Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
242 Siapa sih, Yang Berani Memarahi?


"Kok sepi ya, Jon?" tanya pedagang lontong sayur yang bernama Joko, kepada pedagang bubur yang bernama Jono.


"Iya, nih. Tumben. Apa mungkin para tuan dan nona sudah pergi bekerja, ya?"


"Padahal masih banyak nih, dagangan aku."


"Sama, daganganku juga masih utuh."


Para pedagang itu gelisah, menatap sedih gerobak dagangannya yang isinya masih banyak, bahkan penuh.


"Kemaren cepat habis, sekarang malah belum habis, padahal sudah jam segini."


Ya, sejak ada warga yang isinya orang kaya semua, mereka jadi mengandalkan gang ini. Bahkan gang-gang yang lain, menganggap gang ini sebagai kepala gang.


Matahari mulai meninggi, jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Mereka mulai berdiri untuk berkeliling, bahkan di gang lain juga sepi. Sampai akhirnya mereka tidak jadi melanjutkan langkah mereka, karena mendengar suara teriakan-teriakan dari berbagai rumah.


"Aaaaaaa kesiangan!"


Pintu-pintu mulai terbuka.


"Arya!"


"Juna!"


"Vean!"


"Bagas!"


"Erza!"


"Aila!"


"Bangun, woy!"


"Pada kerja gak, kalian?"


"Aku mau bolos."


"Aku juga bolos, ah."


"Kenapa gak ada yang bangunin aku?"


"Aku aja kesiangan!"


Para pedagang itu saling pandang, lalu tersenyum lebar.


Teng teng teng


"Bubur ayam."


"Lontong sayur."


"Nasi uduk."


Teriak para pedagang itu.


"Abang, beli!"


"Abang juga kesiangan?"


"Mam mam."


"Haduh, badanku remuk semua." Felix menepuk-nepuk pundaknya yang terasa sangat kaku.


"Besok-besok, kalau ada kerja bakti lagi, aku gak ikutan. Kerja yang ringan-ringan aja, gak mau lagi nyangkul," ucap Steve.


Mereka belum ada yang mandi, masih menggunakan baju saat tidur. Lalu muncul bapak-bapak dan ibu-ibu dari gang lain. Mereka saling pandang, lalu tertawa bersama.


"Kesiangan juga, Pak RT?"


"Makan, Pak. Pesan saja, saya yang bayar."


"Iya, nih. Semoga saja bisa saya tidak marah."


"Siapa yang mau marah, Pak?"


"Pak Vean sih, enak. Yang punya perusahaan. Lah kami-kami ini, hanya staf biasa."


"Yang mau marahin, bilang sama saya, Pak."


Erza dan Bagas saling pandang, mereka kan juga hanya anak buah.


"Sisanya panggil tukang saja, Pak. Biar nanti kami yang bayar."


Pinggang mereka juga kaya mau patah. Arya dan Bagas, juga anak-anak panti juga pegal-pegal. Mereka saja uang sudah terbiasa kerja seperti ini, pegal-pegal dan kesiangan.


Bagaimana tidak kesiangan, mereka masih mengobrol hingga jam tiga pagi, berencana menyewa layar tancap saat tanggal libur terjepit nanti.


Dokter Petter dan dokter Stevie yang tidak tahu apa itu layar tancap, tentu saja sangat antusias. Bahkan anak-anak panti juga begitu. Bagi Vean, dan Juna, mereka juga belum pernah menikmati layar tancap.


Salah satu teman warga, ada yang memiliki bisnis layar tancap, yang bisa disewakan saat ada acara pernikahan atau sunatan di kampung-kampung.


Jadi, tidak aneh kalau mereka semua akhirnya kesiangan.


Masih berkali-kali menguap, dengan wajah yang masih sayu dan mata merah.


"Aku mau lanjut tidur lagi, kalau begitu," ucap Juna.


"Kamu gak ada jadwal operasi?"


"Gak. Kamu juga bolos saja, Arya. Lagi gak banyak kerjaan kan, di rumah sakit."


Yuki saja sudah merem melek di pangkuan Vean. Balita itu juga susah tidur tadi malam, karena tahu kedua orang tuanya juga belum tidur.


"Kalian kenapa masih pada di sini? Masih pakai baju tidur?" tanya dokter Bram, yang dibelakang ada Candra.


"Pasti belum cuci muka juga, kan?"


"Kalian bolos?"


Vean dan Juna langsung kabur sambil menggendong Yuki. Yuki yang tadinya merem melek, langsung segar dan teriak kegirangan.


"Tadi siapa yang sesumbar bilang gak bakalan ada yang ngomelin?" teriak Juna.


Yang lain juga pelan-pelan mundur, karena bosnya para bos datang.