
Bab 300 Kamu Yang Wanita ******
Di perjalanan menuju lantai bawah, Agus meringis kesakitan karena jari kelingkingnya di potong.
Di sepanjang jalan dia memarahi adiknya yang bernama lani "Apa yang telah kamu perbuat sehingga bisa menyinggung Bos besar, dia bukan hanya sekedar ketua Gangster beruang hitam, tetapi Bos bawah tanah yang sebenarnya, beruntung dia dalam keadaan hati yang sedang senang, kalau dia marah nyawa kita akan melayang"
Lani menundukkan kepalanya karena dia di marahi, tetapi di dalam hatinya dia tidak menyesal, lani orang yang tidak tahu diri dan dia pandai bermain drama.
Dengan muka yang berkaca kaca dia pun berbicara "Maaf kak, aku menyesal"
Tetapi di dalam hatinya berkata "Cih hanya ketua geng Beruang Hitam apa hebatnya, bos bawah tanah apanya orang semuda itu, bahkan sekelas Bang Anton saja bisa aku singkirkan"
Kemudian lani berpikir dan bergumam "Siapa lagi yang bisa aku adu domba, Danu sangat bodoh bahkan Ketua gangster shooting gun sama bodohnya. Apa aku harus memberikan tubuh ku kepada ketua mafia kita ini untuk membalaskan dendam ku ini"
Lani sedikit menyeringai pikiran piciknya terus berputar mencari cara untuk mencapai tujuannya.
Sekarang dia sudah tidak bisa menggunakan kakaknya lagi untuk menipu dan memeras orang, maka dari itu dia pun berencana menemui kenalannya yang dekat dengan ketua mafia kita ini.
Lani tidak mendengarkan lagi perkataan Agus yang terus nyeroscos menasihati dirinya.
Brak....
Lani yang sedang melamun kembali menabrak orang, karena kebiasaan buruk yang dia lakukan dia pun langsung memarahi orang yang dia tubruk itu.
"Dasar wanita ******, apa kamu tidak melihat kalau ada orang yang jalan apa mata mu di simpan di dengkul, kalau jalan lihat lihat, jangan sampai menubruk orang lain, dasar wanita ******"
Kebetulan yang lani tabrak adalah seorang wanita sehingga dia berani langsung memarahi dengan sebutan ******.
Bukan hanya itu saja, keberanian lani muncul karena dia dengan bersama Agus dan anak buahnya, meskipun lani salah kakak nya pasti membela dia karena tidak mungkin seorang adik di tindas oleh orang lain dan kakaknya diam saja.
Tetapi sedetik kemudian, ada tangan yang melayang dan mendarat ke pipi lani.
Plak ....
"Kamu yang wanita ******, Bahkan Ibu mu wanita ******"
Plak....
Lani terkena 2 kali tamparan di pipi kanan dan kirinya sehingga dia sedikit terhuyung dan bahkan ada 2 giginya yang tanggal.
Lani marah dan memanggil suaminya "Robi Kenapa kamu diam saja ayo bantu aku hajar wanita ****** itu"
Robi yang seorang pengecut dan tidak memiliki keberanian dia hanya tengok kiri dan tengok kanan, dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan.
Lani menyuruh dia menghajar wanita yang menamparnya kemudian dia pun menghampiri wanita itu.
Buk....
Brak....
Belum melakukan apa pun Robi langsung di tendang oleh wanita itu dan dia pun tersungkur.
"Ugh....Agh...." Robi meringis kesakitan dan tidak bisa bangun lagi
Lani yang melihat itu malah menghardik "Dasar Lelaki tidak berguna, aku bahkan menyesal menikah dengan mu"
Mendengar itu Robi tidak bisa apa apa, karena selama ini lani lah yang mendominasi.
Bukan karena Robi takut dengan lani tetapi karena lani adik dari Agus sehingga Robi tidak berani membuat lani marah.
Lani ingin berteriak memanggil kakaknya, tetapi dia melihat kakaknya itu membungkukkan badannya ke seorang wanita.
"Oh, Agus kenapa kamu ada di tempat ini bersama anak buah mu, apa di sini ada masalah, atau kah kamu sedang menindas orang ?" Tanya wanita itu.
Agus langsung membungkukkan badannya "Nona kedua, ti...tida aku tidak sedang menindas orang"
Agus memanggil wanita itu dengan sebutan Nona kedua, itu berarti yang sedang dia ajak bicara adalah Sofy.
Kemudian sofy bertanya "Siapa wanita yang sedang di hajar oleh Elis, apa kamu mengenalnya ?"
Agus melirik ke arah lani kemudian dia menggelengkan kepalanya "Tidak, aku tidak tidak kenal dia"
Mendengar pengakuan Agus lani pun merasa tidak berdaya, kalau Agus mengaku kenal dengan lani itu berarti kesempatan terakhir yang di berikan jagat sudah hilang, maka kedepannya dia tidak lagi menjadi ketua pilar di geng Beruang Hitam.
Kemudian Agus berteriak kepada Robi "Robi bawa wanita itu pergi, jangan biarkan dia berbuat onar lagi"
Robi pun bangkit dan menghampiri lani lalu kemudian pergi, meskipun lani enggan untuk pergi dan ingin membalas tamparan dari Elis, tetapi Robi menarik lani dengan paksa
Lani tidak mengetahui situasi yang sedang terjadi karena dia tidak tahu siapa yang dia tabrak, lani meronta karena tidak mau pergi.
Tetapi Agus langsung menyuruh anak buahnya "Seret wanita itu jangan biarkan tangan nona pertama kotor karena menghajar wanita itu"
Anak buahnya mengangguk "Siap Bos"
Beberapa anak buah Agus langsung menghampiri lani dan Robi, mereka pun menyeret dengan paksa.
Salah satu dari anak buahnya Agus menutup mulut lani karena terlihat lani ingin berkata sesuatu.
Anak buah Agus pun berbisik "Diam jangan berbicara, atau kamu mati, mereka orang yang tidak dapat kita singgung"
Lani pun mengangguk dan menurut, baru kali ini anak buah Agus berani mengancam lani, bahkan mengancam dia untuk mati.
Lani baru kali ini merasakan di mana situasi dia di tindas oleh orang bahkan di ancam.
Lani pun pasrah dan meneteskan air matanya, meskipun di hatinya tidak rela di perlakukan seperti itu.
Biasanya dia menindas orang, tetapi sekarang dia lah yang di tindas bahkan di pukuli.
Agus merasa lega karena lani sudah di bawa pergi, meskipun begitu Agus sesekali meringis kesakitan menaha rasa perih karena jarinya yang putus.
"Kenapa tangan mu berdarah, coba aku lihat" pinta Sofy.
"Ini bukan apa-apa Nona kedua, ini adalah hukuman dari tuan muda untuk diri ku karena sudah melakukan kesalahan" Agus tidak menutupi bahwa dia di hukum jagat.
"Oh jadi itu karena Ay, kalau begitu coba lihat" pinta kembali Sofy
Agus pun memperlihatkan tangannya dengan jari kelingking yang sudah tidak ada dan tangan satunya memegang potongan jari.
Uhuek....
Melihat jari tangan Agus, Eriska mual dan ingin muntah, dia tidak pernah melihat jari yang putus seperti itu.
Raut wajah sofy biasa saja, karena dia sudah terbiasa dengan darah karena sofy sendiri seorang dokter bedah.
Sofy mengambil potongan jari tangan Agus dan dia membuka kain yang mengikat jari yang putih.
"Apa yang hendak anda lakukan ?" Tanya Agus.
"Aku akan mengobati mu dengan menyambungkan kembali jari mu" jawab Sofy.
Agus pun tersentak kaget dan berbicara dalam hatinya "Apa dia bisa menyambungkan kembali jari ku ini"
Agus merasa ragu tetapi dia tidak bisa apa-apa karena tangannya sudah di pegang oleh Sofy.
"Aku harap kamu setia kepada suami ku, dan patuhi apa yang dia katakan, ini hanya peringatan awal saja" ucap Sofy.
Kemudian sofy menempelkan jari yang putus itu, setelah itu sofy memejamkan matanya dan aura merah menyelimuti tangan Agus.
Wuss....
Dengan mata kepala sendiri Agus melihat jari tangannya tersambung kembali, bahkan anak buahnya tercengang tidak percaya.
Orang lain yang melihat itu juga memandang takjub bahkan mata mereka tidak sanggup berkedip.
"Ya sudah selesai, sekarang jari mu sudah utuh kembali" ucap Sofy.
Agus langsung berlutut dan bersujud dengan di ikuti oleh anak buahnya "Terima kasih Nona kedua, terima kasih"
Sofy tersenyum " Bangkitlah dan segera pergi, kami masih banyak urusan"
Agus pun berdiri dan pamit untuk pergi dari tempat itu.
***
* Bersambung