
Bab 266 Peta Menuju Harta
Arkam dan Radit pun langsung menghadapi 2 petarung lain, tetapi sayangnya 2 petarung itu terlalu lemah dan mereka berdua pun menang telak, Tampa harus bersusah payah.
Mereka berdua kembali ke ruangan VIP nomor 28, beberapa waktu telah berlalu dan semua bodyguard jagat dan para petarung kak Andi sudah bertarung semua.
Jagat memperoleh keuntungan yang sangat banyak, bukan hanya dari hasil taruhan, tetapi dia juga mendapatkan Club malam Nirwana yang berada di kota Utara.
Elis belum turun untuk bertanding, karena tidak ada lagi lawan, dan kebanyakan pemenang pertarungan itu berasal dari ruangan VIP nomor 28 dan 30.
Yaitu ruangan VIP jagat dan ruangan VIP kak Andi.
Sehingga kalau Elis mau bertarung maka lawan yang akan di hadapi adalah petarungnya kak Andi, dan itu tidak mungkin terjadi.
Elis pun menjadi kesal karena dia tidak tampil dalam pertarungan ini.
"Sial, Petarung Bawah Tanah ini terlalu lemah, sehingga aku tidak kebagian jatah bertarung" umpat Elis.
Sofy pun tersenyum dan mengelus punggung Elis "Sabar mungkin belum waktunya kamu menunjukan kemampuan mu, Minggu depan saja kita kesini lagi, dan kamu puaskan saja dengan melawan banyak Petarung"
Mendengar itu Elis pun menunjukkan raut muka yang masam "Cih, enak saja, tangan ku sudah gatal tahu"
Kemudian jagat meraih tangan Elis "Sudahlah, sebagai gantinya, kamu mau aku belikan apa ?"
Elis pun tersenyum "Terima kasih mas say, tapi untuk sekarang aku tidak mau apa apa, nanti saja setelah aku pikirkan"
Dengan rayuan jagat hati Elis pun menjadi ceria kembali, tetapi tiba-tiba ada segerombolan orang yang turun dari lantai atas.
Orang yang berjalan di depan adalah seorang kakek paruh baya yang berusia 60 tahunan dan di ikuti oleh 10 orang yang berseragam perguruan pencak silat.
Mereka pun berdiri di atas arena, dan kemudian menatap ke atas, tiba-tiba kakek itu menunjuk ke arah ruangan VIP nomor 29.
Kakek itu pun berteriak "Hai Badar, aku tahu kamu ada di ruangan nomor 29, ayo turun dan hadapi aku, ayo kita bernostalgia mengulang masa lalu, hari ini aku bertekad mengalahkan mu"
Teriakan itu menggema, meskipun tidak terlalu keras, tetapi terdengar sampai kesetiaan ruangan.
Semua orang bertanya tanya, siapa kakek ini sebenarnya, dia terlihat berwibawa dengan di kawal oleh 10 muridnya yang kelihatannya sangat kuat.
Kemudian kakek itu berkata kembali "Badar ingat nama ku Ki Maja....Jati Jara, aku tidak akan kalah lagi seperti Beberapa puluh tahun yang lalu"
Mendengar perkataan kakek yang mengaku Ki Maja sontak semua orang kaget.
Semua orang yang datang ke tempat ini, tahu meskipun hanya mendengar ceritanya saja.
Bahwa pertandingan bawah tanah ini sudah ada sejak sangat lama dan sudah lebih dari 50 tahun.
Memang lokasinya beberapa kali berpindah dan beberapa kali pakum, karena adanya tindak lanjut dari aparat keamanan.
Pertarungan Bawah Tanah ini ilegal sehingga dilarang keberadaannya, tetapi ada beberapa orang yang masih mengadakannya meskipun sembunyi sembunyi.
Dan di dalam pertarungan ini beredar rumor sang legenda Petarung yang tidak terkalahkan.
Dari pertama kali bertarung sampai Beratus ratus kali dia tidak pernah terkalahkan.
Nama Petarung legenda itu adalah Badar Sanjaya dan pesaing terkuatnya itu adalah Ki Maja yang dahulu di kenal dengan nama jati jara.
Pas mereka bertemu, dan bertarung Badar Sandjaya lah yang menjadi pemenangnya, bahkan, ki maja jati jara kembali menantang dan hasilnya sama.
Setelah beberapa tahun berlatih Ki Maja bertekad untuk mengalahkan kembali badar Sandjaya untuk mengembangkan kehormatannya kembali yang sudah beberapa kali di kalahkan.
Para penonton pun menjadi antusias "Oh ternyata dia sang legenda Petarung tak terkalahkan, yang di juluki si nomor 2"
Orang orang menjuluki Ki Maja sebagai legenda Petarung si nomor 2, karena memang dia tidak terkalahkan dan hanya badar Sandjaya lah si nomor 1 yang bisa mengalahkannya.
Sebenarnya sebutan si nomor 2 itu menurut Ki Maja itu bukanlah pujian tetapi hinaan karena dia tidak bisa mengalahkan badar Sandjaya.
Meskipun sudah tua, obsesi mengalahkan badar Sandjaya masih menggebu gebu, dan sekarang lah saat yang tepat untuk menantang badar Sandjaya.
Tadinya dia akan memanfaatkan Eriska supaya badar Sandjaya mau bertarung, tetapi sialanya jagat sudah terlebih dahulu mengambil jiwa Eriska yang di sekap.
Bahkan jagat juga mengambil semua jiwa yang di sekap oleh Ki Maja entah untuk tujuan apa, yang pasti jagat mengira Ki Maja akan memeras keluarga korban.
Dia akan meminta imbalan yang sangat besar untuk menyembuhkan pasien yang dia ambil jiwanya.
Sebenarnya orang sejahat Ki Maja tidak bisa di biarkan dan badar Sandjaya pun berbicara melalui mikropon.
"Kamu sudah menyekap jiwa cucu menantu ku, dan bahkan menyekap jiwa yang lainnya, entah untuk tujuan apa, tetapi aku rasa perbuatan tercela mu harus berhenti sekarang, sehingga aku akan menerima tantangan mu"
Semua orang bersorak karena ada tontonan yang sangat menarik, yaitu pertandingan para legenda Petarung yang tidak terkalahkan.
Ki Maja menyeringai "Ayo kita bertarung Hidup dan mati, sampai titik darah penghabisan"
Kakek Badar atau badar Sandjaya tertawa terbahak-bahak "Hahaha.... Boleh saja kita bertarung Hidup dan mati, tetapi kita memiliki keturunan anak cucu, kalau kita hanya bertarung dan tidak mendapatkan apa-apa itu akan menjadi pertarungan yang percuma"
Mendengar perkataan itu Ki Maja tahu bahwa badar Sandjaya ini dirinya bertaruh, dia tadinya akan mempertaruhkan jiwa Eriska.
Tetapi jiwa Eriska sudah ada yang mengambilnya, sehingga dia bingung mau bertaruh apa
"Anak buah mu sudah menghabisi beberapa murid ku, itu tidak akan aku anggap, asalkan kalau kamu kalah serahkan hotel Arssad untuk ku"
Badar Sandjaya langsung mencibir "Hai aku tanya apa yang akan kamu pertaruhkan, aku memiliki banyak aset, bahkan hotel Arssad ku bisa aku berikan kepada mu, tetapi apakah kamu yakin akan menang, dan jika aku yang menang, maka apa yang akan kamu pertaruhkan"
Dengan percaya diri Ki Maja berkata "Aku akan memberikan semua aset yang aku punya, tanah rumah dan semua kekayaan ku"
Kemudian salah seorang murid menghampiri Ki Maja, dia membawa koper dan Ki Maja pun membuka koper tersebut.
"Lihatlah, ini semua taruhan ku"
Yang ada di dalam koper itu adalah berkas sertifikat rumah dan tanah yang di miliki oleh Ki Maja.
Badar Sandjaya kembali tertawa terbahak-bahak "Hahaha.... Hai semua aset Harta kamu itu tidak sebanding dengan hotel Arssad milik ku tahu"
Mendengar perkataan itu Ki Maja menjadi tambahan marah "Hai badar, kamu kira aku ini orang miskin, beberapa puluh tahun aku membuka praktek perdukunan dan membuka perguruan pencak silat, selama itu harta ku, aku kumpulkan. Emas, uang, senjata kuno dan sebagainya aku simpan di alam gaib dan perewangan ku yang menjaganya, ini adalah peta menuju harta milik ku itu"
Ki Maja pun menunjukan peta harta yang terbuat dari kulit kerbau, yang di gulung dan di berikan kembali kepada muridnya.
***
* Bersambung