
"Sayang kamu mau sampai kapan cari orang itu? Mungkin sajah orang itu sudah pergi lebih dulu sayang. Lagian di perjalanan itu sudah biasa kalo ketemu sama orang misterius sama kaya yang kamu alami kok." Momy pun segera menasihati Cyra agar tidak mencari-cari orang misterius itu lagi.
"Iya mom, Cyra tidak lagi memcari-cari di mana orang misterius itu lagi. Memang mingkin benar apa yang momy katakan. Orang itu sudah lebih dulu pergi." Cyra akhirnya mau diajak melanjutkan perjalanan. Sampai pulang kerumah. Memang atas kesepakatan bersama. Cyra tidak mengizinkan teman-temanya menjemput ke bamdara, agar tidak menarik perhatian, takut ada wartawan yang tahu dan menjadikan banyak orang yang tahu bahwa Cyra sudah ada di negara tercinta. Dan tentunya termasuk Naqi, yang mungkin sajah sudah siap menunggu inforasi mengenai kepulangannya ke tanah air.
"Hay, siapa pun kamu laki-laki misterius, aku harap suatu saat aku bisa ketemu lagi sama kamu, dan aku akan mengucapkan kata terima kasih. Kata yang belum sempat aku ucapkan padahal kamu sudah membuat perjalanan aku menjadi lebih berwarna," gumam Cyra di dalam hatinya, sebelum bener-bener meninggalkan bandara.
Kini Cyra, mommy dan Mr Kim akan pulang kerumah Cyra. Di mana di rumah itu para sahabatnya dari Cyra yang mengabarkan bahwa ia sudah akan sampai di Indonesia. Bukan hanya teman-teman Cyra yang siap untuk memberikan sambutan dengan Cyra yang sudah satu tahun meninggalkan negara tercinta. Qari dan mamih juga tidak kalah antusias dengan penyambutan Cyra. Mereka mendekor ruang tamu dengan balon-balon yang lucu.
Cyra sepanjang jalan melihat ke luar jendela tidak ada yang berubah dari jalanan di ibukota ini, seolah malah semakin hari semakin padat. Cyra tidak banyak berbicara karena semua tugasnya untuk memperkenalkan benda, nama kota dan lain sebagainya pada mommy, sudah di lakukan oleh Mr Kim, sehingga Cyra merasa sudah tidak perlu melakukanya lagi. Terlebih Cyra masih memikirkan sosok laki-laki misterius itu. Mata laki-laki misterius itu seolah Cyra kenal. Tetapi Cyra juga tidak bisa menyimpulkan bahwa laki-laki itu memang orang yang sama dengan tebakanya.
Karena asik melamun dan momy juga asik mengobrol dengan Mr Kim, Kini Cyra pun sudah berada di depan rumahnya. Rumah yang ia beli dari uang ia menjadi model dulu. Memang Cyra untuk saat ini sangat-sangat bisa membeli rumah yang lebih besar lagi dan lebih mewah tetapi Cyra tidak melakukanya. Bukan karena Cyra pelit atau lain sebagainya, tetapi karena Cyra memang lebih nyaman dengan hasil kerja keras sendiri dan tak hanya itu rumah yang sederhana tetapi nyaman lebih Cyra suka. Dari pada mewah dan terlihat sangat mencolok tetapi malah tidak selalu nyaman dengan apa yang ada di dalamnya.
"Non... sudah sampai," ucap sopir pada Cyra yang masih asik melamun, sedangkan mommy dan Mr Kim sudah lebih dulu turun dari tadi. Hanya Cyra yang masih tertinggal di mobil hal itu karena Cyra dari tadi di panggil-panggil malah asik melamun saja.
Cyra langsung mengerjapkan matanya dan melihat kesekeliling. "Loh, mommy dan Mr Kim kemana Pak?" tanya Cyra seperti anak ayam kehilangan induknya.
"Sudah masuk dari tadi Non, abisan Non Cyra dari tadi dipanggilin tidak ada sahutanya. Malah diam saja, jadi ditinggal deh," jawab sang sopir sembari tersenyum geli.
"Ah masa sih, perasaan Cyra nggak lagi mikirin apa-apa kok." Cyra menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sejurus kemudian ia masuk kedalam. Dengan langkah penuh percaya diri dan tegas Cyra langsung menuju pintu rumah yang tertutup.
"Astagah apa ini tandanya mereka tidak menyukai aku pulang yah, kenapa malah pintu saja di tutup, udah kaya orang tidak di harapkan sajah," ucap Cyra tetapi tidak menyurutkan langkahnya ia tetap membuka pintu besar itu. Dan....
Dooorrrr... dooorrr... dooorrr... suara balon pecah membekakan telinga dan membuat Cyra langsung terlojak kaget.
Hahaha... suara tawa dengan nyaring dan serempak terdengar dari balik pintu. Yah, ini adalah tingkah laku dari teman-teman Cyra. Tunggu bukan cuma teman-teman Cyra tetapi juga ada momy dan Mr Kim yang membuat Cyra merasa di bodohi.
"Astagah kalian ini, aku baru juga sampai tapi kenapa kalian buat aku sudah seperti tidak diinginkan di rumah ko sendiri," ucap Cyra dengan nada di buat semenyedihkan mungkin.
"Hikhikhik... sayang cinta, you anak I'm makin cantik ajah sih. I'm kangen bnget sama you cin." Meta dari dulu selalu tidak pernah berubah. Selalu menangis sesegukan padahal kali ini bukan momen haru. Namu Meta tetap memumpahkan air mata.
Cyra membalas pelukan Meta dengan hangat. "Aku juga kangen banget sama kamu Met. Terutama kecengenganmu, malu loh tuh si Mesy ngelihati Daddynya sampai nggak kedip-kedip dia sampai bingung kenapa Daddynya nangis nggak jelas sedang yang lain lagi bahagia," ujar Cyra sembari bergantian memberikan salam pada yang lain.
"Mamih, terima kasih sudah menyempatkan diri hadir buat nyambut Cyra, padahal Mamih itu pasti sibuk banget, tapi tetap menyempatkan hadir untuk Cyra." Cyra memeluk mantan mertuanya itu yang sudah ia anggap anak sendiri tidak sedikit pun Cyra membedakan mamih dan momynya bagi Cyra. Baik mommy, mamih dan mamah Mia, adalah orang tua hebat sehingga tidak akan Cyra lupakan sampai kapan pun.
"Tidak sayang, tidak merepotkan mamih sama sekali. Kamu bagi mamih itu sudah sama seperti anak-anak mamih. Jadi kamu tidak udah merasa bersalah seperti itu. Karena mamih melakukanya dengan senang hati." Mamih masih memeluk Cyra dengan mesra seolah Cyra akan pergi jauh lagi.
"Mih, udah dong berpelukanya, gantian dengan yang lain. Tangan Qari udah pegel nih dari tadi seperti ini terus. Mamih nggak kasian nanti kalo tangan anak kamu nggak bisa balik kesemula," ucap Qari sembari menyindir agar mamih tidak menguasai kakak Iparnya. Tapi memang pada kenyataanya barisan ke belakang yang mau melepas kangen dengan Cyra masih mengantri panjang.
Mamih pun membalas dengan senyuman dan langsung di ganti oleh Qari yang dari tadi sudah merentangkan tanganya siap memeluk kakak Iparnya. "Kakak Ipar, kangen banget, akhirnya aku bisa bermanja-manja lagi sama kakak Ipar." Qari seperti biasa selalu nemplok seperti anak toke.
"Aku juga kangen De, kangen keulisan kamu, dan tentu kangen kamu yang selalu ceplas-ceplos. Gimana sudah berhasil mendapatkan cinta bambang Al belum?" tanya Cyra dengan berbisik.
"Apaan, halanganya semakin banyak menerjang, bukan hanya Tantri, Mirna, Alzam yang dingin kaya kulkas, sekarang mantan laki kamu ikut membentengi aku buat deketin Alzam. Pokoknya semakin sulit deh. Sulit untuk di gapai. Minta kakek melamarkan Alzam juga sama ajah nggak mau. Tuh, mamih juga sama ajah, tidak mendukung aku buat mengejar cinta Alzam. Perjuanganku berat sekali kaka Ipar." Qari bercerita seolah dia memang nasibnya sangat tertindas.
Cyra pun tertawa dengan renyah mendengar curhatan Qari yang sangat menguras air mata. Yah, mungkin kalo cerita itu orang lain yang menceritakan akan sedih tetapi kalo Qari yang bercerita justru jadi semakin lucu. Tidak ada sedih-sedihnya.