Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Teman Baru


Disaat Cyra tengah menikmati kebersamaan dengan teman-teman barunya. Sedangkan Naqi tengah dibakar rasa kesal terhadap dokter Adam. Entah kesal alasa apa! Naqi pun bingung, dengan perasaanya sendiri.


"Sayang kamu kenapa keliatanya nggak suka banget sama dokter Adam, ngomong-ngomong ada apa diantar kalian?" tanya Rania, karena kepo dengan masalah yang terjadi antar Adam dan Naqi.


"Ah... pernah ada selisih paham sama dia, jadi aku masih kesel sama dia, karena dia juga pernah nonjok aku," jawab Naqi, sembari meletakan bokongnya dikorsi samping ranjang Rania yang tengah berbaring.


"Kalo boleh tau soal apa?" Rania kembali bertanya karena memang ia juga merasa penasaran nggak biasanya Naqi sekesal itu sama orang lain. Naqi tergolong orang yang baik, itu yang Rania tau selama ini.


"Soal Cyra, pernah mergokin dia lagi ngobrol sama Cyra, dan waktu aku tegur dianya malah ngajak berantem," balas Naqi entah sadar atau tidak dengan yang ia ucapkan, sontak Rania langsung berubah wajahnya, menjadi murung dan jadi kesal dengan Naqi.


"Jadi kamu cemburu kalo istri kamu dideketin oleh laki-laki lain?" isak Rania.


Naqi baru sadar bahwa ia tadi salah jawab, Dia biasanya kalo sama Cyra akan bercerita apa sajah dan Cyra akan santai dan bahkan terkesan cuek. Berbeda dengan Rania Naqi baru menyebut nama Cyra sajah langsung nangis. "Mampus gue, salah cerita. Kebiasaan kalo cerita sama Cyra nggak pilih-pilih topik, sekalinya cerita sama Rania, malah gue bikin nangis anak orang," runtuk Naqi kesal dengan mulutnya sendiri.


"Bukan cemburu sayang, hanya saat itu, waktunya nggak pas, jadi aku sedikit panas ngeliatnya," bela Naqi, berharap agar Rania tidak marah padanya. "Udah jangan ngomongin mereka lagi, aku datang kesini untuk jenguk kamu bukan untuk ngomongin mereka, "Kamu gimana kondisinya ada keluhan? Tadi kata Adam besok kamu akan ada oprasi, jam berapa?" tanya Naqi dengan suara yang sangat lembut dan penuh perhatian.


"Kenapa kamu tadi nggak tanya Adam sajah biar infonya lebih jelas! Kenapa nggak mau, masih cemburu yah?" Rania terus sajah menyindir Naqi, padahal Naqi sudah nggak mau membahasi masalah barusan.


"Yang, bisa nggak jangan bahas itu lagi, kan aku juga saat itu ngelakuinya karena kesalah pahaman, dan aku minta maaf sama kamu tadi aku keceplosan seharusnya aku tidak menceritkan masalah ini sama kamu agar kamu nggak kefikiran. Udah yah jangan di bahas lagi." Naqi benar-benar memohon pada Rania agar jangan bahas masalah itu lagi.


"Kamu ko sayang yang mulai duluan, seharusnya kalo kamu nggak mau membahas itu kamu nggak usah kelihatan kesel banget sama dokter Adam, tapi kan kamu yang kelihatanya benci banget sama dia, sedangkan dokter Adam ajah kesanya santai dan dia malah profesional nggak kepancing kaya kamu. tau-tau ngehakimi dia nuduh macam-macam," sungut Rania, yang merasa bahwa Naqi kesal karena masih cemburu sama Cyra.


"Jadi aku kesini cuma buat bahas masalah ini ajah. Aku bahkan udah minta maaf loh Nia sama kamu, tapi kenapa kamu masih bahas itu terus?" tanya Naqi semakin meninggi suaranya. Naqi kesal dengan Rania yang selalu mencari kesalahan sekecil apapun.


"Kamu yang mulai, kamu yang bawa-bawa terus tuh cewek. Kamu mau pamerin bahwa pernikahan kamu udah bahagia?" runtuk Rania, tidak kalah tinggi suaranya dan juga suara yang berat menandakan ia menahan tangis.


"Aku pamit pulang sajah deh. Kayaknya kedatangan aku nggak tepat. Biar nanti aku tanya sama Adam saja soal perkembangan kondisi kamu. Semoga besok oprasinya lancar yah! Mungkin aku nggak bisa nemenin kamu, tapi aku selalu mendoakan kamu agar kamu selalu dikasih kesehatan. Asal kamu tau aku akan terus menyayangi kamu dan akan mengingat janji kita, setelah aku ditetapkan sebagai pewaris utama aku akan mencerakan Cyra dan akan menikahi kamu, jadi kamu jangan pernah berfikir macam-macam. Fokus pada kesembuhanmu dan kita akan melewati banyak kisah selanjutnya bersama-sama." Naqi mencium kening Rania dan selanjutnya menitipkan Rania pada Asisiten Rumah Tangga yang selalu mengurus Rania. Lalu ia meninggalkan Rania dalam kebisuanya.


*****


"Hissss... kemana lagi sih ini bocil, kebiasaan banget kalo apa-apa itu langsung ilang-ilangan. Pasti kencan lagi sama Pembinor itu," runtuk Naqi. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Cyra.


Sementara Cyra di rungan khusus penderita tangker pada anak-anak tengah asik bercerita layaknya seorang pendongeng yang handal.


Drett.... drettt....drettt... terdengar ponsel Cyra bergetar menandakan ada sebuah pangilan. Berhubung Cyra tengah asik bercerita sehingga ia tidak tau bahwa ada pangilan masuk, dikarenakan ponselnya ada di dalam tasnya.


"Kaka Cyla... Kaka Cyla, ponselnya belgetal," ucap salah satu anak yang masih tergolong kecil bahkan untuk berkata R ia masih kesusahan.


"Iya," balas anak-anak hebat itu secara bersamaan.


"Hisss... ngapain sih telpon-telpon lagi asik juga," runtuk Cyra sebelum menekan gambar telepon berwarna hijau.


"Halloh kamu di mana sih Ra, kebiasaan banget baru ditinggal bentar udah ilang ajah," ucap Naqi begitu ponsel diangkat oleh Cyra.


Cyra mengusap-usap daun telinganya, "*Cyra ada diruangan penderita kangker pada anak-anak, sendang bercerita dengan mereka, kenap*a?" Tentu Cyra bertanya kenapa sebab tidak tau bahwa urusan suaminya sudah selesai. Cyra berpikir seperti biasa mereka akan menghabiskan waktu bersama yang lama.


"Kenapa? Ya emang kamu nggak mau pulang, mau nginep disini, ayok buruan balik kesini, kita pulang!" jawab Naqi dengan jutek.


"Ish... ko cepet sekalih kalian ngobrolnya. Kenapa nggak dilamain ajah. Aku bahkan lagi bercerita satu buku masih setengah jalan, kasian anak-anak penasaran dengan ceritanya, atau nggak Mas nungguin disini bentar ajah sampai ceritanya selesai, gimana? Mau yah kasian ini anak-anaknya nanti nggak bisa tidur karena penasaran dengan cerita selanjutnya," tawar Cyra agar Naqi mau nungguin ia selesai bercerita.


"Ya udah kamu diruangan apa? di mana, aku kesana sekarang!" jawab Naqi akhirnya mengalah.


Cyra pun menunjukan letak kamarnya di mana, dan Naqi langsung menyusulnya ke kamar yang Cyra maksud.


Dari ruangan kamar terlihat sepi tetapi begitu Naqi membuka pintu, terdengar riuh oleh tawa bahagia dari para malaikat kecil itu. Disana terlihat Cyra yang tengah asik dan bersemangat menceritakan sebuah dongeng "Kunang-Kunang dan Seekor Semut Merah"


Naqi memperhatikan Cyra sampai terbengong. Padahal cerita yang Cyra bawakan adalah dongeng biasa sajah tetapi karena Cyra yang pandai memeragakan kunang-kunang dan seekor semut, serta suara yang dibikin seimut mungkin anak-anak sampai tertawa lepas.


Setelah cerita selesai Cyra pun berpamitan dengan teman barunya tak lupa Cyra memberikan motifasi yang positif untuk anak-anak hebat itu dan Cyra juga berjanji akan sering-sering bermain kesini, dan akan membawakan buku cerita yang banyak.


Anak-anak itu pun bersorak gembira karena mereka akan sering bertemu dengan Cyra.


"Ayo Mas!" ajak Cyra pada Naqi yang sejak tadi duduk sebagai pendengar setia.


"Ayok!" Merek pun meninggalkan ruangan itu sebelum benar-benar keluar Cyra melambaikan tangan pada teman barunya itu.


"Mereka itu hebat-hebat banget Mas. Cyra terharu dengan semangat mereka." Cyra memulai obrolan.


"Hemz... kamu juga hebat, sama seperti mereka. Nggak pernah mengeluh meskipun hidup kamu keras." Naqi akui semakin tertarik dengan Cyra yang selalu ceria dan tidak pernah ia mengeluh.


Cyra seketika menoleh kearah Naqi, dan ia menarik ujung bibirnya memberikan seulas senyum yang manis...


#Baik-baik Ayang jaga hatinya, nanti kamu malah yang masuk dalam permainan cinta yang rumit itu....