
Begitu Fifah pergi di bawa oleh Meta, Niko yang merasakan perih karena bibirnya yang pecah dan perut yang sakit karena tendangan Meta, Ia masih meringis menatap mobil Meta perlahan meninggalkan dirinya dengan keadaan lemah.
Sebelum Meta benar-benar pergi ia sempat mengucapkan kalimat yang membuat kemarahan Niko kepancing. "Siap-siap kau mendekam di dalam penjaran Bung!" Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di pikiran Niko.
"Sial kenap gue bisa ceroboh begini sih," rutuk Niko, kepada dirinya sendiri. Ia berusaha bangun dengan luka yang tidak seberapa di bandingkan luka Fifah yang ia buat, belum batin Fifah juga ia koyak-koyak. Namun ia masik tidak puas dengan perlakuanya.
"Awww..." Niko meringis memegangi perut dan bibirnya yang pecah dia menahanya berjalan dengan terpincang-pincang untuk masuk ke dalam mobilnya, di dalam mobil Niko melihat wajah yang masih terlihat jelas bagai mana bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah, memang tidak banyak tetapi cukup membuat berdenyut, pegal dan nyeri.
"Sial, siapa sih laki-laki ben-cong itu. Akan aku buat perhitungan. Kau salah pilih lawan, dasar laki-laki jadi jadian." Niko terus mengumpat di dalam mobilnya kepada Meta. Sedetik kemudian ia melajukan kendaraanya pulang ke rumah Zoya, menemui istri pertamanya, untuk meminta bantuan.
Niko berjalan masih memegangi perutnya, sepertinya tendangan Meta memang sangat kuat, sehingga Niko masih berasa sangat sulit untuk berdiri normal.
"Ya Allah sayang, apa yang terjadi?" Zoya yang melihat Niko berjalan menunduk memegangi perutnya langsung menghampiri dan membantu memapahnya. Zoya membawa Niko duduk di sofa.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Zoya sembari membuka baju Niko perlahan, ia takut menimbulkan kesakitan kalo ia terlalu kasar membuka kemeja suaminya.
"Fifah, wanita mandul itu yang buat aku seperti ini." Niko nampaknya benar-benar menganggap bahwa Fifah adalah wanita mandul. Wajah Niko memerah menahan kemarahanya kepada istri keduanya.
"Fifah?" Zoya mengernyitkan dahinya seolah tidak percaya bahwa Fifah akan melakukan hal itu. Memang Zoya belum pernah bertemu secara langsung dengan Fifah, tapi ia yakin bahwa madunya tidak mungkin melakukan hal itu. Apalagi sampai membuat Niko kesakitan seperti itu.
"Iya wanita mandul itu mulai cari gara-gara sama aku. Lihat saja akan aku ceraikan dia dan aku akan meminta ganti rugi atas uang-uangku yang tidak sedikit, telah aku gunakan untuk biaya pengobatan aki-aki tua itu. Si mayat hidup itu hanya benalu buat aku." Niko nampaknya kali ini benar-benar sangat marah dan akan membuat Fifah dan keluarganya semakin memohon belas kasih darinya.
Zoya tidak bisa berbuat apa-apa dia sangat tahu watak Niko. Di mana Niko apabila sudah sayang akan memberikan apapun yang di minta oleh pasangaya, namun kalo sudah dikecewakan akan membuat orang yang mengecewakanya menderita.
"Aku ambil es batu, untuk mengompres luka kamu yah sayang." Zoya berlalu ke dapur untuk mengambil es batu untuk mengimpres luka suami tercintanya.
"Auwww..." Niko berkali-kali meringis manakala es batu menyetuh lukanya, bagaimana dengan Fifah yang dia buat wajanya babak belur juga oleh tamparanya. Bibir Fifah juga pecah karena Niko yang menampar terlalu keras.
****
Sementara di tempat lain...
"Cin, I'm pulang duluan yah, soalnya I'm mau ke dokter, mau visum untuk wanita yang aku temui kemarin." Meta berpamitan pada Cyra.
"Tunggu Met, wanita siapa? Apa ada yang aku tidak tahu dari kamu?" tanya Cyra dengan kepo.
"Belum, ayo cerita aku penasaran, siapa tahu aku bisa bantu." Cyra meminta agar Meta bercerita.
"Besok yah cinta, I'm sudah ada janji dengan dokter yang terkenal sibuk, nanti malah akan sulit buat bantu wanita itu kalo visumnya telat." Meta meminta waktu pada Cyra agar menceritakanya besok saja pasalnya hari ini dirinya benar-benar sibuk.
"Ya udah, aku juga pengi istirahat. Tapi janji loh besok kamu harus cerita, tidak ada yang boleh ditutup-tutupi dari aku. Nanti aku cemburu," sungut Cyra membuat Meta tertawa renyah mendengar ancaman anak angkatnya itu.
"Siap Tuan Putri dadah...." Meta melambaikan tanganya dengan gerakan gemulainya pada Cyra, selanjutnya ia masuk kedalam mobilnya dan melanjutkan kendaraanya ke rumahnya di mana ia sebelumnya sudah mengirim pesan pada Mpok Mia, agar Afifah siap-siap sehingga ia bisa langsung jalan. Memburu waktu bertemu dengan dokter yang sudah membuat janji denganya.
Tit... tit... tit... begitu sampai di halaman rumahnya Meta memencet kelakson agar Afifah lansung keluar karena mereka hanya memiliki waktu hanya tiga puluh menit, mereka harus segera bertemu dengan dokter yang sudah Meta mintain bantuan untuk visum Fifah. Yah Meta menggunakan kekuatan The power of Money, karena kepepet, agar urusanya dipermudahkan. Tidak mengantri dan mengisi sarat ini itu, tinggal bayar lebih semua persoalan beres.
Fifah berjalan dengan dituntun oleh Mpok Mia.
"Kenapa?" tanya Meta dengan buru-buru membuka pintu mobil ketika tahu kondisi Fifah tidak baik-baik saja. Tetlihat jelas kecemasan di wajah Meta, melihat kondisi Fifah yang tidak baik-baik itu.
"Dari tadi kamu berangkat kerja, perut Fifah sakit. Mamah nggak tau kenapa, nanti coba kamu periksa juga. Tadi sudah Mamah kompres dan sekarang katanya sudah mendingan. Tapi kamu tetap harus tanya ada apa sama doktet nanti. Mamah khawatir suaminya melakukan sesuatu pada dia, mengakibatkan perutnya sakit begitu." Mamah Mia juga nampaknya mencemaskan kondisi Fifah yang terlihat lebih pucat.
Meta mengangguk selanjutnya ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
"Sakit banget perutnya?" tanya Meta dengan tampang sangat cemas.
"Aku pinjam baju kamu yah, aku nggak bawa baju. Ponsel dan uang pun aku tidak punya mau beli belun ada uang. Aku akan sering ngerepotin kamu." Fifah justru mengalihkan pertanyaan Meta.
Meta menatap ke arah Fifah yang tengah menunduk memainkan jari-jarinya.
"Pake saja, itu untungnya kamu ketemu dengan aku, kamu bisa peke baju aku. Masalah ponsel nanti aku ganti karena itu kesalahan aku tidak membawa sekalian tas kamu, dan untuk uang juga nanti aku akan memberikan pada kamu untuk jatah jajan. Setelah ini nanti kita mampir mall beli pakaian dalam'an buat kamu, dan untuk pakeian, kamu boleh pake baju cewek aku sepuanya. Lagian aku juga kalo di rumah tidak memerlukan pakeian itu." Meta sungguh tidak tega melihat Fifah bersedih, rasanya ia juga ikut menangis manakala melihat Fifah seperti ini.
Fifah langsung menatap kearah Meta, "Kenapa kamu baik banget, kamu hanya akan mendapatkan kesialan kalo dekat-dekat dengan aku. Aku takut Niko marah kalo tau kamu melakukan itu semua dan membahayakan kamu dan Mamah Mia. Aku takut kamu jadi mengalami kesusahan. Sepertinya aku juga nanti setelah baikan harus pergi dari rumah kamu, dan cari pekerjaan agar aku bisa menghidupi diriku sendiri, dan membantu Papah dan Mamahku." Afifah selama semalam memikirkan nasib dirinya orang tuanya dan juga Meta bersama Mamah Mia. Tentu dia sangat tau bagaimana sifat Niko yang tidak mau dikalahkan.
"Kamu tenang saja. Percayakan semuanya padaku. Jangankan cuma orang satu yang kaya suami kamu. Sepuluh orang yang kaya si Niko-Niko itu juga bakal Meta jabanin." Dengan percaya diri Meta yakin bisa membuat perhitungan dengan Niko.
Niko tidak akan bisa mengusik Fifah maupun keluarganya. Meta akan menjamin keamananya.