Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Saling Menggenggam


Naqi berenti di sebuah kawasan ruko yang banyak menjajakan makanan.


"Ra, mau disini ajah atau ikut turun. Aku mau beli makanan dulu buat di rumah sakit?" tanya Naqi, pada Cyra yang ia tahu bahwa Cyra tidak tidur.


Cyra diam saja, tidak merespon pertanyaan Naqi.


"Diam berati tandanya ditinggal yah? Sayang banget padahal di depan ada jajanan cilok, tahu bulat sama jajanan yang kamu suka malah. Yah, udah deh kalo kamu nggak mau ikut turun aku sendiri ajah." Naqi menggoda Cyra yang bahkan matanya kedip-kedip.


"Aku ikut." Cyra akhirnya nyerah, dan memilih mencari jajanan cilok.


Hahahaha Naqi tertawa lepas, "Ngerjain kamu ternyata gampang juga, cukup dibujuk dengan cilok sudah langsung bangun," kekeh Naqi sembari memegangi perutnya.


"Ish... jadi Mas Naqi ngerjain Cyra?" dengus Cyra sembari kembali bersandar dan melipat tanganya di depan dada.


"Ya udah yuk turun, nanti kamu cari siapa tau di sana ada yang jual makanan favorit mu itu. Apa tadi cilok?" Naqi meminta Cyra turun, sebab pasti ia lapar juga.


Cyra pun mengekor saja, toh dia juga pengin beli makanan.


Setelah beberapa menit mereka berdua mencari beberapa macam makanan, akhirnya mereka berdua kembali ke mobil dengan beberapa kantong makanan yang berbeda jenis makananya.


"Ngomong-ngomong ini kenapa Mas, ko belinya banyak banget. Emang bakal habis?" tanya Cyra pasalnya Naqi beli makanan seperti buat satu RT.


"Ya kalo nggak abis bisa dibagikan dengan yang lain," jawab Naqi dengan singkat.


"Wah, ternyata kamu baik banget orangnya Mas, aku jadi....(Cyra tidak melanjutkan ucapanya)


"Jadi... jadi apa tuh? Awas nanti jatuh cinta susah obatnya, Nona," ledek Naqi sembari tersenyum lebar.


"Ish enak ajah, enggak lah kalo jatuh cinta tidak akan kecuali....(Lagi-lagi Cyra menggantung ucapanya)


"Kecuali... apa tuh kecualinya. Mungkin bisa dipertimbangkan?" beo Naqi.


"Ya, kecuali Mas nggak punya cewek, soalnya aku nggak mau kalo suka sama orang hanya bertepuk sebelah tangan. Masa nanti suka sama si A tapi justru si A dihatinya cuma ada si C. Aku cuma sebagai pelampiasan kan sakit hatinya." oceh Cyra.


Naqi pun tersindir oleh ucapan Cyra, pasalnya yang dikatakan Cyra ada benarnya. Dia masih memikirkan Rania, dihatinya masih memikirkan kebahagiaan Rania, dan entah rasa apa, tetapi Naqi pengin selalu bisa menjadi pelindung Rania. Hatinya masih sakit apabila melihat atau mendengar Rania sedih.


Namun, tidak bisa Naqi pungkiri ketika berada disamping Cyra, hatinya bahagia dan selalu ceria. Keduanya memiliki ruang dihati Naqi, tetapi kalo ia ingin menggenggam keduanya sama saja dia justru menyakiti keduanya. Sebab tidak akan bisa mungkin ia membagi kasih sayang dengan adil.


Naqi menatap Cyra yang termenung menatap padatnya jalanan.


"Ra, kalo nanti misalkan kamu dihadapkan oleh dua pilihan kamu milih cerai atau di madu?" tanya Naqi dengan penasaran.


Cyra mengernyitkan dahinya dan menyipitkan matanya, rasanya ada yang aneh dengan pertanyaan Naqi, kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Pasti cerai lah Mas, untuk apa di madu. Membayangkanya saja sakit, apalagi menjalaninya. Pasti sangat menyiksa batin dan tubuh. Mungkin hanya orang-orang tertentu sajah yang siap dan bisa menjalankanya. Kalo Cyra sih sudah pasti tidak mau," jawab Cyra dengan yakin.


Naqi pun hanya mengangguk anggukan kepalanya mana kala mendengar jawaban Cyra.


"Tapi, ngomong-ngomong ko tumben Mas tanya soal poligami, apa jangan-jangan Mas berharap bisa poligami, dan aku jadi istri tua sedangkan Mba Rania jadi istri muda?" tanya Cyra dengan mata mengintimidasi.


"Tadinya penginya begitu, tapi kamunya nggak mau. Kan enak kali kalo punya istri dua bisa saling gantian," kekeh Naqi dengan menaik turun kan alisnya.


"Aduh... duh... duh... bocil, sakit tau!! Kenapa main cubit ajah. Ganggu konsentrasi nyetir, bahaya tau," protes Naqi. Padahal cubitan Cyra tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti.


"Lagian, perjanjian kita kan cere, ya cere jangan neko-neko deh," sungut Cyra.


"Engga Ra, aku bercanda ko, tapi kalo kamu mau sih boleh lah dipertimbangkan." Naqi nampaknya masih suka menggoda Cyra.


"Mas...!" bentak Cyra, tidak ingin mendengar candaan itu. Sebab ada pepatah bilang ucapan adalah doa. Bagaimana kalo ucapan yang tadi Naqi lontarkan langsung di Aminkan oleh para malaikat.


"Iya bercanda... si bocil kalo udah marah serem juga," gerutu Naqi, tetapi bisa didengar oleh Cyra.


Mereka pun setelah melewati perjalanan yang penuh dengan perdebatan akhirnya sampai di rumah sakit.


Naqi mengulurkan tangan, dengan maksud menggandeng tangan Cyra. Sama seperti dulu pertama kali Cyra ia ajak keluar rumah selalu ia gandeng agar tidak hilang atau tertinggal.


"Apa?" tanya Cyra heran kenapa Naqi menyodorkan tangan, dia fikir Naqi meminta sesuatu. Padahal kantong makanan sudah dikeluarkan semua, dan masing-masing sudah kebagian bawa.


"Gandengan, takut ilang! Dulu ajah pertama keluar kamu kemana-mana gadengan tangan terus," ucap Naqi sembari menggerakan jari-jarinya, agar Cyra buruan menggenggamnya.


"Ish... itu dulu pertama kali Cyra keluar rumah, takut ilang. Kalo sekarang mah nggak usah gandeng-gandengan juga nggak bakal ilang Mas," protes Cyra.


"Ya udah, kalo gitu biar romantis." Naqi masih menyodor kan tanganya.


Cyra pun akhirnya menautkan telapak tanganya di jemari Naqi yang mana tangan Cyra sangat kecil bila digenggam oleh Naqi.


Naqi pun mengembangkan senyum kemenangan, sementara Cyra justru cuek dengan kelakuan Naqi.


Setelah melewati lorong rumah sakit. Naqi pun telah sampai di depan ruangan VIP yang sekarang di tempati oleh Alzam. Naqi membuka pintu kamar Alzam dengan sangat pelan. Takut mengganggu penguhuni di dalam.


Di sana nampak Tantri yang dengan setia mengipas ngipas kaki Alzam.


Sementara Qari disofa tengah menangis sedih melihat kondisi kaki Alzam. Qari menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya dan duduk dengan membukuk. Naqi pun sangat ngilu hatinya melihat kondisi Alzam. Cyra yang baru pertama kali lihat pun langsung terenyuh hatinya melihat kondisi asisten Naqi.


"Kenapa Tan? Panas atau kenapa? Bukanya ruangan ini ber AC apa kurang dingin?" tanya Naqi sembari mendekat ke arah Tantri yang berdiri di samping ranjang Alzam dengan kebisuan. Alzam membisu karena merasakan sakit yang sulit untuk diungkapkan. Sementara Tantri membisu, karena menahan tangis. Tenggorokanya sakit menahan semuanya. Ingin ia menangis sekencang-kencangnya agar tenggorokan dan hatinya lega.


"Tidak Kak, udaranya sudah dingin," jawab Tantri dengan suara bergetar. Entah lah ia mengipas kaki Abangnya biar apa yang jelas hanya itu perhatian yang bisa Tantri berikan pada Abang.


Naqi mengusap pundak Alzam, sebagai ucapan agar ia kuat menghadapi semuanya. Alzam pun menarik sudut bibirnya sehingga nampak seulas senyum yang samar.


Naqi sangat sakit membayangkan apabila ia telat mengetahui kondisi Alzam, mungkin saat ini assistenya masih berada di dalam ruangan yang sempit, dan hanya berdua dengan adiknya, Tantri.


Naqi kembali menatap wajah lelah Tantri, masih terlihat kecemasan diwajah kecilnya. Wajah lelah, dan takutnya masih tergambar jelas. Naqi tentu sedikit paham apa yang ada di dalam hati Tantri rasa takut kehilangan orang yang disayanginya. Terlebih Alzam sangat sayang pada Tantri sehingga Tantri juga sangat menyayangi Abangnya.


#Cinta tidak semua menyangkut dengan pasangan. Namun cinta juga bisa menyangkut tentang sodara dan cinta pada orang tua. Hargai cinta, rawat, dan pupuk dengan baik agar tetap bersemi dengan Indah...


...****************...


Hai, teman-teman othor mau rekomendasiin karya besti Author nih ka "Bhebz" kuy cari judulnya di laman pencarian lalu baca, jangan lupa tekan Fav yah, terus komen, like dan beri gift. Biar othornya seneng...kuy kepoin ceritanya seru loh...