
Bab 170 Wulung Ireng
Karena sudah menjadi satu keluarga jagat pun ikut menyemangati Tandi Tandjaya, supaya dia bisa menerobos dan mencapai master beladiri.
Mengenai golok naga Wisesa jagat pun pernah mendengar tentang golok tersebut dari ratu ajag di hutan larangan gunung moeza.
Golok itu berasal dari kerajaan langit dan di bawa oleh nyai Kinasih, kemudian di berikan kepada suaminya Jaka Tandjaya dan dengan golok naga Wisesa itu Jaka Tandjaya menjadi jawara yang pilih tanding.
Sedang asik berbincang, mereka pun mendengar keributan di luar rumah adat, sepertinya ada yang sedang bertengkar.
Tetapi ada salah satu kerabat yang masuk ke dalam dan melaporkan "Di luar ada keluarga saksana yang hendak menuntut balas, katanya kalau pemuda yang menikahi Elis tidak keluar maka mereka akan menghabisi keluarga kita"
Sontak nyai Danastri pun geram "Apa berani beraninya keluarga saksana menyerang dan mengancam keluarga kita"
Kemudian nyai Danastri pun berjalan menghampiri tembok yang disana tergantung sebuah golok dan dia pun mengambilnya.
"Ayo kita temui mereka, aku tidak akan takut dengan ancaman seperti itu" ucap nyai Danastri.
Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu jagat dan Elis pun mereka langsung pergi ke kamar untuk mengganti baju mereka dan kemudian keluar dari aula itu
Nyai Danastri langsung berteriak kepada mereka yang sedang berkelahi, beberapa orang dari keluarga Tandjaya ada yang tergeletak dan babak belur di pukuli oleh keluarga saksana.
"Berhenti....."
Semua orang langsung menghentikan perkelahian itu, karena teriakan nyai Danastri mengandung aura membunuh yang sangat pekat sehingga membuat orang ketakutan.
"Badrun Apa maksud mu dengan membawa banyak orang ke sini dan menyerang kami" tanya nyai Danastri.
Badrun sebagai kepala keluarga saksana begitu sombong, dia maju kedepan beberapa langkah kemudian dia bertolak pinggang.
"Jangan Bodoh kamu danastri, anak mu sudah datang dari kota dan membawa temanya kesini, orang kota itu sudah memukuli anak ku sampai babak belur, aku mau kamu menyerahkan orang kota itu kepada ku" pinta Badrun.
Tandi Tandjaya yang tahu kronologisnya langsung berbicara "Apanya yang di pukuli, justru si Darya yang membegal kami di jalan serta mengancam kami, supaya kak Elis mau menikah dengan si Darya, dia lari karena tidak tahan ingin buang air besar dan kabusiatan"
Mendengar kata kabusiatan sontak seluruh penduduk kampung cisarati yang di undang untuk berpesta di keluarga Tandjaya tertawa terbahak-bahak.
"Apa Darya anak dari Badrun saksana kabusiatan, hahaha....." Celoteh salah satu warga.
Kabusiatan atau buang air besar di celana adalah aib yang memalukan, mereka yang pernah melakukannya akan menjadi rendah diri dan minder.
Karena orang orang kampung akan mencibir orang yang kabusiatan bila mereka bertemu dan cibiran itu tidak akan hilang dan tetap melekat seperti halnya julukan.
Badrun menjadi geram karena anaknya di tertawakan "Diam kalian semua...."
Aura membunuh pun menyeruak, sehingga mereka pun berhenti tertawa dan diam seribu bahasa.
Badrun menunjuk kearah warga "Siapa pun yang tertawa dan mencibir anak ku di kemudian hari, maka aku tidak akan segan memukuli kalian"
Ancaman itu membuat warga takut, karena Badrun sangat arogan dan jawara yang kuat di kampung Cidahu, hanya kepala keluarga Tandjaya yang bisa bersaing dengan dirinya.
Kemudian Badrun berbicara kepada nyai Danastri "Danastri teman anak mu sudah sudah memukuli anak ku, aku ingin kamu menyerahkan orang kota itu dan membayar kompensasi karena Elis dan juga Tandi ikut memukuli anak buah ku"
Dengan mata yang serakah Badrun pun mengulurkan tangannya "untuk kompensasi aku minta Wulung Ireng kamu serahkan kepada kami dan nikahkan anak mu Elis dengan anak ku Darya"
Wulung Ireng yang di maksud oleh Badrun adalah batu wulung Hitam yang tadi diberikan nyai Danastri kepada jagat.
Di sana jagat, Elis dan Sofy yang baru keluar langsung mendengar permintaan Badrun yang tidak masuk akal.
Jagat pun bergumam "Benar saja, Batu wulung Hitam itu menjadi incaran para jawara, untuk apa mereka menginginkannya, sedangkan fungsinya saja belum di ketahui"
Nyai Danastri menolak permintaan dari Badrun "Mustahil aku nikahkan anak ku Elis dengan Darya, karena baru saja aku sudah nikahkan dia dengan Arya, anak kota yang kamu sebutkan itu, dan mengenai Wulung Ireng aku sudah tidak memilikinya lagi"
Nyai Danastri sedikit berbohong bahwa keluarga Tandjaya sudah tidak memegang Wulung Ireng lagi, itu sebenarnya bukan kebohongan, karena Wulung Ireng itu sudah berpindah tangan.
Sekarang Wulung Ireng itu sudah menjadi milik jagat, dan keluarga Tandjaya sudah tidak ada sangkut pautnya dengan Wulung Ireng itu lagi.
"Dasar wanita pembohong, aku tahu Wulung Ireng itu masih ada di aula rumah besar, kalau begitu kita lakukan cara lama, keluarga aku menantang keluarga kalian dan kalau kami pemenangnya maka maka serahkan Wulung Ireng dan orang kota yang bernama Arya itu suruh menceraikan Elis dan nikahkan Elis dengan anak ku" ucap Badrun.
Kemudian nyai Danastri pun bertanya "Bagai mana kalau kami yang menang ?"
"Taruhan itu tidak adil...." Terdengar suara yang entah siapa yang berbicara.
"Siapa yang berani berbicara seperti itu ? Ayo keluar. Siapa bilang tidak adil, itu sudah keputusan kami" ucap Badrun.
Kemudian jagat melangkah dan berjalan mendekati nyai Danastri "Aku bilang taruhan itu tidak adil, karena anak mu menginginkan Istri Ku, maka kesepakatan ini harus atas persetujuan ku"
"Oh jadi ini orang kota yang berani menikahi calon istrinya Darya anak ku, berani juga kamu ya, cepat katakan apa yang kamu inginkan" ucap Badrun.
Sebenarnya jagat tidak tahu apa yang di maksud dengan cara lama, tetapi kalau tentang kejawaraan pasti beradu ilmu dan berkelahi sehingga jagat berani melangkah maju kedepan.
Jagat pun berkata "Jika keluar Tandjaya menang maka aku ingin anak mu Darya menjadi Kasim, karena sudah berani menginginkan istri ku, dan satu lagi serahkan selendang bidadari kepada ku, itu sebanding karena kamu menginginkan Wulung Ireng miliki ku"
Jagat pun tidak segan memperlihatkan Wulung Ireng itu kepada Badrun, kemudian jagat memasukan kembali Wulung Ireng itu kedalam saku celananya.
"Apa Wulung Ireng itu ada padamu, ayo serahkan kepada ku, maka akan aku ampuni nyawa mu" ucap Badrun dengan nada yang mengancam.
Jagat menggoyangkan jari telunjuknya "Hey...hey...hey...Apa kamu lupa, kita akan menyelesaikan masalah ini dengan cara lama. Bukan !. Kenapa kamu antusias seakan kamu sudah menang"
"Kurang ajar, baik lah ayo keluarkan 5 jawara kalian bila kalian memenangkan 3 pertatingan maka kalian lah pemenangnya dan jika kami yang menang maka kamu harus menceraikan Elis dan memberikan Wulung Ireng itu kepada ku" ucap Badrun.
Mereka pun sudah menyiapkan 5 jawara terkuat salah satunya adalah Darya yang ikut dalam Jawara tersebut.
Di pihak jagat pun mereka berembuk, mereka bingung karena kebanyakan jawara keluarga Tandjaya sudah tua dan anak muda di sana masih mentah dalam ilmu beladiri.
Mereka sama seperti Tandi Tandjaya yang masih di tahap praktis bela diri, tidak seperti keluar saksana yang rata rata mereka ada di tingkatan master beladiri.
Jagat pun bergumam "Kalau saja aku membawa trio Bodyguard ketempat ini, maka aku bisa mengimbangi keluarga saksana"
Disana nyai Danastri memilih 2 orang Jawara yang masih terlihat muda, dia berusia 40 tahunan dan sudah menjadi master beladiri tingkat menengah.
Nyai Danastri pun bingung siapa lagi yang harus di pilih, kemudian sofy pun berinisiatif "Aku mau ikut maju, aku Gedeg dengan orang yang bernama Darya itu"
Jagat pun bertanya "Apa kamu yakin"
Sofy pun menganggukan kepalanya "Ya aku yakin"
Jagat pun mengajukan diri "Aku juga akan ikut andil dalam pertarungan ini"
Nyai Danastri pun tidak menolak karena itu sebagai pembelaan diri, karena jagat ingin melindungi Elis sebagai istrinya.
"Baiklah kita sudah mendapatkan 4 jawara tinggal satu lagi" ucap nyai Danastri.
"Aku saja yang maju, karena ini awalnya masalah ku, jadi aku harus ikut serta" ucap Elis.
Mereka pun sudah sepakat 5 jawara dari masing masing keluarga maju di lapangan berumput untuk menghadapi satu dengan yang lainnya.
Kemudian jawara dari keluarga saksana maju ketengah lapang dan menunjuk kearah keluarga Tandjaya "Ayo siapa yang maju terlebih dahulu untuk melawan ku"
Jawara dari keluarga saksana sangat sombong dia menunjuk memakai jari tengah, salah seorang jawara dari keluarga Tandjaya pun maju.
"Aku yang akan melawan mu"
Mereka pun saling berhadapan dengan menggunakan tangan kosong
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna