Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Nasihat Sam


Adam tertawa dengan renyah. "Jadi kalian kaka beradik?" tanya Adam sebenarnya dengan nada yang tidak mengejek, tetapi karena Naqi memang tengah sensitif sehingga semua yang dikatakan Adam seolah mengejeknya.


"Iya kenapa, loe mau menertawakan gue, mau ngejek gue," bentak Naqi seolah mau menantang Adam.


"Qi, Dam, udah deh kalian sanah keluar ajah berada di sini juga bikin emosi terus. Kalian hanya berantem dan berantem. Kamu Qi sana cari Cyra sampai ketemu, dan loe Dam, gue tahu loe masih suka sama Rania sanah kamu perjuangin minta restu sama keluarga loe dan sama om Luson biar kamu tidak membuat keonaran terus. Pusing gue ngurusin kalian berdua kerjaanya berantem terus." Sam yang merasa terganggu dengan keributan dari keduanya sehingga laporanya selalu tidak selesai-selesai, memutuskan mengusir dua laki-laki itu.


Yah, Sam tahu bahwa Adam memang masih menyimpan perasaan dengan Rania, sehingga Sam menyarankan mengejar cintanya, toh Rania sebenarnya bukan wanita yang terlalu buruk. Apabila Adam serius dan bisa membimbing Rania bukan tidak mumgkin Rania juga akan menjadi wanita yang baik, tidak lagi mengganggu laki-laki orang lain.


Naqi pun pergi lebih dulu setelah berpamitan dengan Sam, tetapi jelas tidak berpamitan dengan Andam yang bahkan dalam wajahnya masih menertawakan Naqi, dan kini di ruangan Sam hanya ada Adam dan pemilik ruangan, yaitu Sam.


"Om Luson gimana apa dia sudah mengambil keputusan dengan putrinya?" tanya Sam yang tahu bahwan Luson memang kali ini tengah mengambil alih semua urusan Rania, menggantika Naqi yang sibuk mencari kesana kesini keberadaan istrinya.


"Luson yang mana?" tanya Adam tidak tahu dengan maksud Sam.


Sam menarik nafas dan membuangnya kasar. "Laki-laki yang bersama sama Rania," ucap Sam dengan malas. Dari tadi Adam memriksa Rania sampai semua hasil keluar tetapi kenapa tidak tahu Om Luson, lalu Adam diam ajah selama memeriksa Rania atau bagai mana. Itu yang membuat Sam heran.


"Oh laki-laki itu namanya Luson, dan Luson itu papahnya Rania, kok bisa? Aku pikir tadi dia kekasih barunya Rania, dan Naqi di tinggalkan juga makanya Naqi uring-uringnya," balas Adam dengan menyengir kuda. Karena dia sudah menyerang Naqi tetapi sasaranya salah. "Pantas Naqi emosi pas gue sindir-sindir tadi hehehe..." batin Adam dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kebiasaan nilainya dari luar mulu sih, hati-hati pernyakit hati susah obatnya, dokter Adam," ujar Sam sembari melempar map yang ia pegang berisi rekam medis milik kesehatan Rania.


"Wajar Sam, kan dia di mata gue aga buruk citranya, jadi ya selamanya dia terlihat buruk," bela Adam.


"Iya kalo Ranianya mau dan nurut, kalo ternyata berbuat seperti yang udah-udah gimana. Sia-sia gue nasihatin, gue arahin dengan benar gue obatin dengan sebaik mungkin ujung-ujungnya dia seenaknya lepas semuanya dan mengambil jalan yang salah," balas Adam masih tidak setuju dengan masihat Sam.


"Aku ras Rania tidak sebodoh itu. Cukup kehancuran dalam hidupnya sekali sajah, dia tidak akan menghancurkan masa depanya untuk kedua kali. Terlebih dia dan Naqi adik kakak mau ngejar siapa lagi. Ingat Dam tidak ada manusia yang sempurna. para ulama saja mereka tidak luput dari salah dan dosa, malahan bisa jadi dulunya mereka adalah pendosa yang bertobat dan kini menyebarkan kebaikan. Siapa tahu itu juga yang akan terjadi dengan Rania kedepanya. Walahuallam, hanya Allah yang tahu, dan kita hanya bisa mencoba menyadarkanya. Tetap rangkul Rania, jangan biarkan dia salah jalan lagi." Sam tidak cape menasihati Adam karena bagi Sam, Adam sudah memiliki ruang dihati Rania sehingga lebih mudah untuk mendekatinya.


"Akan gue coba Sam, mudah-mudahan Rania masih mau mendengarkan nasihat-nasihat dari gue," tutur Adam, yah tidak memungkiri hati Adam pun terketuk melihat betapa hancurnya Rania. Benar yang di katakan Sam, bahwa Rania butuh orang yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi.


Sam pun mengembangkan senyumnya dan berharap Adam bisa merubah sifat Rania. Sam sangat yakin Rania bisa berubah. Dia berteman cukup lama dengan Rania selama berpacaran dengan Naqi Rania selalu sering berkumpul dengam Sam dan Rania bukan tipe yang terlalu over untuk menunjukan kelebihan dirinya. Rania hanya terlalu takut kalo ia akan kehilangan Naqi seperti ia kehilangan ibunya. Sehingga Rania menghalalkan segala Cara untuk mengikat Naqi menjadi miliknya seorang, dan itu yang membuat Rania jadi egois.


****


Naqi berjalan dengan sangat tergesa begitu keluar dari ruangan Sam, dengan dada yang seakan hendak meledak dan nafas yang memburu, karena emosi yang memuncah. "Kenapa gue mesti ketemu sama dokter yang sok ikut campur itu sih. Kenapa dia mesti nongol pas gue datang. Dasar menjijihkan sekali tuh dokter," umpat Naqi sepanjang perjalanan dari ruangan Sam menuju mobil tempatnya di palkirkan.


Naqi memasuki mobil dengan perasaan masih sajah gondok, ia mencoba memutar otaknya ia harus berusaha apa lagi sampai bisa mengetahui di mana Cyra berada. Naqi menatap jam dipergelangan tanganya. Sudah pukul empat, Naqi ingin mengunjungi tempat di mana dulu Naqi dan Cyra menonton pertandingan bola, dan berburu jajan makanan kaki lima kesukaan Cyra.


"Lebih baik aku mengunjungi tempat itu, siapa tahu Cyra juga ketempat itu untuk mengenang kenangan bersama denganku. Yah, di tempat itu dulu Cyra mengerjai dirinya dengan mengatakan pada anak-anak SD bahwa dirinya berulang tahun sehingga anak-anak itu berbaris untuk mengucapkan selamat ulang tahun, dan terima kasih karena sudah di telakir jajanan.


Naqi tertawa ketika ia mengingat kenangan itu di mana dengan jahil dan ide-idenya yang nyeleneh Cyra mengerjai dirinya.


"Ra, aku kanget kejahilan kamu, cepat pulang Ra. Aku rela kamu jahili setiap waktu asal aku bisa lihat senyum bahagia kamu," lirih Naqi sembari melajukan mobilnya menuju lapangan di mana di sana dia dan Cyra pernah berkencan bersama. Sepanjang perjalanan Naqi tidak lepas dari senyum bahagia, ketika ia mengingat ingat betapa berisiknya ketika Cyra bercerita dan berceloteh semua kejadian di tempat kerjanya. dan berpamer ketika ada fens yang memberika bingkisan untuk dirinya, dan kehebohan lainya. Yang dulu Naqi mendengarnya selalu dengan perasaan enggan dan malas tetapi kali ini ocehan dan cerita-cerita semacam itu sangat Naqi rindukan. Naqi merinduka Cyra yang berisik. Bahkan Naqi tidak akan membentak apabila Cyra mau bercerita sepanjang perjalanan biar deh berisik yang penting Cyra kembali. Itu yang ada dalam harapan Naqi.