
Setelah memberikan tugas pada Qari, Alzam kembali kemeja kerjanya. Ia tidak sekali pun menengok ke arah Qari. Alzam memang sangat seriuz ketika tengah bekerja.
Pukul sepuluh kerjaan Alzam yang tingginya dua kali lipat dari Qari sudah selesai, dan kini ia akan mengantarkan ke ruangan Naqi.
"Nona mana laporan yang sudah Anda kerjakan, biar saya cek ulang sebelum diserahkan ke Tuan Naqi." Alzam menghampiri dulu meja Qari untuk mengecek pekerjaanya, sebab biarpun Alzam tidak menengok kearah Qari bukan berati Alzam tidak tau kerjaan apa sajah yang dilakukan oleh Qari.
Qari yang dari tadi asik main game pun buru-buru menyimpan ponselnya di bawah meja kerja.
"E... anu... aku kesulitan mengerjakan laporan-laporan ini," jawab Qari dengan terbata dan senyum dibuat semaris mungkin.
"Bagian mana yang membuat Anda sulit?" Alzam masih mengikuti ekting Qari. Padahal ia hanya mengetes kejujuran Qari.
"Semuanya." Qari menjawab dengan senyum tanpa dosa.
Alzan mendekat kearah Qari dan mengintip kebawah kolong meja. Tangan Qari tengah menyembunyikan gawai yang sejak tadi dia gunakan untuk bermain game. Sehingga ia lupa mengerjakan tugas laporan yang Alzam berikan bahkan tidak satu pun laporan yang sudah Qari kerjakan.
"Berikan Handphone Anda!" Alzam mengulurkan tanganya dan meminta Qari memberika ponselnya.
"Buat apa? Ini udah kelewatan yah tandanya loe melanggar privasi orang lain." Qari menolak memberikan ponselnya justru ia memasukanya kedalam kantong kemejanya yang mana berada di depan gunung kembarnya.
"Berikan!" bentak Alzam tidak mau bermain-main dengan Qari.
"Enggak! Kalo mau ambil ajah nih!" Qari membusungkan dadanya. Qari yakin bahwa Alzam nggak bakal berani mengambil Hpnya yang diletakan di saku kemerja depan gunung kembarnya.
Namun dugaan Qari salah. Alzam justru mendekat dan semakin dekat begitu Qari ketakutan dan lengah ia ambil ponsel milik Qari.
"Hay... dasar cowok mesum berani-beraninya kamu pegang aset gue yang berharga." Qari mengumpat Alzam.
"Sekarang kerjakan laporan itu! Batas waktu Anda hanya sampai istirahat! Apabila istirahat Anda tidak bisa menyelesaikan laporan itu semua maka saya akan menghukum Anda, tidak boleh istirahat! Paham yah Anda, Nona Qari yang terhormat." Alzam tersenyum dengan licik.
"Dasar Laki-laki gila, mesum, otak kotor, cupu, awas ajah tunggu pembalasan gue." Qari mengumpat semua jenis dia sebutkan, tetapi Alzam tetap tidak terpengaruh, ia melenggang dengan santai keruangan Naqi membawa setumpuk laporan yang akan Naqi tanda tangani.
"Siang Tuan," sapa Alzam dengan sopan.
"Hemz... gimana tuh anak, ada perubahan?" tanya Naqi yang sudah tau pasti adiknya bikin ulah.
"Ini ponsel Nona Qari, sejak pagi ia bermain game. Sementara laporan belum ada satu pun yang dia kerjakan.
Naqi pun mengambil ponsel Qari di mana isinya hanya aplikasi game. Naqi mengeleng-gelengkan kepalanya. "Heran dengan anak itu, bisa-bisanya dia kuliah diluar negri lima tahun hasilnya cuma kaya gini." Naqi bergumam dan meletakan ponsel adiknya ke laci. Ia akan memberi tahukan Kakeknya perihal kelakuan cucunya.
"Kamu awasin teruz Al, dan pastikan laporan dia kerjakan sampai selesai hari ini juga. Biarpun sampai larut malam suruh dia lembur. Itu hukuman buat karyawan yang tidak kooperatif dengan pekerjaan."
"Baik Tuan, akan saya kerjakan perintah Anda." Alzam pun kembali keruanganya, dan melihat Qari tengah kebingungan mengerjakan laporan yang Alzam kasih.
Alzam tau Qari kesusahan, tetapi gengsi kalo mau tanya, sehingga Alzam pun membiarkan Nona muda yang sombong kebingungan. Sementara Dia kembali mengerjakan laporan yang lain.
****
Pukul empat Naqi pulang lebih dulu pasalnya Cyra sudah memberikan kabar bahwa dirinya sudah selesai pemotretan.
"Al aku pulang dulu yah, kamu awasin tuh bocah. Pokoknya jangan kasih pulang sebelum kerjaan selesai." Naqi sebelum meninggalkan ruanganya lebih dulu menghampiri Alzam agar memastika Qari menyelesaikan laporan yang pagi tadi dikasih.
"Baik Tuan."
"Sial ini gara-gara loe, cupu! Hidup gue sengsara gara-gara deket dengan loe." Qari mengumpat Alzam dan mengacungkan pengaris besi yang ada dihadapanya.
"Sudah Nona buruan Anda kerjakan laporan itu! Nanti kalo Anda marah-marah terus yang ada tuh laporan beranak, jadi tugas Anda semakin banyak." Alzam menanggapi kemarahan Qari dengan santai, sebaliknya Qari justru darah tinggi terus ketika berdekatan dengan Alzam.
****
Naqi lebih dulu sampai dan dia bersandar sembari mendengarkan musik, menunggu Cyra keluar. Seperti biasa Cyra apabila akan pulang selalu membantu Meta merapihkan alat-alat make upnya sehingga ia selalu pulang belakangan.
"Cin, minggu kita libur. You mau ikut I'm jualan nggak. I'm ada bisnis dengan teman-teman I'm dan kalo you mau, bisa gabung sama kita-kita. Lumayan cin buat beli skin care." Meta menawarkan join bisnis pada Cyra.
"Bisnis apa Met? Aku pasti mau sih, secara kamu tau kan aku butuh uang banyak buat memulai hidup baru setelah satu tahun kontrak pernikahan aku selesai." Cyra tanpa pikir panjang mau berkerja diluar syuting yang penting ia bisa mengumpulan uang banyak.
"Iya I'm tau, makanya I'm tawarin you. Kalo bisnis kita rame pasti cepet balik modal dan jangankan cuma rumah cin, you juga bisa beli mobil sendiri nanti," ucap Meta dengan yakin pasalnya sudah banyak yang berhasil join bisnis dengan para selebgram lain.
"Amin, mudah-mudahan yah Met. Kita juga bisa berhasil seperti mereka." Cyra pun bersemangat untuk mencoba dunia yang baru. Bukankan di jaman ini memang harus mau cape dan bekerja keras agar bisa sukses.
"You dijemput laki you lagi?" tanya Meta kepo maxsimal.
"Iya Met, aku duluan yah. Dadahhh..."Cyra berpamitan dengan Meta, dan berjalan menuju mobil Naqi...
Duuuuukkkk...
Duuuukkkk...
Cyra memukul pintu mobil, pasalnya Naqi malah tengah enak tertidur di dalamnya.
Naqi terlonjak kaget, dan langsung membuka kaca jendela...
"Udah lama jemputnya ko sampai ketiduran?" tanya Cyra begitu masuk mobil.
"Belum sih, cuma keenakan dengerin musik jadi ketiduran kali.." Naqi pun menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Emang mau kemana Mas? Ko tumben banget pengin jemput segala?" tanya Cyra, pasalnya Cyra mengira bahwa Naqi menginginkan mencari tempat untuk menyembuhkan patah hatinya.
"Jalan-jalan ajah keliling, atau kaya dulu pertama kali kamu keluar bareng aku. Kelapangan beli jajanan kaki lima lalu nongkrol ajah, bahas apa ajah bebas," balas Naqi sembari matanya tetap fokus kejalan.
"Ya udah terserah Mas ajah Cyra ikut ajah. Tapi ini yang telaktir Mas Naqi kan? Pasalnya Cyra belum gajihan." Cyra hanya mengetes Naqi padahal ia sudah beberapa kali gajihan, dan uangnya sedang ia kumpulkan untuk membeli rumah biarpun sederhana asal nyaman.
"Iya nanti Mas yang telaktir, tapi kamu makannya jangan banyak-banyak yah soalnya Mas juga lagi boke," kekeh Naqi, padahal dia mau borong semua makanan juga saldo ATM masih aman.
"Yah... padahal Cyra udah seneng mau makan banyak. Daftar list makanan yang mau dibeli sudah tersusun." Cya menunjukan kecewanya...
"Pokoknya janjanya nggak boleh lebih dari lima puluh rebu!"
"Ya ampun Mas, itu bahkan cuma buat beli pop ice, cilok, cimol sama somai, Lalu gimana dengan nasib ketoprak, batagor, telor gulung, cireng, gorengan nanti mereka iri kalo nggak dibeli. Tambahin dong Mas dua ratus rebu!" Cyra mengeluarkan jurus rayunya.
"Enggak boleh. Kalo mau lima puluh rebu. kalo nggak mau ya kita cuma nongkrong dan bonus air mineral dalam botol." Naqi memberikan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
"Ish... ya udah deh lima puluh rebu, terpaksa aku coret daftar jajanan yang mau aku beli," balas Cyra pasrah. " Sabar yah kamu Cing nanti kalo aku udah gajian kita berburu jajanan kaki lima yang lainya." Cyra mengelus-elus perut ratanya, seolah tengah berbicara dengan cacing penghuni perutnya.
Naqi pun tertawa dalam hatinya....