
Begitu sampai di halaman rumah, Meta membuka pintu mobilnya.
"Bisa jalan tidak?" tanya Meta khawatir dengan kondisi Fifah.
Fifah mengangguk. Lagian yang luka wajahnya Met, tentu Fifah masih bisa jalan. Namun Meta dengan sigap memapah Fifah. Ia merasa Fifah itu seolah menahan sakit di bagian perutnya.
"Apa laki-laki baj*ngan itu melukai perutmu juga?" tanya Meta.
"Tidak, tapi entah lah seolah perutku sakit bagian bawahnya, mungkin akan datang bulan." Fifah menganggap santai, tetapi tidak dengan Meta, ia tetap khawatir dengan Fifah.
"Kalo besok masih sakit juga, kita periksa yah, kebetulan disekitar sini ada bidan. Kita periksa ke bidan saja, aku takut ada apa-apa dengan kamu."
Fifah hanya mengangguk.
"Nyak... Nyak..." Meta yang baru masuk rumahnya sudah heboh.
"Hus... berisik banget punya anak udah gede juga kaya masih bocah bawaanya teriak-teriak terus," omel Mamah Mia, tapi sedetik kemudian ia kaget, ketika melihat Meta memapah wanita yang wajahnya bahkan bengkak, babak belur.
"Hay, Wan. Dia kamu apakan?" tanya Mamah Mia hendak marah sama Meta.
"Korban KD'RT( Kekerasan dalam rumah tangga) Mah, dia hampir di bunuh sama lakinya. Untung anakmu yang tampan ini segera datang dan menyelamatkan dia. Coba tadi Mamah ada di lokasi pasti bangga liat anaknya yang berlagak meninju dan menendang lakinya dia." Meta dengan pede menceritakan kronologi dia melawan Niko.
"Minum dulu Neng." Mamah Mia menyodorkan segelas air putih pada Fifah.
Mamah Mia memegang wajah Fifah yang biru dan sedikit membekang. "Pasti ini sakit banget yah Neng, nanti Mamah kompres yah biar nggak bengkak begini. Kasian banget sih nasib kamu Neng." Mamah Mia sangat iba dengan kondisi Afifah.
Fifah yang terharu karena mendapatkan keluarga yang baik pun kembali meneteskan air mata. Benar apa kata Meta kalo dia telah datang, apa dirinya masih berada di dunia ini.
Mamah Mia pun kembali ke dapur untuk membuatkan teh hangat, dan mengambil es batu untuk mengompres wajah Fifah.
"Ngomong-ngomong kamu namanya siapa? Aku sampe lupa tanya nama kamu?" tanya Wawan sembari mengeser duduknya yang menjadi berdekatan dengan Fifah.
"Afifah, biasa di panggil Fifah tapi kalo mau panggil Ifah ajah juga boleh. Bebas lah,"
"Nama yang cantik, sama kayak orangnya," puji Wawan.
"Kalo kamu namanya siap?" balas Fifah.
"Kalo aku, kalo siang Meta, kalo malam Wawan," kekeh Wawan dengan suara dibikin menyerupai laki-laki sejati.
Fifah sampe kaget dengan perubahan suara Wawan.
"Ko bisa beda-beda gitu sih? Apa nggak cape? Kenapa nggak jadi diri sendiri ajah sih?" tanya Fifah heran.
"Tuntukan kerjaan sayang. Kebetulan dua-duanya nyaman ko, jadi cewek nyaman, jadi cowok juga nyaman. Cuma resikonya jadi nggak ada cewek yang mau jadi istri Mas Wawan ini padahal orangnya tanggung jawab, baik, pekerja keras, sayang orang tua. Tapi cewek-cewek ngira Mas Wawan ben-cong yang sukanya lon-tong, kali jadi mereka nggak mau jadi pacar aku apa lagi istri. Padahal dia nggak tau Mas Wawan juga doyan gunung dan kue Apem," kekeh Meta ia mulai melawak agar Fifah tidak sungkan tinggal di rumah.
Fifah pun terkekeh dengan jawaban Wawan. Tidak lama Mamah Mia datang.
"Wan, sono mandi kek, udah kaya nggak pernah liat cewek ajah. Mata di kondisikan." Mamah Mia mengusir Wawan yang masih berdandan cewek agar segera mandi. Terlebih Wawan melihat Fifah itu seperti oramg kelaparan. Berbeda ketika melihat Cyra yang ia anggap anaknya. Ketika melihat Fifah mata Wawan seperti akan menerkamnya.
"Wawan pun setelah di usir sama Mpok Mia langsung naik keatas, untuk mandi dan akan turun lagi ketika makan malam. Gara-gara nonjok Niko, perut Wawan sudah keroncongan lagi. Padahal sebelum pulang ia sudah makan mie ayam bersama Cyra.
Setelah satu jam Wawan pun kembali turun dan kini dengan penampilan lakinya. Fifah pun kaget melihat Wawan dengan wujud aslinya. Wajahnya yang lumayan tampan, bersih mungkin karena Wawan suka perawatan.
"Hay sayang, liatnya biasa ajah, nanti naksir susah obatnya," canda Wawan sembari menoel pundak Fifah.
"Apaan sih orang liat biasa ajah ko, cuma kaget banget ko beda banget sama tadi. Tadi mah ada gunung di dadanya ko sekarang rata," ucap Fifah sembari memperagakan dengan tanganya di depan dadanya.
"Yeh, kan tadi sudah aku bilang, tuntutan kerjaan. Lagian cape sayang pake kostum gituan itu, tapi demi keluarga Abang rela lakuin. Ngomong-ngomong Neng mau nggak di nafkahin sama Abang," goda Wawan.
Awwwww....ringis Wawan yang di jewer sama Mpok Mia.
"Nggak usah macam-macam dia masih bini orang," ucap Mamah Mia. Yah, tadi sambil ngompres pipi Fifah, Mamah Mia sudah bertanya tentang siapa Fifah.
Fifah pun bercerita dengan detail tanpa ada yang ditutup-tutupi termasuk ia yang mencoba bertahan karena keluarganya yang membutuhkan uang dari Niko.
Setelah mendengar cerita Fifah, Mamah Mia pun tidak keberatan apabila Fifah mau tinggal di rumahnya.
Fifah pun sangat bersyukur karena kebaikan Mamah Mia. Bahkan beliau tidak mengizinkan ketika Fifah hendak membantu menyiapkan makan malam.
"Aduh, Nyak, sakit dong, Masa di jewer depan cewek. Harga diri ini, harga diri. Bisa jatuh harga diri anakmu yang tampan rupawan ini," cicit Wawan sembari membernarkan kerah bajunya.
"Enggak usah di denger Neng, dia mah emang gitu. Udah matang tapi belum ada cewek yang mau dinikahin jadi ngaco," kekeh Mamah Mia, yang memang dia dan Wawan sama-sama suka bayol (bercanda) jadi gitu.
"Bo'ong Fah, yang ngantri pengin di kawinin mah banyak, cuma Abang nunggu jandanya Neng Fifah ajah lah." Wawan sepertinya benar-benar tertarik dengan pesona Fifah.
"Wa-Wan...!!!!" pekik Mamah Mia memperingatkan Wawan yang bercandanya kelewatan.
"Kenapa sih Nyak, emang dia mau jadi janda kok. Lagian Wawan bakal nggak setuju kalo tuh laki baji'ngan mendekati Fifah lagi. Emang Mamah mau nih cewek balik sama tuh laki, terus besoknya masuk berita ditemukan sebuah M-A-Y-A-T, dengan luka bla bla bla dan diduka pembu'nuhan karena K-D-R-T penyebabnya tidak hamil-hamil. Padahal nikah baru enam bulan udah nuntut hamil, yang udah lima tahun baru hamil ajah banyak. Dasar laki setres dia itu." Wawan sangat tidak setuju apabila Fifah balik sama suaminya. Jadi dia yang akan mengurus perceraian Fifah. Justru lebih semangat Wawan agar Fifah bercerai dengan Niko.
"Amit-amit ih... kamu kok ngomongnya gitu Wan?" tanya Mamah Mia ia mengetok-getok kepalanya dengan tanganya.
"Abisan laki dia itu gila Mah, jadi mau nggak mau Fifah harus cere sama dia." Wawan sudah menggetok palu pengadilan.
"Kamu masih sayang nyama kamu kan? Kalo masih sayang cere sama Niko!!" Wawan berbicara pada Fifah.
Fifah pun mengangguk. "Aku mau cere sama Niko," ucap Fifah dengan sedikit lega. Setidaknya ada harapan agar dia bebas dari Niko.
"Bagus, kalo gitu kita besok priksa visum sekalian untuk bukti kekerasan yang di lakuin laki kamu biar proses perceraiam kalian cepat dan tidak berbelit-belit.
Untung tadi juga Meta sempat merekam Kejadian di mana Niko tersungkur karena ulahnya dan kondisi Fifah pertama ia temukan.
Wawan pun tersenyum dengan jahil. "Bagai mana kalo gue ngerjain tuh laki, gue laporin ajah tuh laki kasus KD-RT pasti dia ngersain karma." Wawan tertawa renyah, tentu saja Mpok Mia dan Neng Fifah kaget, mengira Wawan kesambet.