
Bab 284 Cincin Warisan Dari Leluhur
Dalam keadaan sadar feri menyerahkan cincin itu yang di ambil langsung oleh Elis.
Tadinya jagat hanya akan mengambil kitab di dalamnya saja, tetapi feri dengan rela menyerahkan cincin tersebut.
Setelah itu feri pun hendak berpamitan karena dia sudah selesai makan di tempat itu.
Ketika dia mau beranjak dan mau meminta ijin untuk meninggalkan tempat itu, seseorang berteriak memanggil feri.
"Hai feri dasar berengsek kamu, sekarang kamu akan habis, aku membawa kakak ku untuk menghabisi mu, jangan salahkan aku karena telah memprovokasi ku"
Orang itu sesumbar mau menghabisi feri dan itu orang yang tadi di pukul mundur oleh feri, orang itu adalah Bram bersama teman temannya.
Dan sekarang dia mengajak 5 pereman yang salah satunya adalah kakaknya sendiri bernama Agus.
Agus tidak memperhatikan jagat Elis dan Sofy, dia berfokus kepada feri dan pacarnya.
"Hai nak, apakah kamu yang tadi memukuli Bram, kamu tahu tidak aku adalah kakaknya"
Feri tahu kakaknya Bram yang bernama Agus, dia pereman di sini yang bahkan katanya sangat kejam.
Salah satu ketua pilar geng Beruang Hitam yang sangat di takuti bahkan para pedagang harus menunduk hormat jika bertemu dengannya.
Feri hanya menundukan kepalanya, dia tidak berani menonggakan kepalanya.
Kakinya sedikit gemetar karena ketakutan dia tidak bisa bergerak dan malahan takut untuk berdiri.
Kemudian Agus melanjutkan "Cepat berlutut dan meminta maaf kepada Bram, kemudian jangan dekati lagi wanita itu, karena dia pacar dari adik ku"
Feri tidak bisa berkata kata menghadapi Agus yang berbicara dengan nada tinggi.
Bram pun semakin berani untuk ikut memakai feri "Kak lebih baik kita hajar terlebih dahulu anak ini, supaya dia mengerti bagai mana hukuman bagi orang yang menyinggung kita"
Sambil menjedot jedot kepala feri dengan telunjuknya, Bram pun kembali memakai "hai kurang ajar, apakah kamu dari tadi mendengar kita, kenapa kamu diam saja, kakak ku tadi menyuruh mu berlutut dan meminta maaf kepada ku, ayo lakukan"
Feri tidak beranjak dari tempat duduknya dia malah mematung tidak bergerak sedikit pun.
Indah yang ada di sampingnya sudah dalam keadaan menangis, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Teman Bram yang tadi hendak menggoda Elis dia pun ikut berbicara "Bang Agus, lihatlah ada dua wanita Cantik juga di kursi ini, bagai mana kalau kita mengajak mereka untuk bersenang senang"
Mendengar kata wanita cantik mata Agus pun langsung berbinar "Mana wanita cantik, ayo kita bawa dia"
Agus melirik ke arah Elis dan Sofy, mereka berdua malah tersenyum ke pada Agus sambil melambaikan tangannya.
Ekspresi wajah Agus langsung berubah, dari dia tadi berwajah sangar sekarang menjadi berwajah pucat.
Seolah darahnya menghilang dari dalam tubuhnya, tadi dia berucap seperti harimau mengaung tetapi sekarang dia seperti kucing yang melihat serigala.
Apalagi ketika melihat jagat yang menunjukkan raut wajah datar, membuat jantung Agus hampir copot.
Brak ....
Agus langsung berlutut yang membuat semua orang merasa heran.
"Bos kenapa kamu tiba tiba berlutut ?" Tanya anak buah Agus.
"Iya kak, kenapa kamu berlutut ?" Tanya Bram heran.
Agus mendongak kemudian berkata kepada anak buahnya "Bodoh di depan kita orang yang tidak bisa kita singgung, dia adik bang Anton, Bos sebenarnya dari geng Beruang Hitam"
Mendengar perkataan itu semua anak buah Agus ikut berlutut, sedangkan Bram dan teman temannya masih mematung dengan wajah yang pucat.
Elis mencibir "Di mana keberanian mu yang tadi, kenapa kalian berlutut, ayo membentak lagi aku suka di bentak orang"
Agus menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada "Maafkan aku nona, aku tidak berani, aku akan menampar diri ku sendiri atas kesalahan ku"
Plak....
Plak....
Jagat berkata pelan, tetapi terdengar sangat menakutkan "Siapa yang telah memprovokasi adik mu, bukanya kamu akan menghajarnya"
Agus menggelengkan kepalanya dengan hati yang ketakutan "Tidak aku tidak berani"
Jagat kembali berkata "Aku sudah katakan tidak boleh menindas orang, apa kamu ingin aku gantikan dengan yang lain"
"Ti... tidak tuan muda, jangan. Aku berjanji tidak akan melakukannya, ini karena adik ku mengadu bahwa dia sudah di pukuli"
"Apa kamu tahu, adik mu selalu memprovokasi adik ku, bahkan dia mau merebut pacar adik ku, mereka di hajar adik ku seorang dan aku tidak ikut campur, adik mu sungguh tidak berguna, aku ingin kedepannya adik ku tidak kalian singgung lagi" jagat mengaku feri sebagai adiknya.
Feri sungguh beruntung, karena jagat berkata bahwa feri adiknya, maka kedepannya tidak ada yang akan berani memprovokasi ataupun menunggu dirinya.
Jagat pun melanjutkan "untuk sekarang kamu aku ampuni, tetapi kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan kepada adik mu yang bodoh, yang telah memprovokasi adik ku"
Agus mengangguk "Baik tuan muda aku mengerti, aku akan menghajarnya dan menyuruh dia untuk tidak lagi memprovokasi adik tuan muda"
Agus kemudian bangkit dia langsung menampar wajah adiknya itu.
Plak ....
"Kenapa kamu masih berdiri cepat berlutut dan meminta maaf kepada tuan muda dan adiknya"
Bram tidak menerima dia di tampar kakaknya itu, tetapi dia tidak bisa apa-apa.
Plak....
"Masih tidak berlutut, akan aku bunuh kamu" bentak Agus.
Plak....
Agus kembali menampar "cepat berlutut dan meminta maaf, sudah mending kita di ampuni"
Mau tidak mau Bram berlutut di depan feri dengan wajah yang sudah membengkak karena di tampar Agus
"Maaf kan aku, aku tidak akan berani lagi menyinggung mu kedepannya" dengan tidak rela Bram meminta maaf.
Sofy menyeletuk "kalau minta maaf itu yang sungguh sungguh, jangan terpaksa"
Plak....
Kepala Bram di keplak Agus "Bersudut dan minta maaf"
Bram pun melakukan hal yang di katakan Agus, dia bersujud sambil meminta maaf.
Betapa malu dirinya, berlutut kemudian bersujud dan meminta maaf dengan di tonton oleh banyak orang yang mengunjungi restoran ini.
Jagat membentak "Pergi...."
Semua orang langsung bangkit kembali membungkukkan badannya kearah jagat dan kemudian bergegas pergi.
"Aku akan mengambil cincin milik mu, dengan gantinya kamu aman dari Bram dan teman temannya, untuk kedepannya kamu juga tidak akan di ganggu oleh orang lain, karena mereka tahu kamu adik ku" tutur jagat.
Feri pun merelakan cincin warisan dari leluhurnya itu di bawa oleh jagat, karena dari cerita yang dia dengar, bahwa leluhurnya itu keluarga pencuri.
Meskipun dia bermargaTaruma dia malu mengakui bahwa dia keturunan tidak langsung dari keluarga Saksana.
Feri pun iklas memberikan cincin tersebut, meskipun dalam hatinya bertanya tanya, mengapa mereka bisa tahu bahwa dirinya keturunan Saksana
Dan dia juga tidak mengerti mengapa jagat bisa mengambil kitab itu di dalam cincin yang dia pakai.
Jagat yang sudah makan siang pun beranjak dari tempat duduknya di ikuti oleh sofy dan Elis.
Mereka kembali ke rumah sakit Wijaya setelah membayar semua tagihannya, jagat juga membayar tagihan yang ferik dan indah makan.
***
* Bersambung