Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Nasihat Mamah Mia


Meta melajukan mobilnya perlahan meninggalkan rumah sakit. Mamah Mia yang sejak tadi menunggu di ruang tamu dengan gelisah takut kalo-kalo menantu kesayanganya kenapa-kenapa. Begitu mendengar suara mobil anaknya, mamah Mia langsung beranjak dari duduknya dan menuju halaman depan.


Meta yang hendak menuntun Fifah begitu keluar dari dalam mobil, langsung di bantu olaeh mamah mia. "Fifah kenapa?" tanya mamah Mia dengan cemas, terlihat sekali Fifah pucat. Pikiran buruk mulai menghantui mamah Mia, di mana ia ketakutan kalo-kalo Fifah sakit yang berbahaya.


"Nanti Meta jelas kan Mah," ucap Meta, agar mamah  Mia tidak bertanya terus. Fifah memilih rebahan di atas sova. Sementara Mesy diambil alih oleh Omanya untuk di tidurkan. Karena bocah itu langsung tidur ketika sudah merasa kenyang.


Meta mengirup nafas dalam dan menghembuskanya kasar. "Mah, Fifah hamil lagi," ucap Meta suaranya lirih. Seolah bukan Meta yang berbicara, sedangkan Meta yang biasanya adalah Meta yang bicara dengan lantang dan selalu tidak ada takut apapun tetapi ketika mengabarkan kabar bahagia ini Meta seolah kehilangan nyalinya.


"Astagah kamu mah Wan, sudah di bilangin di tunda dulu, kasihan anak kamu masih lima bulan bahkan masih sangat butuh ASI. Kalo udah kaya gini yang kasihan Fifah dan juga Mesy, mana kayaknya Fifah hamilnya yang ini rada sensitif lagi, sama kaya bapaknya sensitif. Beda banget kaya si Mesy," ucap mamah Mia, gemas sama Meta. "Fifah gimana hamil lagi apa sudah siap?" tanya mamah Mia dengan hati-hati agar tidak membuat Fifah tersinggung.


"Siap enggak siap Mah, orang sudah jadi. Masa harus di gugurin" jawab Meta yang justru mengambil alih jawaban Fifah, padahal mamah Mia ingin jawaban dari Fifah bukan anaknya yang bandel itu.


"Kamu diam dulu Wan, nanti ada bagian pertanyaan buat kamu," balas mamah Mia, dengan mata melotot dan bibir seolah hendak mengunyah anaknya, ingin menjewer si Wawan itu, tetapi sayang anak itu duduknya berjauhan, dan mamah Mia yang duduknya bersebelahan dengan Fifah.


Fifah menunduk kan pandanganya ia bingung mau menjawab gimana. "Jujur Fifah sebenarnya juga belum siap-siap banget Mah, benar kata mamah, kasihan Mesy. Tadi saja selama perjalanan pulang menyusu kayak enggak nyaman gitu gelisah. Gimana kalo nanti hamilnya Fifah yang ini kayak gini terus. Lemas dan tidak bisa menyusui. Kasihan Mesy. Tapi Mas Wawan juga ada benarnya. Anak ini sudah jadi tidak mungkin Fifah gugurkan. Kasihan dia juga berhak buat hidup," jawab Fifah dengan sangat sedih.


"Kalau gitu besok buat janji sama dokter anak, baiknya gimana. Karena bahaya juga sayang kalo hamil sambil menyusui. Kalau kamunya badanya engfak fit bisa berpengaruh dengan janin yang kamu kandung juga.  Dan anak yang pertama juga biasanya sensitif," jelas mamah Mia dengan sangat hati-hati.


 "Iya sih Mah, tadi dokter langganan juga bilang begitu, lebih baik konsultasi dengan dokter anak," jawab Fifah jujur, karena dokter kandungan yang memeriksa Fifah juga tadi mengatakan demikian. Terlebih setelah melihat kondisi Fifah yang sangat berkemungkinan kecil buat bisa menyusui lagi.


"Iya memang baiknya gitu. Dan nanti akan di sarankan juga merek susu yang terbaik buat Mesy, agar nutrisinya terpenuhi selama kamu tidak bisa memberi ASI, tapi kalo kamu masih kuat dan ASI masih lancar tidak apa-apa kamu lanjut ASI nya buat Meyra." Mamah Mia mencoba menasihati Fifah, dan Meta hanya menyimak sajah terlebih ia tidak tahu soal seperti itu. yang ia tahu mencetak anak.


"Noh Met, ini buat pelajaran buat kamu kedepanya. Kalo anak masih kecil itu di jaga dulu, jangan mentang-mentang enak kamu enggak mikirin akibatnya. Bukan mamah melarang karena engak mau cucu. Kamu mau kasih mamah cucu dua belas juga mamah mah asik-asik ajah. Tapi di jarakin. Bukan kaya gini, yang ada kamu enggak kasihan sama istri dan anak kamu. Jangan mentang-mentang sudah jadi sultah semuanya akan beres dengan materi. Tidak Wawan. Kalo urusan ngasuh Mesy jangan kamu sewa baby sister. sama Oma dan Grandma nya ajah sudah lebih dari cukup, keurus anak kamu. Yang jadi masalah kalo anak kamu itu rewel ke mamihnya, kasihan Fifah soalnya kalo udah nyangkutnya dengan kesehatan itu biarpun uang banyak, sama badan tetap ajah tidak enak. Dan juga anak kamu, nutrisinya takutnya kurang." Mamah Mia menasihati dengan sangat lemah lembut, agar Meta tidak salah paham dengan tujuan mamahnya melarang Meta menghamili Fifah dulu, dan Fifah juga agar tidak merasa bersalah.


"Ya udah, sekarang Fifah jangan kerja cape-cape biar nanti Mesy yang asuh oma dan grandma nya ajah. Fifah tugasnya hanya menyusui ajah," ucap Mamah Mia, sembari beranjak dari duduknya guna membuatkan minuman jahe hangat campur madu agar Fifah tidak mual atau lemas lagi.


****


Di tempat lain, Niko memang buru-buru pulang dari rumah sakit, laki-laki itu sudah tidak sabar ingin mengatakan kabar gembira pada Zoya, bahwa ia sekarang sudah menjadi papah.


"Sayang... Sayang..." Panggil Niko begitu masuk ke dalam rumahnya.


"Loh kok, kamu udah pulang Mas? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Zoya heran dengan suaminya yang pagi-pagi sudah pulang itu. Padahal biasanya suaminya itu akan pulang malam hari. Yah, Niko menjadi gila kerja setelah sakit, hal itu karena tidak ada lagi penyemangat yang membuatnya ingin pulang cepat.


"Bukan, Mas pulang karena akan memberikan kabar gembira," ucap Niko sembari wajahnya berseri bahagia.


Zoya mengernyitkan dahinya, heran kabar gembira apa yang suaminya bawa. "Apa Mas Niko sudah sembuh total dari sakit, sehingga tidak perlu check up lagi?" tanya Zoya dengan ragu dan asal tebak.


Niko mengegeleng, senyumnya benar-benar tidak beranjak dari wajah bahagianya. "Aku sebenarnya tidak sakit. Badanku yang tidak enak kemarin itu, karena aku yang mendapatkan hukuman dari anakku," jawab Niko, yah dia bisa menyimpulan bahwa sakitnya dia adalah bawaan ngidam dari anaknya.


Zoya semakin di buat tidak paham dengan semuanya. Dan melototkan ke dua matanya seolah ia meminya jawaban yang memuaskan atas ucapan Niko.


"Aku udah jadi papah," pekik Niko dengan girang.