Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Dalam Satu Ruangan


Mamih pun setelah berpamitan dengan Cyra, ia akhirnya pulang dan menitipkan putranya pada Cyra. Sementara Cyra sebelumnya sudah mengirimkan pesan pada Qari dan meminta Qari setelah pulang kerja mampir ke rumah sakit.


Cyra pun sedikit tidak merasa canggung lagi ketika berada di rumah sakit karena akan ada Qari yang setidaknya akan menemani dirinya nanti. Cukup lama Cyra berdiam diri hanya memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan.


Uhuh... Suara erangan dari bibir Naqi. Cyra nampak panik karena di sana hanya ada dirinya dan mamih pun sudah pulang. "Aduh aku udah lama tidak berinteraksi dengan Naqi, kenapa jadi gerogi gini yah," batin Cyra ia malah jadi gerogi sendiri ketika akan menghampiri Naqi dan menanyakan apa yang sekiranya ia rasakan.


"Uhuh... Mih panas..." Naqi nampak menggelinjat karena panas dan pegal di punggungnya di mana kulitnya sudah mulai melepuh dan itu kalau sampai pecah maka akan sangat pegal," itu yang dulu Cyra rasakan karena ulah Tuan Kifayat. Namun kali ini justru punggungnya sudah mulus kembali dan sekarang Naqi yang merasakanya, seolah bergantian.


Cyra perlahan menghampiri Naqi dan mencoba menayakan ia pengin apa? "Mas ada yang bisa di bantu?" tanya Cyra dengan sangat berhati-hati. Sontak di mana Naqi yang memang dua bola matanya masih terpejam mulai merasakan tidak enak di punggungnya segera membuka kedua bola matanya ketika ia mengenali suara itu. Suara yang sejak satu tahun menghantui dirinya.


"Cyra? Apa itu kamu Cyra? Ini kamu kan istri aku?" tanya Naqi dengan mencoba meraih tangan Cyra tetapi tidak bisa hal itu karena jarak Naqi dan Cyra yang sedikit berjauhan.


"Engga, tadi Mas Naqi kenapa? Ada yang dirasa sakit atau panas gitu?" tanya ulang Cyra, agar kalo ada yang bisa di bantu Cyra akan segera memanggil dokter dan biarkan dokter yang mengobati Naqi dirinya hanya mernjaga agar Naqi tetap minum obat dan ketika membutuhkan sesuatu Cyra bisa membantunya.


Naqi menggelengkan kepalanya tandanya ia tidak ada masalah, tetapi sudah jelas tadi dua kali Naqi meringis seolah menahan sakit, tetapi ketika ditanyakan bagian mana yang sakit Naqi tidak merasakanya. "Baiklah mungkin benar apa kata mamih, apabila aku di sini sakitnya sembuh," ucap Cyra sembari tersenyum samar di wajahnya.


Sementara Naqi pun tidak kalah bahagia, ia sangat senang ketika ada Cyra yang merawatnya. "Akhirnya usahaku tidak sia-sia Cyra datang untuk menjaga aku. Tidak apa-apa sakit dan panas karena terkena air panas kalo Cyra datang rasanya sudah hilang rasa pegal dan panas itu," gumam Naqi sembari bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum. Padahal kalo tidak ada Cyra di ruangan itu dia sudah meminta dokter untuk melakukan ini dan melakukan itu, terlebih Naqi pobia darah, luka dan tidak bisa memimum obat dalam bentuk bulat. Ribet banget kalo harus mengurus Naqi sakit karena memang dia melebihi anak kecil yang susah meminum obat.


"Kalo memang tidak ada yang bisa di bantu. Saya akan duduk di sana (sofa pojokan ruangan) Nanti kalo Mas butuh sesuatu pqnggil saja." Cyra akhirnya meninggalkan Naqi untuk duduk di sofa pojok ruangan, di mana di sana bisa sekalian meliahat-lihat ke luar ruangan. Sebenarnya jantung Cyra berdetqk tidak berhenti sejak tadi, tetapi diaencoba bersikap santai dan mencoba bersikap santai layaknya tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.


Berbeda dengan Naqi yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Terima kasih ya Tuhan akhirnya engkau mengabulkan doaku, semoga Cyra dan aku berjodoh kembali. Aku pasti akan melakukan apapun itu sehingga Cyra mau memaafkan kesalahanku," batin Naqi sembari sesekali tetap mencuri menatap Cyra.


Sementara Cyra bukanya tidak tahu bahwa sejak tadi Naqi mencuri pandang padanya tetapi Cyra membiarkanya. Naqi bahagia dengan caranya.


"Haduh ini kakak Ipar malah meminta aku menemani dirinya di rumah sakit, makin jadi obat nyamuk aku dong," gerundel Qari di dalam ruanganya. "Kira-kira Abang lama tidak yah di rumah sakit, mengingat Naqi banyak kerjaan di kantor. Lagian kenapa Abang bisa ada di tempat itu sih," batin Qari, ia mulai cemas pasalnya apabila Abangnya tidak bisa mengerjakan laporan otomatis dia yang nanti menggantikan dirinya untuk memegang kendali pekerjaanya.


Yah mau tidak mau yang mengerjakan pekerjaan kantor untuk saat ini adalah Qari. "Tidak apa-apa Qari, semuanya tidak akan lama kok, bukanya sudah ada pawangnya jadi sakitnya pasti tidak akan lama," batin Qari untuk menghibur dirinya sendiri, di mana ia harus menggunakan semua energinya untuk mengerjakan laporan-laporan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran.


****


Kembali ke rumah sakit. "Ra kalo boleh tahu kamu selama ini kemana sih? Kenapa aku cari-cari kamu tetapi kamu seolah sengaja menghindar dari aku sampe-sampe aku cari kamu kemana pun aku tidak menemukanya?" tanya Naqi memecah kebisuan diantar mereka. Di mana mereka saling kenal tetapi pada sibuk dengan fikiranya masing-masing. Masih pada sibuk dengan gengsi dan enggan untuk memulai obrolan.


Cyra yang memang tengah melamun pun kaget ketika, Naqi tiba-tiba bertanya. "Hah, kenapa?" tanya balik Cyra yang tidak menyimak pertanyaam Naqi.


Naqi pun terkekeh, manakala melihat expresi Cyra yang baginya sangat lucu.


"Aku tanya, kamu kemana saja kenapa kamu seolah pergi entah kemana dan aku cari-cari tidak ketemua-ketemu juga?" tanya ulang Naqi dengan nada di bikin sepelan mungkin agar Cyra dapat menyimak.


"Memangnya kenapa Mas Naqi nyariin Cyra, bukanya Mas Naqi memilih Mba Rania dari pada Cyra? Lalu Mas nyari-nyari Cyra biar apa?" tanya balik Cyra dengan nada santai tetapi tegas.


"Aku minta maaf Ra karena kebodohanku kamu harus menanggung rasa sakit yang luar biasa tidak hanya itu kamu juga harus melewati hari-hari yang berat semuanya karena kebodohanku. Tapi kalo kamu mau memberikan kesempatan lagi buat aku pasti aku tidak akan mengecewakan kamu. Aku sadar Ra aku sangat-sangat mencintaimu. Pelajaran kemarin sudah cukup membuat aku kehilangan semuanya. Aku sadar hanya kamu wanita yang baik dan sangat berarti bagi aku." Naqi tidak bisa lagi menunggu nanti atau lama-lama lagi, ia ingin Cyra tahu bahwa dirinya sangat-sangat mencintai Cyra.


Cyra menyimak apa yang Naqi katakan. "Maaf Mas bukan Cyra tidak mau kembali dengan Mas seperti dulu, hanya saja Cyra ingin kita berteman dulu, saling mengenal dan saling tahu keburukan dan kejelekan masing-masing, dan kelebihan sebagai bonus. Cyra tidak mau nanti malah kembali menelan kekecewaan. Lebih baik seperti ini. Cyra nyaman seperti ini, tidak harus apa-apa disangkut pautkan ke sebuah hubungan yang lebih. Lagian kalo kita masih ada garis jodoh pasti akan ada jalanya sendiri. Kita nikmatin saja sebagaimana hubungan kita sekarang, tanpa menuntut dan menyakiti," ucap Cyra lebih terlihat santai.


Yah Naqi tahu ketika ia sudah terlalu banyak menyumbang kesedihan maka dia akan sulit mendapatkan kepercayaan yang sama seperti dulu. Naqi mencoba menarik ujung bibirnya, benar kata Cyra mereka lebih baik saling mengenal lebih dulu sehingga tidak ada kekecewaan lagi.