Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Mengetuk Pintu Hati


sudah satu minggu pasca Rania menjalanin oprasi pengangkatan tumor yang bersarang di rahimnya dan sekarng kondisinya makin membaik. Setiap pagi dan sore hari yang Rania lakuin menghabiskan waktu di taman dan akan bertemu dengan dokter Adam. Sosok Adam yang bijaksana dan suka menghibur membuat Rania sedikit melupakan Naqi.


"Selamat pagi Ibu Rania." Adam menghampiri Rania yang sedang berjemur.


"Pagi menjelang siang Bapak Adam." Rania menggeser duduknya karena tahu Adam juga pengin duduk.


"Gimana keadaanya? Makin sehat kan?"


"Seperti yang kamu lihat, aku setiap hari makin sehat dan makin pengin pulang." Rania memang sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Rasanya ia sudah pengin bekerja mengurus butiknya sudah lama hanya mengandalkan orang kepercayaanya dan memulai aktifitas yang lain.


"Sebenernya udah boleh pulang, tapi nanti aku kalo kangen gimana?" Adam menunjukan muka masamnya.


"Oh ya Tuhan, jadi aku lama-lama disini hanya akal-akalanmu sajah. Dokter Adam?" tanya Rania sembari melotot.


Adam pun mengangguk dengan wajah di bikin seimut mungkin.


"Ih... ngeselin banget sih kamu... ngeselin, tapi baru kali ini loh orang bohong selalu lancar buat jujurnya." Rania pun terkekeh ia tidak bisa marah kalo sama Adam, karena Adam itu baginya lucu dan bisa menghibur, serta apa yang Adam ucapkan adalah sedasarkan fakta dan pemikiran yang mendalam.


"Biar ngeselin gini tapi kamu suka kan? Sengaja ketaman biar liat dokter tampan lewat, ya kaya sekarang ini. Orangnya sih diem tapi hati melambai-lambai." Adam sangat senang membuat Rania salah tingkah.


"Itu hanya perasaanmu sajah dokter yang ngaku tampan," elak Rania.


"Hehe... aku terlalu PD yah, jadi kamu nggak buka hati aku? Coba deh di buka, aku udah ketuk-ketuk dari pertama kita ketemu loh!" Adam kali ini serius, bukan karena iba atau apa, tapi ia yakin Rania itu anak yang baik dan penyayang hatinya juga lembut. Mungkin karena ia merasa sendiri dan hanya ada Naqi yang peduli sehinga ia bersikap egois ingin menguasai Naqi.


"Takut kalo di buka malah disia-siain, karena nggak ada yang bisa nerima aku selain Naqi. Hanya Naqi yang mampu terima aku apa adanya," balas Rania dengan wajah sendu.


"Itu hanya pemikiranmu sajah. Aslinya banyak ko orang yang peduli dan sayang. Bahkan bisa lebih sayang dari Naqi. Makanya jangan terfokus dengan satu orang doang. Coba buka buat orang lain, sensasinya uh... mantap Neng." Adam berkelakar, agar Rania tidak tegang dan membuat ia drop. Sebab sakitnya belum sembuh total, terlebih untuk membunuh sisa-sisa sel tumor yang mungkin sajah masih ada dan bisa tumbuh lagi, dokter meminta Rania untuk kemoterapi. Di mana ketika menjalani pengobatan ini imun dan emosinya naik turun. Adam sangat tau hal itu, sebab itu iya datang untuk menguatkan, dan menghiburnya.


"Nanti deh dicoba di buka, tapi jangan untuk apa-apa yah. Kamu tahu kan aku orangnya kaya gini dari luar sampai dalam isinya kekurangan semuanya." Rania sedih apabila sel tumornya kembali tumbuh kemungkinan bisa menjadi ganas dan tidak ada hal lain selain mengangkat rahim Rania. Rania mempersiapkan dari sekarang apabila waktu itu tiba jadi Rania sudah tidak syok lagi.


"Aku berjanji akan menerima kamu apa adanya. Soalnya sakit kamu dan soal keluargamu aku akan mencoba menjadi Adam yang tidak membedakan kekurangan dan kelebihan orang lain." Dari segi pekerjaan adam sudah biasa menghadapi kekurangan dan kelebihan, jadi dia sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima kekurangan Rania.


"Kita jalanin dulu ajah tahap pengenalan. Apabila bercocok lanjut dan apabila tidak cocok ya bisa melepaskan satu sama lain." Hanya itu yang bisa Rania berikan, karenanya dihatinya juga masih ada nama Naqi.


"Iya santai ajah, Adam akan buat Neng Rania ngejar-ngejar Aa Adam deh. Biar ngerasain di kejar-kejar cewek gimana rasanya." Padahal Adam hanya berbohong, sebab semasa sekolah atau pun kuliah banyak yang mengejar-ngejar Adam, buat dijadikan pacar.


Rania pun ketika mendengar perkataan Adam langsung terkekeh dan mengakui bahwa Adam pandai melawak. Pasalnya Rania tentu tahu bahwa orang setampan Adam banyak yang naksir. Sekarang ajah para pasien baik kecil maupun lansia banyak yang ngejar-ngejar Adam.


****


Di kediaman Ralf grup.


Naqi bangun lebih dulu, dan karena mereka team jahil. Begitu melek mata dan lihat Cyra masih tidur dengan pulas. Otak jahil Naqi pun langsung merespon dengan ide menjahili Cyra.


Naqi memainkan bulu mata letik Cyra agar Cyra bangun, benar saja nggak lama memainkan bulu mata itu Cyra memberikan respon bahwa dia akan banguan. Cyra membuka mata....


Cyra berteriak dan langsung di bekap oleh Naqi. Seketika Naqi panik kenapa Cyra memberi responya kaya merlihat muka hantu.


"Kamu kenapa sih, segala teriak-terik, nanti kalo sampe ada yang denger gimana?" Naqi melepaskan bekapan Cyra dan ngedumel.


"Ya atuh kaget Mas. Siapa yang nggak kaget coba pas bangun ada penampakan di depan wajah kita, sontak kaget lah." Cyra tidak mau kalah pasalnya pasti Naqi memang mengerjainya.


Mereka pun terus beradu mulut sampai mandi dan ketika sarapan bersama, mereka baru mengerem berdebatnya.


"Qari belum bangun Mam, Kek?" Naqi heran perasaan semalam Alzam kasih laporan adiknya sudah diantarkan tapi kenapa jam segini anak itu belum kelihatan batang hidungnya.


"Tadi baru di bangunkan oleh bibi dan sekarang sudah bangun dan lagi siap-siap ko." Mamih yang menjawab pertanyaan Qari.


"Saya itu aneh sama anak itu makin gede bukanya makin gampang buat ngarahinya malam makin susah diatur," gerutu Naqi.


"Nanti kalian lebih keras lagi buat ajarin anak itu pasalnya kalo mereka ngajarnya terlalu lembek dia akan bisa buat punya celah untuk bersantay. Kakek tidak mau lagi denger atau terima laporan seperti kemarin." Kakek memerintahkan Naqi agar lebih keras lagi mengajari Qari.


Naqi pun mengangguk tandanya menyetujui permintaan Kakek.


Mereka pun akhirnya sarapan. Di tengah sarapan Qari datang dengan muka yang masih ngantuk.


"Semalam pulang jam berapa emang, ko jam segini baru bangun dan masih ngantuk?" tanya Naqi mengetes Qari.


" Jam satu!" jawab Qari dengan malas.


"Bohong! jam berapa?" Naqi kembali bertanya.


Jam Dua belas." Qari kembali menjawab dengan nominal yang berbeda.


"Bohong!!! Jawab yang jujur Qari, agar ketahuin kamu dirumah ngapain sajah." Adam kembali bertanya dengan nada semakin keras.


"Iya-iya jam Sepuluh. Lagian kalo kalian tau aku pulang jam sepuluh kenapa tanya-tanya lagi sih nggak ada kerjaan," sungut Qari sembari mulutnya tetap mengunyah.


"Sini ponsel kami." Naqi menyodorkan tanganya dan meminta ponsel Qari. Naqi tentu yakin banget Qari tidur larut malam hanya untuk bermain game.


"Apan sih Bang, kamu itu sekarang jadi ngeselin banget." Qari mencoba memainkan sandywara.


"Qari berikan ponsel-ponsel kamu pada Kakek." Kali ini Kakek juga tidak tinggal diam pasalnya Qari memang keterlaluan.


Qari pun dengan lesu kembali kekamarnya, mengambil lima buah telepon genggam dan menyodorkan pada kakek. Cyra pun bengong dengan keberania Qari. Dalam hati Cyra mengacungi jempol.


"Kamu pakai ponsel ini buat keperluan apa pun dan jangan berani curi-curi kesempatan untuk melakukan kesalahan." Kakek menyodorkan sebuah ponsel yang kentang, bahkan mungkin kegunaanya hanya untuk telepon dan berkiri pesan.


Seketika semuanya tertawa, kecuali Qari yang justru ingin menangis.