Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Jadi Istri Kedua???


Naqi menghentika mobilnya di pinggir jalan. Ia sengaja menepikan mobilnya barang sejenak sebelum ia melanjutkan mobil menuju kantor tempatnya mengais rezeki. Di pinggir jalan ia ingin meluapkan kebahagiaanya.


Yes... Yes... Seolah kata-kata itu adalah kata keramat ketika ia tengah bahagia. "Tuhan terima kasih, sudah memberikan kesempatan buat mendekati mantan istri hamba lagi." Naqi mengucapkan puji syukur dengan semua yang Tuhan sudah mudahkan jalanya.


Senyum bahagia tidak henti-hentinya mengembang di wajah Naqi, bahkan mungkin kalau kaca mobil ia buka orang-orang yang berlalu lalang akan mengira dia adalah salah satu pasien dari rumah sakit jiwa yang kabur. Senyum-senyum seorang diri.


Di otak Naqi tidak henti-hentinya memikirkan esok hari. "Al... Ah sepertinya Alzam punya motor dan gue besok akan pijam motor Al," gumam Naqi sembari kakinya kembali menginjak pedal gasnya. Tujuanya sudah pasti kantor kakeknya dan langsung menemui Al.


Langkah kaki panjang dan wajah tegas penuh karisma berjalan dengan serius menuju ruangan kantornya.


"Al... Keruangan aku, sekarang!!" ucap Naqi begitu ia melewati ruangan Al.


Alzam pun buru-buru berjalan keruangan bosnya itu. "Ada apa Tuan? Apa ada yang bermasalah dari laporan kami?" tanya Alzam dengan sopan.


"Tidak, laporan aman. Kamu punya motor metic kan?" tanya Naqi dengan senyum malu-malu. Alzam sampe heran dengan sikap Naqi, kenapa tiba-tiba tanya motor metic.


Al mengernyitkan dahinya. "Mo... Motor metic buat apa Tuan? Aku ada Tuan, tapi bukan motor baru," jawab Al ragu.


"Nah itu memang tujuanya cari yang enggak baru, soalnya kalo baru Cyra enggak mau. Kalo gitu ini buat kamu, bayaran sewa motor. Besok kamu kirim kerumah aku pagi jam enam, aku sewa seharian," ujar Naqi dengan menyodorkan uang berwarna merah sebanyak sepuluh lembar.


"Oh... Buat Non Cyra toh," ujar Alzam dalam batinya.


"Tidak usah pake uang sewa Tuan, lagian motor kalo libur jarang di pake inih," tolak Alzam tidak enak menerimanya bahkan uang sewanya terlalu banyak batin Alzam.


"Udah kamu ambil ajah, kalo kamu tidak mau terima karena uang kamu udah banyak berikan pada Tantri pasti anak itu senang," ucap Naqi, tanpa beban. Satu permasalahan dengan motor sudah selesai. Tinggal kira-kira akan kemana besok?


Alzam pun karena Naqi yang terus memaksa akhirnya mengambil uang yang di atas meja kerja Naqi.


"Al... Tunggu!!" ujar Naqi ketika Al akan meninggalkan ruanganya.


Alzan yang merasa di panggil pun akhirnya berhenti dan kembali berdiri di tempat tadi ia berdiri.


"Kamu tahu tidak tempat kencan daerah sini yang bagus gitu?" tanya Naqi tanpa dosa, bertanya dengan orang yang tidak pernah berpacaran, alias jomblo sejati.


******


"Apa nanti aku tidak di cap sebagai pelakor?" tanya Rania, tatapanya tidak berani menatap Adam.


"Itu resiko, kalo kamu mau menikah dengan pria beristri, tuduhan itu pasti ada. Tapi niat kamu mau merebut aku atau enggak kan kamu sendiri yang nentuin. Mungkin kalo kamu mau merebut aku, kamu pasti memiliki cara untuk menyingkirkan istri pertamaku, karena kamu tahu aku mencintai kamu. Sedangkan dengan istri pertamaku aku tidak mencintainya dia hanya istri pilihan keluargaku. Kalo kamu mau rebut aku kesempatan terbuka lebar," jawab Adam, entah laki-laki itu ingin mengetes Rania atau memang ia benar-benar sudah menikah dengan gadis pilihan keluarganya.


"Aku lebih baik berbagi dengan adil, aku tidak ingin egois, tapi nanti malah menyakiti hati wanita lain," ujar Rania, mungkin dia sudah benar-benar tobat. Seperti itu kira-kira dugaan Adam.


"Itu tandanya kamu sudah siap menjadi istri keduaku? Jangan ada penyesalan karena aku tidak mau ada yang menyesal dengan keputusanya," imbuh Adam, dalam hatinya tentu berbunga-bunga. Mungkin kalo ada yang tanya kelebihan Rania apa selain cantik dan body yang waduhai mulius menggoda? Adam juga akan bingung untuk menjawab dengan apa karena memang Adam sendiri tidak menemukan kelebihan lainya. Bahkan soal keturunan Adam harus bisa belajar ikhlas denga takdir yang Tuhan beri. Adam melihat Rania itu entah dari mana tetapi hatinya selalu bergetar manakala Rania berbicara dengan dirinya, terlebih sekarang berada di hadapanya. Jarak yang sangat dekat untung saja jantung Adam bisa di kondisikan, tidak meledak dan hancur tidak berdaya.


"Tapi aku mungkin tidak bisa memberi kamu keturunan, apa itu sudah kamu pertimbangkan?" tanya Rania, hatinya sedih seolah tersayat-sayat tetapi mau bagaimana lagi, tadi menuntunya ia untuk di nikahi oleh Adam.


'Ada istri pertamaku, bahkan dia sudah sedang hamil tiga bulan,"ujar Adam. Sontak sajah Rania langsung terisak. Belum benar-benar menikah pun Rania sudah merasakan sesak, bagai mana kalau sudah menikah?


"Kenapa nangis, kalo tidak mau aku sudah bilang, tidak akan memaksa. Semua keputusan ada ditangan kamu. Aku hanya tidak ingin ada kebohongan," ujar Adam dengan santai matanya ia gunakan untuk menelisik setiap yang Rania lakukan. Gerak tubuh Rania menandakan ia tidak ingin di jadikan istri ke dua.


"Aku mau," jawab Rania, akhirnya ia memutuskan pilihanya saat itu juga. "Tapi aku mohon kamu jangan katakan pada keluarga aku, bahwa aku adalah istri kedua kamu. Biarkan keluarga aku tahunya aku adalah istri satu-satunya kamu. Aku akan belajar ilmu ikhlas terutama untuk berbagi suami. Karena yang sakit bukan hanya aku, istri pertama kamu pasti lebih sakit," isak Rania. Entah dari mana Rania memiliki keberania berkata seperti itu.


Adam melihat penolakan di tubuh Rania, tetapi hatinya berkata sebaliknya sehingga Adam semakin yakin ada suatu alasan yang membuat Rania melakukan itu. Namun dia tidak bisa langsung bertanya, Rania tidak akan berkata jujur pastinya.


"Kalo gitu kapan kira-kira aku harus datang sama keluargamu dan meminta restu pada mereka? Lalu kapan aku harus menikahi kamu?" tanya Adam, tidak mau berbasa basi, dia ingin semua selesai dan urusan keluarganya ia bisa atur. Toh sejak lama sebenarnya Adam sudah mendapatkan restu dari keluarganya. Namun justru Rania yang kembali menolak lamaran Adam. Dengan alasan yang tidak jelas itu.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Rania singkat.


"Nanti malam gimana?" tanya Adam tidak kalah singkat.


Rania mengangguk samar, "Aku akan bilang sama kakek dan mamih, agar mereka tidak kaget," imbuh Rania. Adam melihat Rania tidak bahagia, padahal kalo memang ia mau dinikahi Adam, setidaknya ada kebahagiaan di wajahnya, tetapi lagi-lagi Adam tidak melihat kebahagiaan itu.


"Rania tolong jawab dengan jujur! Apa ada yang mendorong kamu meminta aku menikahimu dengan buru-buru seperti ini?" tanya Adam dengan suara dingin dan tegas itu.


Rania menggeleng lemah.


"Bohong! Aku tahu kamu sedang berbohong. Kalo kamu tidak jujur juga. Mohon maaf pernikahan ini tidak akan pernah ada." bentak Adam.