
Naqi meletakan tubuh Cyra di ranjang dengan sangat berhati-hati.
"Kamu tidur, jangan terlalu banyak fikiran, dan soal Rania, biar aku yang urus. Kamu cukup istirahat dan sehatkan lagi badanmu." Naqi menasehati Cyra.
"Iya, Mas. Terima kasih buat semua yang Mas udah lakukan padaku, aku nggak akan lupa kebaikan Mas padaku," balas Cyra, dengan berkaca-kaca. Baru kali ini dia diperlakukan selembut ini, maka dari itu Cyra merasa terharu.
Naqi hanya mengangguk lemah, lalu ia mengambil bantal dan membawanya ke sova.
"Mas mau tidur di mana?" tanya Cyra kaget ketika Naqi justru tidak mau tidur di ranjang denganya.
"Aku akan tidur di sova, udah kamu tidur di kasur sajah. Aku hanya ingin menenangkan pikiran aku sajah," balas Naqi dengan merebahkan tubuhnya di atas sova yang empuk.
Cyra kembali mengangguk, mungkin memang itu yang ingin Naqi lakukan, hanya ingin menenagkan fikiran itu. Maka dari itu Cyra membiarkan sajah keinginan Naqi.
Cyra pun mulai memejamkan matanya, mulai mengarungi mimpinya, begitu pun Naqi ikut tertidur.
****
Sam berlari menyusul Rania yang sudah lebih jauh meninggalkanya dibelakang. Namun, karena Rania yang mengenakan High heels sehingga tidak bisa berlari dengan cepat, dan Sam dengan mudah menyusulnya Rania.
"Tunggu Na, kamu jangan kekanakan gini dong," Sam menarik tangan Rania agar berhenti berlari.
"Kekanakan, kata kamu kekanakan? Kalian itu sama sajah menilai cewek karena keluguanya. Kalian bela cewek itu dan menyudutkan aku. Buat dia besar kepala dan sengaja menarik perhatian kalian biar aku yang disalahkan. Gue bisa baca kepolosanya hanya topeng baginya, agar dia mendapatkan simpat dari kalian." Rania menumpahkan semua beban di dadanya, sesak di dadanya ia tumpahkan pada Sam.
"Maaf kalo aku dan Naqi membuat hatimu sakit, tetapi aku hanya ingin kamu jangan seperti tadi menilai orang sebelum mengenalnya," balas Sam dengan nada sangat lembut.
"Aku tidak perlu mengenalnya, karena kalo aku mengenalnya maka otaku tercuci sama anak itu, sama seperti kalian yang sudah tercuci otaknya sehingga apapun kesalahan yang dia perbuat kalian dengan mudah memaafkanya dan menjadikan orang lain penyebab kesalahan yang dia buat," sungut Rania, seolah sangat jijik dengan Cyra.
Sam memejamkan matanya dan menarik nafas dalam, rasanya ia tidak akan menang ketika berbicara dengan Rania, karena Rania memang bersifat keras kepala, dan juga tidak mau mengalah.
"Ya udah yu kita pulang sajah, hari makin malam, nggak enak kalo dilihat sama orang lain. Nanti dikira kita pasangan yang lagi berantam lagi," ajah Sam pada Rania dengan menggandeng tanganya.
"Lepas," Rania menarik tanganya membuat pegangan tangan Sam terlepas. "Biar gue pulang sendiri, gue bisa pulang naik taxi, silahkan loe pulang sendiri," usir Rania, yang enggan pulang dengan Sam.
"Na, ini udah malam, lagian Taxi mana ada yang masuk komplek elit gini, yang ada kamu harus berjalan sampai pintu depan perumahan sana baru dapat Taxi. Nanti kamu cape, kaki kamu lecet, mana kamu pake heels gini." Sam mencoba merayu Rania, agar mengecilkan egonya sedikit sajah dan mau mengikuti saranya. Sam juga sudah cape kerja ditambah menghadapi Rania, rasanya bener-bener kesabaranya diujung kepala.
"Kenapa Naqi betah banget sih sama cewek keras kepala kaya dia. Aku sajah sajah baru beberapa jam sama dia rasanya udah pengin melambaikan bendera putih," batin Naqi gemas dengan kelakuan Rania.
Rania diam sejenak mencerna perkataan Sam. "Ya sudah aku ikut kamu pulang, tapi aku nggak mau nanti kamu membahas cewek sok alim itu," ancam Rania.
"Iya aku janji, lagian aku juga cape Na, sebenarnya kalo nggak kasian sama Cyra aku malas kesini, tapi profesiku sebagai dokter. Aku harus siap ketika panggilan mendadak seperti ini, jadi mau nggak mau aku harus menyampingkan rasa lelahku dan menemui Cyra untuk mengobati lukanya," lirih Sam.
Rania enggan membalas perkataan Sam ia hanya melirik jengah menanggapi ocehan Sam.
*****
Ah....
Tolong...
Tolong...
Jangan paksa aku. Aku tidak sengaja Ampun.... Ampun Tuan.."
Cyra menginggo dengan merancau kata-kata yang sepertinya dia bermimpi buruk.
"Ra.... Ra.. bangun. Kamu mimpi, bangun." Naqi menggoyangkan pundak Cyra agar terbangun.
Naqi juga melihat Cyra yang berkeringat seperti telah mengikuti lomba berlari maraton.
"Ra... ayo bangun kamu mimpi apa?" Naqi masih berusaha membangunkan Cyra, pasalnya tumben Cyra susah dibangunkan. Padahal biasanya ia paling senaitif ketika tidur, mendengar pintu dibuka sajah ia bisa bangun, tetapi kali ini justru ia susah untuk bangun.
Cyra terbangun ketika Naqi kembali memanggil namanya. Ia mengedarkan matanya kesegala arah, seolah ia sangat ketakutan dengan wajah pucat dan nafas yang memburu sedikit tersenggal.
"Kamu kenapa? Mimpi apa?" tanya Naqi dengan halus.
Namun, justru Cyra menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Mimpi itu, mimpi itu kembali lagi," lirih Cyra.
"Iya mimpi apa? Kamu bisa cerita sama aku siapa tau kamu bisa sedikit lega," bujuk Naqi, sembari mengusap pundak Cyra dengan lembut.
"Aku pernah bermimpi beberapa kali kejadian mimpi barusan, tetapi itu dulu waktu aku masih kecil. Dan sekarang mimpi itu datang lagi, aku takut." Cyra sangat nampak ketakutan.
"Kamu jangan takut ada aku, kamu bisa cerita apa yang kamu liat dimimpi mu." Naqi kembali membujuk Cyra agar menceritakan mimpinya, dan juga dia tentu penasaran dengan apa yang Cyra mimpikan.
"Waktu kecil aku pernah main petak umpet dengan Kak Fifah, tapi aku justru tersesat di ruangan yang berada di kamar ayah. Di ruangan itu sangat gelap dan juga sunyi seolah tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya. Namun, aku menemukan bekas piring makanan seolah ada seseorang yang sengaja meletakanya. Ketika aku akan mencari tahu masuk kedalam ruangan lain. Ayah sudah menemukanku, dan dari situ aku dihukum tidak boleh masuk ke kamar ayah. Tidak hanya aku, semua orang tidak ada yang diizinkan masuk kekamar ayahku dan itu berlaku sampai sekarang." Cyra berhenti sejenak dan menarik nafas dalam, menenangkan hatinya yang terasa sesak.
"Sejak kejadian itu aku bermimpi. Aku kembali masuk ke dalam ruangan itu, dan berhasil menyelinap sampai salah satu kamar, yang ternyata ada penghuninya. Sesosok wanita cantik tetapi dia sama sepertiku memiliki kelainan genetik sehingga tidak memiliki rambut. Namun, ketika aku akan mendekat lagi-lagi ayah menemukanku dan menghukumku dengan memukulku tidak hanya aku yang ayah pukul tetapi perempuan itu juga ayah pukul sampai berdarah." Cyra tidak bisa melanjutkan lagi ceritanya dia justru menangis ketika mengingat mimpinya.
Naqi mendekat ke Cyra dan memeluknya.
"Jangan sedih, suatu saat kita akan cari tahu tentang ayahmu, aku juga mencurigai ayahmu. Sekarang sembuhkan tubuhmu sehingga kamu bisa mencari tahu arti dari mimpi kamu. Ok." Naqi mengusap air mata yang menetes di pipi Cyra.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan Tuan Kifayat selama ini? Kenapa kehidupanya terlalu misterius?" gumam Naqi dalam hati.
Bersambung...
...****************...