
Setelah itu jagat pun mencoba mengeluarkan barang dan memasukan barang berulang kali, dia pun tahu dan mengerti cara pemakaiannya. Sehingga dia tidak perlu memasuki alam bawah sadar untuk mengambil sesuatu dari dalam cincin penyimpangan itu.
Setelah itu jagat tidak berhenti, dia membuka gulungan kitab beladiri pedang petir membacanya dan kemudian bermeditasi seolah dirinya sedang berkultivasi.
Kembali dia berada di alam bawah sadar dan melihat ada seseorang yang memperagakan gerakan beladiri pedang petir, seolah orang itu sebagai guru dan jagat harus mengikuti gerakannya.
Jagat pun mengikuti setiap gerakan dari orang itu dari awal sampai akhir dan dia pun mengulangi terus menerus sampai dia hapal gerakan gerakan tersebut.
Jagat bermeditasi semalaman, dia bermeditasi dengan bermandikan keringat seorang habis berolahraga yang sangat berat.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar dan kemudian jagat pun tersadar lalu membuka matanya.
Dia terkejut karena bajunya basah oleh keringat dan badannya sangat bau, karena bukan hanya keringat tetapi juga kotoran yang keluar melalui pori pori tubuh.
Jagat pun dengan terpaksa membukakan pintu dan ternyata yang tadi mengetuk pintu itu adalah Elis.
"Ih mas say bau banget, habis ngapain semalaman sampai habis kecebur komberan" ucap Elis sambil menutupi hidungnya.
Jagat tersenyum sambil menggaruk kepalanya, dia tidak bisa menjelaskan tentang kejadian semalam.
Tetapi Elis langsung melemparkan haduk ke wajah jagat "Sana pergi mandi, baik banget tahu tidak"
Jagat pun bergegas mandi dan setelah dia mandi, badannya terasa begitu segar dan enerjik. Kemudian mereka pun sarapan pagi.
Menjelang siang dukun keluarga saksana pun datang dan menyerahkan sisa dari selendang bidadari, dia melakukan hal itu karena ancaman dari jagat kemarin malam.
Setelah itu keluarga Tandjaya pun berkumpul karena selendang bidadari yang dari ratusan tahun lalu di pegang oleh keluarga saksana sekarang berada di tangan keluarga Tandjaya.
Nyai Danastri pun berkata "leluhur pernah berpesan bahwa apabila kita sudah menemukan selendang miliknya, maka dia berpesan bawa selendang itu ke goa naga, disana ada patung leluhur kita, kemudian ikatkan selendang itu di pinggang patung tersebut"
Semua orang saling menatap, karena baru pertama kali mereka mendengar goa naga dan ada patung di dalamnya.
Tandi Tandjaya pun bertanya kepada nyai Danastri "Uwa kami tahu dahulu kala sebelum adaya danau cidanao, ada sebuah goa. Tetapi sekarang sudah terendam air danau dan mustahil bagi Kita untuk kesana, bagai mana caranya kita memasuki goa tersebut ?"
Mendengar perkataan dari Tandi Tandjaya semua orang saling menatap, mereka tidak tahu harus bagaimana karena mereka berpikir pasti goa itu sudah di penuhi oleh air dan mustahil untuk memasukinya.
Meskipun memakai alat seperti para penyelam tetapi di dalam goa itu pasti gelap dan tidak akan bisa menemukan patung leluhur mereka.
Para tetua pun banyak berspekulasi tentang goa tersebut, tetapi nyai Danastri tidak ambil pusing dia langsung menunjuk seseorang untuk tugas seperti ini.
"Elis pergilah ke danau sekarang juga dan pergi ke goa itu, aku percaya akan kemampuan mu" perintah nyai Danastri.
Elis tanpa ragu menganggukan kepalanya "Baik ibunda. Aku akan melaksanakannya"
Kemudian nyai Danastri menoleh kearah Tandi Tandjaya "Tandi siapkan perahu yang agak besar, biar Elis dan suaminya yang pergi kedalam goa itu, kamu hanya bertugas mengantarkan mereka dengan perahu"
Tandi Tandjaya mau tidak mau harus menerima tugas itu kemudian dia mengangguk dan meminta ijin untuk menyiapkan perahu.
Nyai Danastri pun berbicara kembali "ini sebenarnya tugas terakhir keluarga Tandjaya setelah beberapa ratus tahun amanat ini di turunkan dari generasi ke generasi, dan sekarang keluarga Tandjaya kita bisa lebih leluasa berkembang sampai ke luar daerah cidanao, kita bisa mengembangkan potensi kita di kota dari pada di kampung terpencil ini"
Semua orang langsung menyatakan setuju, karena sudah sangat lama mereka ingin pergi ke kota dan ingin mengetahui kehidupan di kota.
Tetapi disana jagat mengajukan pendapatnya "Maaf ibu mertua, kenapa keluarga Tandjaya harus pergi ke kota ? kenapa kita tidak mengembangkan kampung kelahiran kita ini"
"Iya kebanyakan orang kota mendambakan kehidupan di kampung, bahkan orang kaya di kota memilih tinggal di komplek yang bernuansa pegunungan, bahkan mereka memilih tinggal di vila yang berbeda di pegunungan yang dekat dengan pusat kota, tapi kenapa orang kampung memilih ingin pindah ke kota, padahal kota hanya tempat untuk bekerja bukan bermukim" jelas jagat.
Tetua keluarga Tandjaya pun bertanya "Terus kita harus bagai mana sekarang"
Jagat sebenarnya memiliki rencana untuk mengembangkan kampung cisarati untuk dijadikan tempat wisata alam andalan di kota G ini.
Wisata kuliner yang akan di dirikan di kampung cisarati ini, jagat ingin membuat restoran apung di danau cidanao.
Kemudian jagat pun mengemukakan keinginannya "Rencana aku ingin membuat tempat wisata di tempat ini dan membuat restoran apung di danau cidanao, sehingga orang orang kota akan datang kemari dan perekonomian kampung ini bisa mencapai hasil yang memuaskan, dan rencana aku akan membangun jalan rambat beton menuju ke tempat ini supaya akses keluar masuk kampung lebih mudah....."
Jagat berbicara panjang lebar menjelaskan keinginan dirinya untuk memajukan kampung cisarati ini, karena menurut jagat kampung ini bisa di jadikan destinasi wisata.
Jagat pun melanjutkan "Di kota G aku memiliki Hotel cabang dan rencana aku akan menyediakan Beberapa unit Bus untuk sarana transportasi dari hotel ku ketempat ini, orang dari kampung ini akan mudah ke kota dan begitu juga sebaliknya"
Semua orang saling menatap, mereka kemudian berdiskusi baik dan buruknya tentang apa yang di rencanakan oleh jagat.
Kemudian nyai Danastri pun berbicara "Baiklah kamu dan Elis selesai dulu tugas, kamu para tetua akan mengundang semua penduduk kampung cisarati untuk berdiskusi, setelah kalian pulang dari menyelesaikan tugas aku akan memberitahukan keputusan warga kepada mu"
"Baiklah ibu mertua, kami berdua akan bersiap terlebih dahulu" ucap jagat.
Kemudian dia pun pergi bersama Elis untuk menyiapkan peralatan, sedangkan sofy keluar dari rumah besar tersebut untuk menunggu mereka di luar.
Tandi Tandjaya sudah menunggu di luar karena perahu sudah dia siapkan dan mereka tinggal berangkat saja.
Melihat sofy yang sedang menunggu sendiri Tandi Tandjaya pun mendekati sofy dan menyapanya.
"Hai nama mu sofy kan, temannya kak Elis" sapa Tandi Tandjaya.
Sofy hanya mengangguk tanpa berbicara apapun, kemudian Tandi Tandjaya memuji sofy waktu bertarung melawan Darya dan jawara keluarga Saksana waktu datang ke kampung ini dan kemarin malam.
"Sofy kamu hebat, tendangan kaki mu sangat mengagumkan, bahkan kamu berani melawan Darya waktu menuju kampung ini, dan bukan itu saja, kamu juga bisa mengalahkan jawara keluarga Saksana kemarin malam, bahkan meskipun jawara keluarga Saksana menyayat kulit mu, luka di tubuh mu dengan cepat kembali sembuh, apa kamu memiliki ilmu panca Sona ?" Tanya Tandi Tandjaya.
"Apa itu ilmu panca Sona ?" Sofy balas bertanya.
"Apa kamu tidak tahu ilmu panca Sona, ilmu itu paling hebat, orang yang memiliki ilmu itu bila terlalu dia akan kembali sembuh, dan kalau pun tubuh mereka di belah jadi dia bagian, tidak akan mati kalau terkena angin" jelas Tandi Tandjaya.
"Maaf aku tidak tahu dan tidak mempelajarinya, aku hanya belajar taekwondo waktu masih kuliah dan keluarga dari ayah ku mengajariku Wushu waktu aku masih kecil" jawab Sofy.
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna