Dukun Muda Mencari Cinta

Dukun Muda Mencari Cinta
Bab 198 Bagas Wibisono Bukan Lagi Direktur Umum


Bab 198 Bagas Wibisono Bukan Lagi Direktur Umum.


Perkelahian pun terjadi satu lawan satu, perkelahian itu sangat sengit sampai banyak orang yang langsung berkerumun di area parkir itu.


Kegaduhan yang terjadi sampai ke tempat dimana para calon security sedang berkumpul di dalam aula gedung.


Hadi langsung keluar dari gedung tersebut di ikuti beberapa orang security senior.


Melihat tuan besar yang berdiri di depan mobil Hadi langsung berteriak kepada orang orang yang berkelahi.


"Berhenti...."


Sontak semua orang melirik kearah Hadi dan dia pun menjadi pusat perhatian.


Idhang dan Firman pun berhenti berkelahi, dia pun langsung mundur dan mendekati tuan besar.


Sedangkan anak buah Cakra langsung mundur ke arah di mana Cakra berada.


Terlihat kedua anak buah Cakra babak belur dengan muka penuh lebam, dan jalan pun sedikit pincang.


Sedangkan idhang dan Firman sendiri tidak apa apa, tidak ada bekas pukulan atau goresan di seluruh tubuh mereka, bahkan baju yang mereka pakai masih terlihat rapi.


Hadi pun langsung berjalan menuju ke arah Cakra dan membentak dia "Kamu ini, selalu buat onar, sudah berapa kali kamu membuat masalah tapi masih aku biarkan, karena mengingat kamu itu anak dari Bagas, direktur hotel ini, tapi untuk sekarang aku sudah muak dengan kelakuan mu, pergi atau akan aku usir kamu dengan paksa"


Cakra malah menunjuk ke arah muka Hadi "Hai....berani beraninya membentak ku, kamu ini hanyalah satpam, berani membentak ku, aku akan menyuruh ayah ku untuk memecat mu"


Tangan Hadi langsung melayang dan mendarat di pipi Cakra.


Plak....


"Pergi kalau tidak aku tidak akan segan untuk menyeret mu dari sini" bentak kembali Hadi.


Cakra menjadi geram pipi kanan yang Hadi tampar terasa panas dan sedikit linu, dia pun menggertakan giginya dan ingin membalas, Tangannya sudah berada di atas dan bawah tangan satunya memegangi pipi.


"Kamu telah berani menampar ku, dasar satpam kurang ajar" teriak Cakra.


Belum sempat tangannya melayang, tangan Cakra sudah ada yang menahannya dari belakang.


"Siapa yang berani mengekang tangan ku, dasar berengsek" umpat Cakra sambil berbalik ke belakang.


Plak....


Pipinya kembali di tampar oleh orang yang tadi memegang tangan Cakra.


"Apa kamu bilang, ayah mu kamu bilang berengsek, kamu lah anak yang berengsek, aku tidak memiliki anak seperti mu" ucap orang itu.


Dan ternyata orang yang memegangi tangan Cakra dan menampar pipi yang kedua kalinya adalah ayahnya sendiri yaitu Bagas.


Kemudian Bagas pun menamparnya lagi.


Plak....


"Pergi dari sini, cepat, kalau tidak aku tidak akan segan mencoret mu dari kartu keluarga" bentak Bagas.


Cakra pun tertegun wajahnya memerah dan dia sedikit menundukkan kepalanya "Ayah...."


Bagas berteriak "Pergi...."


Cakra pun pergi dengan hati yang kesal karena ayahnya sendiri tidak membela dirinya, biasanya ayahnya selalu membela dia, mau salah atau benar, ayahnya selalu membela dirinya.


Tetapi sekarang, dia tidak lagi di bela sehingga dirinya sangat kesal, kepada ayahnya sendiri.


Dia pergi dengan di ikuti oleh kedua anak buahnya yang berjalan dengan pincang.


Mereka melewati kamar hotel yang ditempati oleh bang Anton, dan kebetulan bang Anton sedang duduk di depan kamar hotel bersama istri dan anak.


"Beuh orang yang di cari gang shooting gun ternyata ada di sini, kebetulan sekali, dari kenaasan datang keberuntungan, kalau aku menghubungi si Danu, aku bisa mendapatkan uang dengan informasi ini" gumam Cakra, sambil menyeringai.


Di parkiran belakang para satpam anak buah Hadi membubarkan para penonton yang berkerumun "Bapak, ibu, maaf atas ketidak nyamanan ini, silahkan kembali ke tempat anda masing-masing, keadaannya sudah terkendali"


Para penonton pun membubarkan diri dan Hadi pun menghampiri tuan besar "Maafkan aku tuan besar, ini di luar kendali ku sebagai petugas keamanan di hotel ini"


Tuan besar tersenyum "Tidak apa apa, ini hanya masalah kecil, aku tahu kamu sedang sibuk mengurusi para satpam baru, dan perusahaan keamanan yang di buat cucuk ku"


"Terima kasih atas kemurahan hati tuan besar, mulai hari ini aku akan meningkatkan pengawasan di seluruh area hotel ini" ucap Hadi


Kemudian Bagas menghampiri dan dia membungkukkan badannya kearah tuan besar "Maafkan atas kelancangan anak ku tadi tuan besar"


Tuan besar berbicara kepada Hadi dengan tersenyum, tetapi ketika berbicara dengan Bagas, wajah tuan besar langsung di tekuk.


"Sudah banyak laporan kepada ku tentang anak mu, bahkan mengenai penggelapan uang di klub malam dan lainnya, sekarang anak mu menghancurkan motor kesayangan milik cucu ku, kamu tahu harga motor tersebut, harganya sudah mencapai lebih dari 500 juta rupiah, apa kamu sanggup untuk menggantinya" ucap tuan besar.


Bagas pun menganggukan kepalanya "Baik, akan aku ganti rugi dengan nominal yang sama, tetapi maaf tuan besar, aku tidak punya uang sebanyak itu di tabungan ku, paling aku bisa mencicilnya saja"


"Baiklah terserah kamu, aku tidak perduli, aku memandang mu karena sudah bekerja lama dan setia kepada ku, tetapi karena kamu sangat memanjakan anak mu, aku juga akan menghukum diri mu juga"


Tuan besar pun menghela napas.


Kemudian dia melanjutkan "tahun ini hotel Arssad banyak mengalami kerugian karena anak mu, dan aku juga baru mendapatkan kabar bahwa sepupu mu melakukan pelecehan seksual terhadap karyawannya dan sekarang sudah di tangkap polisi.


Sepupu mu itu selalu sewenang-wenang terhadap karyawannya karena menganggap bahwa dirinya memiliki bekingan, yaitu kamu sebagai direktur umum pusat.


Mulai besok aku akan memutasikan diri mu ke hotel Arssad cabang kota G, berbenah lah, kamu memang kompeten, tetapi sayangnya keluarga Wibisono mu, memanfaatkan jabatan mu untuk berbuat arogan.


Sekarang pergi dan berbenah lah, itu sudah keputusan terakhir ku, sehingga kamu bisa lebih berpikir tentang kesalahan mu selama ini"


Duwar....


Bagai di sambar petir di siang bolong, Bagas langsung berlutut di hadapan tuan besar, kakinya merasa lemas, bahkan dia tidak sanggup untuk berdiri.


Karena ulah dari anaknya sendiri dia harus mengganti rugi sebesar 500 juta rupiah, dan sebelumnya dia juga harus mengembalikan uang sebesar 300 juta yang di gelapkan oleh anaknya.


Dan sekarang di tambah sepupunya melakukan pelecehan dan di tangkap polisi, itu mencamari nama baik hotel Arssad cabang kota G.


Sehingga untuk mengurusi semua itu, Bagas di mutasikan menjadi kepala hotel Arssad cabang kota G, ini bukan kenaikan jabatan, tetapi ini penurunan jabatan.


Jabatan Kepala cabang kalau di kantor pusat itu sebanding dengan kepala Shift resepsionis, atau kepala Office boy.


Kenapa jabatan kepala cabang disamakan dengan kepala shift, karena gaji mereka sama tidak jauh berbeda.


Kemudian tuan besar mengintruksikan kepada Hadi "Umumkan kepada semua staf dan karyawan hotel ini, Bagas Wibisono bukan lagi direktur umum hotel ini, dan besok Senin seluruh eksekutif berkumpul di ruangan rapat, dan satu hal lagi, anaknya Bagas dilarang memasuki hotel ini lagi, kalau dia berniat masuk, usir saja"


Tuan besar mengintruksikan kepada Hadi dengan sangat jelas dan tegas, sehingga Hadi dan satpam senior yang dia bawa langsung mematuhinya.


Setelah itu tuan besar langsung memasuki mobilnya dan di ikuti oleh idhang sebagai supir dan firman yang duduk di kursi depan.


Bagas di biarkan begitu saja, dia terus berlutut, dan tidak ada yang perduli akan dirinya.


***


* Bersambung