
Sementara Cyra dan Qari yang kini berada di rumah sakit untuk menjaga Naqi, dan Naqi yang merasa jadi laki-laki paling beruntung karena Cyra dan Qari, adiknya yang menjaganya. Meta di rumah tidak kalah bahagia. Karena pada akhirnya ia sekarang sudah sah menjadi pasangan suami istri dan bisa mengetes kekuatan sang senjata yang sudah tiga puluh tahun lebih tidak di pakai dan tidak di tes kekuatanya itu. Apakah berfungsi dengan baik atau justru lemah tenaganya.
"Sayang Mesy kita titipkan sama Mamah Mia yah, dan kita bisa menikmati malam ini tanpa di ganggu sama anak kita," bisik Meta di belakang telinga Fifah. Sontak Fifah berbalik dan menepuk dada laki-laki yang pagi tadi memperistri dirinya.
"Buuukkk... Kenapa harus di titipkan sama Mamah sih Ded, lagian ini kan anak kita masa mau di titipkan pada Mamah, lagian kasihan mamah kalo Mesy sampe nangis nanti malah Mamah yang ke capean karena ngurus Mesy," ucap Fifah tidak setuju dengan Meta yang mengasih ide gila itu.
"Hehehe... kalo Mesy di titipkan sama mamah kan lumayan kita bisa lembur tanpa di ganggu sama Mesy sayang. Lagian aku pengin kan di manjain sama kamu di malam pertama kita," rengek Meta dengan mendusel-dusel ke janda satu anak itu, yang pagi tadi sudah sah menjadi miliknya.
"Memang kalo ada Mesy tidak bisa manjain suami. Tenang saja tetap bisa manjain suami kok," goda Fifah, dengan merwntangkan tanganya agar Meta tidak berkecil hati meskipun ada anak mereka tetapi tetap bisa memanjakan suami terhebatnya.
"Baiklah gimana kata kamu saja sayang yang terpenting aku mah di layani sama istri tercinta," goda Meta, tidak mau ambil pusing, yang terpenting malam ini adalah malah milik dirinya. Dan Mesy harus mengalah malam ini karena mamih'nya hanya milik daddy'nya.
Namun nampaknya Meta kurang beruntung, dan sepertinya Mesy tahu bahwa dady'nya sengaja ingin memindahkan dirinya kalo sudah tidur, sehingga bayi itu belum terpejam juga padahal jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Biasanya di jam segini Mesy sudah tidur dengan damai mengarungi mimpinya yang indah.
"Mes, kapan kamu mau tidur Mes? Daddy udah ngantuk nih dan Daddy pengin dapat jatah dari mamih kamu Mesy sayang, besok Daddy harus kerja lagi buat cari uang yang banyak buat kamu dan mamih kamu. Ayo dong bobo sayang." Meta menimang-nimang anaknya biar cepat untuk tidur malam, tetapi sepertinya anak itu justru senang ketika diajak bermain oleh Daddynya.
"Fah, liat deh anak kamu, di minta bobo sama Daddy'nya malah dia girang banget di kira di ajak bercanda sama aku," kekeh Meta malah mereka menertawakan anak bayinya sedangkan ini adalah malam mereka.
"Hehehe... Dia tahu Dad kalo dia tidur kamu pasti menghukum mamihnya," goda Fifah, padahal tidak bisa memungkiri Fifah juga menginginkan belaian manja dari Meta, di mana dia pasti lebih baik dari Niko, mwntan suaminya yang egois, hanya mementingakan diri sendiri, tanpa mau mengerti apakah Fifah sudah mendapatkannya atau belum, yang terpenting dirinya sampai pelam-piasannya.
Setelah melewati perjuangan yang melelahkan akhirnya bayi empat bulan itu tidur juga, tetapi bukan hanya Mesy yang tertidur, Daddy'nya juga ikut tertidur, malah lebih dulu Meta yang tertidur setelah merayu Mesy tetapi tidak mau tidur juga, malah Meta yang kecapan dan sudah mimpi indah.
"Yah, Meta juga ikutan tidur, kira-kira dibangunkan atau tidak yah," batin Fifah setelah meletakan buah hatinya ke bok bayi. Fifah nampak berfikir kira-kira membiarkan Meta tetap tidur atau membangunkanya.
"Tapi kalo tidak dibangunkan kasihan suami aku malam pertama masa tidak dapat jatah," ujar Fifah, sembari tersenyum membayangkan permainan Meta. "Aku bangukan saja deh, kasihan kalo tidak dapat bonusnya yang sudah lama dia tunggu-tunggu," gumam Fifah. Fifah pun memiliki ide jahil di mana ia akan membangunkan Meta dengan cara yang Meta belum pernah alami.
Cup... Untuk pertama Fifah memberikan ciuman di pipi kanan, Cup... Kedua Fifah memberikan ciuman di pipi kiri. Cup... Ketiga Fifah memberikan ciuman di Kening dan Cup... terakhir Fifah memberikan ciuman di bibir dan ternyata Meta belum tidur sehingga di bagian terakhir Fifah sempat tersentak kaget kegika kecupan itu mendapatkan sambaran.
"Bagaimana bisa tidur kalo kamu gangu aku terus, itu kaki dari tadi di ges*k-ges*k biar apa coba?" tanya Meta dengan jahil dan mengu-kung tubuh istrinya di bawah tubuh kekarnya.
Fifah pun terkekeh, dia berfikir kalo Meta sudah tertidur dan ia akan kecewa malam ini karena ladangnya tidak ada yang menyirami'nya. Tetapi nampaknya Meta pun tidak akan menyia-nyiakan malam emasnya di mana akhirnya ia akan berbuka puasa.
Fifah sebagai yang berpengalaman di antara mereka pun lebih mendominasi setiap permainan, sungguh beruntung Meta ketika dia tidak harus bekerja tetapi sudah di kauasai oleh Fifah. Bahkan Meta tanpa sadar pakaianya sudah tidak menempel di tubuhnya padahal dia masih tertidur dengan mata terpejam, tetapi nampaknya Fifah benar-benar jago dalam melakukan itu semua sehingga Meta kaget ketika tubuhnya sudah tidak mengenakan pakaian.
"Wah Mam, kapan kamu melakukanya kenapa aku tidak menyadarinya?" tanya Meta dengan tersenyum bangga karena istrinya bisa memanjakan dirinya.
"Itu sangat gampang Dad, kamu nikmatin saja apa yang seharusnya kamu nikmatin karena ini keuntungan kamu ketika kamu memilih menikah dengan seorang janda itu tandanya kamu tidak harus mengajariku. Aku yang akan membuat kamu merasakan kenik-matan itu," bisik Fifah di balik daun telinganya sehingga membuat tubuh Meta mere-mang dan bulu halus di sekujur tubuhnya bangun menadakan bahwa ia juga siap untuk mendapatkan serangan dari istrinya yang nakal itu. Setelah pakaian Meta yang Fifah buang entah kemana kini pakaiannya sendiri yang ia buang dan kini keduanya sudah layaknya Adam dan Hawa ketika pertama kali di turunkan ke muka bumi.
Meta tersenyum dengan jahil dia hanya butuh merentangkan tubuhnya dan Fifah akan berkerja dengan sangat baik di atas tubuhnya tanpa harus Meta mengajarinya. Justru sepertinya Meta yang diajarkan oleh Fifah bagaimana memanjakan pasangan.
"Seperti ini toh rasanya ketika mendapatkan orang yang sudah berpengalaman," ucap Meta sembari terus menikmati apa yang Fifah lakukan. Permainan pertama pun Fifah yang mendominasinya dan Meta mengambil alih ketika sepertinya ibu satu anak itu sudah nampak kelelahan. Setelah Meta melihat Fifah nampak lelah karena dia sejak awal sampai di pertengahan permainan mendominasi sehingga Meta kini mengambil alih dan terus menggerakan tubuhnya layaknya orang yang tengah mencangkul ladangnya tidak akan berhenti sebelum bibit-bibitnya tersebar dengan sempurna.
Setelah melewati permainan yang panas dan memanjakan kini keduanya sampai di pelampiasan dengan bersamaan. Bibit-bibit calon adiknya Mesy pun sudah tersebar.
"Sayang kamu minum pil penunda kehamilan kan?" tanya Meta ia baru ingat setelah calon anaknya dia lepaskan ke ra-him istrinya.
Fifah justru bingung sejak kapan Meta meminta dirinya meminum pil penunda kehamilan. "Emang kamu meminta aku mengonsumsi obat semacam itu Dad?" tanya Fifah dengan heran.
Plokkk... Meta menempuk keningnya, dia lupa tidak memberitahukan Fifah kalo Mpok Mia yang memintanya, semua itu di lakukan agar Mesy tidak buru-buru punya adik lagi. Hal itu karena Mesy yang masih terlalu kecil apabila harus memiliki adik dulu, sementara kalo Fifah atau pun Meta mah sanggup-sanggup saja apabila mereka memiliki anak lagi. "Aku lupa tidak bilang sama kamu sayang, mamah Mia yang bilang, agar kita tidak punya anak dulu kasihan Mesy masih kecil," ucap Meta mengakui dirinya yang kelupaan.
"Ya udah lah sayang, kalo jadi lagi malah bagus, biar rumah ini makin ramai. Lebih baik kita ngadon lagi yuk biar jadi beneran," ucap Fifah justru ketagihan dengan permainan Meta. Mana cukup sekali kalo Meta memang sangat pandai dalam memanjakan istri.
Meta pun tersenyum dengan semangat, lupakan obat penunda kehamilan. Kalo terlanjur jadi tinggal bilang kebobolan, seperti itu kira-kira yang ada di fikian Meta. Yang terpenting malam ini mereka nikmati dengan sebaik mungkin, terlebih Mesy juga mendukung daddy dan mamihnya membuat adik untuknya. Buktinya anak bayi itu tidur tanpa terganggu dengan teriakan dan suara gaduh dari daddy dan mamihnya.