
Sementara ibu RT mengambil nomor ponsel milik papahnya Rania, yang dititipkan kepada bu RT. Rania sangat senang karena ternyata impianya untuk bertemu ayahnya akan tercapai. Mimpi yang sangat ia inginkan, tetapi ia sempat berputus asa dengan semua harapanya, karena sulitnya mencari petunjuk dari ibunya untuk mencari papahnya.
"Akhirnya kamu bisa menemukan Papahmu yah, semoga jalanya nanti dimudahkan untuk bertemu Papamu." Naqi pun ikut bahagia ketika melihat Rania bahagia juga.
"Iya terima kasih sayang. Bertemu Papah adalah keinginan terakhir aku. Aku berjanji kalo sudah bertemu dengan Papah aku akan lebih semangat lagi untuk sembuh." Semangat yang Rania tunjukan sudah cukup membuat Naqi lega. Yah, Naqi sangat tau gimana Rania enggan untuk berobat dengan alasan umurnya sudah tidak lama lagi. Hal itu membuat Naqi emosi juga, karena tujuanya memilih Rania adalah agar gadis itu mau memiliki semangat yang tinggi.
Naqi pun ikut tersenyum mendengar semangat dari Rania.
"Maaf lama Mas, Mba. Tadi sempet lupa naronya. Tapi sekarang sudah ketemu. Ini nomor orang yang mengaku Papah kamu, Mba Rania." Bu RT menyodorkan nomor yang terdapat di buku catatan.
Rania pun dengan tidak sabar langsung mengambil buku itu dan memindahkan nomor ponsel tersebut ke dalam ponselnya. Ia menekan satu persatu nomor tersebut. Rania sangat tidak sabar ingin menyapa orang yang mengaku papahnya. Namun sayang nomor yang dihubungi tidak aktif.
Berkali-kali Rania mendeal nomor tersebut, tetapi hasilnya sama nomor itu tidak aktif. Sampai lelehan bening bercucuran di atas pipinya. Rania kecewa sangat kecewa, ketika melihat kenyataan ini.
Naqi yang melihatnya iba. Ia mengambil alih ponsel Rania yang ia letakan di atas meja. Naqi akhirnya memutuskan mengirim pesan untuk laki-laki tersebut. Sehingga apabila ia mengaktifkan nomor tersebut, pesan dari Naqi langsung otimatis masuk.
Pesan yang memberi tahu bahwa nomor itu adalah nomor anaknya yang ia cari.
Setelah itu Rania dan Naqi pun berpamitan pulang sama ibu RT. Naqi memapah Rania yang seketika itu tubuhnya langsung drop dan lemas untuk berjalan. Rania terlalu bahagia sehingga ia lupa tidak menyiapkan kekecewaan bahwa hal buruk bisa saja menghalangi pertemuan diantar orang tua dan anak itu.
"Kenapa lagi-lagi aku dibuat kecewa dengan harapanku sayang? Apa Tuhan tidak bahagia melihat aku bahagia? Kenapa bahagia itu seolah takut menghampiri kehidupan aku?" tanya Rania dengan terisak pilu begutu sampai di dalam mobil.
"Kamu yang sabar yah Nia, semoga dengan kesabaranmu, kamu bisa bertemu dengan Papah kamu. Jujur aku pun bahagia ketika mendengar kabar baik ini. Terlebih ketika melihat semangat kamu untuk sembuh. Sungguh aku bahagia, ini yang aku inginkan dari kamu, semangat untuk sembuh. Setidaknya kamu hargai pengorbanan aku Nia. Aku rela meninggalkan semuanya untuk kamu, berati kamu itu terlalu berharga buat aku. Maka kamu tunjukan juga kalo memang aku menilai kamu itu benar dan jangan bikin aku berkecil hati karena kepasrahanmu." Naqi tidak mau melihat Rania kembali bersedih lagi.
"Aku janji sayang, aku akan lebih bersemangat lagi karena Papah. Aku yakin Papah juga selama ini mencari aku. Kamu tahu sayang, tadi ibu penjual makanan itu berkata bahwa Ibu dan Papah itu saling suka. Tapi orang tua Papah, yang kaya raya tidak menyetujui Ibu sebagai pilihan istri Papah maka dari itu Papah dan Ibu hanya menikah secara agama alias nihah sirih. Dan Papah kembali ke Jakarta untuk memeperjuangkan setatus Ibu agar bisa diterima di keluarga Papah. Aku nggak tahu bagaimana perjuangan Papah, sampe Papah tidak kembali lagi ke kampung ini. Mungkin memang keluarganya yang tidak bisa menerima Ibu. Aku harus tunjukan sama keluarga Papah nanti kalo Ibu wanita baik-baik. Sehingga mereka tidak sepantasnya menolak Ibu sebagai menantu." Rania menceritakan kenapa Ibu dan Papahnya berpisah.
"Berati Ibu dan Papah kamu saling cinta tapi terhalang restu. Kenapa kisah mereka seolah cerminan dari kisa kita yah. Aku merasa berkaca bahwa kisah Papah dan Ibumu terulang dikisah kita." Naqi membayangkan bagaimana perjuangan orang tua Rania untuk mendapatkan restu dari keluarga Papahnya.
"Iya hanya bedanya Papahku meninggalkan Ibuku yang tengah hamil. Sedangkan kamu tetap menemaniku yang tengah sakit dan rela meninggalkan keluarganya demi aku. Kamu berati tetap yang terbaik sayang." Rania sangat bangga memiliki kekasih seperti Naqi, karena Naqi rela diusir dari keluarganya demi menemani Rania dan mau hidup sederhana dengan Rania.
Naqi ingin membalas pelukan Rania, tetapi lagi-lagi perasaan bersalah itu tumbuh. Wajah menyedihkan Cyra ketika ia tinggalkan begitu saja di malam itu kembali menghantui dirinya. Bahkan wajah menyedihkan Cyra adalah hal yang paling mengerikan dibandingkan wajah marahnya kakek waktu tahu bahwa Naqi masih menjalin kasih dengan Rania.
"Ya Tuhan apa ini hukuman dari kamu karena aku telah mengecewakan Cyra," batin Naqi dengan tubuh kaku di dalam pelukan Rania.
Rania yang sadar dengan ekpresi Naqi yang tidak membalas pelukanya, berbeda dengan dulu ketika Rani memeluk maka Naqi lebih asgresif dari dirinya sampai keduanya hanyut dengan pelukan yang lebih.
"Sayang kamu kenapa sih, sekarang sepertinya kamu menjaga jarak dengan aku? Kamu udah nggak sayang yah sama aku? Kamu memilih aku hanya karena kasihan yah?" Rania mencecar pertanyaa kepada Naqi.
"Bukan gitu Nia, aku hanya ingat pesan tokoh agama bahwa berpelukan buat yang belum halal dosa. Aku tidak mau menambah dosa yang lebih banyak lagi. Jadi sebaiknya kita tidak berprlukan dulu. Biar ketika kita nikah akan terasa istimewa." Naqi entah dapat hidayah dari mana, yang jelas ia benar-benar dilanda perasaan bersalah ketika ia bermesraan dengan Rania.
Sungguh hatinya tidak bisa bohong. Ia sangat tersiksa dengan perasaan ini. Bahkan wajah kecewa Cyra terakhir ia ketemu selalu hadir diingatanya ketika ia berdekatan dengan Rania.
Biarpun Naqi sudah mencoba melupakanya. Meminta maaf Naqi ingin meminta maaf pada Cyra, tetapi keberanianya menghilang. Baru melihat foto Profi Cyra saja mentalnya langsung ciut.
Memang baik Naqi maupun Cyra tidak memblok nomor masing-masing. Naqi merasa tidak seharusnya ia melakukan itu karena mungkin saja nanti ada hal yang penting. Yang Cyra maupun dirinya akan sampaikan. Begitupun dengan Cyra ia tidak melakukan itu bukan karena ia mengharap Naqi akan kembali padanya, hanya saja ia tidak mau dinilai kacang lupa kulitnya. Bagaimanapun Juga Naqi adalah orang yang baik, tanpa belas kasih Naqi dulu bisa saja Cyra akan tetap menjadi orang yang tidak mengerti apa-apa. Cyra yang kuper dan Cyra yang takut dengan dunia luar.
Di hati Cyra sudah tidak menginginkan kembali dengan Naqi. Ia memang awalnya akan menerima Naqi lagi, apabila Naqi memberi alasan yang masuk akal, ketika suaminya memilih meninggalkan Cyra demi Rania. Namun kesempatan itu sudah hilang. Kini Cyra benar-benar tengah fokus dengan rencana-rencananya. Bahkan Cyra rela bergadang demi belajar mengenai perusahaan pada orang yang dipercaya Kakek.
Cyra juga tidak segan-segan akan menghubungi Qari maupun Alzam untuk bertanya mengenai pekerjaanya. Karena ternyata perusahaan yang dimiliki Cyra tidak jauh berbeda dengan prodak milik keluarga Ralf. Malahan mereka bisa di bilang adik kaka dan sama-sama bergerak di bidang kosmetik dan segala pernak perniknya. Cyra tidak mau fokusnya terpecah belah dengan pikiran yang tidak penting Cyra ingin satu bulan ini ia benar-benar bisa meyelesaikan tantangan dari Tuan Latif. Hal itu Cyra lakukan sebagai rasa terima kasihnya karena Tuan Latif telah menjadi orang yang melindungi harta milik keluarganya dan mencari tahu Mommynya, tak hanya itu Tuan Latif juga sangat berjasa dalam hidupnya. Sehingga Cyra tidak mau mengecewakan beliau.
...****************...
Teman-teman mampir yuk di novel bestir othor namanya ka Muda Ana yuk mampir, baca sampai selesai baru kasih, like, komen, gift, dan di tekan tombol love yah yah...