
Bab 212 Jadi Orang Jangan Kepo
Eyang mawon memuji kebaikan jagat, hanya karena dia memberi eyang mawon rambut kuntilanak.
Kemudian jagat mengeluarkan barang yang di pesan oleh eyang mawon "Ini barang yang anda pesan dulu, dan ini bonus 1 lagi"
Eyang mawon tersenyum "Tadi kamu memberiku ini dan sekarang aku mendapatkan bonus pula, aku akan menjadi pelanggan setia mu, kalau ada barang bagus hubungi saja aku"
Jagat mengangguk "Siap, untuk sekarang apa yang eyang butuhkan, siapa tahu aku memilikinya"
Eyang mawon pun berpikir sejenak lalu kemudian berkata "aku sekarang sedang ada yang pesan mani gajah yang encer dan yang batu mani, serta aku butuh perewangan yang sudah di taklukkan dan sudah siap pakai, apa kamu memilikinya"
Jagat tersenyum dan mengangguk "Ya aku memilikinya, berapa mahar yang akan eyang berikan untuk ketiga benda itu"
Eyang mawon pun menggoyang goyangkan telunjuknya "Sudah aku duga kamu memiliki yang apa aku butuhkan, lihat dulu barangnya, lalu aku akan menaksir harganya"
"Baiklah tunggu sebentar" ucap jagat.
Kemudian jagat merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone, kemudian dia menghubungi Sofy.
Tidak lama kemudian telpon pun di jawab "Halo ada apa ay, menelpon".
"Beib, bisakah kalian berdua kesini dan tolong bawakan aku ransel yang ada di atas meja" pinta jagat.
"Bentar ay, Elis lagi di dalam kamar mandi dan sebentar lagi selesai, setelah ganti baju kita akan kesana" balas sofy
Kemudian jagat pun mengakhiri panggilan dan memasukkan handphone milik nya kedalam saku celana.
"Sebentar ya eyang, nunggu istri ku mengambilnya di dalam kamar hotel" ucap jagat.
"Wow kamu masih sangat muda, tapi tidak aku sangka kamu sudah menikah, padahal waktu aku seusia mu, itu sedang asik asiknya bermain" ucap eyang mawon.
Jagat tersenyum "ya ini juga kita sambil main main, aku tidak mau di cap sebagai penzina, jadi aku menikah, sehingga aku bisa dengan puas melakukan itu di mana pun aku mau"
Eyang mawon mengacungkan jari jempolnya "Bagus kalau begitu, kamu anak muda yang berdedikasi tinggi"
Kemudian mereka pun mengobrol sambil menunggu sofy dan Elis datang sambil membawa tas ransel yang jagat simpan di atas meja.
*
Di tempat yang lain tepatnya di depan resepsionis, ada satu orang pemuda yang tinggi dan putih, wajahnya kalau di sebut orang sekitar jajaran pasar.
Yang berarti pemuda itu tidak ganteng ganteng amat dan tidak juga terlihat jelek.
Pemuda itu menggebrak meja resepsionis dan marah kepada karyawan yang menjaga resepsionis.
Brak....
"Apa kata mu, kamar VVIP yang aku pesan sudah di tempati orang, apa kamu tahu aku sudah membokingnya jauh jauh hari, dan apa kamu tahu aku menyewa hari ini karena hari ini hari spesial Bos kamu sendiri" ucap pemuda itu.
"Maaf tuan, aku tidak berdaya karena pelanggan ini pemegang kartu hitam yang harus dilayani secara khusus" bela penjaga resepsionis.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya aku harus mendapatkan kamar hotel itu hari ini" teriak pemuda itu.
"Maaf tuan aku tidak bisa mengusir mereka" ucap resepsionis sambil gemetar ketakutan.
"Kurang ajar, kamu tahu siapa aku, aku Rian Wicaksono orang kaya di kota ini, dan pemasok sayuran keseluruh cabang Hotel Arssad ini, kalau aku tidak bisa mendapatkan kamar sekarang juga maka aku akan berhenti memasok barang ke seluruh hotel Arssad ini" ancam pemuda yang mengaku bernama Rian Wicaksono.
Penjaga resepsionis itu pun merasa kesal dengan Rian yang mengancam dan arogan, resepsionis itu pun berkata "Kalau soal memasok, kebutuhan itu adalah urusan manajem hotel, tidak ada hubungannya dengan masalah ini, kalau anda menginginkan kamar itu, selesaikan saja sendiri, atau cari kamar di hotel lain"
Brak ....
Rian Wicaksono kembali menggebrak meja "Kurang ajar, berani sekali kamu berkata begitu, awas akan aku laporkan kamu kepada Raya dan aku akan menyuruh dia memecat kamu"
Resepsionis itu tersenyum "Terserah aku tidak akan takut, meskipun di pecat, aku sudah melakukan pekerjaan dengan baik dan sesuai prosedur"
Rian Wicaksono mendesih sambil berlalu pergi "Cih.... kurang ajar, nanti baru tahu rasa kamu"
Rian Wicaksono pun pergi menuju kamar hotel VVIP yang sedang di tempati oleh Sofy dan Elis.
Brak....brak....brak....
"Woy keluar kamu, seenaknya menempati kamar hotel yang sudah di pesan orang lain" teriak Rian Wicaksono.
Gedoran pintu dan teriakan yang keras membuat pengunjung hotel keluar dari dalam kamarnya masing-masing.
Sehingga Rian Wicaksono yang sedang marah menjadi tontonan pengunjung hotel lain.
Rian Wicaksono kembali mengetuk pintu dengan keras.
Brak....brak....barak....
"Keluar dari kamar hotel ini dan cari kamar hotel yang lain, kalau tidak akan aku usir kamu sekarang juga" teriak Rian Wicaksono.
Di dalam Elis yang sudah memakai pakaian dan Sofy yang menggendong tas ransel jagat merasa geram, karena tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu dengan keras dan berteriak teriak.
Tadinya mereka berdua akan keluar karena di perintahkan oleh jagat untuk pergi ke restoran dan membawakan tas ransel.
Tetapi ketika mereka ingin membukakan pintu, ada orang yang mengetok dengan tidak sopan, sehingga mereka terdiam dan mematung sesaat.
"Bagai mana ini, apakah kita harus menghubungi ay terlebih dahulu" ucap Sofy kepada Elis.
Elis pun menggelengkan kepalanya "Tidak usah, kita selesaikan masalah ini tanpa melibatkan mas say, kita tidak akan mudah di hadapi oleh keroco seperti lelaki ini"
Elis pun membuka pintu kemudian dia pun berkata "Ada masalah apa, kenapa kamu mengetuk kamar kami dengan tidak sopan"
Rian Wicaksono sedikit terkejut, karena yang keluar dari dalam kamar adalah 2 orang perempuan yang sangat cantik.
Rian Wicaksono sedikit terpana dengan tatapan mata dan kelopak mata yang tidak berkedip, serta mulut yang menganga.
Di dalam hati Rian Wicaksono pun berkata "Apa mereka masih manusia, atau kah bidadari"
Elis dan Sofy bukan hanya cantik, dia juga sekarang sedang memakai gaun malam yang tipis yang di balut switer untuk menutupi tubuh mereka.
Rok bawahan terlihat pendek sehingga paha mereka terlihat sangat putih dan mulus.
Orang lain yang melihat mereka langsung bertraveling dan berfantasi.
Tidak lama kemudian Rian Wicaksono pun tersadar dan bicaranya melunak, karena mereka berdua perempuan.
"Apa kamu tahu, kamar ini sudah aku boking dari jauh jauh hari, tapi kenapa kalian berani menempatinya" ucap Rian Wicaksono.
Elis pun mengangkat tangan dan bahunya "Apa peduli ku, siapa cepat dia dapat, kami yang lebih dahulu menempati kamar hotel ini, jadi lebih baik kamu pergi dan cari kamar hotel yang lain"
"Hai tapi aku kan sudah memboking kamar ini, lebih baik kalian keluar dari kamar ini dan cari hotel lain" ucap Rian Wicaksono yang hendak mengusir mereka berdua.
"Kamu baru membokingnya kan, tidak menempatinya, dan kami yang menempati kamar ini, jadi ini sudah hak kami menginap di kamar hotel ini" ucap Sofy.
Rian Wicaksono pun mengancam "Keluar atau tidak, kalau tidak aku akan melakukan...."
Rian Wicaksono tidak melanjutkan bicaranya dan dia hanya mengancam sambil menunjuk Elis dan Sofy.
Sofy pun menutup pintu "Emang kami akan keluar, dan nanti kembali lagi, karena kuncinya ada di tangan ku jadi aku bebas pergi dan masuk kembali ke dalam kamar hotel ini"
Setelah sofy menutup pintu dan menguncinya dia pun meraih tangan Elis "Ayo kita pergi, abaikan orang gila ini"
Mereka pun hendak melangkah pergi tetapi Rian Wicaksono merentangkan kedua tangannya "Berhenti kalian berdua mau kemana"
Elis mendorong dada Rian Wicaksono sampai dia sedikit terhuyung kesamping.
Elis pun mencibir "Dasar bodoh, kata mu, kami harus keluar dari kamar hotel, ya ini sudah ada di luar. Tetapi ketika kami ingin pergi kamu menghalangi, dan malah bertanya mau kemana kami, jadi orang itu jangan kepo, urusi urusan mu sendiri"
***
* Bersambung