Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Senjata Makan Tuan


"Mas, maaf sebelumnya kalo Cyra lancang. Cyra hanya ingin tau memangnya keluarga Mba Rania kemana? Kenapa sepertinya nggak ada keluarganya yang menjenguk ketika Mba Rania sakit?" tanya Cyra dengan lembut agar tidak menyinggung Naqi.


Naqi pun menghirup nafas dalam dan membuangnya kasar. Ia akan menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga kekasihnya itu.


"Dulu pertama kali bertemu Rania, karena aku nggak sengaja menolong dia. Saat itu ibunya menjadi korban tabrak lari. Karena kasihan aku membawa beliau ke rumah sakit, tetapi seminggu kemudian ibunya meninggal dunia. Saat itu dia mengaku tidak memiliki kerabat dekat di kota ini. Mereka mengaku datang dari desa. Sementara tujuan datang ke kota ini, karena mereka akan mencari keberadaan ayahnya. Namun sebelum keinginanya tercapai ibunya sudah mengalami kecelakaan." Naqi menarik nafas berat.


Sementara Cyra kini tahu, kenapa Rania takut sekali kehilangan Naqi, itu karena ia merasa tidak memiliki pegangan hidup lain. "Kirain nasib aku sajah yang buruk, ternyata nasib Mba Rania lebih buruk dari saya," gumam Cyra dalam hati.


"Lalu sekarang ayahnya sudah ketemu keberadaanya?" tanya Cyra dengan sangat penasaran.


"Belum, Rania bahkan tidak tau sosok ayahnya. Mereka hanya berbekal alamat yang ternyata alamat itu palsu. Entah lah, palsu atau memang penghuni lamanya sudah pindah. Bahkan foto ayahnya mereka tidak punya. Sehingga sulit untuk menemukan ayahnya," jawab Naqi berat.


"Berati kunci, yang tahu wajah ayah Mba Rania hanya ibunya yang telah meninggal dunia?" tanya Cyra semakin penasaran.


Naqi mengangguk lemah. "Aku pun tidak tahu betul dengan kisah keluarganya, karena setiap aku bertanya Rania selalu enggan untuk membahas ayahnya."


Naqi kembali fokus dengan kemudinya sementara Cyra termenung dengan kisah pertemua Rania dan Naqi.


Mereka kini telah sampai di halaman rumah besar nan megah itu.


"Ra, udah sampe," ucap Naqi sedangkan ia pun bersiap untuk turun. " Ra," panggil Naqi ulang. Naqi menoleh kearah samping.


"Ya Ampun bisa-bisa dia tidur," gumam Naqi, sembari tersenyum tipis melihat gaya tidur Cyra yang mengkerut sepeti anak kucing yang kedinginan. "Pasti dia kecapean, semalaman tidak tidur, menjaga Rania.


Akhirnya Naqi pun membopong Cyra ala bridal style, karena kasian akan membangunkanya.


"Loh Cyra kenapa?" tanya mamih dengan panik.


"Nggak kenapa-kenapa Mih, hanya kecapean sajah semalam bergadang," jawab Naqi dengan berbisik.


"Memangnya kalian abis dari mana? Lalu ngapain semalaman nggak tidur?" sambung kekeh kepo dengan urusan cucunya.


"Ngikuti saran Mamih, mencoba hal yang baru," canda Naqi, dengan mengedipkan sebelah matanya. kemudian ia melanjutkan naik ke kamarnya.


Tentu mamih dan kakek di bawah fikiranya sudah traveling kemana-kemana, membayangkan sesuatu yang liar dan buas. Kakek membayangkan cucunya bergulat semalaman sehingga sampai Cyra kelelahan.


"Astagah ternyata badan kecil dan ringan kalo kelamaan kedong berat juga," gerutu Naqi sembari meletakan Cyra dengan sangat pelan diatas ranjang king size. Setelah memastika Cyra tidur dengan posisi nyaman, Naqi meregangkan ototnya, terutama punggung yang pegal juga karena ngegendong Cyra naik kelantai dua membuat pinggangnya panas.


Naqi pun langsung bersiap untuk mandi dan akan berangkat kekantor.


"Bi nanti kalo Cyra sudah bangun, antarkan sarapan ke kamar sajah yah. Biarkan dia istirahat, karena pasti kecapean semalam dia bergadang." Naqi memberikan pesan ke asisten rumah tangganya. Sudah jelas kakek dan mamih mendengarnya.


"Ah Kakek, kaya nggak tau sajah. Penganten baru kalo malam ngapain lagi kalo nggak ngadon mochi." Nampaknya kejailan Naqi makin menjadi-jadi. Mengkontaminasi kakek dan mamihnya untuk berfikir keras untuk membayangkan adegan demi adegan yang menegangkan itu.


"Apa kamu nggak kasih jeda Cyra untuk istirahat? Seharusnya kamu jangan terlalu ganas nanti Cyra trauma tidak mau melayani kamu lagi," bisik kakek agar mamih tidak mendengar obrolan para lelaki itu.


"Tanggung Kek, kalo enak bawaanya pengin nambah terus," kekeh Naqi yang tertawa sendiri dengan kekonyolanya. Mengerjai kakek dan mamihnya.


"Astagah gimana kalo nanti Cyra bangun tidur dicecar pertanyaan yang senonoh macam orang yang benar sajah telah melewatkan malam panas," batin Naqi mulai tidak tenang. Sebab ia tau pasti kakek dan mamihnya akan kepo. Jalan satu-satunya memancing Cyra untuk bercerita. "Mana Cyra polos banget soal begituan, aku yakin dia ciuman sajah belum pernah."


Kakek menepuk punggung cucunya itu. Sebab ia juga pernah mudah dan memang ketika pertama mereka tidak peduli dengan waktu di mana pun dan kapan pun hajar terus.


Naqi terkekeh ketika berhasil mengerjai kakeknya.


"Berati mamih tinggal nunggu cucu nih," sela mamih dengan penuh harap.


"Doakan sajah Mam, tapi kalo belum dikasih juga nggak masalah tandanya kita dikasih waktu buat berbulan madu lebih lama." Naqi justru menimpali seriuz obrolan mamih. Seolah ia tanpa sadar telah membenarkan hubungan suami istri itu.


Padahal dalam hatinya ia ingin berkata bahwa tadi itu hanya candaan semata. Namun yang keluar dari mulutnya justru jawaban lain.


"Astagah ini mulut kenapa nggak bisa konek dengan hati sih. Bikin tambah masalah sajah," gerutu Naqi sembari memukul mulutnya sendiri. "Gimana Cara jelasinya sama Cyra agar ia juga berpura-pura membenarkan bahwa malam tadi mereka melakukan malam pertama." Naqi memutar otaknya untuk membuat Cyra mau menjalankan kebohonganya. Demi membahagiakan kakek dan mamihnya.


"Ya udah kamu makan harus banyak, biar nanti malam bisa lembur lagi," bisik kakek. "Jangan lupa nanti kamu minum jamu biar tambah greng..." Kakek masih sajah terus memberiak nasihat-nasihat tak bermatabat itu.


"Kalo gitu nanti juga Mamih beli jamu buat Cyra agar kandunganya subur, dan cepat proses membuahanya," ucap mamih dengan penuh semangat.


"Berabe ini, udah nggak beres, kenapa sih kamu senang sekali mencari gara-gara Naqi," geram Naqi pada diri sendiri.


Ia memikirkan gimana reaksi Cyra nanti ketika mamih dan kakeknya memberondong pentanyaan yang menjijihkan itu.


Sarapan pagi ini justru Naqi lebih banyak bengong dan memikirkan gimana caranya ia mengajak kerja sama dengan Cyra agar seolah-olah mereka telah benar-benar sudah melakukan belah duren dan saling berbagi cairan ke'nikmat'an.


"Kamu kenapa ko sepertinya gelisah, apa kamu juga mau tidur seperti Cyra dan tidak harus ke kantor, kalo mau nanti kakek atur orang untuk hendel.kerjaan kamu," tawar kakek, berfikir cucunya juga kelelahan, karena lembur semalaman.


"Jangan Pah, jangan biarkan Naqi di rumah bisa-bisa dia malah tidak membiatkan Cyra istirahat lagi. Biarkan sajah dia pergi kekantor biar menantu mamih bisa istirahat. Mempersiapkan setamina untuk nanti malam," ujar mamih, tidak setuju dengan rencana papah mertuanya itu.


"Mampus gue, bener-bener mampus. Kakek sama Mamih malah benar-benar percaya bahwa gue dan Cyra sudah bercocok tanam." Naqi meringis sembari menunduk menyembunyikan wajahnya yang benar-benar panik. "Ini sih senjata makan Tuan, namanya. Niat hati ingin bercanda dengan kakek dan mamihnya agar tidak dicurigai kemana sajah semalaman kenapa nggak pulang kerumah. Namun justru mulut tak berfilternya kebablasan dalam bercanda, sehingga kakek dan mamih percaya dan mengira mereka benar-benar telah membuat adonan mochi.


Bersambung...


...****************...