menyakiti hati orang lain. Karena ketika orang lain tersinggung dengan ucapan kita ,atau prilaku kita, bisa sajah mereka juga berlaku buruk terhadap kita. Maka hormati orang lain, percaya lah orang lain juga akan mengormati kita." Naqi memberika nasihat pada Cyra, agar ia tidak berprilaku atau berucap yang dapat menyakiti perasaan orang lain.


"Baik Mas. Terima kasih atas nasihatnya, pasti Cyra akan ingat nasihat dari Mas," ucap Cyra, kali ini dengan wajah yang sudah tidak semurung tadi.


Setelah memberikan sedikit nasihat dan pengertian pada Cyra, kini Naqi lebih dulu berangkat ke kantor, karena hari ini pun ia akan disibuk'kan dengan persiapan peluncuran prodak baru. Sehingga Naqi harus terjun langsung agar semua acara berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Naqi adalah orang yang sangat teliti dan semua yang dilakukanya harus sempurna. Ia tidak suka akan terjadi kesalahan atau kegagal, andai itu terjadi ia akan menyesalinya terus menerus sehinga merasa gagal dalam memimpin perusahaan.


Cyra terus menatap mobil Naqi sampai menghilang di balik rindangnya pepohonan dikomplek perumahan yang mereka tempati.


"Semua nasihat dari Kakek, Mamih dan Mas Naqi, akan selalu aku ingat dan aku juga akan membuktikan pada mereka bahwa aku juga bisa berhasil, mandiri dan tidak penakut lagi," batin Cyra dengan semangat. "Benar apa yang dikatakan Mas Naqi, kebersamaan kita hanya satu tahun, setelah itu aku harus bisa hidup seorang diri. Jadi aku nggak boleh tergantung terus dengan Mas Naqi, aku harus mandiri." Lagi, Cyra kembali bergumam dalam hatinya.


"Non Cyra, ayo Pak Kusno udah siap nih," sapa Pak Kusno dengan ramah.


Cyra pun menjawab dengan senyuman ramahnya, lalu ia naik ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


"Pak Kusno, panggilnya jangan pake Non yah. Panggil Cyra ajah," ucap Cyra, karena ia merasa tidak nyaman dengan panggilan itu. Padahal di rumah orang tuanya dulu ia juga biasa dipanggil Nona, tapi justru di rumah Naqi ia tidak mau disematkan panggilan itu.


"Tapi Non, nanti kalo ketahuan Nyonyah, Pak Kusno kena omel lagi," protes sopir mamih, takut apabila nanti majikanya akan memarahi dia, apabila memanggil Cyra dengan hanya nama sajah.


"Kalo Mamih marah nanti Cyra yang akan jelaskan." Cyra pun memasang badan apabila mamih mertuanya memarahi Pak Kurso masalah pangilan nama yang ia minta.


"Ya sudah kalo gitu. Jadi Pak Kusno panggilnya Cyra ajah gitu?" tanya Pak Kusno memastikan panggilanya.


"Iya gitu Pak, lebih enak di telinga,"


Mobil pun melaju dengan pelan, tetapi pasti. Kini sudah jauh meninggalkan kediaman yang mereka tempati. Sepanjang jalan Cyra memanjatkan doa apa sajah yang ia bisa. Hanya itu yang Cyra bisa, untuk mengatasi kegugupanya. Tanpa terasa tanganya kini menjadi berkeringan dan dingin.


"Kita sudah sampai di tempat yang Tuan Naqi kasih. Nanti ada salah satu team iklan yang menghampiri kita. Dan dia nanti yang bakal mengasih arahan sama non...eh maksudnya Cyra." Pak Kurso masih tidak biasa memanggil nama pada istri majikanya.


"Baiklah. berati Cyra nunggu di dalam mobil dulu Pak?" tanya Cyra memastikan.


Pak Kusno menjawab dengan anggukan dan sepasang mata yang mengawasi orang yang Naqi sudah kasih fotonya. Pak Kusno pun sudah mengirimkan pesan pada salah satu team tersebut bahwa ia dan Cyra sudah sampai di tempat mereka janjian.


"Sepertinya itu deh orangnya Ra, kalo diliat dari ciri-cirinya sih dia orangnya, tapi ko ngeri yah orangnya." Pak Kusno bergidig ngeri ketika melihat bahwa orang yang akan menemani Cyra melakukan syuting adalah lelaki gemulai yang berpenampilan sangat menyerupai wanita anggun dengan jari-jari lentik dengan warna terang yang selalu ia mainkan.


"Yang mana Pak?" tanya Cyra penasaran dan dia dengan sepasang matanya yang indah mengawasi keluar kendaraan, mencari sosok yang Pak Kusno maksud.


"Itu loh Ra, laki-laki yang kayak cewek lagi jalan kearah kita," tunjuk Pak Kusno kearah orang yang memang tengah menuju ke mobil mereka.


"Aduh, aku jadi deg-degan Pak, dari tampangnya kayangnya Mas eh Mbanya galak banget," cicit Cyra, dengan rasa gugup yang tadi telah menguai kini kembali menguasai dirinya.


"Ya Alloh mudah-mudahan hanya mukanya sajah yang jutek, hatinya mah selembut sutra. Amin." Doa Cyra dengan tulus.


Dog...


Dog...


Dog...


Kaca mobil digedor dari luar, sampai Cyra yang tengah khusu berdoa terlonjak kaget.


"Astagah Tuhan, kenapa dia kasar sekalih," dengus Cyra dalam hati tetapi wajahnya tetap mencoba tersenyum semanis mungkin. Ia dengan perasaan campur aduk bersiap membuka pintu mobilnya, dan hendak menyapa laki-laki yang berpenampilan gemulai itu.


Bersambung...


...****************...


#Jangan lupa mampir juga ke "Beauty Cloads" dukung karya Othor dengan tekan Fav, like dan comen.🙏