
Mamih meninggal'kan Rania yang tengah istirahat, mamih tidak ingin anak tirinya beban fikiran sehingga untuk penyembuhanya terhambat, dan juga merasa tidak ada yang peduli. Belum lagi orang-orang yang hampir semuanya menyalahkan Rania. Jujur mamih juga benci, kesal dan kecewa dengan Rania. Kenapa sesama perempuan tega menmbujuk Naqi yang notaben'nya sudah berumah tangga untuk pergi bersama dia, selingkuhanya.
Namun Mamih juga tidak menyalahkan sepenuhnya pada Rania, Naqi juga salah di sini, seharusnya ia sebagai laki-laki dan suami bisa lebih tegas lagi untuk mengambil keputusan. Andai Naqi tegas dan tidak sesembrono ini mengambil keputusan pasti menantu kesayanganya masih di sini. Masih di rumah ini dan menambah keramianya, dan masih sering membikinkan cake brownis kesukaan mamih.
Mamih kembali duduk di kursi yang barusan ia tinggal, mereka masih duduk di meja makan di mana pembahasanya semakin serius. Mamih mencoba menajaman pendengaranya, kira-kira sudah sampai mana pembahasan mereka semua mengenai anak dari Luson.
"Jadi mau kamu apa? Apa kamu mau anak ini tinggal di sini dan kami menganggap keluarga?" tanya Tuan Latif dengan lantang.
"Iya Pah, Rania tengah sakit keras dan kini dia butuh dukungan dari kita semua untuk kesembuhannya. Setidaknya izinkan dia di sini sampai sembuh, dan kalo sudah sembuh nanti dia bisa menyewa tempat tinggal sendiri," jawab Luson dengan raut wajah memohon.
Qari yang mendengar jawaban Luson pun mulai naik pitam, "Bagi mana bisa dia udah sakit parah justru di lempar kemari, itu sama saja kamu meminta kami merawat anak kamu itu, yang bahkan kamu baru tahu belakangan ini. Begitu maksud kamu Papih," bentak Qari dengan suara bergetar menahan kemarahanya, bagaimana bisa Luson berfikir sangat gampang seperti ini. Baru saja keluarga Tuan Latif lepas dari masalah Cyra dan Abangnya, Naqi. Sekarang Luson datang dengan membawa masalah baru, di mana dari dulu Qari sangat membenci dengan Rania. Baru mendengar ceritnya dulu waktu ia tinggal di luar negri sajah udah naik pitam bagaimana bisa Luson malah sekarang membawa dan secara tidak langsung meminta mamih dan keluarganya mengurus anak lain hasil benihnya yang ditabur-tabur sembarangan. Qari maju paling depan tidak rela dan tidak ridho mamihnya mengurus nenek lampir.
"Qari Papih mohon, coba kamu pikirkan bagai mana kalo nasib Rania ditukar dengan kamu, kamu ada di posisi Rania dan kamu sakit keras dan dia kini butuh orang-orang memiliki hati sedikit untuk bersimpati dan mendukung pengobatanya...( Belum juga Luson selesai berbicara, tetapi Qari sudah membukamnya dengan menggebrak meja makan dengan keras, bahkan beberapa sendok dan benda lain jatuh membuat bunyi gaduh.
BRAKKKK... pyarrr...
Qari menggebrak meja, pdahaal di sana ada Tuan Latif, Qari tidak peduli kemarahanya sudah di ujung ubun-ubun. Dia dari kemarin sebenarnya sudah menahan marah dengan Rania, dan Naqi sekarang di tambah Luson cari gara-gara. Kebetulan sekali sehingga Qari bisa meluapakan kekesalanya dan membuat hatinya lega.
"Dengar yah Luson, kalo aku yang ada di posisi Rania itu (Qari menunjuk kamar tamu yang barusan di masuki oleh kakak tirinya) Aku tidak akan berbuat bodoh, egois, keras kepala, seperti dia. Kamu mungkin tidak tahu karena anak kamu. Rumah tangga Abang aku hancur, (Qari berbicara dengan emosis yng sudah diambang batas, sehingga suara bergetar, dan air mata jatuh. Saking emosi dan dongkolnya) Kakak Ipar aku pergi, semua kebahagiaan di rumah ini hancur semua ini karena anak kamu. Dua anak kamu yang tidak tau diri, Rania dan kamu Bang. Kamu nikmati kehancuran yang sudah kamu buat. Aku kecewa berat sama kamu. Aku menyesal kenapa memiliki dua laki-laki yang semuanya ber-engsek." Qari benar-benar menumpahkan kemarahanya, setelah ia memaki dua laki-laki yang menyandang setatus papih dan Abangnya Qari duduk di kursi kembali dan menangis menyembunyikan wajah penuh kecewanya di balik meja makan.
Mamih yang melihat Qari menangis bahkan ini adalah tangisanya yang sangaat memilukan, Qari adalah tipe cewek yang anti untuk mengeluarkan air mata apalagi sampai sesegukan seperti ini berati di hatinya sudah benar-beanr sesak. Mamih merasa bersalah karena masalah di keluarganya ia sampai tidak memperhatikan mental putrinya. Mamih tau bahwa Qari mentalnya sedikit terganggu bukan gila atau setes, hanya mentalnya terganggu karena emosi yang menumpuk sehingga bisajadi Qari akan membenci keluarganya yang menurut dia membuat masalah ini menjadi runyam" Mamih mengelus rambut Qari yang tidak terlalu panjang tetapi tetap indah dan tertata rapih. Yah, Qari memang bukan tipe yang feminim yang suka rambut panjang tergerai indah. Dia nggak mau itu ribet dan ganggu. Dia lebih suka rambut pendek yang adem dan tidak repot mengaturnya.
"Sayang, maafkan Mamih yah. Mamih merasa bersalah, gagal mendidik anak-anak Mamih, kamu jadi melihat kekacauan di rumah ini. Mamih merasa paling salah di sini, karena mamih tidak tegas sama Abang kamu, sehingga kamu kehilangan semua yang kamu Anggap kebahagiaan di rumah ini. Maaf mamih juga selama beberapa hari ini mamih terlalu bersedih dan tidak melihat ada anak mamih yang lain yang pura-pura kuat padahal kamu sama kaya mamih dan kaka ipar kamu, Hatinya sakit dan sesak. Maafkan mamih yah," lilih Mamih dengan suara lembutnya tetapi Qari tahu mamih menahan tangis juga.
Qari langsung memeluk mamihnya dan dua wanita yang terlihat tegar, keras dan selalu berhasil menyembunyikan kesedihanya, pagi ini saling menumpahkan air mata yang sudah beberapa hari ini membuat dadanya sesak.
"Kamu bisa lihat Naqi, Luson, bagai mana keluarga ini hancur karena ulah kalian. Ini tidak seberapa kesesakaanya di bandingkan istri kamu. Kenapa kalian tidak pernah berfikir dulu sebelum bertindak. Kecewanya orang-orang yang menyayangimu lebih mengerikan dari apa pun ingat itu Naqi, Luson." Kakek pun bingung mau menasihati Naqi dan Luson seperti apa lagi. Apa dua wanita yang tengah menangis pilu dihadapanya tidak juga berhasil mengetuk hatinya.
"Maafkan Naqi Kek, Naqi salah. Naqi menyesal sekali, Naqi juga pasti akan berusaha dengan keras untuk memperbaiki semuanya," ucap Naqi dengan mata berkaca-kaca. Ia juga terbawa sedih melihat mamih dan adiknya menagis seperti itu. Naqi tahu dua wanita itu pasti kecewa berat.
Hahahaha... Tuan Latif tertawa renyah dengan suara beratnya ketika mendengar Naqi berkata demikian. Dia ingin melihat sampai mana cucunya berusaha, seperti apa yang di maksud dengan memperbaiki semuanya. Kakek tahu Naqi belum tahu dengan apa yang terjadi di keluarganya maka dari itu ia dengan percaya diri mengatakaan demikian.
"Kamu tahu Naqi ketika gelas sudah pecah dan hancur berkeping-keping tidak akan bisa diperbaiki segimana kamu keras berusaha," ucap Kakek masih dengan tawa yang mengejek.
Naqi pun heran apa maksud kakek berbicara seprti itu. Dia jadi tidak sabar ingin menemui Cyra, dan meminta penjelasan dari apa yang Kakek katakan barusan. Yah, kunci dari ucapan kakek adalah istri bocilnya, Cyra.