
Bab 323 Jangan Pura Pura Lemah
Mendengar pertanyaan jagat, apakah kamu kekasihnya Eriska, Mandala malah terdiam, dia tidak menjawab karena memang tidak ada hubungan apa pun Mandala dengan Eriska.
Hanya saja dari dulu Mandala menyukai Eriska dan dia adalah penggemar rahasia Eriska.
Tadi pagi Mandala melihat Eriska semakin cantik saja, dan sekarang dia bertekad akan mendekati Eriska.
Sehingga siapa pun pesaing cintanya, akan dia singkirkan, apa lagi ada seseorang yang memanas manasi Mandala supaya menghajar jagat, karena dia dekat dengan Eriska.
Mandala pun berkata dengan tanpa rasa malu "Aku bukan kekasih Eriska, tetapi aku menyukainya, aku berniat untuk mendekatinya, maka selain aku tidak ada yang boleh bersama dia"
Jagat tersenyum kemudian dia menyeruput secangkir kopi "Ach...."
Di sana jagat pun sedikit memprovokasi Mandala "hai sobat, apa otak mu tidak bermasalah, kebetulan aku seorang dokter, ayo duduk aku akan memeriksa mu, kebetulan aku juga bisa mengobati gangguan kejiwaan seperti yang kamu alami"
Mendengar provokasi itu, Mandala hendak membalikkan meja yang ada di depan jagat.
Tetapi ibu kantin keburu keluar dengan memegang pisau dapur bekas mengiris bawang.
Tangan Mandala sudah meraih sisi meja dan tinggal mengangkat lalu membalikanya, tetapi di belakang ibu kanti berteriak sambil mengacungkan pisau.
"Woy bocah, kalau kamu berani merusak barang yang ada di kantin ini, aku tidak akan segan membuat pisau yang ada di tangan ku bersarang di perut mu"
Ibu kantin berteriak dengan galak sehingga Mandala pun mengurungkan niatnya untuk membalikan meja.
Kemudian Mandala pun berkata kepada jagat "Ayo keluar, kita selesaikan dengan jantan di gedung olah raga"
"Kenapa harus di gedung olah raga ? Terus, menyelesaikan dengan jantan, kamu kira aku ini apa, apakah kamu tidak melihat aku ini pejantan tangguh" ucap jagat yang pura pura polos.
Orang orang yang mendengar perkataan dari jagat pun sontak tertawa terbahak-bahak.
Mandala pun mendengus kesal "Sialan, kita selesaikan di gedung olah raga dengan cara berkelahi, apa kamu tahu itu"
Mandala memperjelas ucapannya karena jagat tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Mandala.
Sebenarnya jagat sedang mempermainkan emosi Mandala, sejauh mana emosi Mandala bisa meledak ledak.
Karena kata orang, apa bila emosi meningkat maka kecerdasan akan menurun, dan orang yang lagi emosi itu biasanya otaknya menjadi bodoh dan tidak bisa berfikir panjang.
Jagat pura pura kaget "Apa berkelahi ? Apa itu tidak salah, aku harus berkelahi dengan mu, untuk apa ?"
"Dasar kurang ajar, yang tentu saja untuk Dewi ku Eriska" ucap lantang Mandala.
Kemudian jagat tersenyum "Kenapa harus dengan berkelahi dan kenapa kamu bawa bawa nama Eriska segala ?"
Jagat di sini berpura pura bodoh dan terus memprovokasi Mandala dengan pertanyaan yang bodoh dan berputar putar.
Mandala pun sudah tidak tahan lagi, dia mengangkat tangannya hendak memukul jagat sambil berkata "Sialan, tentu saja karena aku menyukainya dan tidak boleh ada orang yang menyukainya juga"
Pukulan itu hendak di layangkan ke wajah jagat tetapi di sana terdengar teriakan "Woy sudah aku bilang, jangan bikin onar di sini atau pisau ku ini mendarat di perut mu"
Ternyata yang berteriak itu ibu kantin yang kembali untuk memastikan mereka tidak berkelahi.
Ibu kantin pun berjalan mendekati sambil mengacungkan pisau yang dia pegang "Pergi atau aku tusuk kamu"
Ancaman dari ibu kantin membuat Mandala merinding, bukan karena Mandala takut di tusuk ibu kantin.
Dia adalah seorang ahli bela diri, tidak mungkin takut terhadap ibu ibu lemah yang bersenjatakan pisau.
Tetapi Mandala takut karena reaksi ibu kantin seperti orang gila yang membabi buta.
"Jangan lari kamu, aku tunggu kamu di luar, dan selesaikan masalah kita, kalau tidak...."
Mandala memberikan isyarat jempol tangannya di arahkan ke leher dan itu berarti bahwa jagat akan di habisi.
Si ibu kantin berteriak kepada Mandala "Pergi sana, jangan berani masuk kantin ini lagi, kamu sudah aku blacklist dari daftar mahasiswa yang boleh masuk ke kantin ini"
Ibu kantin itu pun menghampiri jagat dan berkata dengan sopan "Mas jangan ladeni orang gila itu, dia mahasiswa yang nakal di universitas Wijaya ini"
Jagat pun mengangguk sambil tersenyum "Iya Bu, aku tidak membuat masalah kepada orang, tetapi orang lain yang selalu berbuat masalah kepada ku"
Wajah jagat seperti memelas dan menunjukkan raut wajah yang sedih, jagat seperti raja drama yang sedang pura pura lemah, padahal cecunguk kecil seperti Mandala, akan dengan mudah di libas oleh jagat.
Kemudian jagat menanyakan tagihan kepada ibu kantin "Bu berapa semua tagihan ku, kalau aku masih di sini aku tidak mau kalau orang tadi berbuat nekad dan menghancurkan tempat ini"
Ibu kantin memberitahukan tagihan yang harus di bayar oleh jagat, dan dia pun membayar, ibu kantin pun berpesan sebelum jagat pergi meninggalkan kantin.
"Ingat ya mas, jangan ladeni orang gila tadi, apa pun abaikan saja"
Jagat mengangguk "iya Bu"
Jagat pun pergi keluar dari dalam kantin itu, dan berjalan keluar.
Jagat menengok ke kiri dan kanan, ternyata orang yang bernama Mandala tidak ada di depan kantin, jagat pun tidak mempermasalahkan hal itu.
Kemudian tiba tiba Mandala keluar dari balik pohon, ternyata dia bersembunyi dengan baik di balik pohon besar.
"Hai kurang ajar, ayo ikut dengan ku" Mandala meraih tali tas selempang yang di pakai jagat, dia pun menarik jagat seperti sedang menuntun seekor kambing.
Jagat tidak menolak maupun memberontak, dengan patuh jagat mengikuti Mandala ke gedung olah raga.
Sesampainya di gedung olah raga, terlihat banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berlatih beladiri.
Mereka berhenti berlatih ketika melihat Mandala menarik jagat seperti seekor kambing.
Kemudian jagat di bawa ketengah arena latihan, kemudian Mandala melepaskan tali tas yang dia tarik, kemudian berseru.
"Teman teman, anak ini sudah berani mendekati Dewi ku, aku akan membuat perhitungan dengannya, kalian akan menjadi saksi, kalau aku akan menghajarnya dan mendapatkan Dewi ku"
Orang orang yang ada di sana sudah tahu bahwa Mandala sangat terobsesi dengan Eriska, dengan cara apa pun dia akan mendekati Eriska.
Orang orang itu adalah junior dari Mandala, sudah pasti junior mendukung seniornya.
Mereka pun berteriak dengan semangat "Hajar.... Hajar.... Hajar"
Suara itu menggema keseluruh gedung olah raga.
Jagat pun melambaikan tangannya "Tunggu, kenapa kamu mau menghajar ku, lihatlah diri mu yang tinggi besar, bahkan kamu senior beladiri di tempat ini.
Sedangkan aku kurus kering begini, apakah seorang ahli bela diri seperti mu tidak malu menindas orang lemah seperti ku".
Mandala pun tertawa "Hahaha.... Lemah kata mu, Jagan bercanda, aku tahu kamu pernah menghajar Toni Rahardjo di kampus ini, Bahkan sampai pak Sanusi Rahardjo ayahnya Toni bersimpuh meminta maaf dan ampunan kepada mu.
Tetapi kamu malah menendang si Toni Rahardjo itu sampai terpental dan masuk tong sampah, vidionya sudah menyebar dan aku pernah menontonnya"
Kemudian Mandala menunjuk " Jadi jangan pura pura lemah di hadapan ku, ayo maju dan lawan aku"
***
* Bersambung