Dukun Muda Mencari Cinta

Dukun Muda Mencari Cinta
Bab 285 Jatah Bensin


Bab 285 Jatah Bensin


Setelah jagat pergi, indah bertanya kepada feri "apa yang kalian bicarakan, sungguh aku tidak mengerti, mengenai cincin, kitab dan keluarga jawara?"


Indah menghela nafasnya dan kemudian bertanya lagi "Siapa mereka apa kamu mengenalnya, mengapa bang Agus yang di kenal sebagai kepala pereman sampai berlutut di depannya?"


Feri memegang tangan indah dan menjawab "Kita dengan mereka ada di dunia yang berbeda"


"Maksud mu, mereka bukan manusia ?" Ucap indah kaget.


Feri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya "Buka, mereka itu dari dunia jawara, atau para ahli beladiri yang tidak bisa kita jangkau, ibarat hewan di hutan mereka ada di rantai makanan paling atas"


Indah sedikit mengerti dengan penjelasan dari feri dia pun mengangguk anggukkan kepalanya.


"Oh jadi mereka orang yang sangat hebat, begitu"


Feri mengangguk "iya mereka sangat hebat, bahkan setara dengan para pejabat di kota ini"


Indah pun kembali bertanya "Trus bagai mana dengan kita, apakah nanti kita akan di ganggu oleh Bram dan teman temannya kembali"


Feri menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin, orang tadi menyebut bahwa aku adiknya, mungkin kedepannya Bram dan teman temannya akan menghormati kita, dan bahkan kita bisa menindas balik mereka"


Mata indah berbinar "Benarkah....!"


Di rumah sakit Wijaya tepatnya di ruangan divisi khusus, Jagat sudah sampai dan duduk di kursinya.


"Bagai mana bisa kitab ini ada pada anak itu ?" Tanya Elis kepada jagat sambil mengeluarkan kitab tarian pedang bidadari kayangan.


Sofy mengingatkan "Bukanya kamu yang mencari informasi dari orang itu dengan sentuhan mu, kata mu dia keturunan keluarga Saksana, sudah pasti kan, dari dulu keluarga Saksana selalu menginginkan harta dari keluarga Tandjaya, buktinya waktu aku pertama kali datang ke kampung mu, mereka menginginkan batu wulung Ireng dengan alasan kompensasi karena kita sudah menghajar Darya"


Elis pun menganggukan kepalanya "Benar juga yah, terus ngapain juga aku pikirkan hal itu, yang penting aku mendapatkan kitab ini dan dapat mempelajarinya"


Jagat kemudian mengeluarkan kitab satunya lagi kemudian dia berikan kepada Sofy "Ini untuk mu, pelajari lah, itu cocok di gunakan dengan pedang yang kamu miliki"


Mata sofy pun berbicara "Astaga gambar pedang di kitab ini mirip dengan pedang milik ku, ini kitab pedang Phoenix Api Abadi"


Kemudian sofy ingin memeluk dan mencium jagat tetapi Elis keburu mencegahnya "Ait, apa yang hendak kamu lakukan, apa kamu tidak tahu ini di mana, bersikap lah propesional, kalau mau peluk cium mas say, nanti di rumah, kita sama sama memeluk dan menciuminya"


Sofy tersipu malu, sambil menggaruk kepalanya "ya maaf...."


Kemudian satu persatu dokter dan suster yang telah selesai beristirahat kembali masuk kedalam ruangan ini.


Dokter Dian, suster Lita dan Arman duduk di dekat dengan jagat, mereka seperti enggan jauh jauh dari dirinya.


Yang terakhir datang adalah dokter Yohanes dan dokter Calvin, mereka pun terkejut melihat para dokter yang kursinya di pepetkan dekat dengan jagat.


"Hai meja ini panjang, tapi kenapa kalian malah mepet ke belakang, ayo kembalikan kursi kalian dengan benar" ujar dokter Calvin.


Di tegur oleh pimpinan divisi mereka pun dengan enggan menggeser kembali posisi duduk mereka.


"Kenapa sih kalian malah mepet dekat dokter magang itu, kalian itu dokter dan perawat yang bekerja di sini, sedangkan dia hanya dokter magang" cibir dokter Yohanes.


Melihat Elis dekat dengan jagat, dokter Yohanes pun merasa marah, tetapi dia tidak bisa meluapkan emosinya.


Dokter Yohanes memang menyukai Elis dari dulu, tetapi Elis selalu menghindari dokter Yohanes.


Dia dokter yang tidak tahu diri, sudah memiliki anak istri masih Tetapi masih gigih mengejar Elis.


Dia tidak tahu kalau Elis bahkan sofy sudah menjadi milik jagat seutuhnya, hanya dokter Dian sajalah yang mengetahui hal itu dan itu pun dia rahasiakan dari rekan kerjanya yang lain.


"Hai Elis, kursi di samping ku ini masih kosong, kenapa kamu mepet di tempat yang sempit bersama dokter jagat, ayo pindah ke tempat ini" seru dokter Yohanes.


Memang kursi yang di duduki jagat tempatnya sempit karena ada lemari peralatan dan benda yang lainnya.


Jagat pun menganggukan kepalanya supaya Elis pindah dari tempat duduknya.


Elis pun bangkit dan berpindah duduknya di samping dokter Yohanes.


Tok.... Tok.... Tok....


Suara ketukan pintu dari luar


Dokter Calvin pun berteriak "Ya masuk"


Pintu pun terbuka dan masuk seorang suster yang meminta ijin kepada dokter Calvin "Maaf dokter Calvin, bisakah aku meminjam dokter Sofy, Dokter Bedah memerlukan dokter Sofy saat ini, karena ada keadaan darurat"


Dokter Calvin pun mengangkat tangannya "Ya silahkan"


Kemudian dokter Calvin berkata kepada Sofy "Dokter sofy, kamu di suruh mendatangi dokter bedah segera"


Sofy pun beranjak dari tempat duduknya kemudian dia keluar dari ruangan ini dengan di dampingi suster tadi.


Beberapa menit duduk di ruang divisi khusus jagat hanya melihat tingkah laku dokter Yohanes, dia sedikit gelisah dan sesekali ingin membuka percakapan dengan Elis, tetapi dia tidak tahu apa yang akan dia bicarakan.


Dan beberapa kali tangannya ingin memegang tangan Elis, tetapi itu tidak berhasil karena tangan Elis bergerak ke arah yang lain sehingga dokter Yohanes tidak berhasil meraih tangan Elis.


Jagat pun ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku dokter Yohanes, tetapi dia menahannya.


Mereka pun di buyarkan oleh pertanyaan dokter Calvin "Hai dokter jagat, bagai mana dengan tugas mu, apa sudah selesai ?"


"Ya dokter Calvin, aku sudah selesai menjalankan tugas, dan hasil laporannya ada di Suter Elis" jawab jagat.


Elis lupa, laporan tadi belum di serahkan dan dia pun mengambil laporan itu kemudian menyerahkannya kepada dokter Calvin.


Dokter Calvin pun memuji jagat "Bagus lah, mereka sangat puas dengan pelayanan mu, reting rumah sakit ini bisa meningkatkan kalau begitu, jadi untuk kedepannya, pasien yang perlu kunjungan khusus aku serahkan kepada mu ya"


Dokter Calvin memuji sekaligus menjerumuskan jagat supaya dia susah, dokter Calvin dan dokter Yohanes sudah membuat kesepakatan untuk jagat.


Jagat akan di buat kerepotan untuk menangani pasien di luar rumah sakit dan menjauhkan dia dari Elis dan Sofy.


Jagat pun tidak bisa menolak, karena di tempat ini dia hanyalah dokter magang dengan rekomendasi tuan Wijaya, sehingga mau tidak mau jagat harus menerimanya.


Jagat pun mengangkat tangannya dan bertanya "Dokter Calvin, boleh saja aku di tugaskan untuk menangani pasien di luar rumah sakit, tetapi apakah ada anggaran khusus untuk transportasi, karena kita berangkat membutuhkan transportasi, meskipun memiliki kendaraan sendiri kita membutuhkan bensin untuk kendaraan kita, kalau keluar dari kantong pribadi lebih baik anda cari dokter lain saja"


Jagat pun berbicara dengan tegas, boleh saja di tugaskan di luar, tetapi setiap orang perlu ongkos atau uang bensin, percuma kalau ongkos di ambil dari dompet pribadi, lebih baik buka praktek sendiri dari pada bekerja di rumah sakit hanya kerja rodi, itu yang ada di pikiran jagat saat ini.


Bukan berarti jagat materialistis, uang di matanya hanya sekedar kumpulan angka, tidak menjadi dokter pun jagat bisa menghasilkan banyak uang.


Dokter Calvin pun mengangguk "ya ada, kamu hanya mendapatkan jatah bensin sebesar 50 ribu rupiah dalam setiap tugas luar"


"Ya lumayan lah segitu juga, dari pada tidak dapat apa apa, kamu juga bisa meminjam kendaraan rekan kita di sini dan isi bensin sebanyak 50 ribu" cibir dokter Yohanes.


Jagat hanya tersenyum mendengar cibiran dari dokter Yohanes.


Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika jagat di tugaskan di luar, tentunya dia akan membentuk relasi yang akan menguntungkan dirinya.


Tadi saja jagat mendapatkan uang lebih dari 1 milyar dari pengganggu yang mengatasnamakan perguruan beladiri aliran Gorio-rio


Apa lagi nanti kalau orang kaya yang membutuhkan pengobatan jagat, mungkin miliyar rupiah yang akan jagat dapatkan kedepannya.


***


* Bersambung