Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Curhat


Cyra dengan nyaman berguling kesana kesini menikmati kamar Mr. Wawan yang sangat nyaman.


"Cin, you kenapa, udah kaya cacing kepanasan guling sana guling sini," ucap Meta yang berdiri di depan pintu kamar mandi, sembari mengerinkan rambutnya yang basah.


"Aku lagi nikmatin kasur kamu yang empuk Met," jawab Cyra asal, dan tentunya Cyra kaget ketika melihat Meta yang berpenampilan sangat berbeda dari yang ia kenal sebelumyan. "Met, ini kamu? Ko beda banget sih?" tanya Cyra terkaget kaget, karena Meta yang sekarang ada dihadapanya adalah Meta dengan sosok aslinya yaitu Mr. Wawan, dengan celana kolor di atas lutut serta baju singlet terkesan sangat laki dan santai.


"Ya iya lah ini I'm Meta alias Wawan. Gerah cin kalo jadi cewek terus. Emang you kira I'm kalo di rumah pake daster pake lingeri gitu. Ribet cin mending begini adem," ucap Meta sembari melempar handuk yang basah ke atas kursi. "Ngomong-ngomong you mau curhat apa, yuk I'm udah siap jadi pendengar nih." Cyra merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sama dengan Cyra.


"Tapi kamu janji yah Met, bakal jaga rahasia ini, soalnya ini benar-benar rahasia aku, dan aku sangat tertekan dengan masalah yang terus sajah mengelilingiku." Cyra memastikan agar Meta bisa menjaga rahasianya.


"Iya, you wajib percaya sama I'm karena I'm itu orang yang sangat bisa diandalkan," ucap Meta dengan yakin dan menyombongkan dirinya.


Cyra pun menarik nafas sejenak ia mengambil nafas dalam-dalam untuk memulai bercerita. Cyra bingung juga mau memulai cerita kisah hidupnya dari mana, secara hidupnya terlalu rumit. Andai bisa dibayangkan layaknya sebuah benang kusut yang sulit untuk mengurainya.


"Sebenarnya aku udah nikah Met." Cyra memulai bercerita, tapi entah mengapa kata-kata itu yang pertama kali terlontar dari mulutnya.


Meta langsung terlonjak kaget dan posisinya kini duduk menghadap Cyra. "You nggak bercanda kan?" tanya Meta dengan nada serius.


Cyra menggeleng dengan lemah, "Banyak yang ingin aku ceritain Met, hidupku terlalu rumit. Sampe aku bingung mau cerita dari mana," lirih Cyra.


Meta mendekat ke arah Cyra, dan menepuk-nepuk punggungnya. "You ceritain dengan pelan-pelan. I'm siap menjadi pendengar setia you dan kalau you butuh bantuan. I'm siap membantu. Jangan ragu, jangan takut rahasia you aman di tangan gue," balas Meta menenangkan Cyra agar percaya bahwa ia kini tidak sendiri.


"Nasibku tidak beruntung Met, dari kecil sampai sekarang aku masih bingung kebahagiaan itu yang seperti apa?" lirih Cyra, dan Cyra mulai menceritakan kisa hidupnya dari ia kecil sampai ia di jual dengan berkedok pernikahan. Meta dengan sangat sabar mendengarkan kisah Cyra, dan Meta juga beberapa kali menyeka sudut matanya yang memang berembun alias mewek. Meta yang memiliki hati sensitif dan lembut tentu langsung sedih ketika mendengar pejuangan Cyra, sampai ia bisa keluar dari penjara rumah orang tuanya. Cyra juga menceritakan sosok Qila asisten rumah tangga yang selalu menolong dia dikala ayahnya membabi buta menyiksanya tanpa rasa iba.


"Cin kamu kuat sekali, (Meta memeluk Cyra) Kayaknya kalo nasib itu terjadi pada I'm, bakal bunuh diri," ucap Meta masih dengan isakan tangisnya. Sedangkan Cyra yang bercerita justru tidak menangis sama sekali.


"Aku sudah merasakan semua jenis bulyan Met, dari kata-kata, perbuatan dan tatapan mata yang seolah merendahkan, jadi aku udah biasa. Malah aku bersyukur dari itu semua sekarang lahir sosok yang bermental baja, muka tembok bukan berati tidak tau malu melainkan cuek dengan tatapan aneh dari orang-orang." Cyra membanggakan dirinya. Karena memang itulah kelebihanya.


"Ngomong-ngomong you tadi bilang udah nikah, terus suami you siapa?" tanya Meta, mulai kepo dengan kehidupan Cyra paska keluar dari rumah orang tuanya yang seperti kadang macam.


Meta mengingat ingat siapa kira-kira suami Cyra.


"Tunggu-tunggu. Jangan-jangan suami you, bos besar?" tanya Meta dengan antusias dan syok.


Cyra menangguk.


"Serius Cin?" tanya Meta dengan tidak percaya.


"Iya serius, tapi lagi-lagi kehidupanku tidak bahagia, pernikahanku hanya sandiwara. Bak sebuah kisah dongeng pengantar tidur," ucap Cyra dengan datar dan tatapan mata yang kosong.


"Ko bilang begitu? Apa mereka melakukan kekerasan fisik sama seperti keluarga you lakuin?" tanya Meta dengan lembut agar Cyra tidak tersinggung.


"Tidak, mereka baik. Tuan Latif dan Mamih dari Mas Naqi sangat baik. Karena kebaikanya aku selalu dihantui rasa bersalah. Dosaku terlalu besar dan entahlah gimana kecewanya mereka andai tau aku dan Mas Naqi telah membohongi mereka." Cyra mengungkapkan ketakutanya, berharap Meta bisa membantu sedikit menemukan jalan keluarnya.


"I'm belum paham kalau soal yang ini cin, bisa you ceritakan dengan detail. Kebohongan apa maksud you?" Meta tentu belum paham dengan perjanjian nikah Cyra dan Naqi. Karena memang Cyra belum menceritakanya dengan detail.


Cyra kembali menarik nafas panjang, lalu membuangnya dengan pelan. Dengan tujuan untuk membuang sesak di dadanya yang mulai terasa semakin berat. " Setelah pernikahan kami sah, Aku dan Mas Naqi membuat perjanjian pernikahan. Karena ternyata Mas Naqi sudah memiliki calon istri sendiri, tetapi entah alasan apa keluarganya tidak merestui hubungan mereka, sehingga Mas Naqi dan Mbak Rania, kekasinya. Menjalani hubungan tersembunyi (Black street) Lalu Tuan Latif menjodohkan Mas Naqi dengan aku, mengunakan ancaman kalo Mas Naqi menolak, ia akan dicoret dari ahli waris. Jadi intinya pernilahan aku dan Mas Naqi hanya sebuah perjanjian, nikah kontrak. Setelah Mas Naqi sah menjadi pewaris dari perusahaan Ralf grup dan semua asetnya berpindah tangan padanya. Kami akan bercerai dan Mas Naqi akan menikahi kekasihnya," ujar Cyra menceritakan kehidupanya yang sangat ngenes.


"Ya Alloh cin, I'm bingung kenapa you itu kuat banget. I'm yakin banget bos akan nyesel nanti kalo sampe pisah dari you. Jadi penasaran sama tuh pacarnya si bos cantik banget emang yah cin?" tanya Meta penasaran.


"Tentu cantik Met, dia sempurna. Kalo aku tidak masalah Mas Naqi akhirnya berpisah dengan aku dan memilih menikahi kekasihnya, mungkin itu yang terbaik buat beliau. Yang membuat aku pusing dan kesal itu Mas Naqi selalu memanfaatkan aku dan sering berbohong dan menumbalkan aku. Agar mereka bisa tetap bertemu. Sekali dua kali ok lah, aku maklumi. Kalo hampir setiap hari dan selalu membuat situasi makin terpojok aku juga yang repot. Sekarang sajah aku sudah menduga bahwa kakek udah mulai curiga dengan kehidupan rumah tangga kita. Aku nggak tau mau menjelaskan apa lagi, dan aku pun nggak tau kemarahan seperti apa nanti kalau kakek mengetahui kebohongan kita.


Meta pun ikut pusing dengan runyamnya kehidupan rumah tangga anak angkatnya itu.


Bersambung...