Dukun Muda Mencari Cinta

Dukun Muda Mencari Cinta
Bab 114 Apakah Ini Akhir Hayat Ku


Bab 114 Apakah Ini Akhir Hayat Ku


Jagat tidak marah karena di sebut sebagai sopir, sebelumnya Cakra saja menganggap dia sebagai offic boy.


Sebenarnya Toni sedang kesal dan ingin melimpahkan kekesalan kepada jagat, karena dia seperti orang biasa yang tidak memiliki latar belakang.


Dilihat dari penampilan jagat, Toni menilai jagat ini orang miskin, dan bekerja sebagai sopir pribadi Eriska.


Toni hanya menebak saja, seperti halnya Cakra yang menebak jagat sebagai offic boy hotel Arssad.


"Kenapa kamu masih diam dan duduk di kursi, apa kamu tidak mendengar ucapan ku tadi, pergi dari sini atau aku suruh kedua bodyguard ku untuk menyeret mu pergi" ancam Toni.


Eriska langsung bangkit dari tempat duduknya "Maafkan aku sudah tidak ingin berbicara dengan mu lagi, aku pergi dulu"


Eriska pun menghampiri jagat dan menarik tangan jagat, supaya pergi dari tempat itu, di sana Toni memanggil Eriska "Riska, kenapa kamu memilih pergi dengan sopir itu ketimbang diri ku"


Eriska memalingkan mukanya ke arah Toni "Maaf kak Toni, aku tidak suka orang yang arogan dan penindas"


Setelah berkata demikian Eriska pun berlalu pergi tanpa melirik lagi ke arah Toni.


"Arg.... jangan panggil aku Toni Raharjo kalau tidak bisa mendapatkan mu Eriska" gumam Toni dengan marah.


**


Di rumah sakit Wijaya


Cakra masih berbaring di ruang perawatan VIP, selang infus masih tertancap di tangannya.


Karena dokter yang bertanggung jawab di ruangan itu sedang ijin, sehingga sofy lah yang kebetulan harus menggantikan dokter tersebut.


Sofy pun masuk ke dalam ruang perawatan VIP yang di tempati oleh Cakra untuk pemeriksaan rutin.


Sofy di dampingi oleh perawat lain, sofy pun mengambil laporan pasien yang diserahkan oleh perawat tersebut.


Sofy membaca keterangan pasien, dan kemudian tersenyum jahat karena, pasien yang akan dia tangani adalah Cakra yang kemarin malam menghina dirinya sebagai wanita gatal atau Tante girang.


Sofy pun menyiapkan obat yang sudah di masukan ke dalam suntikan dan membawa suntikan lain yang kosong, dengan ukuran lebih besar, seperti suntikan buat menyuntik Sapi dan Gajah.


Ruang perawatan VIP itu hanya Cakra saja tidak ada keluarga yang menunggu, karena tadi pagi semua orang sudah pergi dan akan datang nanti sore harinya. Sehingga sofy lekuasa menjalankan aksinya.


Sofy membuka pintu ruangan tersebut dan langsung menyapa Cakra "Bagai mana sekarang keadaan mu jagoan, apa kamu sudah mendingan"


Melihat sofy yang berpakaian putih putih, Cakra membelalakan matanya "Ka....kamu...."


"Iya ini aku, wanita yang kamu sebut Tante girang kemarin malam, kelihatannya kamu ini lelaki yang kuat ya, setelah di pukuli oleh beberapa orang luka mu hanya begini saja" ucap Sofy sambil tersenyum.


Kemudian sofy memanggil suster untuk membawakan peralatan medis "Suster tolong bawa kemari"


Perawat itu pun menghampiri sofy, kemudian sofy mengambil suntikan yang besar dengan ukuran 20 ml, biasanya manusia hanya menggunakan suntikan dengan kapasitas 1 ml.


Sofy menunjukkan suntikan itu di depan Cakra dengan jarum suntik yang lumayan besar, membuat Cakra mengerenyit.


"Eh, apa yang akan kamu lakukan kepada ku dengan suntikan sebesar itu" tanya Cakra.


Sofy menyeringai dengan senyuman jahat "Aku akan mengganti perban yang melilit luka mu, jadi aku harus menyuntik mu supaya mengurangi rasa sakit"


Cakra langsung kena mental, dan dia tidak akan bisa lari dari tempat ini, karena kaki dan tangannya sudah di patahkan oleh sekelompok orang yang kemarin menyerangnya.


Dia sekarang hanya berbaring pasrah, hanya tangan kanannya saja yang masih bisa bergerak bebas, tetapi itu tidak cukup.


Dengan gigi gemetar dia pun membentak sofy "Apa kamu gila, aku ini manusia bukan sapi, kenapa kamu memakai suntikan yang besar seperti itu"


Sofy pun mendekati Cakra secara berlahan yang membuat Cakra begitu ketakutan, bak bertemu malaikat maut, raut muka Cakra menjadi pucat seperti tanpa darah.


"Maaf tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu" Cakra meminta maaf dengan mata berkaca-kaca.


Sofy menatap ke arah Cakra dengan tatapan membunuh dan tidak memperdulikan ucapan Cakra.


Cakra pun menangis sambil meminta maaf dengan tulus "Hiks....hiks....aku meminta maaf, kepada mu dan berjanji tidak akan menyinggung mu, lagi dan menyinggung perasaan si o....eh jagat lagi"


Cakra tadinya akan mengucapkan kata si offic boy, tetapi keburu tersadar dan di ganti dengan nama jagat.


Cakra memohon kepada sofy seperti gadis perawan yang akan di perkosa oleh penjahat, dia menangis dan terus memohon.


Orang yang terlihat kuat dan suka menindas seperti Cakra Ternyata orang yang cengeng, bahkan baru melihat suntikan dengan kapasitas 20 ml saja dia menangis dan meminta maaf.


Sofy tidak berkata apa pun, dia terus menghampiri Cakra dengan suntikan besar di tangannya.


Dan setelah sofy mendekat, Cakra pun menjadi pasrah, dia berdoa sambil memejamkan matanya.


Matanya sedikit mengintip sofy yang mulai bergerak, sofy pun sedikit membungkuk, yang membuat Cakra menjadi tegang.


"Tuhan apakah ini akhir hayat ku, harus mati di tangan dokter fisikopat gila seperti wanita ini" Gumam cakra di dalam hati.


Kemudian sofy pun berjongkok di bawah belangkar yang di pakai Cakra untuk tidur dan dirawat.


Sofy pun menyuntikkan setetes demi setetes, cairan yang ada di dalam suntikan itu ke baut karena ada laporan, belangkar itu macet tidak bisa di pake sandaran.


Sofy meneteskan pelumas yang dimasukkan kedalam suntikan besar itu supaya baut belangkar itu bisa kembali di tegakan untuk bisa bersandar kembali.


Setelah selesai sofy pun berdiri kembali dan menyerahkan suntikan itu kepada perawat.


"E....eh kenapa tidak terjadi apapun" gumam Cakra sambil membuka matanya sedikit untuk mengintip.


"Suster aku sudah melumasi baut baut yang ada di belangkar ini, nanti kamu bisa coba di tegakan posisinya supaya pasien bisa bersandar" ucap Sofy.


Kemudian sofy mengambil suntikan kecil dengan kapasitas 1 ml dan menyuntikkan jarum suntik itu ke selang infus.


"Tugas ku sudah selesai, untuk ganti perban itu tugas mu suster" ucap Sofy.


Perawat itu pun mengangguk "iya baik dokter"


Sofy pun keluar dari dalam ruangan itu dengan perasaan yang puas bisa mengerjai Cakra. Dari tadi menahan tawa dan Sofy pun melampiaskan tertawanya ketika dia berada di toilet.


Perawat yang mendampingi sofy pun sebenarnya ingin menertawakan Cakra, tetapi dia tahan karena propesionalisme kerja.


Cakra pun menggertakan giginya dengan marah setelah sofy dan perawat itu selesai melakukan tugas mereka "Dasar Dokter gila sialan, aku menangis nangis dan memohon maaf karena takut di suntik dengan suntikan sebesar, ternyata itu untuk melumasi baut baut tempat tidur yang aku tempati"


Di ruangan VIP ini tidak banyak pasien dan ruangan pun kedap suara. Di sana Cakra berteriak "Argh ....... Sialan di mana harga diri ku sekarang, dasar dokter gila...."


***


*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.


*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.


Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini


👇


http://saweria.co/DaniSutisna