
"Ya, ada apa Kak?" Dhea mengusap matanya yang masih sangat mengantuk.
Vean berdehem pelan, dia sangat deg-degan saat ini.
"Ayo kita malam mingguan."
"Hah?"
"Malam mingguan. Ayo, nanti terlambat."
"Malam mingguan? Tapi ini masih jam empat pagi, Kak."
"Jadwal kita padat hari ini. Buruan nanti kesiangan."
Kesiangan mbahmu, sudah dibilang ini masih jam empat pagi.
"Gak usah mandi, nanti masuk angin."
Dhea mendelik kesal pada tetangga sebelah rumahnya itu.
"Ayo."
"Ayo ke mana? Mall juga belum buka jam segini."
"Kita bisa joging di depan rumah."
Sekuriti yang sedang berkeliling, mendekati mereka.
"Pagi Mbak, Mas. Mau joging?"
"Iya, Pak."
"Ayo."
Bukannya lari pagi, mereka hanya jalan dengan Dhea yang beberapa kali menguap.
"Gandengan napa, Kak."
Dhea lalu menautkan—bukan tangan—tapi hanya kelingking mereka saja.
Ya ampun, jantungku. Kenapa dia selalu bisa bikin aku deg-degan? Batin Vean.
"Kak Vean dingin?"
"Enggak."
"Mau peluk?"
"Enggak."
"Mau nikah sama aku?"
"Eng ... mau, mau!"
Dhea tertawa, sedangkan Vean melirik Dhea, antara kesal dan gemas.
"Ayo ke pasar."
Di pasar yang masih cukup gelap itu, mereka belanja banyak bahan masakan.
"Berapa semuanya?"
"Tiga ratus dua ribu."
"Eh?"
"Aku gak bawa uang."
"Aku juga."
"Aku gak bawa ponsel."
"Aku juga."
Pedangan itu menghela nafas.
"Jadi beli apa enggak?"
"Pinjam ponsel, Pak. Saya mau telepon teman."
Vean lalu menghubungi Juna. Untung saja dia hapal nomor ponsel pria itu.
"Jun, ke kasar sekarang. Bawa uang yang banyak."
"Pasar? Ngapain?"
"Aku sama Dhea di sini. Gak bawa uang. Buruan! Jangan lupa bawa uang yang banyak."
Juna melirik jam di dinding.
Baru jam lima'an.
"Hadeuh ... ganggu saja."
Juna tidak mau merasakan ini sendiri, dia lalu ke rumah tetangga, mau ajak ikut.
"Apaan? Pagi-pagi udah namu aja."
"Vean sama Dhea di pasar. Gak bawa uang."
"Terus?"
"Ya kita ke sana, lah."
"Ck. CEO kok ke pasar gak bawa uang."
Mereka akhirnya menyusul ke pasar memakai mobil.
"Bayarin sana!" ucap Vean.
"Dasar!"
"Kak, sekalian beli kue, untuk yang lain juga."
"Beli semua yang kamu mau, Dhea. Abang Juna yang akan bayarin." Juna menepuk dadanya, membuat Vean dan Arya mendengus.
Mereka sampai di rumah. Vean sudah banyak rencana untuk kencan mereka hari ini. Ya, walau tak seindah yang diperkirakan gara-gara gak bawa uang.
"Ck, aku khawatir hari pertama mereka kencan akan berantakan. Vean kan tidak punya pengalaman."
"Waktu sama Fio?"
"Ck, kan selalu ada Dhea di antara mereka. Atau berempat sama aku."
"Memangnya kamu pernah punya pengalaman kencan?"
"Ya enggak. Aku sibuk belajar dan kerja. Jalan-jalan juga ya sama mereka."
Selanjutnya, Vean berencana mau memasak.
Membayangkannya saja, Juna dan Arya sudah ketar-ketir.
Fio yang ikut nimbrung, diam saja. Dia jadi berangan-angan, nanti punya pacar akan seperti apa.
"Jangan kebanyakan mengkhayal!"
"Kalian ini, selalu saja galak. Awas, nanti gak laku."
"Noh, Vean saja yang kaya begitu laku."
"Dhea mungkin lagi khilaf."
"Khilaf yang berkepanjangan, ya?" Juna dan Fio tertawa.
"Kalian ngapain?" tanya Dhea.
"Tuh, lihatin Vean masak."
Dhea membuka ponselnya, yang mendapatkan banyak pesanan gaun. Perempuan itu lalu me-list beberapa pesanan, lalu mengirimkan email ke salah satu karyawannya.
"Butik kamu tambah maju."
"Alhamdulillah, aku juga mau kasih bonus buat mereka."
"Buka cabang lagi, Dhe."
"Nanti, kumpulin modal dulu."
Vean yang mendengar itu, langsung berpikir untuk menghubungi Erza setelah ini.