
"Mas ucapan Meta tadi jangan di masukin ke hati yah. Dia emang begitu banyakan nyebelinya, tapi dia baik kok, emang kalo ngomong kadang ngeselin. Pokoknya sering bikin kesel emang bapak satu anak itu," ucap Cyra dia takut Naqi nanti mengira keluarganya yang memang suka memanfaatkan keadaan, dengan memeras makanan. "Gara-gara Meta emang ini, aku jadi merasa enggak enak banget sama Mas Naqi," desis Cyra di dalam hatinya di benar-benar di buat kesal dan pengin buru-buru ngomel sama Meta.
"Hahaha... kamu santai ajah lagi Ra, lagian aku lebih kenal duluan dengan Meta ketimbang kamu. Lupa yah, dulu yang minta Meta buat nemenin kamu siapa, aku kan yang nunjuk Meta buat membimbing kamu waktu pertama jadi iklan maskara di produk aku yang sangat laku itu. Jadi aku sudah tau kalo Meta itu baik makanya aku pilih dia buat jadi temen kamu, kalau enggak baik tidak akan tuh Meta kenal kamu," balas Naqi agar Cyra tidak merasa tidak enak dengan ucapan Meta itu, lagian Naqi tahu kok Meta itu hanya ingin mengerjai Naqi.
Justru Naqi merasa senang itu tandanya Meta memberikan kesempatan buat Naqi untuk mendekati Cyra, dengan syarat makanan yang dia sebutkan tadi. Lagian makanan yang Meta sebutkan tentu tidak ada bandinganya dengan uang-uang Naqi yang ber MMan itu.
"Iya sih, tapi Cyra takut nanti Mas Naqi malah terbebani dengan permintaan Meta," balas Cyra masih dengan nada yang kesal pada Mas Wawan itu.
"Santai ajah Cyra, lagian kalo pun aku membelikan makanan itu setiap hari, ingat!!! Aku tidak akan langsung jatuh miskin hanya karena makanan yang Meta sebutkan tadi." Naqi bingung harus ngomong apa lagi biar Cyra tidak merasa tidak enak seperti itu.
Setelah Naqi beritahu berulang kali akhirnya Cyra pun bisa lebih santai dengan ucapan Meta, dan Naqi pun berpamitan pulang dengan Cyra. Tidak ada cium tangan cium pipi atau malah yang lainya. Hanya lambaian tangan singkat yang Cyra berikan dan Naqi pun membalas sekedarnya.
Didalam mobilnya Naqi kembali berjingkrak rasanya bahkan jingkrakan kali ini lebih kencang dari tadi pagi.
"A... yes... yes selangkah lagi gue bisa dapatin Cyra semakin terbuka . Restu mommy kandung Cyra malah sepertinya lebih mudah didapatkanya. Sepertinya akan lebih sulit ketika aku memih izin pada mamih kandung ku sendiri dan juga kakekku," ucap Naqi. Dia harus mencari refrensi makanan lezat lebih dulu yang bisa meluluhkan Meta. Sepertinya Meta akan cepat luluh dengan makanan, tetapi kalo mamihnya bagai mana? Mamih dan Tuan Latif bukan orang yang gampang di sogok seperti Meta.
Setelah keluarga Cyra yang sudah memberikan Naqi restu langkah selanjutnya Naqi akan mengejar izin mamih dan kakek, terlebih sekarang ada Mr. Kim yang menjadi kepercayaan kakek makin ribet deh Naqi buat meluluhkan Tuan berkuasa itu.
*****
Siulan dari bibir Naqi ketika memasuki rumahnya menggambarkan bahwa hatinya sedang sangat bahagia. Seolah Naqi ingin mengabarkan pada seisi rumah bahwa dia sedang bahagia luar biasa.
"Udah balikan sama Cyra, Qi?" tanya mamih sembari meletakan gawainya, di mana saat itu mamih juga sedang membaca novel othor yang judulnya "Beauty Clouds" dia lagi ikut cemas takutnya Aarav ambil Meyra dari tangan Ody dan Rio. Tidak ikhlas tentu mamih ketika Keluarga Emly atau Aarav mengambil anak yang sudah dibesarkan Ody dan Rio dengan penuh kasih sayang.
Naqi menghentikan langkahnya. Dan justru berjalan menuju sova. Laki-laki yang sedang bahagia itu memeluk mamihnya dengan kencang. "Belum Mih, tapi udah ada lampu kuning lah. Jadi udah sedikit lega. Doain yah Mih," ucap Naqi sembari kedua tanganya memeluk pundak mamih dengan kencang. Seolah ia ingin membagi kebahagiaanya dengan mamihnya, agar mamih tahu bagai mana berartinya Cyra untuk Naqi.
"Enak ajah doain-doain. Usaha dulu lah! Baru doa mamih menyertai," jawab mamih ketus, perinsifnya mamih agar Naqi benar-benar berjuang utuk menggapai cintanya. Tentu tanpa Naqi minta pun mamih sudah mendoakanya, malah doa terbaik untuk putranya itu.
"Ih... Si mamih ini udah kaya mamak tiri ajah, galak banget sama anaknya," dengus Naqi, ia akan kembali ke kamarnya.
"Qi, tunggu mamih pengin ngomong soal adik kamu." Mamih mencegah Naqi agar tidak pergi dulu.
Naqi pun melihat wajah mamih yang berubah. Dia bahkan lupa bahwa Naqi juga ingin menanyakan kemana perginya Qari siang ini bahkan sampai malam menjelang begini ia belum melihat mobil Qari terpalkir di depan rumahnya.
"Mamih bingung mau ngomong dari mana, tapi yang jelas perasaan mamih tidak enak setiap mamih melihat Qari. Dia juga seperti murung gitu Bang, kira-kira ada apa dengan Qari yah Bang? Mungkin Abang tahu penyebab Qari seperti itu. Mengingat Abang kerja bareng dengan Qari. Mungkin terjadi sesuatu dengan Qari di tempat kerjanya Bang?" Mamih bertanya deng wajah yang sedih dan cemas. Naqi bisa melihatkan kalo mamih memang benar-benar mencemaskan putrinya itu.
"Naqi juga tidak tau Mih, jujur Naqi juga bingung sama Ade. Tadi makanya Naqi telpon mamih, itu karena Qari seharian ini tidak masuk kerja Mih," jelas Naqi, awalnya Naqi akan bertanya dengan mamihnya kira-kira Qari kemana tetapi malah, sepertinya mamih juga terkejut dengan apa yang terjadi dengan putranya.
Mamih menatap Naqi dengan pandangan meminta kejujuran. "Kamu serius Qi, kalo adik kamu tidak datang ke tempat kerja?" tanya mamih, besar harapan mamih mendapatkan jawaban memuaskan sesuai yqng dia inginkan dari yang Naqi berikan, tetapi rasanya terlalu mustahil. Sedangkan saat ini ajah Naqi kebingungan di mana Qari berada.
"Naqi pikir awalnya mobil dia benar-benar mogok, atau malah mamih tau bahwa ia izin ke mana gitu. Abisan nomor ponselnya juga tidak aktif Mih," imbuh Naqi menyakinkan mamih bahwa ia juga sejujurnya bingung dengan kondisi adiknya yang ia duga kalo adiknya itu seolah tengah menghadapi banyak masalah.
"Tapi di tempat kerja tidak terjadi apa-apa kan Qi. Mamih hanya takut kalo Qari ada masalah kerja di tempat kerjanya dan dia jadi urung-uringan. Tetapi tidak bernia curhat dengan mamih. Sebenernya adik kamu itu hatinya kosong Qi. Mamih kasihan sama adik kamu, dia berpura-pura tegar." Qari memang tidak pernah memberitahu gimana isi perasaanya, tetapi mamih sebagai wanita yang telah membesarkanya dan memberikan sumber kehidupanya dengan tulus pun dapat merasakan apabila anak itu tengah ada yang mengganja.
Naqi berpura-pura berfikir seolah mengingat-ingat apa yang ia lihat dengan adiknya selama ia di kantor. Tidak mungkin Naqi mengatakan bahwa bisa saja yang membuat Qari berubah karena sikap Alzam yang tidak pernah membalas cintanya. "Tidak Min, perasaan Naqi, Qari itu tidak sedang ada masalah. Qari kalo di kantor biasa ajah dengan sifatnya yang pecicilan gitu," ucap Naqi, mencoba berbicara yang memang dibuat seolah tidak terjadi apa-apa padahal kemungkinan besar Qari seperti ini karena Alzam.
"Apa gara-gara di rumah ini ada Rania yah? Kamu tahu kan kalo si Rania ada di rumah itu Qari selalu tidak akur dengan dia," tebak mamih lagi.
"Sepertinya begitu Mih, Naqi juga sebenarnya rada kurang nyaman kalo dia di rumah ini, tapi gimana lagi ini rumah kakek, dan kakek mengizinkan anak Luson ada di sini. Kita cuma bisa menerima keputusan kakek saja," balas Naqi dengan pasrah.
"Qi, mamih nitip adik kamu yah, tolong kamu awasi dia terus. Jaga dia sayangi dia. Qari itu sebenarnya hatinya gampang rapuh. Cuma dia tidak mau menunjukanya saja. Mamih takut sesuatu buruk menimpa adik kamu," pinta mamih dengan tatapan mengiba penuh permohonan.
"Iya pasti Mih, tanpa mamih minta Naqi sebenarnya sayang sama Qari kok. Dan Naqi lihat sosok Qari ini mirip kayak mamih sok tegar tapi di dalam kamar pasti tempat paling nyaman untuk menangis iya kan," goda Naqi, dan Naqi yakin bahwa tebakanya benar.
"Sok tau kamu." Mamih pun pada akhirnya meninggalkan Naqi sendiri dan menenangkan fikiranya di kamarnya
...****************...
Teman2 ini cuplikan perjalanan cinta Qari, sok buat yang mau sumbang ide, othor bakal tampung, mumpung episode baru tiga jadi alur masih bisa di belokan sesuai request kalian.
Kira2 Qari lebih baik sama Al atau nanti bakal sama Deon ajah? Yuk tuangkan masukanya di kolom komentar🙏🙏