
Bab 283 Dimensi Ruang
Seketika jagat pun berada di dimensi lain yang berada di dalam cincin batu wulung Ireng.
Dimensi ruang di tempat ini sangatlah kecil yang hanya sebesar kamar tidur dengan ukuran 4 x 4 meter.
Tidak seperti di cincin batu wulung Ireng miliknya atau milik Elis dan Sofy, yang sangatlah luas, di tempat ini sangat sempit karena memang batu wulung Ireng yang terpasang di cincin tersebut sangat kecil.
Jagat melihat ada 4 buah kitab yang tergeletak begitu saja, jagat pun melihat 4 kitab itu dan membaca sampulnya.
Yang pertama di baca adalah kitab seribu racun, yang kedua adalah kitab Tarian Pedang bidadari khayangan.
"Astaga Kenapa kitab beladiri lanjutan dari tarian perang bidadari khayangan ada di sini, apa dia keturunan dari keluarga Tandjaya, tapi tidak mungkin karena Elis tidak mengenalnya atau dia dari keluarga Saksana"
Jagat pun tidak berhenti bertanya tanya di dalam hatinya.
Kemudian jagat melihat kitab ketiga, di sampul memperlihatkan gambar sebuah burung yang terbakar api dengan pancaran pedang mereh yang menyala nyala.
Jagat kembali terkejut "Gambar pedang ini sama persis seperti pedang yang aku berikan kepada Sofy"
Jagat pun membaca sampulnya "Beladiri Pedang Phoenix Api Abadi, ternyata ini kitab beladiri nya, pantas pedang merah milik sofy hanya seperti pedang spiritual biasa, ternyata jiwa pedangnya ada di sini, aku sungguh beruntung"
Kemudian jagat memeriksa kitab beladiri yang terakhir "beladiri ilmu pengendalian angin tingkat tinggi"
Jagat tidak terkesan dengan kitab beladiri ini, karena dia juga sudah menguasai isi dari kitab beladiri ini sampai tingkat yang lebih tinggi lagi.
Tetapi jagat berpikir "Bisa sangat berbahaya jika anak ini melatih ilmu beladiri pengendalian angin tanpa tahu dasarnya terlebih dahulu, Meridian yang dia miliki bisa pecah dan dia bisa lumpuh"
Jagat pun memasukan semua kitab beladiri yang ada di tempat ini kedalam cincin batu wulung Ireng miliknya.
Tetapi jagat tidak menyimpan kitab seribu racun, dia membuka halaman pertama dan melihat ada teknik dasar membuat bubuk beracun sederhana.
Efek dari bubuk racun ini membuat orang merasa gatal, di sana juga sudah tertera penawar untuk mengatasinya.
"Kitab seribu racun ini bagus juga, selain memberitahukan bahan apa saja yang bisa di buat racun, kitab ini juga memberitahukan penawarannya"
Jagat membalik beberapa halaman dan kemudian memasukan kitab itu kedalam cincin batu wulung Ireng miliknya.
Dia juga melihat di dimensi ruang ini ada beberapa senjata, tetapi senjata yang ada berupa golok dengan katagori tingkat rendah, atau golok yang ada di buat dari bahan yang biasa biasa saja.
Kemudian mata jagat berbinar, karena melihat ada sebuah belati yang memancarkan aliran listrik.
Belati yang panjangnya sekitar 25 centimeter dengan terukir motif petir di sisi belati tersebut.
"Astaga ini Belati yang di katakan oleh ibunda ratu ajag, belati petir hijau yang bisa merestorasi ilmu jari petir ku"
Jagat pun mengambil belati tersebut, kemudian dia menyalurkan energi petir yang biasa dia gunakan untuk melakukan terapi totok dan pijat akupuntur.
Krekak....
Belati itu memancarkan aura petir dan bahkan jagat bisa mengendalikan belati tersebut, jagat bisa merubah ukuran belati itu semaunya.
Belati itu bisa berubah menjadi pedang dan bahkan bisa berubah menjadi cambuk pedang dan bisa kembali kewujud aslinya sesuai dengan kemauan jagat.
"Hahaha.... Ku beruntung sekali bisa bertemu dengan anak ini"
Jagat pun memasukan belati tersebut ke dalam cincin batu wulung Ireng miliknya.
"Aku bukan orang yang serakah, tetapi kalau kitab ini ada di tangan yang salah maka akibatnya bisa berbahaya"
Untuk mengganti barang barang yang jagat ambil, dia pun mengeluarkan kitab beladiri dasar tangan kosong.
Selain itu jagat menulis catatan dan yang di simpan di dekat kitab beladiri dasar tersebut.
Jagat kembali ke kesadarannya, feri yang di cengkram tantanya memohon kepada jagat "Kak bisa lepaskan tangan ku ini"
Kemudian jagat pun melepaskan genggaman tangannya, kemudian jagat bertanya "Dari keluarga mana kamu berasal, apakah kamu dari keluarga Saksana ?"
Mendengar pertanyaan dari jagat Elis tercengang "Apa keluarga Saksana"
Feri menggelengkan kepalanya lalu kemudian menjawab pertanyaan dari jagat "Maaf kak aku dari keluarga Taruma"
Kemudian jagat langsung menunjuk cincin yang ada di jari feri "kalau begitu dari mana cincin yang kamu pakai itu ?"
"Apa mungkin kakak ini tahu rahasia dari cincin yang aku pakai ini ya, padahal aku baru satu Minggu ini tahu rahasia dari cincin yang aku pakai, itu juga tidak sengaja ketika aku mimisan dan darahnya menetes di cincin ini" gumam feri di dalam hatinya.
Feri kemudian mendonggak "ci... Cincin ini di berikan dari.... dari pamannya kakek sepupu ibu ku dari kampung, katanya ini milik bapak dari kakek buyut ku yang di wariskan secara turun menurun kepada anak laki laki dari keluarga ibu ku"
Sofy tersenyum sambil menepuk jidatnya "Hadeuh, kayaknya ni anak anggota sakte DBM, mana bilang bapak kakek buyut lagi, sekalian saja bilang bapak suami dari nenek buyut biar lebih bingung lagi"
"Nah Lo, kamu ketularan juga ya sofy" ucap Elis sambil tertawa.
Jagat dengan tatapan yang serius bertanya kepada feri "kalau kamu dari keluarga Taruma, ibu mu berasal dari mana, apakah dia dari kota G"
Feri langsung mengangguk "benar kenapa kamu tahu"
Kemudian Elis menyela "mas say, kalau nanya dia terlalu lama"
Elis pun bangkit kemudian meraih tangan feri dan tangan jagat, Elis pun memejamkan matanya, dia mentransfer ingatan feri yang dapat di lihat oleh Elis ke ingatan jagat.
Hanya dalam beberapa menit, jagat pun mengetahui informasi tentang keluarga feri.
Setelah selesai Elis pun duduk kembali "Bagai mana mas say, apakah informasi yang ingin kamu ketahui sudah lengkap"
Jagat mengangguk "iya Beib, terima kasih"
Feri bingung apalagi indah yang dari tadi memperhatikan mereka yang berprilaku aneh.
"Pantas kamu memiliki cincin itu, ternyata kamu masih ada keturunan dari keluarga Saksana di kota G" ucap jagat.
Feri bingung bertanya "siapa keluar saksana itu kak, soalnya ibu ku tidak pernah bercerita tentang keluarganya sendiri"
Kemudian Elis menggebrak meja Sambil berbicara berapi api "Mereka keluar pencuri yang sudah terkenal, bahkan mengklaim pusaka keluarga orang sebagai pusaka keluarganya sendiri"
"Benarkah itu, apa buktinya kalau keluarga ibu ku adalah keluarga pencuri ?" Tanya feri tidak percaya.
Wuss....
Jagat mengeluarkan kitab Tarian Pedang bidadari "ini adalah kitab tarian pedang bidadari milik keluarga Tandjaya, pasti kamu tahu kitab ini"
Feri menjadi sangat kaget, jagat bisa mengeluarkan kitab beladiri itu dari cincin batu wulung Ireng yang dia pakai.
Dia sendiri saja hanya bisa mempelajari ilmu itu di dalam cincin batu wulung Ireng, dan tidak bisa membawanya keluar dari dalam dimensi cincin tersebut.
Melihat kitab itu Elis langsung mengambilnya dari jagat "Ini adalah jurus lanjutan dari tarian perang bidadari khayangan, pantas ibu ku tak pernah menemukannya, ternyata ada pada mu"
Muka feri menjadi pias karena di tuduh mencuri, dan dia pun bertanya kenapa kakak ini bisa mengambil kitab beladiri dari dalam cincin tersebut.
Kemudian Elis bertanya "Apakah kamu mempelajari kitab ini, kamu harus tahu bahwa kitab ini tidak boleh di pelajari oleh laki laki, nanti kejantanan mu bisa menghilang tau"
Feri berkeringat dingin mendengar perkataan dari Elis, dia pun menggelengkan kepalanya "Tidak, aku tidak pernah membaca kitab itu"
"Aku tidak menuduh mu sebagai pencuri atau dari keluarga Saksana, tetapi aku hanya mengambil barang yang memang bukan milik mu, istri ku ini berasal dari keluarga Tandjaya, keluarga jawara kuno yang memang bermusuhan dengan keluarga Saksana, keluarga dari ibu mu itu selalu mencuri dan mengklaim bahwa semua yang dia dapat dari keluarga Tandjaya adalah milik mereka tanpa tahu malu"
Kemudian jagat pun menceritakan tentang keluarga Saksana dari mengaku selendang bidadari hingga membalikkan fakta bahwa leluhur keluarga Tandjaya yaitu Jaka Tanjaya merebut kekasih dari keluarga Saksana yaitu nyai Kinasih.
Padahal yang sebenarnya leluhur keluarga Saksana memaksa dan hendak menodai kesucian dari nyai Kinasih, dan di tolong oleh leluhur keluarga Tandjaya.
Leluhur keluarga Saksana juga mencuri selendang bidadari milik nyai Kinasih, sehingga dia tidak bisa kembali ke khayangan karena itu dia pun di nikahi oleh leluhur keluarga Tandjaya.
Mendengar cerita itu feri pun menjadi sangat malu atas kelakuan leluhurnya itu dan bahkan katanya, keluarga Saksana sekarang berkelakuan sama seperti leluhurnya.
Kemudian feri pun melepaskan cincin batu wulung Ireng tersebut dari jari tangannya.
"Kalau begitu aku tidak berhak memakai cincin ini, aku sudah tahu rahasia dari cincin ini, tetapi aku tidak bisa menggunakan cincin ini dengan maksimal, sehingga aku berikan saja buat kakak"
Elis langsung mengambil dari tangannya "Baguslah kalau kamu menyadarinya"
Sofy pun tersenyum dan meminta maaf kepada feri "Maafkan dia ya dek, dia memang membenci semua keturunan dari keluarga Saksana, tetapi biar pun begitu dia sangat baik kok"
Feri melambaikan tangannya "tidak apa apa kok kak, itu sudah haknya kakak ini ko, aku tidak mau mewarisi barang hasil curian"
***
* Bersambung