Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Penantian Panjang


Zoya terkejut dengan apa yang Niko katakan. Ia masih bingung apakah ini mimpi? Kenapa tiba-tiba suaminya pulang dan mengatakan bahwa ia memiliki anak. Fikiran Zoya mencoba menerka-nerka apakah Niko mengadopsi anak atau selama ini Niko berselingkuh dengan wanita lain?


"Sayang kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak suka kalo aku punya anak?" tanya Niko sembari mengatupkan kedua telapak tanganya ke samping wajah istrinya itu.


"Bu...bukan aku tidak suka sayang, tapi aku kaget dan bingung anak siapa yang kamu katakan? Apa kamu mengadopsi anak? Atau kamu berselingkuh di belakang aku? Kalo kamu mau, menikah saja aku akan lebih ikhlas dari pada kamu berselingkuh. Aku merasa tidak di hargai sayang," balas Zoya fikiranya justru menerka-nerka dengan hal-hal yang tidak-tidak. Suaranya pun seolah menahan kesedihan.


"Hahaha...Sayang kamu ini lucu banget sih, aku enggak ada selingkuh, dan aku juga tidak ada adopsi anak. Anak kita itu anak kandungku dan dia lahir dari hasil hubungan yang masih sah kok," jawab Niko dengan wajah yang sangat ceria, bahkan ini mungkin Niko merasakan baru sebahagia ini, setelah bercerai dengan Fifah dan dia merasakan sakit yang teramat. Waktunya banyak terbuang dengan berobat kesana kesini dan juga tubuh yang lemas. Beruntung Niko memiliki istri yang setia seperti Zoya sehingga Niko sakit pun Zoya masih mau merawat dan tidak meninggalkanya. Padahal Niko di hukum oleh anaknya cukup lama. Hampir satu tahun dan sampai saat ini Niko juga masih check up rutin. Dan Zoya lagi-lagi terus memberikan semangat. Andai Niko berani selingkuh di belakang Zoya mungkin Niko adalah laki-laki yang sangat tidak tahu di untung.


"Takutnya Mas, kan sekarang mah banyak di rumah menjadi good husband tetapi di luar rumah memiliki wanita lain. Zoya takut ajah Mas Niko kayak gitu, padahal kalo mau nikah lagi asal izin Zoya juga akan berusaha ikhlas, tidak seperti dulu ketika sama Fifah di pertengah Zoya menyesal juga," isak Zoya mengingat perasaan cemburunya dulu ketika suaminya menikahi Fifah dan dia juga pasrah dan akhirnya cemburu juga, padahan sebelum menjalani pernikahan yang pelik itu Zoya sudah yakin bahwa ia akan sanggup membaginya. Ternyata dia tidak kuat untuk berbagi suami, karena ikhlas itu ternyata sangat menyakitkan.


"Tidak sayang, Mas tidak akan menikah lagi karena kamu sudah lebih dari cukup dan soal anak kita juga sudah mendapatkan'nya, meskipun masih tinggal dan diasuh oleh ibunya," ucap Niko, dia memberi kode dengan ucapanya apakah Zoya bisa tebak siapa gerangan yang dia maksud, atau justru dia masih menebak-nebak yang tidak-tidak.


"Tunggu sayang, apa ini tandanya Fifah... " Zoya tidak langsung melanjutkan ucapanya karena, dia terkejut dengan reaksi Niko di mana wajah Niko mengembangkan senyum yang sangat lebar dan juga anggukan semangat.


"Alhamdullilah ya Allah akhirnya doa-doaku terkabul juga," Zoya tanpa sadar bersujut dan berjingkrak, sedangka Niko yang merentangkan tanganya karena mengira kalo Zoya akan memeluknya pun jadi terbengong dengan reaksi Zoya.


"Mas, sekarang anak kita di mana?" tanya Zoya dengan antusias.


"Tinggal sama Fifah," jawab Niko tangan pun masih terlentang, mungkin saja Zoya sadar dan akan memeluknya.


"Iya maksudnya Fifah tinggal di mana? Dan kita boleh kan menjenguk anak kita?" tanya Zoya, dengan antusias dan sangat bahagia. Di mana dia akhirnya akan punya anak, meskipun anak itu tidak lahir dari rahimnya tetapi Zoya akan menyayanginya seperti anaknya sendiri. Setelah sekian lama penantian yang panjang.


"Nanti Wawan yang akan mengirim alamatnya, tadi kita sudah ngobrol kalo kita boleh mengunjungi anak kita kok,' jawab Niko sekarang mereka tidak lagi berdiri tetapi sedah duduk di atas sova.


"Tapi, ngomong-ngomong anak kita cewek atau cowok?" tanya Zoya, penasaran dong anaknya cewek atau cowok dari tadi tidak membahas anaknya jenis kelaminnya apan.


****


Naqi baru pulang dari kantor pukul sepuluh malah, dan di pukul segitu di rumah tuan Latif tentu sudah sepi, di mana di rumah itu jam sembilan sudah dibiasakan diri untuk masuk kedalam kamar masing-masing dan mulai beristirahat. Sementara Naqi yang memegang tugas adiknya yang lagi cuti jadi pulang lebih malam dari jam pulang buasanya.


"Kok kamu baru pulang sayang?" tanya mamih, seperti biasa dia belum tidur dan merenunggu Naqi di atas sova.


Naqi yang mengira bahwa orang-orang rumah sudah pada bermimpi dengan indah pun tidak mengetahui bahwa masih ada mamihnya yang menunggu dirinya, untuk memastikan bahwa anaknya pada pulang, tidak termasuk Qari yah, karena Qari belum mau pulang, dan anak gadisnya itu sudah izin berhubung sudah izin dan dari tadi juga chatingan sehingga mamih tidak terlalu cemas dengan Qari. Toh dia mah paling akan menghabiskan wakunya di atas kasur dengan bermain game.


"Astagah mamih, jangan kebiasaan deh ngagetin saja, nanti kalo Naqi jantungan gimana?" dengus Naqi, tetapi ia tetap menghampiri mamihnya dan mencium tangaan serta pipinya dengan penuh hangat. "Iya Mih, kan anak mamih yang bar-bar itu lagi jadi tuan putri tiga hari mih, jadi ya  Abang yang masih ingin kerja dan tidak di pecat oleh Tuan Latif harus kerja lebih keras lagi untuk menggantikan tuan putri. Ngomong-ngomong Ade udah pulang belum Mih?" tanya Naqi, matanya ia arahkan ke kamar adiknya yang berada di sebrang kamarnya di lantai dua rumah tuan Latif.


"Dia udah izin sama mamih kalo dia pengin nginap dulu di hotel, sampe tiga hari katanya mau puas-puasin tidur sama pengin main game sepuasnya." Mamih menirukan apa yang Qari katakan dan tentunya bibirnya pun mengikuti gaya emak-emak kalo lagi gosip.


"Haduh beda memang kalo jadi tuan putri mah, apa daya Naqi yang masih jadi rakya jelata, mau punya uang harus nguli dulu sapai malam." Naqi pun beranjak dari duduknya dan akan mulai istirahat, besok pagi dia harus bangun lebih awal, demi ngajak Neng janda jalan-jalan.


"Mih..." Naqi yang sudah setengah jalan memanggil mamihnya yang sudah beranjak dari duduknya dan akan pergi ke kamar juga untuk mulai istirahat tentunya. Mamih membalikan tubuhnya dan menatap putranya dengan penuh tanya.


"Pengin kawin lagi Min, izinin napa Mih, udah nggak kuat nih masa umur udah hampir tiga puluh belum buka puasa juga," ucap Naqi sembari merengek seolah anak kecil. Yah itu adalah cara terakhir setelah cara-cara lurus dan baik dia ikuti tetapi mamihnya masih belun izinin untuk menikahi Cyra lagi. Alasanya tentu bukan karena mamih tidak sayang dengan Cyra, tetapi justru kebalikanya mamih terlalu sayang dengan Cyra sehingga mamih menggembleng anaknya sendiri, dengan syarat yang aga sulit yaitu prilaku baik, tetapi kata Naqi sudah baik di mata mamih masih kurang ajah usahanya.


"Hus.. kawin-kawin. Nikah!! Udah izin dengan kakek?" tanya mamih, "Izin dulu sama kakek, kalo kakek izinkan mamih juga tidak akan melarang lagi," jawab mamih, kasihan juga, mamih juga pengin lihat anaknya bahagia.


"Mamih ajah yang izin sama kakek," ucap Naqi dengan sangat serius dan memohon,


"Ya Tuhan Naqi kamu yang pengin nikah, kenapa jadi mamih yan izin-izin. Kalo mau izin ajah sendiri, kalau tidak ya enggak usah pengin nikah-nikahan." balas mamih dengan pergi meninggalkan Naqi sendirian di ruang keluarga. Tidak lama pun Naqi dengan membuang nafas kasar juga menyusul mamih pergi ke kamarnya untuk merangkai mimpi yang indah mungkin saja di dalam mimpinya bertemu dengan neng Cyra.