
"Mungkin ini memang yang terbaik untuk Dhea, ikhlaskan Dhea," ucap Sheila.
"Kalian ini sahabatnya, kenapa bicara seperti itu? Apa kalian mau dia pergi?" bentak Vean.
"Jadi ini yang dibilang sahabat? Cih!" lanjutnya.
"Kami memang sahabat Dhea, jadi kami tidak mau dia menderita lebih lama lagi. Toh dia menderita juga karena kalian berdua. Seharusnya Dhea tidak perlu mengenal kalian. Mengenal kalian hanya membuat dia seperti sekarang," balas Clara.
"Jangan bertengkar, Dhea tidak akan suka kalian seperti ini," ucap Juna.
"Kalau aku tahu ginjal itu dari Dhea, aku juga tidak akan menerimanya. Kalian semua dengar itu, Sialan? Aku tidak akan menerimanya!"
"Dan ya, jadikan saja aku penjahat di sini. Maki aku sepuas kalian. Siapa yang menipuku di sini? Siapa yang meminta ginjal itu darinya? Pasti kalian juga akan mengatakan kalau aku tidak tahu berterima kasih. Memang iya, aku tidak akan berterima kasih. Kalau perlu, ambil lagi ginjal ini dan kembalikan padanya."
Brak
Vean menendang kursi yang ada di depannya. Mereka belum pernah melihat Vean yang kalap seperti ini. Biasanya pria itu hanya diam tanpa ekspresi.
Amarahnya orang pendiam itu sangat menakutkan, dan sekarang mereka bisa melihat itu dari diri Vean. Jangan dikira selama ini Vean tidak tahu kalau Clara, Aila dan Sheila itu bicarakan dirinya di belakang.
Mereka hanya melihat dari sudut pandang orang luar, dari sudut pandang sebagai sahabat Dhea. Tapi tidak ada yang tahu, apa yang dia rasakan selama ini, dan doa memang tidak meminta orang-orang untuk memahami dirinya.
Apa mereka benar-benar perduli?
Apa mereka mau mengerti?
...💦💦💦...
Vean duduk termenung di taman. Dia ingin sendiri, tidak mau diusik oleh siapa pun. Dia tidak ingin mendengar orang-orang bicara padanya. Mau itu kedua orang tuanya, Fio, atau om Tante dan sepupunya.
Di saat sudah seperti ini, maka dokter akan—dengan berat hati—mengatakan untuk melepaskan, untuk mengikhlaskan agar yang sakit bisa pergi dengan tenang, tanpa merasakan sakit lagi.
Monitor sudah menunjukkan organ-organ vital Dhea yang semakin melemah.
Arya membawa ibu panti dan adik-adik yang ada di panti asuhan. Pria itu juga menghubungi teman-teman seangkatan mereka di panti asuhan yang masih bisa dihubungi, meminta doa yang tebaik untuk teman mereka, untuk saudara mereka itu.
Mendoakan yang tebaik, entah itu kembali sehat, atau terus melangkah. Meninggalkan mereka dan segala rasa sakit ini.
Ini juga tidak mudah bagi mereka ....
Berkata untuk pergi dengan tenang, seolah membuat mereka seperti orang jahat saja. Seolah menyumpahi atau takut dibuat susah karena harus merawat.
Berkata untuk tetap bertahan, seolah membuat mereka juga salah. Menahan sesuatu yang bisa membuat penderitanya lebih lama. Tidak ikhlas akan takdir atau lebih menyukai Dhea yang kesakitan daripada merelakannya untuk pergi.
Jadi, mereka harus apa?
Tangan yang digenggam itu bahkan terasa sangat kurus dan lemah. Seperti tak ada daging dan tak bertulang.
Fio Sidah tidak kuat lagi, dia berdiri di sisi brankar Dhea. Tidak ada kata-kata yang terucap.
Dia menekan hidungnya dengan kuat, sementara air mata tak lagi terbendung.
Membiarkan pergi dengan diiringi doa dan keikhlasan, atau meminta untuk bertahan?
Sungguh pilihan yang berat ....