
Bab 202 Elis Kesurupan
Di perjalanan Jagat, di dalam mobil Elis dan Sofy sedangkan bermeditasi di kursi belakang mobil, jiwa mereka sedang berada di dalam cincin Wulung Ireng.
Mereka sedang berlatih ilmu beladiri yang diwariskan dari keluarga Tandjaya, yang di tinggalkan di cincin batu wulung Ireng utama, yang diberikan kembali oleh jagat kepada nyai Danastri.
Memang di dalam cincin batu wulung Ireng itu waktu seakan berhenti karena di dalam ruang dimensi batu tidak memiliki konsep waktu.
Tetapi bukan berhenti jika tinggal di dalam ruangan dimensi itu waktu di dunia nyata akan berhenti, di dunia nyata waktu terus berjalan seperti biasanya.
Hanya saja kalau kita memasukan semisal daging ayam yang masih panas, maka setelah satu hari atau satu bulan, daging ayam tersebut akan tetap panas dan tidak terjadi pembusukan.
Dan apabila memasukan jam kedalam ruang dimensi batu wulung, maka jam itu tidak akan berdetak atau berpungsi, kecuali di keluarkan kembali di dalam batu itu.
Elis dan Sofy duduk seperti manakin yang tidak bergerak sedikit pun. Jagat yang sedang menyetir mobil pun sesekali menengok mereka dari kaca spion yang ada di dalam.
Terlihat keringat bercucuran di dahi Elis dan Sofy, meskipun hanya jiwanya saja yang sedang belajar beladiri, badannya pun berpengaruh, Karena merespon kekuatan yang di miliki jiwa mereka.
Sebenarnya mereka sudah sampai di kota T, tetapi jagat tidak berniat untuk mampir terlebih dahulu ke hotel Arssad cabang kota T.
Dia lebih memilih langsung pergi ke rumah pak sudewo, karena sebelumnya jagat sudah menghubungi pak sudewo, dan pak sudewo pun mengirimkan lokasinya lewat aplikasi.
Jagat hanya tinggal mengikuti rute yang di tampilkan di layar ponselnya dan dia pun memasukan jalan kampung yang banyak bebatuan dan jalannya belum di aspal.
Karena goncangan itu membuat Elis dan Sofy terbangun dan mereka pun bertanya "Apa kita sudah sampai?"
"Belum, sebentar lagi kita sampai" jawab jagat sambil melihat kaca spion.
Kemudian jagat balik bertanya "Bagai mana dengan latihan kalian?"
Elis menjawab "Aku baru menguasai dan memahami 2 halaman dari kitab itu"
Sofy pun mengangguk "Aku juga sama, jurus ini sangat susah, padahal aku dulu bisa mempelajari sesuatu dengan sekali lihat, tapi ini benar benar berbeda"
"Ya karena itu bukan kitab beladiri sembarangan, di dalamnya bukan hanya menggunakan pisik tetapi juga tenaga dalam, sehingga sedikit sudah dalam pembelajaran beladiri tersebut"ucap jagat.
Mobil jagat pun memasuki wilayah perkebunan dan tidak lama setelah itu mereka memasuki perkampungan.
Di sini pemukiman penduduk, jarang jarang, hanya ada 20 sampai 50 rumah, kemudian perkebunan dan setelah beberapa lama ada pemukiman lagi.
Jagat pun memberhentikan mobilnya dan menepi di salah satu pemukiman penduduk yang kelihatannya sedang berkumpul.
Jagat berniat untuk bertanya kepada Warga, mengenai rumah pak sudewo, Karena lokasi di handphone milik jagat mulai error.
Di daerah itu sudah tidak dapat menangkap sinyal, warga di sana pun memakai parabola untuk menonton televisi.
Sehingga sinyal handphone tidak lagi terjangkau, sehingga jagat harus bertanya kepada warga sekitar.
Jagat, Elis dan Sofy pun turun dari dalam mobil, dan melangkah menuju warga yang sedang berkumpul dan entah sedang mengerumuni seseorang.
Terlihat ada seorang ibu muda yang sedang bersimpuh dan menangis, dan ada satu ibu ibu yang marah sambil menunjuk nunjuk ke arah ibu muda yang sedang bersimpuh itu.
"Hai Endah, nama mu saja Endah tapi sifat mu tidak ada indah indahnya, sudah jelek suka gosip orang, apa maksud mu membicarakan ku" ucap ibu yang marah sambil bertolak pinggang.
Tidak ada yang berani menengahi ibu yang sedang marah itu, dia terus mencaci maki ibu muda yang di panggil Endah itu.
Di sana ada salah satu ibu ibu berambut keriting sedang menonton pertunjukan itu di barisan paling belakang..
Elis pun mendekat kemudian dia menepuk pundak ibu yang berada di barisan paling belakang itu.
"Maaf Bu, ada apa ya ini, ko rame gini ?" Tanya Elis.
"Itu tuh si Endah berani gosipin Bu Jubaedah, sehingga dia di labrak oleh Bu Jubaedah" jawab ibu itu.
Jagat dan Sofy pun ikut di belakang Elis, tetapi Elis terus merangkak masuk ke dalam kerumunan.
Kemudian Elis tersandung dan berguling ke arah depan dan mendarat tepat di depan Endah.
Semua orang terkejut melihat Elis yang tiba-tiba muncul dan terjatuh di depan mereka, ibu Jubaedah pun sampai berhenti memarahi Endah.
Mereka pun bertanya tanya siapa yang datang dan tiba tiba terjatuh di tengah tengah mereka.
Salah seorang warga mencoba untuk membangunkan Elis "Nona anda tidak apa apa"
Tetapi Elis mengibaskan tangannya menolak untuk di bantu, Elis pun langsung mengerang "Eum......"
Mata Elis melotot dan tangannya
Membentuk cakar dia pun seakan kerasukan. Warga pun menjadi panik Karena ada orang yang baru datang langsung kerasukan.
Sofy pun tanpa sadar berbicara lantang "Elis Kesurupan"
Salah satu warga berteriak kepada istrinya "Hai Bu, cepat panggil pak ustadz, ada yang kesurupan"
"Baik pak" ucap ibu itu.
Sepertinya bapak itu Seorang ketua Rt di pemukiman tersebut karena terlihat lebih berwibawa dari
Pada warga lainnya.
Jagat pun langsung menghampiri Elis yang sedang kesurupan tersebut "Maaf bapak bapak, ibu ibu, dia istri ku, kami baru datang dari kota dan hendak menuju ke rumah pak sudewo kami mampir kesini untuk bertanya, tetapi apalah daya istri ku menjadi begini"
Jagat menjelaskan kepada warga bahwa dirinya baru datang dari kota dan hendak pergi mengunjungi pak sudewo.
Kebetulan pak sudewo adalah orang terkaya di desa itu, dia juga seorang juragan yang menampung hasil pertanian warga desa ini.
Sehingga semua orang tahu rumah pak sudewo, tetapi apalah daya, perjalanan jagat terganggu karena Elis kesurupan.
Tidak lama kemudian pak ustadz datang karena di panggil Bu Rt, dia pun langsung di beri jalan oleh warga "Awas pak ustadz datang beri jalan"
Pak ustad langsung berdoa sambil merentangkan tangannya dan bertanya "Saja ieu NU ngarasuk Kana waruga awewe gelis"
Pak ustad berbicara memakai bahasa daerah dan kemudian Elis langsung meronta dan membentak "Haling silaing, teu kudu di usir, sakeudeung deui ge Kuring mulang"
Elis pun menjawab dengan bahasa daerah setempat, mereka pun kaget karena gadis cantik seperti Elis berbicara dengan bahasa daerah.
Biasanya orang kota selalu memakai bahasa nasional, dan jarang memakai bahasa daerah, walaupun mereka hidup di perkampungan mereka gengsi kalau memakai bahan daerah.
Elis selain memakai bahan daerah, logatnya pun mirip seperti logat daerah setempat sehingga warga yakni bahwa Elis benar benar kesurupan.
***
* Bersambung