
Setelah Naqi dan Cyra mendapatkan wejangan dari kakeknya kini keduanya pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Mereka akan mulai beristirahat karena besok pagi pun Cyra sudah harus mempersiapkan diri untuk mengikuti pengenalan dengan para crew iklan.
Namun begitu ia keluar dari ruangan kerja kakek, ternyata mamih sudah menunggu sedari tadi diruang keluarga.
"Hust....Cyra, Naqi sinih." Mamih melambaikan tanganya agar mantu dan anaknya mau kendekat kepadanya.
"Kenapa Mih?" tanya Cyra dengan lembut, sementara Naqi justru kebalikanya merasa enggan mendekat. Naqi tentu hafal kebiasaan mamih. Pasalnya ia sudah lebih dari dua puluh enam tahun menjadi anak mamih tentu tau betul bahwa mamihnya tengah kepo dengan obrolan mereka di dalam ruangan kakek barusan.
"Cyra ajah tuh yang mewakilkan," ucap Naqi sembari memainkan kedua tanya seolah tengah mengusir binatang, dan Naqi dengan tanpa dosa pergi meninggalkan mamih menuju kamarnya.
"Dasar anak durjana, untung sayang kalo nggak udah Mamih telen lagi tuh anak," ucap mamih sembari membesarkan volume suaranya agar Naqi mendengar. Namun, nampaknya Naqi sudah kebal dengan ocehan mamihnya tercinta. Justru itu yang selalu membuat Naqi sayang sama mamihnya.
"Kenapa Mih?" tanya Cyra ulang sembari duduk disamping mamih mertuanya.
"Kalian ngobrolin apa barusan didalam?" tanya mamih dengan volume diperkecil agar tidak ada yang tau bahwa mamih kepo dengan perbincangan anak dam menantunya dengan papah mertuanya.
Seperti biasa Cyra akan tersenyum ramah sebelum menjawab pertanyaan mamih, dan dengan sangat lembut Cyra menjelaskan obrolan dari pertemuan barusan.
Tentu mamih aga heran kenapa, papah mertuanya kesanya santai sajah membiarkan Cyra ikut bekerja menjadi model. Lalu Naqi pun boleh merahasiakan pernikahanya.
"Apa sebenarnya yang Papah rencanakan?" batin mamih, pasalnya biasanya mertuanya itu selalu keras tidak mengisinkan keluarganya terlalu dikenal umum apalagi juga berprofesi sebagai selebriti dan lain sebagainya yang berhubungan dengan publik banyak. Namun, kenapa ketika Cyra datang, pertahananya runtuh seketika.
Pasalnya Qari pun awalnya bercita-cita menjadi model, atau selebritis, tetapi Tuan Latif menolak dengan lantang keinginan Qari sehingga sekarang anak perempua mamih justru mengambil kuliah bisnis di luar negri.
"Ya, udah kamu istirahat sajah sanah, besok harus bangun pagi kan mulai buat hari pertama jadi model. Ingat kamu jangan kecewain kakek yah, soalnya susah mendapatkan izin lagi kalo kakek sudah kecewa." Mamih menasehati layaknya anak sendiri.
"Baik Mih, Cyra akan ingat selalu pesan Mamih, dan selalu berusaha menjaga kepercayaan kakek. Mamih juga istirahat yah. Selamat malam." Cyra kembali ke kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga.
Cyra membuka pintu kamarnya dengan sangat perlahan, dikarenakan takut kalo Naqi sudah tertidur. Namun dugaanya salah Naqi justru masih sibuk dengan laptopnya.
"Eh... belum tidur Mas? Tadi katanya mau istirahat?" tanya Cyra kaget karena dia kira Naqi sudah tertidur.
"Masih ada kerjaan dikit," jawab Naqi tanpa menoleh ke arah Cyra. " Mamih tadi tanya apa?"
"Oh... itu, Mamih cuma tanya kita ngebahas apaan dan nasehatin agar jangan kecewain kakek dan salah gunakan kepercayaan kakek." Cyra menjawab pertanyaan Naqi sembari menyiapkan baju tidur Naqi.
"Sudah aku duga mamih kepo juga," batin Naqi menertawakan kekepoan mamihnya.
"Mas baju tidurnya Cyra taro disini yah." Cyra mulai malam ini mempratekan semua yang diajarkan mamih dengan kepatuhan istri yang pandai mengurus suami.
Hemz... Naqi menjawab dengan deheman, dan melihat kearah Cyra meletakan baju tidurnya. "Padahal kamu nggak usah susah payah menyiapkan semuanya Ra, aku bisa sendiri ko." Justru Naqi merasa aneh ketika semua keperluanya disiapkan oleh orang lain.
"Terserah lah, yang penting saya tidak menyuruh kamu untuk melakukan semua ini yah," ujar Naqi dengan kembali mengfokuskan pandanganya pada layar laptopnya.
"Mas, aku boleh syaring sesuatu nggak?" tanya Cyra dengan agak canggung mau mengutarakanya.
"Syaring apa? Ngomong ajah! Kalo bisa ngasih jawaban pasti di kasih, tapi kalo nggak pun setidaknya aku bisa ngasih masukan," ucap Naqi dengan wajah serius.
"Kalo menurut Mas Naqi aku besok lebih baik pake kerudung atau berpenampilan begini sajah, apa adanya aku bengini. Dengan segala kekuranganya." Cyra menunjukan dirinya yang berpenampilan apa adanya.
"Kalo itu nanti kamu konsultasi dengan produser iklan ajah dulu maunya mereka gimana, kalo untuk sementara diminta memakai hijab ya kamu ikutin ajah dulu, tapi kalo diminta berpenampilan apa adanya maka lakukan sesuai permintaan mereka. Intinya kalo Mas dalam hal ini nggak bisa ngasih solusi karena Mas bukan team iklan. Mas hanya tau iklan itu udah jadi dan produk banyak terjual banyak." Naqi menjawab sebisa mungkin.
"Oh ya udah deh, liat besok sajah." Cyra bergegas akan mulai istirahat dan Naqi hanya mengangguk merespon ucapan selamat malam dari Cyra.
Naqi mengingak momen ketika ia awalnya pertama tidur dan satu kamar dengan Cyra ketika pertama kali melepas hijab rasa tidak nyaman untuk dilihat, tetapi makin hari karena hampir setiap ketemu Cyra dengan penampilan kepala botak tak berambut jadi terbiasa dan makin biasa sajah, bahkan dia sudah tidak memandang aneh penampilan Cyra.
***
Pagi hari dengan semangatnya Cyra terbangun dan melaksanakan kewajibanya sebagaia seorang muslim. Sakit dipunggungnya pun sembuh karena hatinya yang berbahagia seolah langsung tersihir sembuh seketika.
Cyra pagi hari sudah sibuk dengan persiapanya. Cyra pun kini sedikit demi sedikit sudah bisa menggunakan alat make upnya, itu tentunya berkat bantuan dari mamih mertuanya yang selalu dengan sabar mengajatkan Cyra hal-hal kecil maupun besar sekalipun.
Cyra dan Naqi turun bersama Cyra untuk sementara mengenakan hijabnya, tetapi untuk kedepanya Cyra akan membiasakan diri berpenampilan apa adanya dirinya.
"Apa kalian akan berangkat bersama?" tanya kekek ketika melihat Naqi dan Cyra sudah rapih dengan pakean kerja.
"Enggak kek, semalam aku udah hubungi team iklan nanti mereka salah satu ada team yang jemput Cyra dan mengajarkan dasar-dasarnya dulu. Nanti untuk sementara Cyra diantar sopir mamih dulu. Aku udah menjelaskan kondisi Cyra dan lain sebagainya makanya mereka ingin melatih Cyra lebih dulu dan Cyra diminta siap dari pagi buat menerima materi konsep iklan gimana-gimanaya nanti." Naqi menjelaskan agenda Cyra seharian ini.
"Kamu harus jaga kesehatan Cyra, jangan sampai kecapean dan luka kamu kembali basah lagi," sela mamih menasehati Cyra.
"Iya Mih, semua nasehat dari Mamih sama Kakek pasti Cyra ingat dan jalankan," balas Cyra dengan senyum mengembang di wajahnya.
Mereka pun sarapan bersama. Tak lupa sebelum berangkat dan meminta izin kepada kakek dan mamih. Cyra pun mengucapkan doa agar urusan dalam harinya dimudahkan, dan ini adalah awal yang bagus untuk karirnya dimasa depan.
Bersambung....
...****************...
✋Setop perundungan atau bullying!!!! Karena itu termasuk kejahatan luar biasa. Namun, masih banyak dilingkungan kita yang melakuakan perundungan. Terutama buat anak-anak usia sekolah dan remaja, perundungan seolah mencadi lelucon yang tanpa disadari bisa merusak mental korbanya. Tidak semua anak kuat seperti tokoh Cyra yang mampu menutup kekecewaanya dengan menunjukan kelebihan lain bahwa ia mampu untuk menjadi contoh yang baik. Banyak yang justru memiliki mental kebalika dari Cyra, yaitu dia akan down bahkan depresi dan berakibat memilih mengakhiri hidupnya. So, mulai dari kita dan lingkungan sekitar biasakan menerima perbedaan. Hitam, putih, gedut, kurus, jelek, cantik, itu yang menjadi kita lebih berwarna jadi jangan hina perbedaan itu, dalam bentuk candaan atau olok-olokan.🙏
#Bullyan paling sering dan paling kejam justru dari medsos. Gunakan jari kita untuk berucapa kebaikan, karena sekarang jarimu adalah harimaumu!!! Mulut diam terkunci, tetapi jari sudah jauh melukai banyak perasaan orang lain. Jaga jari kita yah🙏