
"Maaf Mas, bukanya Mas Naqi yang bilang kalo hubungan kita hanya sebatas perjanjian hitam diatas putih, dan juga kita akan bercerai setelah satu tahun. Selanjutnya Mas Naqi akan kembali pada Mba Rania. Lalu nasib aku gimana? Bukanya Cyra tidak mau melayani Mas, sebagai suami Cyra, tapi pernikahan kita itu berbeda dengan pasangan di luaran sanah, yang menikah karena saling cinta. Pernikahan kita hanyalah perjanjian kerja sama sajah Mas." Cyra dengan sabar menjelaskan hubungan yang rumit dalam pernikahanya.
Naqi termenung dengan perkataan Cyra "Semua yang dikatakan Cyra ada benarnya," batin Naqi.
Naqi pun mencoba membaringkan badanya yang sangat lelah.
"Maaf Ra, semua ini nggak akan terjadi kalo Kakek tidak memberikan jamu itu. Kita lupakan sajah kejadian malam ini," ucap Naqi dengan lemah.
"Iya nggak apa-apa Mas, toh kita tidak sampai melakukan hubungan suami istri. Cyra hanya takut apabila Mas tidak bisa mengontrol semua tadi. Mas sendiri yang akan bingung dengan masalah baru yang datang lagi," papar Cyra.
Hemz... Naqi hanya berdehem sebagai tanda bahwa ia mengerti maksud obrolan Cyra.
"Mas apa Mas mau Cyra pijit atau kerok gitu, Cyra liat Mas sangat tidak nyaman," tawan Cyra dengan sangat hati-hati takut menyinggung perasaan Naqi.
"Enggak perlu Ra. Kamu istirahat lagi ajah. Nanti juga badan aku baikan sendiri," tolak Naqi dengan lemah.
Cyra pun kembali merebahkan badanya. Naqi pun mulai memejamkan matanya dan terbuai di alam mimpi.
Tepat pukul enam Cyra membangunkan Naqi, sementara Cyra sudah mandi dan berganti pakeian. Setelah sholat subuh Ia meminta Pak Kusno mengantarkan pakeian ke hotel mereka menginap.
Karena Cyra pagi-pagi yang meminta diantarkan pakeian, seisi rumah kembali heboh terlebih mamih yang mengetahuinya dari asiaten rumah tangga sudah tidak sabar mendengar kabar bahagia bahwa menantunya hamil.
*****
Balik maning maring hotel...
"Mas... Mas... bangun sudah jam enam, kita harus pulang dan hari ini ada acara penting bukan!" ucap Cyra sembari menggoyang-goyangkan pundak Naqi.
Hemz... gumam Naqi, beberapa kali di bangunkan baru terdengar deheman yang menandakan bahwa ia baru sajah bangun dari tidurnya.
Cyra membiarkan untuk beberapa saat, tetapi ternyata malah Naqi kembali tertidur dengan pulas.
"Mas ih, ayo bangun!" Cyra terus berusaha membangunkan Naqi.
Setelah melewati banyak usaha akhirnya Naqi bangun juga.
"Jam berapa Ra?" tanya Naqi dengan suara beratnya.
"Jam enam," jawab Cyra jutex.
"Hemz... ko kamu udah ganti baju ajah, beli atau diantar sama Pak Kusno?" tanya Naqi dengan heran.
"Pak Kusno yang mengantarkannya." Cyra menjawab singkat. "Buruan Mas mandi ah, Cyra juga hari ini harus hadir di acara Mas Naqi kan. Kalo telat nggak enak dengan yang lain," ujar Cyra, agar Naqi buru-buru membersihkan diri.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam kini Naqi dan Cyra sudah berada di dalam mobil.
"Setelah tidur mendingan, tapi tetap sajah aku harus ngasih pembalasan sama Kakek, gara-gara ramuan dari dia aku tersiksa dan joniku juga terluka, makin tambah sajah rasa sakitnya," ujar Naqi, dengan geram mana kala mengingat kelakuan kakeknya.
"Udah lah Mas, jangan diperpanjang dan Mas juga jangan cari gara-gara lagi. Toh itu semua akibat kebohongan Mas juga. Coba kalo Mas nggak berbohong. Pasti nggak kaya gini kejadianya. Makanya jadikan ini pelajaran jangan dibiasaan berbohong lagi." Cyra menasihati Naqi dengan lembut, karena Cyra tau watak Naqi yang usil dan tidak mau mengalah justru bisa menambah masalah lagi.
"Loh ko kamu belain kakek Ra, apa jangan-jangan kalian sekongkol?" tuduh Naqi tetapi pandangan masih fokus ke jalanan ibukota.
"Ko Mas Naqi malah bilang gitu sih, nuduh Cyra sekongkol sama Kakek. Mas pikir waktu Mas kaya semalam Cyra nggak takut? Cyra takut Mas, takut banget malah! Malahan Mas Naqi juga sempat berantem sama Dokter Adam. Andai bisa memilih, lebih baik Cyra bermalah di lantai rumah sakit, dari pada tidur di kasur yang emput di hotel yang mewah, tetapi harus mengalami dulu kejadian yang tidak mengenakan seperti semalam." ucap Cyra sembari mengingat kejadian malam tadi.
"Iya sorry Ra, Mas juga kan di bawah sadar. Semalam bener-beber kejadian paling buruk. Dan juga kamu lupakan kejadian semalam yah, rasanya aku kaya orang gila," balas Naqi dengan wajah yang memerah ketika mengingat kejadian malam tadi.
"Iya Mas, sedikit-sedikit Cyra tau ko apa yang terjadi dengan tubuh Mas Naqi semalam. Cyra bertanya dari ponsel pintar ini dan jawabanya ada di sana semua," ucap Cyra dengan pedenya sembari menunjukan posel pintarnya.
Kini mereka pun telah sampai di halaman rumah.
Sementara Mamih yang tidak tau menau apa yang terjadi semalam, dengan antusias menyambut kedatangan Naqi dan Cyra.
Berbeda dengan Naqi yang justru menunjukan muka masamnya.
"Hai sayang gimana semalam, sukses?" tanya mamih yang langsung menghampiri anak dan menantunya ketika Naqi dan Cyra baru sajah melewati pintu rumahnya.
"Pagi Mam, Alhamdulillah Mam semuanya aman," jawab Cyra mewakili pertanyaan mamih, sebelum suaminya yang menjawab.
"Aman apaan, gara-gara ramuan sialan Kakek aku semalaman justru gagal total membuat adonan mochi," runtuk Naqi sengaja volume suaranya dibesarkan agar kakek yang tengah menikmati secangkir kopi mendengar dan merasa bersalah.
"Mas ah... udah jangan dilanjutkan lagi. Kan tadi kita udah bahas jangan diperpanjang," lirih Cyra, tetapi memang nampaknya Naqi yang bandel dan senang mencari gara-gara jadi tidak afdor kalo hanya diam sajah.
"Loh... loh... ko bawa-bawa Kakek dan ramuan ajaib, ada apa ini?" tanya kakek berdiri dan mendekat ke anak dan cucunya.
Cyra hanya menunduk dan menepuk kepalanya dengan telapak tangan. Menandakan semakin runyam. Rasanya andai Naqi adalah anak kecil, pengin Cyra jewer dan bawa masuk ke kamar. Namun, dia sudah dewasa, tetapi sulit sekali untuk dinasehati. Ngeyel, itulah kata yang tepat buat suaminya.
"Gara-gara jamu sialan dari Kakek, rencana ku gagal total, dan asal kakek tau senjataku ini (Naqi menunjuk juniornya) bangun terus dan aku nggak bisa ngapa-ngapain selain bersolo karir, karena itu juga sekarang senjataku terluka, lecet!," ucap Naqi dengan bersungut-sungut. Tanpa sadar malam membuka rahasianya.
"Loh kenapa bersolo karir kan kalian suami istri? Jangan-jangan kalian.....?" Kakek tidak melanjutkan ucapanya tetapi menatap tajam Naqi yang tampak salah tingkah dan muka memerah.
"Mam'pus gue keceplosan lagi," batin Naqi bergemuruh. Rahasianya kini di unjung tanduk.
"Kalian berbohong!! Ngaku sudah malam pertama tapi kenyataanya belum?" tanya kakek dengan nada kecewa.
Cyra menunduk, memainkan jari-jarinya ia memikirkan jawaban apa yang bisa meredakan kemarahan kakek.
"Jawab Cyra, Naqi!! Kalian bikin Kakek kecewa!!" bentak Kakek dengan muka merah padam. Semua yang ada di hadapan kakek pun terlonjak kaget mendengar kemarahan kakek.
Bersambung....