
Bab 268 Ajian Waraga Sungsang
Elis dan kakek badar pun sampai di arena semua penonton langsung menyingkir dan memberikan ruang yang luas untuk mereka bertarung.
Sekarang pertarungan ini terlihat tidak seimbang karena 11 orang melawan 2 orang dan salah satunya adalah wanita.
Di sana Ki Maja bertanya "Hai kamu, kalau boleh tahu siapa nama mu dan dari mana asal mu, kamu sungguh berani menantang semua murid ku yang ada di sini ?"
Elis menyeringai "Nama ku Elis Tanjaya, dari keluarga jawara kuno Tanjaya yang ada di kota G"
Para penonton tidak tahu mengenai adanya keluarga jawara kuno, apalagi tentang keluarga Tandjaya.
Tetapi ada sebagian orang yang berasal dari kota G tahu keluarga kuno ini "Oh keluarga jawara kuno yang ada di kampung cisarati kecamatan ci danao, itu kan keluarga yang katanya keturunan Bidadari"
Salah seorang penonton mengemukakan pengetahuan tentang keluarga Tandjaya yang membuat semua orang melongo.
"Apa keturunan bidadari, itu berarti wanita di daerah tersebut cantik semua dong"
Orang itu pun mengangguk "lihat saja nona itu, dia sangat cantik seperti bidadari, dan konon katanya mereka awet muda"
"Benarkah, aku harus pergi ke sana untuk memastikannya, siapa tahu ada yang kepincut oleh ku" ucap salah seorang penonton.
"Oh jadi kamu dari cisarati, aku pernah mendengar tentang keluarga jawara kuno itu, tetapi sayangnya aku belum pernah sempat berkunjung ke tempat itu, pantas kamu begitu berani kalau berasal dari keluarga jawara kuno" ucap Ki Maja.
Kemudian Ki Maja menoleh ke arah kakek badar "Hai badar, cucu mu beruntung mendapatkan wanita dari keluarga jawara kuno, tetapi itu percuma karena sekarang pemenangnya sudah di tentukan yaitu aku"
Ki Maja percaya diri akan memenangkan pertarungan ini, dia sudah berlatih dan mendalami beberapa ilmu Kanuragan untuk mengalahkan badar Sandjaya sekarang.
"Jangan banyak bicara, ayo buktikan kalau kamu bisa mengalahkan ku" ujar kakek badar.
Seruan si rambut kuning sebagai pembawa acara dari tadi menggema menyuruh para penonton untuk memasang taruhan.
Dia juga memuji kedua Petarung sebagai legenda yang tidak terkalahkan di masanya.
Dengan informasi yang di berikan oleh si rambut kuning membuat mereka begitu kagum dengan para legenda Petarung di dunia bawah ini.
Bahkan panitia penyelenggara yang tidak mengenal siapa badar Sandjaya sekarang semakin menghormati dirinya.
Suara derit terdengar, itu tanda diturunkan kembali jeruji besi sebagai sangkar para petarung.
Ini yang kedua kalinya jeruji besi itu diturunkan, itu karena pertarungan yang akan terjadi begitu dahsyat.
Seperti pertarungan sofy melawan Azuka, yang memakai senjata, kalau tidak menggunakan sangkar besi maka akan berbahaya bagi penonton.
Begitu pula sekarang, karena yang bertarung adalah para legenda dan murid muridnya, maka untuk keamanan panitia menurunkan jeruji besi, sehingga mereka hanya bertarung di dalam sangkar saja.
Ki Maja pun sudah siap dengan memasang kuda kuda, begitu pula semua muridnya.
Setelah si rambut kuning berteriak pertarungan di mulai, Ki Maja dan muridnya langsung maju dan menyerang.
Ki Maja langsung melancarkan serangan kearah kakek badar, tidak setengah setengah, dia melayangkan pukulannya dengan di lapisi ilmu Kanuragan dan tenaga dalam.
Kakek Badar pun menahan serangan tersebut dan kembali membalas, sehingga mereka berdua serang beli serangan.
Bahkan gerakan keduanya tidak terlihat oleh penonton saking pergerakan mereka sangat cepat.
Mata biasa tidak bisa melihat pergerakan tersebut, bahkan Ki Maja dan kakek badar seperti menghilang di arena pertarungan.
Hanya kilatan cahaya merah dan biru yang di terlihat berkelebat, di arena pertarungan.
Sementara itu Elis langsung di kelilingi 10 orang murid Ki Maja mereka semua tersenyum sambil memasang wajah mesum.
"Ayo kita permalukan wanita itu, dia dari tadi menghina kita dengan sebutan lemah, kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya, ayo kita cabik dan buka seluruh pakaiannya, supaya dia hidup dengan rasa malu" ucap salah satu murid Ki Maja.
Semua orang menganguk setuju dan salah seorang dari mereka pun memberikan komando "Ayo maju dan serang...."
Elis tersenyum dia memang kuda kuda bertahan, salah seorang murid Ki Maja berniat meraih miniset yang di kenakan Elis supaya miniset itu terlepas.
Tetapi tangannya di takis Elis, dia langsung mempelintir tangan yang berniat menyentuh minisetnya.
"Dasar mesum, apa yang hendak kamu lakukan, apa kamu bernapsu dengan payudara ku"
Krekak.....
Argh .....
Orang itu langsung meringis kesakitan karena di pelintir Elis, yang lainnya pun melakukan serangan.
Bak.... Buk.... Bak.... Buk....
Satu persatu Elis memukuli murid Ki Maja sampai wajah mereka memar dan tidak berbentuk lagi.
Tangannya di buat terpelintir dan kaki mereka di buat pincang, melawan murid Ki Maja tidak lah sulit hanya dalam 5 menit saja mereka sudah terkapar dan Elis tidak mengalami cacat atau tergores sedikit pun.
Murid Ki Maja ada di tingkatan master tahap pertama sehingga masih sangat mudah untuk mengalahkan mereka.
Elis menyebut mereka lemah, memang mereka tidak sekuat para bodyguard milik jagat.
Elis pun menepuk pakai dan tangan dari debu, kemudian dia melihat koper yang berisi sertifikat dan berkas yang di jadikan taruhan oleh Ki Maja.
Elis pun mengambil koper tersebut "kek aku keluar ring duluan, semua orang yang ku lawan sudah kalah"
Kakek Badar tidak menjawab karena sedang fokus bertarung dengan Ki Maja tetapi terlihat kakek badar menoleh dan mengangguk.
Kemudian Elis berbicara Kembali "Hai Ki Maja, murid mu sudah kalah, sekarang aku mengambil berkas dan sertifikat ini dulu, setelah kamu kalah dari kakek badar, maka cincin batu wulung Kadigjayaan serahkan lah kepada ku secepatnya"
Ucapan itu menyulut emosi Ki Maja sehingga dia pun tidak konsentrasi "Hai wanita kurang ajar, letak itu kembali, aku belum kalah dari si badar"
Brak....
Satu serangan mendarat di badan Ki Maja sehingga dia langsung terlempar dan menubruk jeruji besi.
Serangan itu di lancarkan kakek badar dengan telak menghantam dada ku Maja.
Jeruji besi yang di hantam Ki Maja langsung bengkok, dengan membentuk tubuhnya sendiri.
Itu berarti bahwa serangan dari kakek badar sangat keras dan mematikan sampai Ki Maja pun mengeluarkan seteguk darah.
Uhuk.... Uhuk....
"Hai Maja kemana mata mu melihat, kita sedang bertarung, jadi konsentrasi lah dengan pertarungan kita" cibir kakek badar.
"Cuih.... Sialan, dasar tuan Bangka dan wanita berengsek, mengelihkan perhatian lalu menyerang ku, dasar curang" bela Ki Maja yang tidak mau di permalukan.
Elis pun menunjuk "Hai siapa yang curang, kami atau kalian, masa 2 orang lawan 11 orang, apa itu tidak curang, ngaku saja kalau kamu lemah, sehingga beraninya main keroyokan"
Elis pun memprovokasi supaya emosi Ki Maja meningkat, itu sengaja karena surpei membuktikan emosi meningkat maka kecerdasan menurun.
Elis sengaja membuat Ki Maja emosi dan setelah emosi maka gerakannya tidak akan terkontrol lagi, maka dia akan bergerak dan menyerang secara membabi buta.
Dan bagi para praktisi beladiri, jika lawan menyerang dengan membabi buta, maka banyak celah kosong untuk balik menyerang.
Elis pun berbicara kembali "tadinya aku hanya ingin menonton kakek badar bertarung, karena aku sudah mengalahkan semua murid mu, tetapi kamu bilang kalau aku curang, biarlah kamu anggap apa"
Kemudian Elis berpaling ke kakek badar "Kek bagai mana kalau kita keroyok saja dia, seperti muridnya yang telah mengeroyok ku, supaya dia tahu apa yang di namakan curang"
Kakek Badar melambaikan tangannya "Tidak usah, ini bagian ku, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan ku, Bahakan pergerakan yang dia lakukan sangat lambat, mungkin tulang dia sudah monofos"
Elis pun mengangguk "Baiklah kek aku pergi dulu dan menonton di balik jeruji"
Elis pun menghampiri jeruji besi yang ukuran besinya ada sekitar 2 jari dewasa, jeruji beton yang sangat keras.
Tetapi dengan kekuatan Elis dia bisa membengkokkan jeruji tersebut.
Krekak.....
Elis pun keluar dari balik jeruji yang dia bengkokkan tadi, semua orang tercengang dan tidak berani mendekat.
Kemudian Elis menunjuk salah seorang dari penonton "Hai kamu bawakan aku kursi itu"
Penonton itu pun terperanjat kaget dan kemudian tersadar, dia pun mengambil kursi dan membawakannya untuk duduk Elis.
"I....ini, nona....!"
Elis mengangguk "Terima kasih...."
Elis pun duduk dengan lengan di lipat di depan dada dan koper yang berisi berkas sertifikat di simpan di atas pahanya.
Ki Maja pun bangkit kembali dia pun menghentakan kakinya kemudian dia berteriak dengan keras "Ajian Waraga sungsang...."
***
* Bersambung