Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kembali Cuek


Pagi hari Qari sudah berada di ke diaman Alzam. Dia sudah berjanji, bawa ia akan menjemput Alzam untuk pergi ke kantor bersama. Demi bisa menepati janjinya, Qari rela bangun lebih pagi agar bisa berangkat lebih awal dari biasanya.


Qari bangun pukuk lima untuk bersiap-siap. Pukul enam pagi Qari sudah mulai melajukan mobilnya ke rumah, minimalis milik Alzam. Qari sebelumnya memang sering bolak-balik ke rumah ini. Rumah sederhana tetapi tertata dengan rapih. Itu semua karena Tantri yang pandai merawatnya.


"Hay sayangnya akuh, udah siap belum?" tanya Qari dengan suara manjanya, menghampiri Tantri dan Alzam yang tengah menikmati sarapan dengan menu diet bagi penderita kangker yang Tantri oleh sendiri untuk Abangnya.


Alzam hanya tersenyum getir manakala Qari selalu memperlakukanya berlebihan.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Alzam, yang saat itu tengah sarapan dengan Tantri, seperti biasa juga Tantri selalu menunjukan wajah masam dan tidak sukanya dengan kedatangan Qari. Tantri menilai Qari terlalu kekanakan. Sehingga ia tidak suka.


"Sudah aku sudah sarapan," jawab Qari dengan menopang wajahnya dengan kedua tanganya untuk mmperhatikan wajah Alzam. Yang kini sudah semakin berisi. Entah lah Qari malah melihat wajah Alzam kini menjadi tampan.


Alzam sebenarnya sangat risih dengan Qari apabila sudah menunjukan tampang seperti itu, tetapi kalo ia menolaknya dan protes Qari malah akan semakin menjadi. Jadi lebih baik Alzam biarkan sajah, dan pura-pura tidak tahu itu adalah cara palinh aman.


Setelah sarapan Qari dan Alzam pun berangkat, dengan sangat telaten Qari dan Tantri bahu membahu membatu Alzam pindah ke mobil dan merapihkan kursi rodanya di bagasi mobi.


"Tantri Kaka berangkat yah kamu hati-hati di rumah." Qari walaupun tahu bahwa Tantri kurang menyukainya, tetapi ia selalu berusaha untuk medekatkan diri pada satpam kecil Alzam.


Mereka pun kini berada di dalam mobil. "Non Qari sebaiknya Anda jangan repot-repot melakukan ini. Anda mulai saat ni harus mulai mencari laki-laki yang lebih baik dari saya, yang sempurna fisiknya bukan seperti saya yang cacat fisiknya." Alzam meulai perbinjamhan di dalam mobil.


Cccchhhiiit.... suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan. Qari langsung menepikan mobilnya


"Maksud kamu itu apa sih Al? Kurang pembuktian apa lagi sih kalo aku hanya mau kamu jadi pendamping aku. Aku mau kamu jadi suami aku, Al. Bukan laki-laki lain yang sempurna fisiknya. Aku mau kamu yang jadi pelindung untuk aku," ucap Qari dengan menatap kedua mata Alzam.


"Nona Qari Anda salah besar, saya tidak bisa melindungi Anda. Justru saya melindungi diri saya sajah sangat sulit dan saya hanya bisa merepotkan Anda. Sadar Nona Qari. Anda itu bukan cinta sama saya, Anda hanya kasihan dengan kondisi saya." Alzam lagi-lagi berbicara seperti itu, sebab dia merasa sangat tidak pantas diperlakukan sebaik itu sama Qari.


"Aku hanya takut kamu menyesal dengan kondisi saya. Laki-laki yang tidak bisa melindungi pasanganya. Jadi nggk ada yang perlu dipertimbangkan lagi. Mulai saat ini Anda sebaiknya mencari laki-laki yang lebih pantas dari saya." Alzam bukan tidak suka dengan Qari, dia hanya merasa tidak pantas bersanding dengan Qari. Perbedaan yang sangat jauh dari segi materi dan fisik mereka bagai langit dan bumi.


Qari membuang nafas kasar dan kembali melajukan kendaraanya dengan kasar. Qari kembali ke mode juteknya. Ia kesal Alzam tidak bisa menghargai perjuannya. Padahal menurut Alzam yang dia lakukan hanya demi kebaikan Qari. Dia pantas bahagia dengan pasangan yang sempurna.


Andai bisa diungkapkan hati Alzam pun sakit ketika melihat Qari marah padanya, tetapi ia akan menerimanya. Ia harus pasrah dengan semua kosekuenainya. Lebih baik sakit di awal dari pada harus melihat orang yang kita sayang menderita dengan hidup disisi kita.


Tanpa adanya obrolan selama di dalam mobil. Kini mereka telah sampai di halaman kantor Ralf grup. Qari turun lebih dulu, tanpa mengucapkan apa-apa pada Alzam, dan Alzan pun sama, hanya bisa membisu.


"Pak tolong, kalian bantu Alzam untuk pindah ke kursi roda yah, sekalian bantu naik kedalam ruanganya. Lukanya masih belum kering betul jadi kalian hati-hati." Qari lebih memilih menyerahkan pada security urusan Alzam dan dia pun lebih dulu masuk ke dalam kantor.


Alzam hanya tersenyum getir melihat perubahan Qari. Tidak lama pintu mobil di buka dan dua satpam membantu Alzam berpindah ke kursi roda. Sebenarnya Alzam ingin memakai tongkat saja, tetapi karena lukanya yang belum kering sehingga dokter belum mengizinkan menggunakan tongkat. Sehingga untuk sementata waktu Alzam menggunakan korsi roda untuk melakukan aktifitasnya.


Begitu masuk ke dalam kantor Alzam banyak yang menyambut dan saling menguatkan. Bersyukur mereka tidak memandang rendah fisik Al, justru banyak yang menguatkan.


Al masuk ke dalam ruangan yang di sana sudah ada Qari dengan lapora-laporanya. Qari nampak tetap fokus dengan nominal-nominal angka yang berjajar rapih di atas kertas putih.


"Terima kasih Pak," ucap Al pada seorang satpam yang membantu mendorong kursi rodanya. Al sangat paham. betul dengan sikap Qari, tetapi ia harus berusaha biasa saja. Alzam akan mencoba mengontrol perasaanya dan akan ikut bahagia apabila melihat Qari bahagia.


Baik Qari dan Alzam sibuk dengan laporan masing-masing. Bak seorang yang tidak salinh mengenal, begitulah mereka di dalam satu ruangan tapi saling diam.


Qari merasa kesal dengan Alzam, padahal Qari benar-benar tulus sayang pada Alzam dan mencoba menerima kekurangan Alzam. Namun Alzam selalu berbicara bahwa ia harus mencari pendamping lain. "Aku akan cari cowok lain pengin tau gimana reaksi kamu Al, aku tahu kamu sebenarnya juga memendam rasa pada aku tapi kenapa kamu malah memilih mudur dan meminta aku mencari kekasih baru," gumam Qari melirik pada Alzam yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaanya.


Sementara Alzam sebenarnya suka dengan Qari, terlebih Qari sudah banyak menunjukan perubahanya, tetapi Alzam tidak mau membebani kehidupan Qari dengan kondisi fisiknya. Alzam takut suatu hari nanti Qari malu dan menyesal telah menikah dengan dirinya. Pria yang memiliki cacat pada kakinya.