Dukun Muda Mencari Cinta

Dukun Muda Mencari Cinta
Bab 40 Jang Jawokan


Bab 40 Jang Jawokan


Seperti biasa sebelum pulang jagat mampir ke warung tengah sawah nya Ceu Rodiah untuk memesan makanan seperti mie telor plus sayur dan segelas kopi hitam.


Kebetulan mang Maman ada di sana sedang beres beres, karena sebentar lagi mau tutup, waktu sudah menunjukan jam 4 sore dan warung Ceu Rodiah tutup jam 5.


Ceu Rodiah memang selalu tutup jam 5 sore meskipun masih banyak pelanggan yang masih nongkrong tetapi pelanggan itu pun sudah tahu karena sudah tradisi dan pelanggan itu satu persatu pergi meninggalkan warung tersebut.


"Ceu biasa ya, mie telor plus sayur dan kopi hitam" pinta jagat yang tiba-tiba datang dan langsung duduk.


Ceu Rodiah yang ada di dalam mengangkat jari jempolnya "Asiap..."


Melihat jagat yang sedang duduk di bangku mang Maman pun menghampirinya "Nak jagat, apa tadi pagi Ajeng datang ke rumah kontrakan nak jagat" mang Maman bertanya penasaran.


Jagat menaggukan kepalanya "Iya mang dia datang membawa makanan tetapi aku kembalikan" jagat bicara tidak panjang lebar.


"Hanya ingin tahu saja, soalnya Ajeng bilang kamu sudah tidak ada di rumah tetapi dia membawa kotak nasi bekas kemarin yang kamu bawa" ucap mang Maman.


Jagat menyeringai "pantas, Ada orang yang ingin membuatnya menjadi gila, karena sifatnya sangat bagus"


Mendengar perkataan itu mang Maman menggelangkan kepalanya "Memang sifat Ajeng arogan dan sombong, itu karena dia sangat di manjakan oleh kedua orang tuanya"


Kemudian jagat pun mengalihkan pembicaraan dan menanyakan tentang anaknya yang sedang PKL "Bagai mana Asri, apakah sudah menghubungi mang Maman"


Mang Maman mengangguk "iya, katanya dia betah di sana dan semua karyawan disana baik serta membantu dia"


Jagat menyeringai dan berbicara di dalam hatinya "ya iya, kan aku bilang dia keponakan pemilik hotel Arssad, hehehe...."


Jagat senyam senyum sendiri, kemudian di tanya mang Maman "Eh, kenapa nak jagat senyum sendiri apa ada yang lucu"


Jagat menggelengkan kepalanya "tidak kok mang"


"Eh tadi mamang kerumah, tetapi pintunya di kunci dan kayaknya ada orang di dalam rumah, karena sedikit berisik seperti ada orang yang sedang beres beres" tanya mang Maman sambil menatap dengan tatapan selidik.


"Itu hanya halusinasi mang Maman saja, kan aku ngontrak rumah sendiri masa ada orang lain di dalam rumah" jawab jagat


Mang Maman pun sedikit berpikir "iya ya kan dari pagi nak jagat gak ada di rumah, terus siapa yang ada di dalam rumah jangan jangan....."


Jagat tersenyum melihat ekspresi wajah mang Maman yang ketakutan dan mengira orang yang ada di dalam rumah kontrakan jagat itu hantu.


Memang jagat sengaja membiarkan Ayu Dias berada di dalam rumah untuk membiasakan diri bergerak karena pergerakan ayu Dias sangat kaku, dia adalah hantu pocong, tetapi jagat sengaja membuka Bo'eh pocong dan diganti dengan daster.


"Kan mang Maman tahu sendiri rumah itu hanya ada 1 di tengah kebun bambu dan beberapa hari yang lalu ada yang meninggal dunia dan di makamkan dekat sana, ya mungkin hantu pocong perempuan yang sering di ceritakan oleh penduduk sini yang gentayangan" ucap jagat menakuti.


"Mungkin saja nak jagat, eh apakah nak jagat tidak takut dengan makhluk astral seperti itu" tanya mang Maman.


"Ya kalau ada sih akan aku jadikan bantal guling mang buat nemenin tidur " ucap jagat bercanda.


Padahal emang ayu Dias adalah hantu pocong yang gentayangan yang di bicarakan warga kampung Hoe dan sekarang memang suka di jadikan bantal guling oleh jagat untuk nemenin tidur.


"Ah nak jagat bisa aja bercandanya, eh ngomong ngomong, masalah KTP apa benar nak jagat itu paranormal" tanya mang Maman


Ceu Rodiah yang mengantarkan mie telor plus sayur dan segelas kopi hitam mendengar jelas apa yang di katakan suaminya itu.


Ceu Rodiah menyerahkan mangkuk mie telor dan segelas kopi kemudian duduk di dekat mang Maman sambil menegaskan "Apa benar apa yang di katakan Bapak, nak jagat, secara nak jagat pas datang ke mari bisa menyembuhkan di Cahya yang terkena Patukan ular berbisa.


Terus Ajeng bisa sembuh setelah sekian lama berobat ke orang pintar dan hanya nak jagat yang bisa menyembuhkannya"


Jagat pun menjelaskan "Aku ini Cucu kuncen Gunung Moeza, dan di kampung ku sudah turun menurun bergulat dengan hal yang berbau mistis, jadi sedikitnya aku pun bisa, tapi tidak banyak hanya untuk penjagaan diri saja.


Dan masalah KTP itu adalah kerjaan temanku yang kerja di balai desa dan memang kebanyakan di kampung Moeza selain jadi petani mereka membuka praktek perdukunan.


Jadi mungkin untuk penduduk kota B ini aneh kalau di KTP nya tertera pekerjaan paranormal, padahal aku hanya mahasiswa kedokteran"


Mendengar itu, mang Maman yang penakut meminta pencerahan dan jampi jampi supaya tidak takut makhluk astral. "Nak jagat, kan bisa yang gituan, boleh tidak mamang minta supaya mamang tidak takut hantu, yang semacam Jiman atau mantra"


Jagat tersenyum dan menjawab "Kalau soal takut atau tidak itu tergantung dari diri sendiri mang, menkipun mamang memegang jimat tetap saja kalau takut ya takut, tetapi kalau mamang tidak mau di ganggu sama hantu, aku kasih tahu Jang jawokan (mantra) supaya mamang tidak di ganggu"


"Oleh tuh, bentar mamang ngambil dulu alat tulis biar mamang tulis dan nanti di hapal" ucap mang Maman sambil berdiri dari tempat duduknya dan mesuk kedalam warung untuk mengambil alat tulis.


Setelah beberapa lama mang Maman pun kembali "sok atuh nak jagat mamang sudah siap"


"Tapi ingat ya mang Maman, Jang jawokan ini setelah mamang hapal kertas itu harus di bakar kemudian abu pembakarannya di satukan kadalam kopi dan di minum" ucap jagat


"Kenapa harus di bakar dan di masukan kopi terus di minum nak jagat" tanya mang Maman.


"Ya, sebetulnya Jang jawokan ini tidak boleh di tulis, hanya harus langsung menghapal nya langsung, tetapi apabila di tulis, ya itu syaratnya, kertas yang ada tulisannya harus di bakar dan di satukan dengan kopi lalu di minum supaya ilmunya meresap sampai kedalam tubuh" ucap jagat.


Mang Maman pun mangut manggut "Iya deh kalau begitu mamang mengerti, sok atuh siap Ama mamang akan di tulis"


"Ya tulis mang, bait pertama.


Teu Wanoh, Teu Wani, Teu wawuh" ucap jagat.


Mang Maman pun menulis bait pertama sambil menggerutu "Teu wani, teu Wanoh, Teu wawuh. ya terus"


"Bait ke 2. Sia sieun Ku aing, Aing sieun ku sia" ucap jagat.


Mang Maman kembali menulis bait ke 2 "Sia Sieun Ku Aing, Aing sieun ku sia, ya terus"


"Bait ke 3 ya mang ini terakhir, Sia Nonggong Aing Lumpat"


Mang Maman menulis bait ke 3 "Sia Nonggong Aing Lumpat"


Kemudian mang Maman membaca keseluruhan Jang jawokan tersebut yang di ditulis di kertas selembar yang dia sobek dari buku warung Ceu Rodiah.


"Teu Wanoh, Teu wani, Teu wawuh


Sia sieun ku Aing, Aing Sieun Ku Dia


Sia Nonggong Aing Lumpat. Benerkan begitu bunyinya"


Jagat pun menganguk "iya mang betul, dan di ucapkan ketika di tempat sepi dan angker ya"


"Terima kasih ya nak jagat" ucap mang Maman.


Jagat pun kemudian menyantap makanan yang sudah di depannya dan meminum kopi hitam kesukaanya setelah beres jagat pun membayar dan pamit kepada mang Maman dan Ceu Rodiah.


Yang kebetulan mereka berdua pun sudah mau tutup karena sebentar lagi menjelang magrib, dan waktunya para makhluk astral seperti hantu keluyuran sehingga, warga penduduk kampung Hoe tidak berani keluar rumah setelah akan menjelang malam.


Karena ada istilah Sarep na, dan kalau ada anak kecil yang keluar makan katanya akan di culik hantu yang di sebut kalong wewek


***


*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.


*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.


Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini


👇


http://saweria.co/DaniSutisna