
Bab 242 Ancaman
Ayah dan anak itu sudah keluar dari dalam kantin dan mereka berdua pun celingukan melihat ke kanan dan kiri untuk mencari jagat.
Orang orang berlarian karena menghirup bau busuk yang di keluarkan dari pantat Toni Rahardjo.
Semua orang marah dan mencibir Toni Rahardjo dari belakang, mereka tidak bisa melupakan emosi mereka, karena tahu bahwa ayahnya Toni Rahardjo itu orang yang kaya.
Sehingga mereka hanya mengupat di dalam hati mereka masing masing, atau menggerutu sendiri.
"Itu jagat ayo kita hampir kembali, kamu harus bisa meminta maaf kepadanya, Jangan sombong dan arogan seperti tadi, merendah lah. Kalau mau sudah sembuh baru nanti kita cari cara membalas penghinaan ini" Sanusi Rahardjo pun memberikan nasihat kepada anaknya itu.
Toni Rahardjo pun hanya memanggut manggutkan kepalanya, tanda ucapan ayahnya itu di mengerti.
Kemudian Sanusi Rahardjo berlari terlebih dahulu untuk menghampiri jagat "Tunggu nak, maafkan atas tindakan anak ku, tolong maafkan lah anak ku kali ini saja, lihatlah dia sangat menderita, tuan besar Sandjaya bilang anak ku harus meminta maaf kepada mu"
Semua orang memandangi jagat, dan mereka menjadi pusat perhatian, bahkan orang yang hendak berjalan mereka berhenti terlebih dahulu untuk menonton.
Jagat pun tersenyum sinis "Oh jadi karena di suruh kakek Badar, anak anda harus meminta maaf kepada ku, bukan karena ada niat di dalam hatinya"
Sanusi Rahardjo pun melambaikan tangannya "Tidak.... Tidak....ini tulus dari dalam hati, hanya saja tuan besar Sandjaya mengatakan bahwa kalau dia meminta maaf kepada mu maka penyakit yang anak ku derita akan sembuh, lihatlah dia sangat menderita, setiap saat selalu buat angin"
"Baiklah kalau begitu, tetapi aku memiliki 3 syarat supaya aku bisa memaafkannya" jawab jagat.
"Baik, katakan lah 3 syarat itu, anak ku akan mematuhinya" ucap Sanusi Rahardjo.
"Yang pertama minta maaf lah sambil berlutut dan minta maaf lah dengan tulus kepada ku" ucap jagat.
Kemudian Sanusi Rahardjo menyuruh Toni Rahardjo untuk berlutut dan minta maaf "Ayo berlutut lah dan minta maaf"
Toni Rahardjo enggan untuk berlutut, meskipun di tarik oleh ayahnya sendiri dia tetap diam dan tidak mau berlutut.
Kemudian jagat berbicara "Aku hitung sampai 10 Kalau dia tidak meminta maaf sambil berlutut aku akan pergi. Satu....Dua...."
"Dasar anak kurang ajar, ayo berlutut, apa kamu tidak ingin sembuh" bentak Sanusi Rahardjo.
Tetapi Toni Rahardjo masih diam membisu dan berdiri dengan tangan sedekap di depan dada.
Karena hitungan jagat sudah sampai lima maka Sanusi Rahardjo langsung menggantikan anaknya berlutut "Kalau begitu aku akan menggantikan anak ku berlutut dan meminta maaf"
Brak....
Sanusi Rahardjo pun berlutut dan bersimpuh di depan jagat, semua orang yang menonton terkejut, orang kaya seperti Sanusi Rahardjo berlutut di depan jagat yang di kenal sebagai mahasiswa miskin.
Sanusi Rahardjo rela merendahkan dirinya sendiri dan di tonton oleh banyak orang di campus Universitas Wijaya, demi anaknya yang tidak mau meminta maaf kepada jagat.
Jagat pun mengangkat bahu dari Sanusi Rahardjo "Tuan Rahardjo, berdiri lah, jangan permalukan dirimu untuk anak mu yang tidak berbakti itu"
"Aku tidak akan bangun kalau kamu tidak memaafkan anak ku" jawab Sanusi Rahardjo
"Berdiri lah, walaupun dia tidak meminta maaf kepada ku, aku akan memaafkannya atas nama mu, tetapi ada 2 syarat lagi yang harus dia penuhi, sebelum itu berdiri lah terlebih dahulu" ucap jagat.
Sanusi Rahardjo pun berdiri kemudian bertanya "Katakan syarat yang lainnya akan aku penuhi ?"
Tetapi jagat tidak menjawab Sanusi Rahardjo, jagat malah berjalan ke arah Toni Rahardjo dengan tatapan yang dingin.
"Apa yang akan kamu lakukan kepadaku ?" Tanya Toni Rahardjo sambil berjalan mundur beberapa langkah.
"Syarat yang kedua itu, kamu harus menerima beberapa pukulan ku" ucap jagat sambil melayangkan tangannya ke arah wajah Toni Rahardjo.
Plak....
Dengan satu tamparan, Toni Rahardjo langsung terhuyung ke belakang dan kemudian dia berlutut.
Hidungnya mengeluarkan darah, dan dia pun menyeka darah di hidungnya itu.
Tapak tangan jagat membekas di pipi Toni Rahardjo, kemudian Toni Rahardjo pun bangkit "kurang ajar !"
Belum seutuhnya berdiri tegak, jagat sudah melayangkan tinjunya ke perut Toni Rahardjo.
"Ini karena kamu tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayah mu dan kamu jadi anak yang durhaka"
Buk....
Eue....
Toni Rahardjo sendawa dan mengeluarkan aroma bau mulut yang keluar dari mulutnya. Sampai semua orang yang ada di sana menutup hidungnya.
Toni Rahardjo pun berdiri sambil membungkukkan tubuhnya yang kirinya memegangi bagian perut yang dipukul oleh jagat dan tangan kanannya bertumpu pada lutut, sehingga dia tidak kembali jatuh ke tanah dan berlutut.
Tubuhnya yang tadi membengkak sekarang kembali normal setelah sendawa, hanya tinggal perutnya saja yang masih buncit.
Kemudian jagat kembali melayang tendangan dan membuat Toni Rahardjo terbang sampai menubruk tong sampah.
"Ini adalah untuk mu yang seperti sampah yang tidak berguna, dan ingin di hargai dan disegani mengandalkan harta kekayaannya orang tua mu"
Brak....
Dwus....
Setelah menabrak tong sampah, Toni Rahardjo langsung mengeluarkan banyak gas yang keluar dari pantatnya.
Perut yang membengkak pun sekarang menjadi kempes kembali dan sudah normal seperti sedia kala.
Beberapa orang memuji jagat karena berani memukuli Toni Rahardjo di depan ayahnya sendiri.
Dan beberapa orang lagi mencibir Toni Rahardjo karena gas yang dia keluarkan benar benar seperti sampah yang sudah busuk.
Toni Rahardjo terkulai lemas dan sepertinya dia dalam keadaan pingsan.
Jagat pun berjalan kearah Sanusi Rahardjo dan berkata "Syarat yang ketiga, tolong katakan kepada anak anda, jangan berani memprovokasi ku kembali, kalau tidak, aku akan membuat dia berbaring di atas tempat tidur selama sisa hidupnya, atau paling ringan aku akan membuat dia tidak bisa berdiri lagi dan duduk di kursi roda untuk selamanya"
Setelah berkata begitu, jagat pun pergi, meskipun di dalam hati Sanusi Rahardjo tidak terima karena anaknya di pukuli sampai pingsan, tetapi mau bagai mana lagi.
Sanusi Rahardjo tidak bisa berbuat apa-apa dan dia merasa di permalukan dan ancaman yang di berikan oleh jagat di anggap tantangan untuk keluarga Raharjo.
Kebetulan di sana juga ada Fernandio yang menonton pertunjukan ini, dan dia berdiri di arah jagat akan berjalan.
Jagat pun berjalan menghampiri Fernandio dan dia pun berkata sambil berbisik di telinganya "Itu juga berlaku kepada mu, pereman yang kamu kirimkan telah aku bantai dan aku maafkan, tetapi sekali lagi maka aku akan mematahkan tangan dan kaki mu"
Fernandio pun gemetaran karena di ancam oleh jagat, pereman kemarin yang di perintahkan untuk memukuli jagat, mereka malah babak belur dan sebagian orang masuk ke rumah sakit, dan Fernandio lah yang harus menanggung biaya rumah sakit tersebut.
Jagat pun berjalan melewati Fernandio dan Fernandio pun berdiri mematung sambil keluar keringat dingin dari dahinya.
"Hai Dio, kenapa kamu ? Tangan dan kaki mu gemetaran" tanya Lina yang ada di samping Fernandio.
Fernandio pun tersadar dan dia menggelengkan kepalanya "Oh tidak....tidak apa apa"
***
* Bersambung