Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
106 Bunga Untuknya


Hari ini Vean terpaksa harus pergi ke perusahaan, karena ada masalah yang harus diselesaikan.


Para karyawan yang sudah lama tidak melihat Vean, terpana melihat pria itu. Bagaimana tidak, Vean semakin tampan dengan ekspresi dingin dan berewok tipis di wajahnya. Pandangan matanya yang tajam semakin menambah aura pada pria itu.


Kemeja dan jas hitam dengan aroma minyak wangi membuat para karyawan enggan untuk mengalihkan pandangan mereka.


Vean masuk ke dalam ruangannya, melihat tumpukan berkas yang menggunung. Vean segera memeriksa berkas-berkas itu dengan teliti dan menandatanganinya. Ada tiga rapat yang harus dia lakukan, menambah kepadatan pekerjaannya hari ini.


Siang harinya, selagi mengikuti rapat pertama di ruangan meeting bersama tim produksi, Vean terus saja melihat jam tangannya. Entah kenapa dia merasa waktu berlalu begitu lama, dan meeting ini berjalan begitu alot, padahal baru lima menit yang lalu mereka memulai meeting ini.


Vean merasa gelisah, dia ingin segera kembali ke rumah sakit, seolah jika tidak melihat Dhea sebentar saja, maka dia tidak akan lagi melihat gadis itu—mungkin untuk selamanya.


Vean menatap langit di luar sana, yang mendung. Dia sama sekali tidak memperhatikan apa yang dipresentasikan oleh karyawannya, mengenai produk yang akan diluncurkan.


"Tuan ... Tuan Vean!"


"Ya?" Vean lalu sadar kalau dirinya melamun.


"Lanjutkan," ucap Vean.


Rapat kembali dilanjutkan, dan kali ini Vean berusaha untuk lebih fokus, agar semua bisa segera selesai dan dia bisa kembali ke rumah sakit.


Sore harinya, Vean langsung ke rumah sakit. Dia melihat toko bunga, dan meminta Erza untuk berhenti.


"Mau mencari bunga apa, Tuan?"


Vean tidak menjawab, dia hanya berkeliling melihat-lihat bunga yang ada di sana.


"Saya mau yang ini." Bukan hanya satu bunga, tapi ada beberapa bunga yang Vean pilih.


Erza membantu memasukkan bunga-bunga itu ke dalam mobil. Dia heran melihat bunga-bunga itu, apa mungkin bosnya mau membuka toko bunga?


Mereka tiba di rumah sakit, Vean membawa satu buket bunga di tangannya, sedangkan Erza membawa dua, sisanya dibawa oleh sekuriti.


Melihat arah yang bosnya tuju, Erza langsung tahu untuk siapa bunga ini.


Bukannya nona Dhea itu kekasihnya dokter Juna, ya?


Vean membuka pintu kamar Dhea, tidak ada siapa-siapa di sana. Dia lalu membuka pintu ruangan ICU untuk melihat keadaan Dhea.


Jantung Vean berdetak kencang saat tidak melihat siapa-siapa di sana.


"Dhe! Dhea!"


Vean berteriak, mengagetkan Erza dan sekuriti yang ada.


Vean bahkan membuka pintu kamar mandi, dan tentu saja tidak akan ada Dhea di sana.


Semuanya terlihat rapih, tidak ada yang tersisa.


Vean lalu berlari ke ruangan dokter Bram, yang dikejar oleh Erza.


Vean membuka pintu ruangan dokter Bram, dan di sana juga tidak ada siapa-siapa. Dia lalu ke ruangan Juna, hasilnya tetap sama.


Dia mencoba menghubungi dokter Bram dan Juna, tidak ada yang mengangkatnya. Mengubungi Tante Bianca, juga tidak bisa.


Sebenarnya ke mana mereka? Apa yang terjadi.


Dia lalu mencoba menghubungi papanya.


"Halo?"


"Dhea di mana, Pa?"


"Dhea? Bukannya Dhea di rumah sakit?"


"Tidak ada."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Papa cari om Bram sekarang!"


Vean mencoba menghubungi Arya, panggilan itu juga tidak terjawab, bahkan ponsel Arya juga mati.


Lalu siapa lagi yang bisa dia hubungi?


Clara?