
Di rumah Tuan Latif, di mana mamih yang baru mendapatkan kabar bahwa Naqi dan Cyra tengah berada di jalan menuju pulang ke rumah, mamih pun heboh. "Bibi... bibi... tolong siapkan makanan, dan kamar Naqi tolong di rapihkan, jangan ada debu satu pun dan harus wangi yah Bi, ingat wangi!" titah Mamih ketika sedang berbicara dengan asisten rumah tangganya.
Rania yang baru keluar dari kamanya pun tidak kalah heran dengan kehebohan mamih tirinya itu. "Mih, ini ada apa? Kok kayaknya kita akan kedatangan tamu besar?" tanya Rania sembari berjalan menghampiri mamih Qanita.
"Ah iya Rania, itu Cyra dan Naqi sedang ada di jalan, Naqi sudah akan pulang ke rumah ini," jawab mamih tetapi tidak menoleh ke arah Rania karena mamih tengah sibuk mengatur asisten rumah tangga untuk mempersiapkan penyambutan Cyra yang akan kerumah ini. Yah, jadi mamih heboh lebih senang, karena Cyra akan berkunjung ke rumah ini lagi. Jadi bukan karena anaknya yang sudah pulang dari rumah sakit.
Sedangkan Rania yang mendengar nama Naqi dan Cyra pun wajahnya jadi pucat pasi. "Jadi Cyra sudah kembali lagi, terus dia dan Naqi sudah baikan?" batin Rania.
Rania bukan cemburu, dan tidak ikhlas, melainkan lebih mengarah ke kaget dan bagai mana caranya Rania nanti bersikap ketika bertemu dengan Cyra? Dia sangat merasa bersalah dengan Cyra sehingga di hatinya ada rasa belum siap apabila bertemu dengan Cyra karena rasa bersalahnya yang telah membuat hubungan Cyra dan Naqi menjadi hancur. Bukan hanya rasa bersalah yang menghantui Rania ketika bertemu dengan Cyra, tetapi juga rasa malu. Di mana dulu Rania sering mengatai Cyra dengan sebutan pelakor, belum kata-kata Rania yang sering marah dan melemparkan kata-kata yang kurang pantas dan pedas terhadap Cyra, padahal Cyra sudah berusaha bersikap baik terhadap Rania, tetap Rania masih menganggap Cyra merebut Naqi dari dirinya.
"Kalo gitu kira-kira apa ada yang bisa Rania bantu, Mih?" tanya Rania berusaha menekan rasa geroginya akan bertemu dengan Cyra, dengan membantu persiapa penyambutan yang mamih buat.
Mamih menoleh ke arah Rania. "Kamu lagi sakit duduk saja, Mamih tidak mau nanti malah sakit kamu kambuh lagi," ujar Mamih sembari menunjuk ke sova.
Rania pun mengangkat kakinya dengan lemas, yah Mamih selalu memperlakukan Rania seperti itu, dan hal itu yang membuat Qari selalu menganggap Rania sebagai ratu di rumah kakeknya.
Rania duduk sembari memperhatikan orang rumah yang sibuk dengan tugas yang mamih berikan. Di dalam hatinya Rania memikirkan kata-kata apa yang nanti akan ia ucapkan ketika bertemu dengan Cyra.
Lalu apakah Cyra akan menertawakan Rania dengan semua nasibnya. Marah? Apakah Cyra juga akan marah kepada Rania karena Rania telah menghancurkan rumah tangganya dengan Naqi. Seperti itu kira-kira isi dalam kepala Rania.
Lalu Naqi, bagai mana nanti Rania apabila bertemu Naqi dan Cyra sekaligus? "Ah, aku pusing sekali," jerit Rania di dalam hatinya.
****
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga," ucap Cyra yang memandangi Rumah mewah Tuan Latif, di mana di dalam rumah mewah itu dulu Cyra melukis banyak cerita indah dan banyak membentuk jati diri Cyra di dalam rumah ini. Karena tidak ada satu orang pun di rumah ini yang membedakan Cyra sehingga Cyra merasa nyaman tinggal di rumah ini. Motifasi-motifasi positif secara tidak langsung Cyra dapatkan dari penghuni rumah ini.
Tuan Latif yang banyak di nilai oleh karyawannya tegas dan menyeramkan, tetapi ketika bersama Cyra dan anggota keluarga lainya sangat mengayomi. Tidak membedakan, selalu memberi semangat dan tidak menghakimi ketika salah satu diantara anggota rumah melakukan kesalahan. Sehingga dalam hati Cyra ingin memiliki sifat sepeti Tuan Latif. Disegani tetapi tidak membuatnya menjadi berkuasa dan semena-mena.
"Sayang...," pekik mamih dari ambang pintu ketika melihat Cyra baru turun dari mobil. Cyra menoleh ke sumber suara dan mengembangkan senyum terbaiknya.
Wanita paruh baya itu buru-buru menghampiri Cyra dan segera menghamburkan dirinya ke dalam pelukan mantan menantunya. "Sayang akhirnya kamu datang lagi kerumah ini. Mamih kangen banget sama kamu. Mamih seperti mimpi kalo kamu menginjakan kaki lagi di rumah ini. Kemarin-kemarin mamih berfikir mustahil kamu bakal singgah lagi di rumah ini. Tetapa Allah tepis keraguan mamih, hari ini kamu datang kerumah ini lagi. Mamih bahagia sekali sayang," oceh mamih dengan hati berbunga bunga. Ekpresi wajah bahagia yang terlihat dari wajah mamih sudah sangat menggambarkan bahwa mamih memang sangat bahagia dengan kedatangan Cyra.
Saking bahagianya bahkan mamih menganggurkan anak laki-lakinya yang tengah berusah berjalan dengan memegangi punggunya yang terasa berdenyut, sampai bisa di rasa kekepalanya. Seolah kepalanya ikut berdenyut pula ketika punggungnya berdenyut. "Astaga, mamih bakan sepertinya lupa anaknya yang mana, dan lupa juga kalo anaknya sedang sakit," desis Naqi, tetapi karena mamih saking hebohnya sehingga dua wanita beda generasi yang tengah bahagia pun tidak mendengar keluhan Naqi yang diabaikan oleh ibu kandungnya itu.
Sementara itu di dalam rumah, Rania yang tahu bahwa orang yang sejak tadi mengisi isi kepalanya sudah datang pun kini Rania merasa gerogi. Rania bangun dan mencoba mengikuti langkah mamih keluar rumah untuk menyambut Rania dan Naqi. Dengan pelahan Rania berjalan, ia gosong-gosok kedua telapak tanganya sehingga tubuhnya seolah menghangat, berharap dengan kegiatanya itu rasa geroginya menguai.
Rania mencoba menarik bibirnya membentuk seulas senyum di wajahnya agar wajahnya tidak nampak tegang. Rania berusaha bersikap senatural mungkin dan juga seramah mungkin. Mungkin sekarang saatnya ia berdamai dengan semuanya. Memang tidak akan mudah melakukanya terlebih sikapnya yang dulu sangat membenci Cyra, sehingga bisa saja Cyra menggunakan momen ini untuk mebalasnya. "Tidak-tidak mungkin Cyra seperti itu," batin Rania mencoba menepis fikiran jeleknya.
Rania adalah anak tertua dari Luzon maka dia harus yang lebih merangkul adik-adiknya termasuk Cyra bukan? Di mana Cyra adalah adik Iparnya yang di tarik paksa berpisah dengan adik tirinya, sehingga sekarang setatusnya menjadi mantan adik ipar tetapi bukanya tidak menuntup kemungkinan Cyra bisa saja merajut benang kasih kembali dengan adik tirinya, Naqi. Dan kembali menyandang setatus adik ipar, sehingga Rania harus bersikap raman dan memposisikan diri sebagai kakak ipar yang baik.
Wajah Cyra seketika berubah ketika melihat Rania keluar dari rumah Tuan Latif. Cyra lupa bahwa di rumah ini juga ada Rania. Cyra mematung di balik pelukan mamih, tetapi sedetik kemudian wajah Cyra berubah. Senyuman manis kini sudah bertengger di wajah Cyra. Dengan senyuman terbaiknya Cyra berusaha menyapa Rania dari kejauhan dengan ramah. Rania pun berusaha membalas senyuman Cyra meskipun terlihat jelas wajahnya masih tegang.
Naqi pun nampak berubah wajahnya, ketika dua wanita yang dulu mengisi hatinya bertemu dengan setatus yang berbeda, entah ekpresi apa yang Naqi berikan dengan wajahnya yang memucat itu.
...****************...
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Cyra, mampir yuk ke karya bestie othor! Kalian wajib mampir yah, dan pastikan sebelum baca tekan fav dan tinggalkan jejak. Like, komen, dan bawa mawar atau kopi biar othornya happy...
Selamat membaca teman-teman....